
Kedua mata mata yang merasa hebat itu mendekati Gilmax, memberi penyerangan secara bergantian tapi dengan cepat Gilmamx mengelak dan menarik tanga mata mata prertama dan mematahkannya dengan sikunya.
"Akkhhh...!"
Satu teriakan lolos dari bibirnya saat merasakan tangannya patah karena siku Gilmax, tapi seolah tidak terganggu Gilmax kembali menendang kaki si mata marabuat dia jatub dan berlutut tepat di hadapannya, dan kakinya kebali bergerak naik seiring dengah gerakan tangannya yang mendorong tubuh pria itu hingga berposisi telungkup dan kaki Gilmax dengan sepatu pantofelnya menjepit leher pria itu dan menekannya kuat membuat si empunya tubuh tidak bisa bergerak lagi.
Mata mata yang kedua melihat temanya menjadi tersulut emosi, dia tidak terima jikw rekannya seperti itu walau matanya sendiri bisa melihat bagaimana hebatnya lawan dalam melakukan gerakan untuk melumpuhkan tapi sepertinya dia belum ingin menyerah jika tidak merasakan sendiri bagaimana berada di posisi temannya.
"Si*lan...! mati kau..!" teriaknya dan langsung menberikan serangan tapi seperti sebelumnya lagi lagi Gilmax menjadikan tangannya sasaran utama baru berlanjut pada kakinya sama persis deperti yang di lakukan pertama kali pada mata mata sebelumnya.
"Akkhhhh...."
Terikan di ikuti dengan pemberontakan ingin melepaskan diri tapi tidak bisa karena Gilmax sudah membekuk mereka walaupun Gilmax melepaskan kakinya tetap saja mereka tidak akan bergerak lagi karena tangan dan kakinya sudah di patahkan oleh Gilmax.
"Harusnya kau belajar dari temanmu, dan kau tidak usah melawanku jadinya kau kesakitan bukan?"
Seringai iblis berkedut di sudu bibir Gilmax, entah kenapa rasanya senang melihat musuh yang berani melawan mereka menderita dan jika saja Brillo tidak memperingatkannya untuk menyisakan nyawa keduanya mungkin sudah dia habisi saja sejak tadi tapi yah... perintah Brillo adalah mutlak untuknya.
"Kau sudah selesai bermain Gilmax?" tentu saja tuan walau sebenarnya aku belum puas" jawab Gilmax dengan suara tawanya.
"Sudahlah kau jangan bermain terus, lebih baik kau menikah saja dengan Anna dan bermain di atas ranjang jauh lebih asyik".
Gilmax mendengus mendengar perkataan Brillo, tanpa menikah pun dia sudah sering bermain lalu apa bedanya bermain sebelum menikah dan sesudah menikah, toh sama sama nikmat menurut Gilmax
"Memangnya apa bedanya tuan? sama sama bermain kok di atas ranjang"
"Berbeda bo*oh! setelah menikah, permainan jauh lebih nikmat dan berkesan dan kau harus mencobanya"
"Maaf tuan muda tapi menikah bukan untuk mencoba coba"
"Yasudah menikah saja lagi pula siapa yang menyuruhmu mencoba" jawab Brillo santai dan berjalan mendekat ke arah tawanan yang masih meringis kesakitan.
Gilmax berdecak mendengar jawaban tuanya, dia merasa seperti orang bodoh saja jika berbicara masalah wanita dengan tuannya karena dia akan jadi orang bodoh jika Brillo berkata mengingat Brillo sendiri bersikap seperti orang bodoh jika menyangkut istrinya.
__ADS_1
"Ck, padahal aku tidak suka bermain apalagi melakukan kekerasan seperti ini karena aku sebentar lagi akan memiliki baby tapi kalian selalu saja cari masalah denganku!"
Brillo berkacak pingga di hadapan keduanya saat mereka sudah dalam posisi bersimpuh setelah sekian lama berusaha untuk bangkit dan kini mereka bisa menubah posisi tapi ada Brillo malaikat maut yang sesungguhnya yang akan menentukan nasib mereka.
"Katakan kau ingin mati dengan cara apa!"
