BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Kegaduhan 1


__ADS_3


" Wah...cantik banget kak!!, tinggal dipasangkan kerudungnya doang kan.." Ucap Almaeera antusias.


" Iya, ya Tuhan anak gadis mama cantik banget..." Bisik mama Vera disertai air matanya yang mulai menetes.


" Nanti aku kaya gitu juga ya mom gaunya..." Bisik Almaureen di dekat telinga mommy Ara.


" Memang mau nikah sama siapa?" Goda aunty Natasya.


" Sama anak aunty kan?" Lanjutnya.


" Rayden mana mau sama aku!, dia aja suka jutekin aku!" Sambar Almaureen cepat.


" Iya ya!!, Rayden itu kok malah mirip dengan Rangga daripada papanya yang ramah. Kok dia malah jutek dan dingin seperti suamimu Ra?" Ucap uncle Rayya.


" Nggak tahu juga kak, si Almeer juga sifatnya cuek dan easy going mirip Lenox, pusing aku. Yang bapaknya siapa?, yang ditiru sifatnya siapa?" Jawab mommy Ara sambil tertawa renyah menatap suaminya.


Sedangkan daddy Rangga sendiri hanya tersenyum menanggapi keluhan istrinya itu.


Sementara uncle Lenox justru pura-pura tidak mendengar apa-apa.


" Lagian Maureen masih kecil nggak usah mikirin kawin dulu deh!!, baru juga mau SMP udah ngehalu pake gaun pengantin kaya kak Sha.., emang udah punya pacar?" Tanya Bianca.


" Nah!!, kenapa harus cari pacar!, kan dia calon menantu aunty Bi!!" Sambar aunty Natasya.


" Yaelah Nat!! Kaya nggak ada kembang lain sih, masa yang dilirik kembang di taman sendiri.." Seru uncle Rayya.


" Kembang diluaran memang banyak kak, yang lebih bagus dan lebih harum juga banyak di jajakan di luar. Tapi bagi Nat, kembang yang dirawat sendiri, yang kita pelihara sendiri, yang didepan mata kita sendiri adalah kembang yang terbaik.." Ucap aunty Natasya sambil mengelus jilbab Almaureen sayang lalu dikecupnya sayang.


" Mau ya sama Rayden.." Rayu aunty Natasya.


" Nggak taulah, Rayden aja playboy kaya gitu. Ogah Renn dapat bibir bekas!!" Sahut Almaureen dengan tingkahnya yang imut.



" Aha..ha..ha..ha.." Tawa para genk somplak senior menggelegar dipenjuru ruangan.


" Biar playboy begitu dia sayang banget sama kamu loh Renn, pokoknya aunty maunya kamu jadi menantu aunty. Titik!!" Ucap Natasya tegas.


" Haduhhh Nat!!, nggak usah maksa-msksa deh, lagian harta kita nggak lari kemana dong jadinya!, muter-muter doang disini... Sunny sama Shanum, Almaeera udah didedepin sama si Saga dari bayi, Maureen dijodohin sama Rayden...ya Ampun!, kaya nggak ada orang lain aja.." Lagi-lagi uncle Rayya menepuk jidatnya.


" Pokoknya Tiara nggak papa ijinin nyomot dari boys disini!, Tiara harus cari jodoh dari luar..." Kata uncle Rayya pada Tiara yang saat ini gelendotan di pundak aunty Hanum.


"Jodoh nggak ada yang tau yang...., nggak boleh ngomong begitu, nggak baik.." Ucap aunty Hanum pelan. Dan dianggukin setuju oleh yang lain.


Dari tempatnya berdiri Luigi Tranfis Dafran menggepalkan erat kedua genggeman tangannya dengan hati yang sangat panas.


Kata-kata uncle Rayya sangat menyakiti hatinya. Tiara adalah seseorang yang berada dihatinya selama ini, dan dia harus mendengar bahwa Tiara dilarang mencari pasangan dari dalam rumah??


Pokoknya Tiara nggak papa ijinin nyomot dari boys disini!, Tiara harus cari jodoh dari luar.


Kata-kata uncle Rayya seakan-akan bagai paku yang menusuk-nusuk gendang telinganya.


Dikeluarkannya ponsel dari saku celana jinsnya dengan tangan bergetar.


" Tia!!, bisa ke rumah pohon sebentar?, aku ingin bicara.." Bisiknya lirih pada seseorang yang beberapa saat lalu mengucapkan salam dari seberang.


...***...


Malam ini adalah acara ijab qobul antara Sunny dan Shanum. Acara memang diselenggarakan privat di White Base.


