
"Kau sangat menyebalkan sekali May! mana mungkin pria seperti dia menyukaiku!" ketus Elsa.
Sebenarnya Elsa memendam rasa, hanya saja dia harus sadar diri akan posisinya, mereka bagaikan langit dan bumi yang tidak akan bisa bersatu pikir Elsa, tapi yang tidak di ketahui oleh gadis itu adalah jika pria itu pun memenda rasa bahkan tidak sabar untuk menikahinya.
"Jangan begitu, tidak ada yang tau bagaiman perasaan! bisa saja Hiebert juga menyukaimu atau jika kau mau aku bisa menyampaikan cintamu" goda Kaisar yang kembali mendapatkan pelototan dari Elsa sedangkan Maydeline hanya terbahak melihat hal itu.
"Jangan melototkan matamu Elsa, tidak akan ada yang mau dengan mu nanti" ucap Kaisar dengan kekehanya.
"Sudahlah lebih baik kau urus kekasihmu agar masalahnya selesai, aku tidak suka berlama lama!" ketus Elsa.
"Baiklah, tapi datangkan dokter itu, agar operesinya segera di mulai, dan aku mau dokter itu menutup mulutnya saat operasi berlangsung agar tidak menarik kecurigaan" ucap Kaisar mendadak serius.
"Baiklah dan kau berhati hatilah, aku harus mencari tau informasi terbaru dari Micke" jawab Elsa.
Mereka kembali pada aktifitas masing masing Kaisar yang pergi untuk memulai rencananya dan Elsa yang kembali pada kursi kebesaran milik Kerenza yang untuk sementara sedangkan Maydeline sendiri kembali ke meja milik Mattew saat bertugas di kantor menggantikan posisi itu untul sementara.
"Tuan Alex? ada apa?" tanya Maydeline
"Aku ingin bertemu dengan nona Alana" jawab Alex dengan wajah dinginnya.
"Maaf tuan jika harus anda kecewa tapi nona tidak ingin di temui oleh siapa pun" ucap Maydeline.
Selama Kerenza dan yang lainnya pergi mencari keberadaan Brillo dan yang lainnya, dan selama Elsa yang menjadi pimpinan dalam bentuk penyamaran, tidak satu orang pun boleh masuk disana, bahkan tidak ada satu pun dari karyawan yang berpapasan dengan Elsa, karena dia akan datang pagi pagi sekali dan akan kembali jika sudah larut agar tidak ada yang mengenalinya.
Begitu pun dengan Robert yang sempat berkunjung tidak bisa bertemu dengan Kerenza karena akan selalu di tolak oleh sekretaris, dan kini Alex ingin kembali bertemu dengan Kerenza? mana mungkin itu akan di biarkan, jika ketahuan maka bisa jadi nyawa Kerenza akan dalam bahaya.
Alex menatap Maydeline lekat dengan tatapn elang yang di miliki, tapi itu tidak membuat nyali seorang Maydeline menciut, bahkan dengan beraninya mengangkat wajahnya dengan angkuh di hadapan Alex.
"Gadis unik, lebih baik dan berani dari si bo*oh itu" batin Alex.
"Hallo tuan! kenapa anda melihat saya seperti itu?" tanya Maydeline pura pura bodoh
"Tidak, kalau memang nona Alana tidak bisa di ganggu bagaiman jika kau gantikan saja nona mudamu itu" tawar Alex.
Kening Maydelien mengerut dalam, pertanda dia tidak paham akan makasud dari ucapan Alex, kenapa dia yang harus jadi ganti jika Kerenza tidak bisa di temui.
"Maaf tuan, kenapa harus saya yang menggantikan waktu nona muda yang tidak bisa di ganggu?" tanya Maydeline.
"Disini tidak terlalu bagus, bagaimana kalau kita sekedar minum kopi? ada kafe tidak jauh dari sini bukan" usul Alex.
Maydeline menyunggingkan senyum sinisnya, dia sudah bisa menebak apa yang akan di tawarkan pria itu padanya, tapi sesuai rencana dia akan mengikuti saja permainan itu.
"Baiklah, tapi saya harus mengirim pesan pada nona Alana sebagai ganti karena tidak bisa mengganggu waktunya" ucap Maydeline dan langsung mengetikan pesan.
