
"Katakan dari mana kau mendapat informasi ini!"
Keitaro langsung menanyakan apa yang ingin dia tanyakan pada Robert tentang bagaiama Brillo Jokson terkait dalam kasus ini.
"Tidak perlu tau dari mana! yang jelas informasi dari ku itu akurat dan bukan sekedar bualan!" jawab Rober dengan santainya menyilangkan kakinya di depan Keitaro.
Keitaro memicingkan matanya mentap Robert, dia sangat yakin jika ada maksud daru semua ini, pasti ada imbalan yang harus di bayar untuk informasi ini, hanya saja dia belum tau apa itu.
"Katakan apa imbalannya!"
"Tidak ada! aku hanya ingin menawarkan bantunan untukmu".
"Aku yakin kau tidak seb**oh dan sedermawan itu Robert Hans! aku yakin kau ada niat terselelubung!"
"Hahahaha....!"
Tawa Ribert Hans menggema di seluruh ruangan itu ketika mendengar perkataan Keitaro, sepertinya orang yang dia ajak kerja sama kali ini bukanlah orang yang mUludah untuk di bodohi.
Tapi bagaimana pun, Robert sangat yakin jika Keitaro tidak lebih licik dan picik darinya, dan dia pasti bisa menjadikan Keitaro pionnya untuk menghabisi Anak angkat dan menantunya itu.
"Rupanya kau sangat jeli mengenali lawan dan kawan tuan Han!" kekeh Robert.
Keitaro menajamkan matanya, wajahnya merah menahan amarah karena merasa dipermainkan oleh Robert.
"Jangan mempermainkan bos besar kami tuan Robert!" bentak Louis.
Louis adalah salah satu orang kepercayaan Keitaro setelah Ben Han Keiji yang sudah tiada karena di habisi oleh Kerenza dan Brillo Jokson.
Kini Louis adalah orang yang di percayakan Keitaro menjalankan pekerjaanya yang dulu sering di jalankan oleh Keiji dan keberadaan kini adalaha wujut kesetiaanya pada Keitaro untuk ikut dalan setiap misi Tuannya.
"Jaga sikap anda anak muda!" tegur Alex yang merasa tidak terima tuannya bentak oleh anak yang barus seumuran anaknya.
"Maka ajari tuan anda agar tau bagaimana memperlakukan orang lain!"
Louis dan Alax saling menarik pelatuk masing masing dan kini saling menodongkan senjata yang di ikuti oleh anak buah yang lainnya.
"Wowww..!" seru Robert " anak buahmu yang inu begitu setia padamu tuan Han dan aku kagum akan hal itu.
"Louis turunkan senjatamu!" titah Keitaro
"Tapi Bos"
__ADS_1
"Turunkan Louis!" tegas Keitaro.
Akhirnya senjata masing masing kembali di tarik dan pembahasan kembali di mulai.
"Aku akan menghabisi Kerenza Alana!" ucap Keitaro yang membuat Robert memandangnya.
"Kau tidak bisa menyerang dengan terbuka Tuan Han!"
"Kenapa?"
"Aku yakin tidak mungkin mereka belum mendengar kabar kedatangamu dan bahkan tujuanmu pun pasti sudah mereka ketahui"
"Jadi harus bagaimana! aku sudah tidak sabar untuk menghabisi mereka!"
Keitaro mengepalkan kedua tanganya dengan sangat erat hingga buku buku tangnya terlihat jelas memutih karena menahan amarah.
"Jika kau mau bersabar dan mengikuti permainanku maka kau akan dapat membalaskan mematian Ben Han Keiji"
Seringai licik terbit dari sudut bibi Robert mertua dari Kerenza dan Ayah angkat seorang Brillo Jokson.
"Baikla, tapi aku tidak bisa berlama lama, ada banyak urusan yang harus ku tangani semenjak Keiji tiada".
"Baiklah, kau ikuti saja tanggal mainnya" jawab Robert.
Brillo mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi di perjalan mereka nanti, bisa saja mobil yang mereka kendarai di serang dan di sergap tiba tiba oleh pihak lawan.
Brillo berjalan dengan langkah tegas dan cepat memasuki markas, dan semua anggota markas yang melihat kedatangan bos besar mereka langsung menyambut dan membungkuk hormat pada Brillo.