Selepas Maghrib acara diawali dengan khataman Al Qur'an, sementara Sunny masih berada di rumah kakek Syahril untuk bersiap berangkat.


Pemuda itu mondar-mandir gelisah, berulang-ulang dia menarik nafasnya sekedar untuk menurunkan grogi dan nervousnya.


Entahlah, dia tidak biasanya begini, sudut dadanya terasa nyeri. Dia merasa ada sesuatu yang bakal terjadi, entah apa itu.

__ADS_1


Sunny pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya, ya...saat itu adalah sepuluh tahun lalu, saat sebelum penculikan itu terjadi.


" Kenapa ini? Kenapa perasaanku seperti ini?" Desisinya sambil meremat dadanya.


" Sunny sudah siap nak?" Suara bu Sasti mengagetkannya dan pemuda 23 tahun itu langsung menoleh cepat.


" Siap nek...mari..." Ucapnya tegas.


Tak berselang lama dua mobil beriringan melaju membelah malam kota Jakarta.


Tak seperti hati Sunny yang berbunga-bunga saat menuju White Base.


Kejadian tak terduga justru terjadi di sana.


Seorang wanita hamil datang di tengah-tengah acara pengajian mengacaukan semua.


Tepatnya satu setengah jam yang lalu.


" Bu..diluar ada yang mencari den Sunny..." Bisik bibi Arum pada bunda Dian.


" Siapa bi?, tamu? Suruh masuk saja bi.." Ucap bunda Dian.


" Bukan bu, sepertinya teman aden saat di Inggris bu, dia bule kok" Bisik bibi lagi.


" Ya udah, ayo.." Bunda Dian melangkah menuju pintu depan di ikuti bibi dan mama Vera.


Didepan pintu telah berdiri wanita berambut coklat dengan perut yang membuncit, kehamilan bisa dikisarkan sekitar 3 atau 4 bulanan.


" Mencari putra saya?, mari masuk?, kamu salah satu temanya di Inggris?" Tanya bunda ramah.


" Perkenalkan saya Dorothy Mayyer, sebenarnya bukan Sunny yang ingin saya temui. Tapi calon istrinya.." Jawab wanita itu.


" Shanum maksudnya?, baiklah. Bi...tolong panggil non Shanum..." Bisik bunda pada bi Arum.


" Silakan duduk" Ucap mama Vera ramah.


" Ya bun, bunda panggil Sha..." Shanum muncul beberapa saat setelah dipanggil oleh bibi dengan tampilan cantiknya yang berbalut jilbab yang anggun.


" Kamu calon istri Sunny?" Tanya wanita itu seraya berdiri.


" Iya saya..." Jawab Shanum tanpa curiga.


Wanita itu berdiri mendekati Shanum dengan tampang yang pura-pura dibuat mengiba.


" Dia tidak mengatakan apa-apa padaku tentang acara pernikahan kalian, dia meninggalkan aku begitu saja dan anak kami.."


Duaaarrrr!!!


Bunda, mama Vera dan Shanum sendiri merasa tersambar petir mendengar pengakuan wanita yang mengaku bernama Dorothy Mayyer ini.


" APA!!" Teriak papa Vino yang entah sejak kapan ikut berdiri di belakang mereka.


" Maaf, saya datang tidak berniat mengacaukan acara pernikahan kalian. Selama ini kami melakukannya hanya untuk senang-senang. Saya tidak pernah mengharapkan pertanggungjawaban Sunny.."


" Saya datang hanya ingin memberi tahukah bahwa ada darah dagingnya di sini.."


" Dan juga ini..." Dorothy menyerahkan cincin pertunangan dengan hiasan gambar matahari di sana.


Shanum terhuyung kebelakang, kepalanya bagai di palu oleh senjata milik Thor! Pecah!! Berhamburan!!.


Untung saja uncle Denis sigap menangkapnya. Beliau datang saat mendengar teriakan papa Vino.


" Dia selalu melepasnya saat kami bersama..."


" Sekali lagi maafkan saya..., saya tidak berniat menghancurkan acara kalian. Saya hanya takut Sunny akan dipersalahkan jika cincin dan barang-barangnya ini masih berada di tangan saya.."


Bunda, mama Vera dan Shanum sudah tidak mampu lagi mendengar kata-kata Dorothy selanjutnya, karena ketiganya sudah sama-sama terkapar karena pingsan.

__ADS_1


...***...


" Sha tidak mau meneruskannya pa..., Sha mundur..." Ucap Shanum yang kini tersedu-sedu diantara mommy Ara dan aunty Natasya.


Sementara mama Vera belum juga sadar.