"Target mulai beraksi, saatnya ambil bagian๐"
Pesan Maydeline di kirimkan pada Elsa dengan emot berlari, mengatakan jika dia sudah sangat siap untuk mengambil bagiannya. Sedangkan Elsa langsung siap mengambil earphone dan memasangnya di teliga dan tanganya menagktifkan alat perekam dan pelacak untuk mendengar dan mengetahui keberadaan Maydeline.
"Silahkan duduk nona" ucap Alex dengan sopan.
"Terimakasih tuan tapi kau tidak perlu repot padaku" ucap Maydeline dengan wajah tidak enaknya.
__ADS_1
"Tidak masalah, silahkan pesan saja yang kau mau"
"Aku kopi saja" jawab Maydeline dengan singkat.
"Kau sudah lama bekerja dengan nona Alana?" tanya Alex setelah beberal lama hening.
"Belum! belum lama sekali"
"Apa kau betah? aku perhatikan kau tipe gadis yang pekerja keras, tapi kau hanya bekerjadi kediaman Brayen saja, apa nona Alana tidak memberimu pekerjaan yang layak?"
"Pekerjaan tidak penting, asal ada yang mau menerima diriku dan mau apa yang aku mau, kau pasti sudah tau jika aku ini suka dengan barang barang haram untuk kugunakan" ucap Maydeline dengan datar.
"Kau hanya membutuhkan itu saja? apa kau yakin?"
"Sangat yakin"
"Bagaimana jika aku memberimu hal itu dan kau bekerja denganku?" tanya Alex.
Maydeline mengerutkan keninganya dengan pernyataan yanh menurutnya sangat konyol, "apa kau tidak sakit tuan Alex? kau mau memebriku? aku pecandu yang kuar biasa, apa kau yakin? tanya Maydeline dengan bibir yang tersungging sinis.
"Berapa dalam satu hari kau gunakan? maka akan aku penuhi itu semua?" ucap Alex.
"Ck tuan Alex bukan hanya aku yang akaj menggunakannya tapi banyak anggota di luar sana yang butuh tapi tidak memiliki uang karena masih pengganguran" decak Maydeline.
"Katakan saja tidak perlu berbasa basi dan banyak bicara!" ucap Alex dengan datar.
Sebenarnya di sudah sangat kesal karena pembicaraan mereka yang tak kunjung menemui penyelesaian kerja sama, tapi Alex harus menahan diri mengningat yang dia ajak bicara saat ini adalah pencandu obat obat terlarang, maka akan mudah menuurut Alex untuk menjebak wanita itu, tanpa tau jika lawannya pun sedang memepersiapkan jebakan untuknya.
"Jangah kau pikirkan, mendapatkan hal itu bukanlah hal yang sulit! kau mau atau tidak" desak Alex.
"Akan ku pikirkan" ucap Maydeline dan langsung perdiri pergi meninggalakan Alex dengan segudang amarah di hatinya.
"Maaf tuan, dia bukan wanita yang mudah di bujuk, tapi kita akan menunggu sampai kabar berikutnya"
.....
"Baik tuan, saya segera ke sana"
Sementara Maydeline menuju kantor menemui Elsa yang sedang mengedir semua pembicaraan kedua orang itu, ini akan menjadi bukti bagi bagi mereka untuk di berikan pada Kerenza nanti setelah nona muda mereka membali dan setelah itu maka perburuan akan dilakukan, dan itu sesuatu yang sangat menyenangkan bagi Elsa dan Maydeline.
***
Di hutan, rombongan Kerenza sudah tiba dan Brillo sang pria tampan sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian salin yang di periapkan oleh Hiebert, dan kini dia sudah terlihat lebih segar bukan seperti tadi pertaman bertemu dengan Kerezan.
"Love apa kita akan menunggu mereja saja? kenapa kita tidak mencoba mencari keberadaan mereka?" tanya Brillo.
Mereka mengahadap lautan luas dengan posisi Brillo yang meneluk Kerenza dari belakan. Saat ini mereka sedang menunggu kapal tiga yang berlayar entah kemana, tapi yang pasti Hiebert sudah mngirimkan signal untuk mereka kembi tepat di tempat semual, dan mereka pun sudah mendapatkan respon hingga kini rombongan Kerenza masih menunggu.
