
Shanum diseret dan di masukkan ke dalam sebuah markas besar bergambar Naga Merah.
" Lepasin gue!!" Teriaknya dengan terus melawan, bahkan beberapa anak buah Miko saja tumbang di tangan Shanum yang juga menguasai ilmu bela diri. Daniel yang hanya diperalat itupun begitu bingung.
Jika tidak menuruti ancaman mereka maka adik dan ibunya akan menderita.
" Tolong jangan sakiti dia, kalian hanya menginginkan Buana kan..." Daniel berusaha melindungi Shanum, bahkan pemuda itu rela di bantai habis-habisan.
" Masukkan dia di belakang!!, cewek itu masukkin ke kamar gue!!" Seru Miko santai, melangkahkan kakinya dengan kedua tangan masuk ke kantung celananya.
Demikianlah, Daniel diseret ke gudang belakang sementara Shanum terus melawan semampunya. Anak buah begitu kualahan dengan kegigihan Shanum yang terus melawan. Miko tersenyum kecil tapi rasa gemas juga menggelitik hatinya. Tapi lama-lama timbul rasa geram juga. Cukup sudah baginya menonton pertunjukan ini. Miko langsung menginjak rokoknya dan menyambar Shanum lalu dipanggulnya seperti karung beras.
" Akkhhh..." Teriak Shanum masih dengan terus memberontak.
" Akkhhh....sakit brengsek!!!" Teriak Miko tak kalah kencang saat Shanum terus menjambaknya.
Brugh!!
Miko membanting Shanum begitu saja di tempat tidurnya.
" Sshhhh, sial!! Lo benar-benar kucing liar Cahaya!" Miko mengusap-usap kepalanya yang begitu nyeri akibat jambakan maut Shanum.
" Diam dan tenanglah disini sampai iblis itu datang!!" Ucap Miko tegas.
Miko menatap bekas merah di leher Shanum, bibirnya tersenyum menyeringai.
Selama ini Miko selalu menghabiskan malamnya bersama para wanita bayaran yang jelas sudah bolong sana sini. Terbersit untuk sekedar mencicipi gadis yang masih segel-an seperti Shanum, rasanya pasti lebih menantang. Apalagi gadis ini milik musuh besarnya.
" Lo benar-benar buat gue on sayang...." Miko berjalan mendekat.
" Diam disitu!!, sekali lo maju selangkah saja! Mati lo" Teriak Shanum bersiap dengan kuda-kudanya.
" Hemmm, menarik sekali....pasti mengasyikkan bisa membuatmu mendesah di bawahku sayang..." Miko tak gentar, pria muda berusia 20an itu melangkah maju.
Shanum sudah memperingatkan, maka bukan salahnya jika kini kakinya mengayun cepat menuju wajah Miko.
Duakkk!!
" Akkhh Sh*ttt!!" Miko mengelus rahangnya yang serasa lepas karena tendangan Shanum.
Diusapnya darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Tak ada perubahan raut muka yang berarti. Justru terlihat seperti tak merasakan apa-apa.
Bibirnya kembali menyeringai, senyum menjijikkan begitu mendominasi wajahnya.
Cuihh...
Ludah berwarna merah itu begitu kental, keluar dari bibirnya.
" Hemmmm, ini yang gue suka, gue semakin bernafsu padamu sayang.... Keluarkan lagi apa yang tersembunyi dari mu..." Miko semakin menginginkan Shanum. Matanya begitu sayu menatap gadis cantik di depanya itu.
Sementara Daniel yang disekap didalam gudang segera menghubungi Roy. Karena hanya Roy yang dikenalnya, apalagi Roy memang terkenal ramah dan banyak teman. Sedangkan Arnov dan Binar anak IPA yang sulit diajak bicara.
" Hallo..." Sahut Roy
" Roy, gue Daniel. Roy tolong Cahaya!!, cewek Binar saat ini sedang diculik di Markas Naga Merah..."