Ayah Marvel dan yang lain hanya diam tidak tau harus berbuat apa. Bukti jelas di depan mata.


Cincin pertunangan adalah hal paling pribadi yang tidak mungkin bisa berpindah tangan seenaknya bukan?. Apalagi kartu Identitas keprajuritan Sandhurst!, hanya orang-orang terdekat saja yang bisa melihat kartu rahasia itu, dan kartu itu bisa berada di tangan seorang wanita yang mengaku telah hampir satu tahun menjadi kekasih Sunny.


Dan hamil??


" Ada apa ini?" Tanya kakek Syahril yang terkejut saat melewati para tamu di luar, tapi tidak mendapati ayah Marvel dan uncle Brian.


Sunny menatap Shanum yang menunduk dan terisak-isak.


" Kenapa?, ada apa?, apa yang terjadi sayang?" Dengan cepat Sunny melangkah menghampiri Shanum.


" Sayang! Sayang!, sayangmu sudah mati sejak kau menyelingkuhinya setahun yang lalu bajingan!!" Teriak Shanum penuh kemarahan.


Matanya menyala merah penuh akan tatapan kebencian pada Sunny yang terlihat bingung karena ditatap tajam oleh semua yang berada di ruangan itu.


" Apa?, apa ini?, jangan main-main deh. Hari ini kita akan menikah yang.... Nggak usah main prank-prank an segala deh..." Sunny menatapi para unclenya dengan bingung.


" Kamu yang tega ngeprank kami begitu kejam Sunny!!" Bentak papa Vino.


" Dengarkan aku!, selama ini aku khawatir melepaskan putriku padamu. Tapi karena aku begitu menghormati ayahmu yang sangat berjasa padaku. Aku merelakannya untukmu!"


" Jujur Sunny!, selama ini kamu bukanlah pilihanku!, kamu bukanlah menantu idamanku, karena aku ada feeling yang buruk dengan sifatmu yang blangsak dari kecil"


" Dan sekarang semua terbukti!!, dan kami bersyukur sekali, semua terbongkar sebelum putriku menjadi istrimu " Ucap papa Vino panjang lebar.


Ayah terlihat tertunduk malu melihat ini semua, apalagi mendengar isi hati papa Vino yang selama ini dipendamnya.


" Duhh!! Please deh cukup!!. Cukup Sunny mohon dengan sangat, prank kalian tidak lucu. Sayang, please jangan akting menangis begitu dong, kau tahu kan aku tidak pernah bisa melihatmu menangis.." Sunny berjongkok didepan Shanum berusaha ingin mengusap air mata gadis itu.


Tapi tatapan mengerikan dari kedua mata Shanum membuatnya mundur seketika.


Ini ada yang tidak beres, ini bukan sekedar prank!!


Ini kenyataan, dah tatapan mata Shanum menjelaskan semua.


" Ada apa ini Sayang?, kenapa? " Tanya Sunny sendu, matanya mulai memerah.


Tak ada jawaban dari mulut Shanum, yang ada hanya decihan kebencian yang begitu meremat hati Sunny.


Dilihatnya sekeliling, semua mata tertuju padanya, tatapan yang membuatnya seolah-olah menjadi terdakwa tindakan kriminal.


Shinee, hanya Shinee yang masih menatapnya hangat, hanya Shinee yang tidak terlihat menyudutkan dirinya disini.


" Shinee? Brother, tell me what's happened?"


Shinee melipat bibirnya ke dalam, enggan mengucapkan sesuatupun dari bibirnya.


" Brother!! Shinee!! ADA APA INI!!" Bentakan Sunny membuat semua telinga berdenging seketika.


Shinee hanya menunduk semakin dalam, apalagi kakek buyut kini juga ikut masuk karena mendengar bentakan Sunny.


" SHINEE?? APA KAMU BISU!!" Bentak Sunny lagi, kepalanya sudah sangat pusing, berdenging-denging tak karuan.


" Seseorang datang mengaku sebagai kekasih mu brother, dia juga mengaku sedang hamil putramu..." Ucap Shinee lirih.


" Opo iki? " Lirih suara kakek buyut yang berada di depan pintu ruangan.


Saga dan Saka yang berada di belakang kakek buyutpun ikut kaget.


" Saga Saka masuk nak, Romo...istirahat saja dulu dikamar, Rasya antar kakek buyut nak... Biar kami yang selesaikan ini romo...." Kakek Syahril menyuruh Saka dan Saga masuk agar tidak ikut membuat keributan jika yang lain sampai tahu.

__ADS_1


" Tidak usah, romo juga ingin tahu apa yang terjadi.." Ucapnya tegas.


__ADS_2