
" Cepat tanda tangani ini. CEPAT!!" Bentak Milano dengan semakin menguatkan jambakanya.
" Cihhh, sampai gue mati lo nggak akan dapet yang lo mau!!" Lawan Sunny.
Duuaakk!!
Lagi-lagi kepala Sunny menjadi sasaran pemukulan mereka.
" Ssshhhhh" Desis Sunny saat rasa pusing begitu meremat kepalanya saat ini.
Lintasan-lintasan memori masa lalu berputar-putar dikepalanya seperti roll film yang tak terputus, terus bersambung.
Sunny kini ingat!, ya ingatanya telah kembali. Sunny ingat dia dididik sebagai pejuang yang tidak mudah menyerah.
Sunny sudah kembali mengingat siapa jati dirinya seutuhnya, tidak lagi meraba-raba seperti beberapa minggu ini.
Sunny tetap bersikukuh untuk menolak membubuhkan tanda tangannya.
Mau tidak mau Milano mengeluarkan pistol dan bersiap untuk meledakkan kepala Sunny yang sejak tadi begitu menguras emosinya.
Operasinya untuk mendapatkan tanda tangan bocah ini gagal tidak masalah baginya, yang penting dendamnya pada ayah Marvel lunas.
Ujung pistol bahkan telan menempel lekat pada pelipis pemuda itu . Saat ujung pelatukpun telah berbunyi klik, sorot lampu mobil yang begitu terang dan silau menghentikan ulah para preman suruhan mama Ganis itu.
" Bos!!, bagaimana?" Tanya salah satu anak buah Milano.
" Kita pergi aja, dia juga sudah hampir mati!." Seru Milano cepat dan segera meninggalkan Sunny tergeletak mengenaskan di tengah gang.
Seorang gadis keluar dari mobil dan berlarian menuju tubuh Sunny yang tergeletak.
Gadis itu meraba pergelangan tangan Sunny, lalu menempelkan jari telunjuknya di depan hidung Sunny.
" Bagaimana Claireen ?" Tanya pemuda yang ikut turun dari mobil dan mendekati gadis yang bernama Claireen itu.
" Syukurlah dia masih hidup hanya tidak sadarkan diri. Tapi untung saja kita tidak terlambat, karena kalo lewat beberapa menit saja pasti papaku kembali menjadi pembunuh Jo!!" Ucap Claireen.
" Ya sudah cepat bantu gue angkat!!, kita bawa ke rumah sakit.." Lanjut Claireen, putri Milano.
Mereka berdua dengan cepat membawa tubuh Sunny yang bersimbah darah ke Rumah Sakit.
" Sampai kapan lo harus terus membuntuti papamu Claireen!!, ini bahaya.... Papa lo psikopat gila!!, gue takut kalo sampai lo ketahuan gimana??" Seru Joshua, sahabat Claireen.
" Aku juga kadang berfikir begitu Jo!!, jika papaku tahu gimana?, apa papaku bisa melenyapkan aku juga?" Claireen menatap lurus kedepan.
...***...
Sementara Shinee yang berusaha menahan para polisi untuk tidak membawa papa Sanjaya terlebih dahulu sebelum Sunny datang akhirnya menyerah.
Dakwaan yang diajukan ayahnya terbukti semua, kesalahan-kesalahan yang dituliskan di dakwaan itu diakui semua oleh papa Sanjaya.
Aivy yang capek menangis sedari siang tadi terlihat lunglai di pangkuan Arnov. Roypun sudah menghubungi papanya untuk mengirimkan pengacara mereka.
Tapi saat ini mereka dibuat pusing dengan tidak munculnya Sunny sedari tadi.
" Gimana Roy?" Tanya Alexa tak sabar.
" Nggak diangkat!!, Binar nggak angkat ponselnya yang..., kemana Binar ihhhh!!" Geram Roy.