Brillo sudah berubah, aura pembunuhan sudah sangat kental mengambil alih tubuh dan kesadarannya, itu akan sangat berbahaya bagi kedua mata mata itu dan mereka sadar akan situasi. Tidak ada yang tidak bisa membaca mimik Brillo walau hanya melihat sekilas bahkan orang kalangan masyarakat biasa sekalipun akan tau jika pemuda tampan itu sedang menjelma menjadi iblis yang akan merenggut nyawa.
"Kalian tidak mau menjawabku?"
Brillo kembali membuka suaranya dengan kembali bertanya karena tidak ada yang menjawab dari keduanya, "jadi kalian menyerahkan kematian kalian padaku sepenuhnya?"
"Tidak! tidak, jangan bunuh kami, kami hanya menjalankam perintah mengikuti anda bukan untuk mengusik atau mengerang anda tuan muda" jawab mata mata pertama.
"Benat tuan, kami tidak berniat menyerang kami hanya mengintai anda saja" timpal yang kedua.
"Tapi kenyatannya kau sudah mengusik ketenanganku!" jawab Brillo dengan suara lantangnya.
Brillo menengadahkan tangannya dan Gilmwx dengam senang hati memberikan apa yang di inginkam oleh tuan mudanya, sepertinya saat ini Brillo tidak ingin bermain main apa lagi berbasa basi menanyai siapa dalangnya karena pria tampan itu sudah tau siapa yang mengibarkan bendera perang untuknya.
"Siapa yang ingin ku habisi lebih dulu?"
"Tidak tuan kami tidak mau tiada, kami masoh ingin hidup" jawab mereka.
"Tapi sayang sekali dalam kamusku tidak ada yang namanya membiarkan mangsa tetap hidup"
"Tapi tuan kami bisa mengatakan siapa yang menyuruh kami asal anda mau memberi pengampunan, karena saya yakin tuan belum mengetahui siapa yang membayar kami bukan?'
"Tidak! aku tidak perlu bartanya karena sudah mengetahuinya dan saya pastikan setelah kalian dia akan menyusul kalian berdua menuju neraka tempat keabadia kalian!"
"Tidak tuan, kami mohon jangan lakukan tuan, jangan lenyapkan kami....!" teriak mereka.
Dor Dor Dor
__ADS_1
Tiga tembakan Brillo lesatkan pada mata mata pertaman tepat di bagian kepala membuat darah segar mengalir membasahi kepalanya yang sudah hancur dan mata mata kedua sangat terkejut membuat dirinya tersungkur mundur karena ketakutan yang sangat luar biasa, badanya gemetar hebat melihat temannya di habisi di depan matanya dan dia yakin jika ajalnya sudah tiba hari ini tanpa di di tolerir lagi oleh iblis pencabut nyawa itu.
Mata mata yang tersisa menggelengkan kepalnya mendapati Brillo mendekat kearahanya, tubuhunya terus di seret mundur dengan bantuan bokongnya. Berusaha keras meminta pertolonga tapi percuma karena itu adalah area Brillo dan tidak ada yang berani masuk ke dalam sana tanpa melalui pemeriksaan ketat.
"Janhan terus menghindar itu tidak baik untuk kematianmu, karena akan membuatmu semakin kesulitan dan kesusahan" ucao Brillo
"Jangan tuan, aku mohon jangan lenyapkam saya!" pintanya memohon.
Brillo tidak mau mendengar permohonan itu, sudah jadi prinsipnya tidak memberi pengampunan bagi musuh siapapun itu tanpa terkecuali, "sebaiknya memohon ampun saja pada Tuham agar dia mau memberikan tempat di neraka untukmu" kekeh Brilo.
"Memangnya dia akan kemana lagi tuan jika bukan di neraka?" tanya Gilmax yang sedikit tertawa mendengar perkataan Brillo.
"Mungkin saja dia tidak memiliki tempat dan akhinya gentayangan hahaha....!" tawa Brillo.
"Aishh kalau bagitu aku membooking tempat di neraka tuan"
"Untuk apa?"
"Tempat nyawa nyawa berikutnya agar memiliki tempat!"
mereka tertawa bersamaan, lelucon yang sdikit menghibur sebelum menghabisi target.
Dor Dor Dor Dor
Empat peluru melesat, dan seketikan tubuhnya tumbang di aspal dengan keadaan tidak lagi bernyawa, "suruh mereka membereskan ini Gilmax"
"Baik tuan muda"
.
.
Bersambung...
__ADS_1