BERMULA DIHARI PERNIKAHAN

BERMULA DIHARI PERNIKAHAN
Chapter 32


__ADS_3

"Love apa kau tidak merindukan kekasihmu ini."


Brillo memberi pertanyaan untuk memecah keheningan yang terjadi di dalam mobil karena Kerenza yang tidak mau bicara.


" Untuk apa aku merindukanmu."


"Karena aku kekasihmu, priamu love. Tentu saja kau harus merindukan aku seperti aku yang selalu saja merindukanmu."


Brillo sesekali melirik ke arah Kerenza yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu sehingga Brillo merasa di abaikan dan tidak di anggap ke hadirannya.


" Walau kau kekasihku, bukan berarti aku harus merindukanmu kan."


" Tapi aku selalu merindukanmu."


" Itu bodohnya kau yang mau saja merindukanku."


Brillo menepikan mobilnya dan kemudian mutar tubuhnya menghadap Kerenza yang mengerut tidak mengerti.


" Kenapa?"


" Kenapa kau berkata begitu love."


" Apa."


"Kau magataiku bodoh karena aku merindukanmu setiap saat. Ya kau benar aku mungkin memang bodoh, atau bisa saja aku ini pasti sudah gila karena menrindukan kamu yang sudah ada di sampingku ini.'


Brillo menatap Kerenza sejenak dengan tatapn teduhnya sebelum akhirnya dia kembali berkata .


" Tapi itu semua benar adanya love, aku sangat tidak bisa menjauh dari sedetik dan sejengkal pun karena apa? karena perasaan ini untukmu."


" Siapa kau sebenarnya Brillo? kenapa aku merasa jika kau sudah sangat mengenal diriku."


Kerenza memberi pertanyaan yang jelas saja belum waktunya untuk di jawab oleh Brillo pertanyaan yang sudab menjanggal di dalam hatinya selama ini, mengingat semua sikap perkataan dan cara Brillo menanganinya sungguh seolah pria itu sudah tau siapa dia dan seperti apa dia sebenarnya.


" Aku? aku adalah orang yang sangat mengagumimu Love, sejak pertama aku mengenalmu."


Ucapan Brillo hanya di jawab anggukan oleh Kerenza karena dia berpikir jika maksud darj perkataan Brillo adah pertemuan pertama mereka yang baru beberapa bulan ini tanpa tau jika ada maksud tertentu dari Brillo.


Pertemuan pertaman mereka pada Empat tahun yang lalu hingga berjalan ke hubungan yang serius namun kandas karena tragedi yang menimpa hari mernikahan mereka.


Ya, Brillo Jokson adalah Erland Hans lelaki yang yang sangat di cintai Kerenza Alana dan juga yang mencintai Kerenza, lelaki yang harus meninggalkan cintanya karena keadaan yang diluar duagaan mereka terjadi di hari pernikahan mereka tepat setelah mengucapkan janji suci.

__ADS_1


Bukankah ini bisa di katakan kalau wanita yang ada di depannya ini adalah istrinya, karena janji suci yang sudah di ikrarkan di atas Altar di depan pendeta dan semua orang yang menjadi saksinya.


" Baiklah, aku rasa tidak ada guannga lagi aku bertanya." kata Kerenza yang kembali membetulkan posisi duduknya yang tadi sempat dia ubah untuk menapat Brillo.


"Ada saatnya kau akan tau siapa diriku love." ucap Brillo mencium pipi Kerenza dan kemudian kembali menjalankan mobilnya.


Sampai di kantor, Kerenza bergerak untuk membuka pintu tapi gerakannya terhenti saat tangannya di cekal oleh Brillo.


" Love apa kau mau pergi begitu saja?"


" Lalu aku harus apa?"


" Kau tidak mau meninggalkan jejak semangat untukku love." kata Brillo menaikkan satu alisnya.


" Apa."


" Ini."


Brillo meraih tengkuk Kerenza dan menelmpelkan bibirnya pada bibir Kerenza, lalu mulai menggerakan bibirnya melu**at bibir Kerenza dengan lembut.


Kerenza juga membalas ciuman itu, entah kenapa dia merasa ada dorongan untuk membalas dan menikmati lum**an itu.


Lama mereka beradu bibir mengecap manis madu alami yang ada disana, hingga keduanya merasakakn kekurangan oksigen dan alhirnya melepaskan diri masing masing dan meraup oksigen sebanyak mungkin untuk kebutuhan mereka.


Kerenza tidak lagi menjawab tapi dengan cepat keluar dan meniggalkan Brillo yang masih setia tersenyum manis padanya.