"Tunggulah Brillo, bukankah kalian tidak bertemu di hutan? itu aritnya mereka tidak dihutan dan bisa saja saar ini mereka berada di tengah laut atau terdampar di pulau yang lain" jawab Kerenza.
Mereka masih berada pada posisi yang sama, Brillo yang masih betah memeluk Kerenza dari belakang, tidak mempedulikan seorang pria tampan lainnya yang mengumpat melihat kemesraan mereka.
__ADS_1
"Ya ampun tuan...! bisakah kalian berhenti, kita dalam sutuasi yang seperti ini jangan bermesraan begitu!" ketus Hiebert.
"Kau juga ingin seperti kami Hiebert?" tanya Kerenza.
"Tentu saja, tapi pasanganku tidak ada disinu"
"Memangnya siapa pasanganmu? Elsa? belum tentu dia mau pada pria seperti mu!" cibir Brillo.
"Tuan muda Brillo, pesona ku ini tidak ada yang bisa menolak bahkan jika aku menggoda Kerenza maka dia tidak bisa menolakku!! ceplos Hiebert.
Hiebert yang menyadari kesalahn dirinya langsung menutup mulutnya dengan tangannya, dia benar benar tidak bisa mengontrol panggilannya terhadap Kerenza sesuai keadaan, dia merutuki kebodohan karena harus terlibat pembicaraan pada Brillo yang membuat dia sendiri dalam masalah.
Semenatara Brillo sudah memasang wajah siap menerkamnya, "Kau tidak sayang pada kepalamu Hiebert!" tanya Brillo penuh penekanan.
Glek
"Si*al! kenapa mulut ini tidak bisa di kotrol, lihatlah wajah tuan muda sudah seperti monster" jerit Hiebert dalam hati.
"Hiebert! apa pendengaranmu kini juga bermasalah?!" tanya Brillo masih dengan intonasi yang sama.
"Ti tidak tun mu muda, saya kelepasan bicara" jawab Hiebert gugup.
"Kau masih sayang pada kepalamu atau tidak!" sentak Brillo.
"Masih tuan, ampuni saya" ucap Hiebert yang langsung mohon maaf.
"Brlillo, apa kau tidak kasihan dengan wajahnya?" tanya Kerenza dengan tangan yang mengelus lengan Brillo.
Seketikan tatapan mematikan yang tadi berkibar di sorot mata Brillo berubah menjadi lembut dan teduh saat merasakan usapan tangan istri cantiknya.
"Aku tidak suka dia tidak sopan padamu love, aku saja begitu memuja dirimu lalu kenapa dia yang bekerja denganku tidak bersikap sopan padamu" jawab Brillo.
Tangannya mengelus lembut pipi Kerenza lalu menciumnya, dia tidak suka jika ada orang lain yang tidak menganggap Kerenza penting karena jika itu terjadi maka jangan harap akan ada ampun bagi mereka.
Dirinya saja memperlakukan Kerenza dengam begitu baik layakya permata mahal yang tidak di taruh di semabarang tempat, permata yang memiliki tempat istimewa sesuai dengan namanya, begitu pun Kerenza bagi seorang Brillo Jokson.
"Sudahlah, tidak masalah,dia tidak bersalah, karena panggilan itu sudah mendarah dagin sejak awal kami bertemu, dirimu saja yang muncul tiba tiba dan membuat dirinya mengubah panggilan yang sudah memiliki hak paten" ucap Kerenza dengan nada sedikit menyindir.
Brillo melotot mendengar ucapan Kerenza yang tidak secara langsung menyalahkan dirinya karena perubahan panggilan itu, sedangkan Hiebert berusaha menyembunyikan senyumnya agar tidak di pelotoi ooleh Bos nya.
"Jadi kau pikir aku yang salah Love!"
"Entahlah, aku tidak berkata begitu" jawab Kerenza dengan santainya.
"Kau akan mendapat hukuman dari ku Hiebert! dan kau juga Love karena sudah membela pria lain maka aku akan menghukummu jika sudah kembali!" ancam Brillo.
.
TBC
Yukkkk kasih gift di karya owner jika suka dan jangan lupa jempol di tinggalkan yaaa๐๐๐๐
__ADS_1