" Apa!!" Teriak Roy dengan mata yang melotot hampir keluar.
" Apa?" Tanya Arnov yang kebetulan ada di sampingnya itu ikut kaget. Rencananya sore ini mereka pergi bersama untuk mencari sepatu futsal.
" Kita ke Markas Naga Merah sekarang juga.." Ucapannya dengan berlari cepat kembali ke parkiran.
Arnov yang tidak mengerti apa-apa menurut saja, apalagi menyangkut Naga Merah, pasti ada yang tidak beres.
__ADS_1
Sementara Binar yang tetap bangkit walau luka memenuhi tubuhnya disana sini sudah berdiri di depan Markas yang didominasi warna Merah itu.
" MIKO!!! KELUAR LO BRENGSEK!!" Teriak Binar kuat.
Beberapa anak buah Miko berhamburan keluar dan mulai menyerang Binar.
Binar yang telah di mode iblisnya segera membantai habis-habisan dan berhasil merangsek ke dalam.
" MIKO!! KELUAR!!"
Binar menendang semua pintu yang ada diruang bawah, mencari-cari keberadaannya Shanum.
" AYAAAA!!!" Teriak Binar frustasi.
" BIN...." Suara Shanum sayup-sayup didengarnya dari atas.
Binar dengan cepat berlarian naik ke atas.
" CAHAYA.." Panggil Binar lagi
Prok..prok...prok..
Tepukan tangan Miko membuat Binar langsung menoleh.
" Datang juga lo Buana!!, Akhirnya...hanya dengan umpan seorang gadis saja bisa membuatmu keluar dari sangkarmu selama ini.."
" Jadi 'BUANA EAGLE EYE' Itu adalah elo!! Binar Buana Sanjaya...."
Miko mendekat dengan terus menatap tajam Binar.
" Lepasin Cahaya.." Pinta Binar pelan.
" Not ever!, target gue berubah. Gue nggak butuh lo.... Gue hanya butuh Cahaya untuk gue ha..ha..ha.." Miko semakin menikmati wajah dingin Binar yang mengeras karena benar-benar marah.
Binar yang begitu meledak dalam amarahnya langsung melompat menghajar Miko.
Bug!! Bag!! Bug!!
Mereka saling tendang, saling tinju, saling jotos. Tak ada yang lebih unggul dari keduanya. Mereka sama-sama kuat.
Tapi Binar yang telah begitu dibakar amarah terlihat begitu menggila. Miko beberapa kali terkena pukulan mematikan dari Binar si iblis.
Shanum yang akhirnya bisa keluar dari dalam kamar itu mematung menatap keganasan Binar. Gadis itu begitu syok tidak percaya dengan tampilan Binar yang mengerikan.
" Berani lo sentuh dia sedikit saja!!, gue patahin tangan lo!!" Ucap Binar dengan menggenggam tangan Miko, dan dengan gesit memutar tangan Miko.
Krek!! Krek!!
Shanum bergidik ngeri melihat kegilaan Binar yang mirip seperti psikopat gila.
Tapi Miko bukanlah adiknya yang pernah ditaklukkan Binar bulan lalu.
Miko jelas lebih kuat, hanya patah tangan sebelah tidak akan membuatnya menyerah. Apalagi sudut matanya melihat Shanum yang mengigil ketakutan melihat Binar. Ide licik untuk mengalah saat ini timbul. Niatnya hanya untuk mengambil simpati Shanum dan menjatuhkan harga diri Binar yang mirip iblis itu.
Duakkk!!
Satu tinju Binar kini bersarang di rahang Miko, membuatnya terhuyung ke belakang.
Tapi rupanya Binar yang telah gelap mata tidak berhenti sampai disitu.
Buaghh!!
Tendangan keras kakinya pada perut Miko membuat pemuda itu benar-benar tumbang beberapa langkah ke belakang.