Mereka semua masuk aula pertemuan mengikuti langkah Brillo tanpa di perintah lagi, karena satu hal yang selali mereka ingat jika langkah tuannya ke aula maka ada sesuatu yang harus mereka selesaikan dan itu pasti sesuatu yang sedikit menghawatirkan tuan mereka.
Brillo langsung duduk di kursi kebesarannya dan anggota yang lain mengikuti duduk di tempat masing, dan tak lama Hiebert dan Gilmax datang dan duduk di tempat seperti bisanaya sebelah kanan dan kiri Brillo.
"Bagaimana?"
"Semua sudah beres tuan, tidak satu pun yang tau" jawab Brillo.
"Hiebert! pastikan informasi mengenai Keitaro tetap kau dapatkan dan laporkan padaku setiap saat! jangan sampai lengah sedikit saja!"
"Baik tuan muda" jawab Hiebert "tapi satu hal yang harus tuan muda tau" lanjut Hiebert.
Brillo mentap Hiebert, mencoba melihat apa yang ingin disampaikan orang kepercayaanya ini.
__ADS_1
"Katakan!"
Brillo yang tidak bisa menebak apa isi hati hendak di sampaikan oleh Hiebert memilih untuk bertanya saja.
"Tuan Han Keitaro datang menemui tuan Besar!" jawab Hibert dengan wajah datarnya.
Brillo diam tidak langsung memberi respon terhadap informasi dari Hiebert, masih mencoba mencari tau dan mengingta usaha apa yang di jalankan mereka dulu sehingga harus bertemu antara pemilik Perusahaan dengan ketua dunia bawah.
"Kenapa? kau pasti tau kan dan aku yakin kau akan memberi informasi yang real dan di terima logikaku"
"Menurut informan kita yang menayamar sebagai pelayan disana, mengatakan mereka sedang membahas kerja sama, tapi perihal kerja sama apa, masih belum di ketahui."
"Kerja sama apa yang daddy bicarakan? apa daddy terlibat bisnis gelap sekarang?"
Brillo berpikir keras bisnis apa yang sedang di jalankan oleh Robert Hans, sehingga harus bertemu dengan Keitaro tanpa tau jika mereja sedang merencanakan untuk menghabisi dirinya dan Kerenza.
Sementara Kerenza saat ini sedang duduk bersandar di sofa ruang tamu mereka, dan hendak menyandarkan kepalanya agar bisa menengadah, tapi niatnya urung saat buah apel terlempar mengenai lenganya.
"****! siapa yang melakukan ini!" teriak Kerenza.
Maydeline dan Elsa datang mendekat dengan wajah tertunduk "Maafkan kami nona muda, kami tidam sengaja" ucap Elsa.
"Jadi kalian yang melemparkan buah sia**n ini!" bentak Kerenza.
"Maaf nona, kami sedang menjalani latihan dari tuan Gilmax" jawab Maydeline.
"Latihan?"
"Ya nona muda, kami di beri latihan bela diri karena katanya bisa saja sewaktu waktu ada bahaya dan kami harus bisa melindungi diri sendiri"
Kerenza langsung bergegas pergi dari sana, sudah malas memperpanjang masalah, dia ingin istrahat saja agar sakit di kepalanya bisa berhenti.
"Untung saja kita tepat waktu" ucap Elsa setelah Kerenza meninggalkan mereka.
"Benar, jika tidak pisau ini akan menancap di tengkuk nona muda" jawab Maydeline dan berjalan menuju sofa tempat Kerenza duduk dan menarik pisau yang sudah di tancapkan di terngah2 sofa dengan mata pisau yang terlihat sangat runcing.
Sementara seseorang yang sudah menanti moment dimana dia bisa melihat Kerenza bisa tertancap dengan pisau yang di tubuh Kerenza menjadi sangat marah karena ternyata ekspetsinya tidak terjadi, Kerenza baik baik saja karena dua wanita yang baru saja memasuki kediaman Brayen Wate dan menyelamatkan Kerenza.
Bukan tanpa alasan Dia marah, kalau hanya sekedar ingin membuat Kerenza maka dia tidak akan masalah jika gagal.
Tapi yang ini, dia sudah mencampurkan racun pembunuh syaraf didalam mata pisau itu yang hanya bertahan beberapa jam saja, dan karena gagal maka gagal pula dia membunuh Kerenza perlahan.
__ADS_1
TBC