Sejenak Kerenza berhenti, dan mengambil nafas dalam-dalam untuk menetralkan degupan jantungnya yang sedang terpompa saat ini.


Berulangkali menarik dan menghembuskan nafasnya hingga akhirnya jantungnya terpompa seperti biasa lagi kembali melangkah memasuki lobby perusahaan miliknya wajahnya yang tadi memerah sudah berubah menjadi wajah dingin dan datar.


Sungguh wanita ini pandai sekali mengubah ekspresinya menyesuaikan dengan keadaan tempat dia ada, para karyawan yang berpapasan dengannya membungkuk hormat tidak berani menyapa lebih selain ucapan selamat pagi dan selamat datang untuk pimpinan perusahaan tempat mereka bekerja.


Sampai di depan ruangannya Christabel yang menjadi sekretaris lama perusahaan itu menyapanya dan menyerahkan sesuatu kepada Kerenza.


" Selamat pagi nona muda." ucap Cristabel membungkuk hormat " Ini nona muda ada titipan yang tertuju untuk pimpinan perusahaan Kerenza Alana." ucap Cristabel mengeja kalimat yang terdapat disana.


"Apa kau tahu siapa pengirimnya "


Kerenza mengambil bingkisan itu dan membolak- balikannya untuk mencari sesuatu di sana tapi hanya sepucuk surat yang ia dapatkan yang tertempel di atas bingkisan itu, tulisan yang mengarah pada siapa Binggkisan itu di tujukan.


" Tidan nona moda. Saya hanya mendapatkannya dari satpam gerbang depan dan dia menyerahkannya padaku untuk di samapikan pada nona muda."

__ADS_1


" Suruh keruangan ku sekarang."


" Baik nona muda."


Selesai dengan itu, Kerenza memasuki ruangannya dan duduk di kursi kebesaraanya, baru saja dia mengehempaskan bokongnya disana, Mattew datang dengan wajah yang sedikit panik.


" Apa kau sudah membuka bingkisannya nona."


" Kau. Dari mana kau mengetahuinya.".


" Crustabel yang memberitahukan saya Nona jika ada bingkisan yang ditujukan untuk mu sehingga saya dengan cepat kemari takut jika bingkisan itu mengandung bahaya untuk untukmu."


Jawab Mattew menjelaskan dari mana dia mengetahui bahwa ada bingkisan yang dituju untuk Kerenza.


" Ya, aku mendapatkannya dan aku belum membukanya sama sekali."


" Biar saya yang membukanya untukmu nona."


Mattew berjalan menghampiri meja kerja Kerenza dan mengulurkan tangannya meraih bingkisan itu dan dia pun melakukan hal sama seperti Kerenza, membolak-balikan bingkisan itu untuk mencari tau apa ada petunjuk dari sana."


Mattew mulai membuka kertas yang membungkus kotak itu hingga terbuka dan kemudian dia membuka penutup kotak dan rupanya hanya sepucuk surat yang terdapat disana.


Wajah panik yang sempat di tunjukan Mattew beeubah menjadi Lega bercampur kesal, lega karena tidak ada bahaya dan kesal karena rupanya merka sedang di permainkan menurutnya.


" Si*l." umpat Mattew.


" Ada apa."


Mattew tidak menjawab tetapi tangannya terulur masuk ke dalam kotak dan memgambil kertas yang merupakan surat itu dan kemudian menyerahkannya kepada Kerenza yang disambut oleh wanitan itu walau keningnya sedikit mengerut pertanda dia tidak tahu apa-apa.


" Apa ini.?"


" Sepertinya ini sebuah surat untukmu nona."


Kerenza mengabilnya dan kemudian membuka sampulnya dan mulai membaca isi pesan yang singakt itu.


" *Hai Kerenza Alana..Aku rasa kau pasti mengingatku bukan karena ini adalah hari dimana kita akan bertemu.


Tapi ingat pesanku dan ini merupakan ketegasan! jangan terlambat walau satu detik saja karena itu akan membuat kau tidak mendapat apapun dari pertemuan ini*.


Oh satu lagi, jangan pernah berpikir untuk bawa siapapun disana, karena aku tidak suka hal itu. Ingat baik baik nona Alana."

__ADS_1


Kerenza meremas kertas itu dengan penuh amarah. Dia marah karena lagi lagi wanita itu mempernainkaknya, apa lagi saat kalimatnya untuk tidak membawa siapa pun disana seolah wanita itu sudah tau semua rencana mereka.


" Si**lan."


__ADS_2