Melihat musuhnya sudah tidak berdaya, tidak membuat Binar berhenti. Hampir saja kakinya hendak menginjak perut Miko jika suara Shanum tidak mencegahnya.
__ADS_1
" CUKUP BINAR!!"
Binar langsung menoleh kearah suara Shanum, sementara Miko tersenyum sinis.
Mata Binar memerah menahan tangisnya saat melihat penampilan Shanum yang berantakan. Wajah cantiknya penuh luka, dan lehernya yang memerah membuat Binar semakin gelap mata.
" APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA MIKO!! AKKHHHHH MAMPUS LO"
Binar yang kesetanan menendangi tubuh Miko yang tidak berdaya seperti menendang bola.
" BINAR CUKUP" Teriak Roy dan Arnov yang akhirnya berhasil masuk.
" Cahaya yang utama, kita bawa dia dulu ke RS..." Roy menarik Binar yang masih saja menyiksa Miko.
Sementara Arnov memapah Shanum.
Mendengar nama Cahaya, Binarpun berhenti seketika, tapi sejurus kemudian ia kembali mengamuk.
" Bin sudah Bin....cukup..." Teriak Shanum dengan menarik rantai dicelana Binar. Tidak ada lagi yang bisa dipegang Shanum kecuali itu.
Karena saat perang, Binar tidak mengenakan atasan, alias bertelanjang dada.
" Enough Bin....please. Aku..aku...aku takut padamu Bin..please...berhenti.." Pinta Shanum lagi dengan tubuh bergetar, bahkan suaranya pun ikut terdengar gember karena begitu ketakutan.
Brugh!!!
Binar terduduk ditempatnya, sisi iblisnya telah diketahui oleh gadis yang begitu disukainya.
Apalagi dengan kedua telinganya sendiri Binar mendengar kalimat ketakutan itu meluncur dari bibir Shanum.
Bahkan dengan mata kepalanya sendiri Binar melihat bagaimana bergetarnya tubuh Shanum yang begitu ketakutan melihatnya keadaannya saat ini.
Hancur sudah harga diri Binar detik ini, sisi buruk yang selalu di sembunyikannya akhirnya terbongkar juga.
" Hiks...hiks...maafkan aku, maafkan aku Aya... Karena aku cowok yang seperti ini. Cahaya, kau boleh membenciku selamanya. Setelah tahu siapa diriku yang sebenarnya, kau boleh menjauh dariku.."
Miko tersenyum dan diamnya.
" Aku tahu aku menjijikkan, kedua tanganku selalu berlumuran darah. Aku iblis yang mengerikan, tapi untuk terakhir kalinya izinkan aku membawamu ke RS untuk mengobati luka-lukamu.."
Dengan tangan bergetar dan air mata yang mengalir deras Binar mengangkat tubuh Shanum untuk digendongnya menuju RS.
Shanum ikut menangis tidak tahu lagi apa yang harus diucapkannya saat ini.
...***...
Binar hanya diam saat Ayu dan Alexa datang ke RS. Semenjak membawa Cahaya ke Rumah Sakit dia hanya mematung tak mengeluarkan sepatah katapun, bersandar di pojok ruangan. Bahkan tatapan mata Shanum saja selalu dihindarinya.
Insecure yang luar biasa melanda dirinya saat ini. Pertama dia tidak bisa melindungi Cahayanya. Karena keteledorannya Shanum di culik. Karena dekat dengan dirinya Shanum jadi sasaran. Dan karena hasil perbuatannya Miko balas dendam. Semua karena DIA. Semua yang terjadi karena DIRINYA.
Kedua, ini adalah hasil dari egonya. Egonya yang memaksakan dirinya, memaksakan cintanya.
Cinta?
Bahkan rasa yang ada pada hatinya tidak layak disebut cinta.
Sejatinya cinta adalah membuat pasanganya bahagia. Tapi cinta Binar justru membuat Cahayanya terluka. Apa ini cinta?.
-------------------------------------------------------------
Lanjut??
__ADS_1