" Papaaa hiks...hiks..., kak Nov mana kakak..." Lirih Aivy lemah.
" Ssstttt, tenang Aivy. Kami masih menghubungi kakakmu?" Bisik Arnov dengan mengusap kepala Aivy untuk memberinya ketenangan.
Mereka berempatpun akhirnya ikut ke kantor polisi guna dimintai keterangan dan mungkin akan bisa jadi malah menjadi saksi.
Kegemparanpun kini terjadi di WB.
" Apa!, jadi beneran Sunny kita masih hidup, Alhamdulillah...Allahuakbar..."
__ADS_1
" Sstttt, jangan berisik dulu. Nanti takutnya adik-adiknya heboh dan bertindak masing-masing. Dengar ucapan Saka kemarin saja mereka sudah bertingkah sok-sokan jadi detektif Conan!, apalagi sekarang..."
Semua yang berada di WB bergitu bersyukur dengan kabar yang dibawa oleh bunda Dian, tapi mereka menyembunyikan ini dari para anak-anak.
Ayah dan uncle Brian masih menyembunyikan informasi terpenting nya yaitu bahwa Binar lah Manggala Sunny.
Shanum yang memang dari awal tidak percaya bahwa jenasah itu adalah Sunny hanya bisa bersyukur.
Tapi entah kenapa benaknya terisi penuh oleh kata-kata Binar yang akhir-akhir ini begitu banyak menggunakan kosakata yang sering diucapkan Sunnynya. Bahkan kosakata itu harusnya hanya Sunny yang punya.
Kalo kebetulan, masa kalimatnya bisa sama persis sih..
Sudah itu gaya bicara dan logatnya kok juga sama...
Sebenarnya dari awal melihat Binar, aku sedikit curang juga sih...
Aku selama ini menganggapnya sebagai Sunny, karena wajah mereka begitu mirip...
Akhhh...aku harus menemui Binar sekali lagi untuk minta maaf, karena aku sudah curang padanya selama ini.
Yang kusuka darinya hanya wajahnya yang mirip Sunnyku...
Untuk Cinta?, jelas aku mencintainya juga karena wajah Sunny yang ada padanya....
Maafkan aku Binar...
...***...
Claireen dan Jhosua saat ini telah sampai dirumah sakit. Sunny langsung ditangani oleh pihak IGD. Tapi karena stock darah dengan tipe Sunny sangat langka maka rumah sakit menghubungi uncle Lenox.
" Apa!! darah dengan tipe AB-?" Tanyanya pada seseorang disambungan ponselnya.
" Siapa Le?, kenapa dengan suamiku, brothymu kenapa?" Tanya bunda Dian yang mendengar ucapan uncle Lenox.
Saat ini mereka berada diruang kerja aunty Wari, di panti asuhan Casablanca. Ada beberapa pasien yang perlu bantuan keduanya saat ini.
" Apa?, AB-?, siapa dia?, siapa pasiennya Le, kenapa darahnya sama seperti suamiku, putraku, kakek Shahril dan Adnan......" Ucap bunda Dian panik.
Putranya ada diluaran sana, dengan golongan darah langka seperti suaminya, kakek dan Adnan, lantas jika ada yang membutuhkan darah langka itu apakah dia tidak boleh panik?, dan kebetulankah ini?
" Bentar kak..., Lenox mintain datanya dulu..." Ucap uncle Lenox lagi.
Dan setelah mendapatkan informasi yang valit, tak butuh waktu lama akhirnya bunda Dian dan uncle Lenox langsung meluncur ke Rumah Sakit malam itu juga.
" Hubungi brothy kak.." Pinta uncle Lenox cemas.
Dari data yang didapatkan, pasien ini pemuda berusia 19tahunan. Kondisinya begitu mengenaskan, dan memiliki garis wajah yang mirip seperti Shinee.
Bunda Dian terus menghubungi ponsel ayah Marvel, tapi sayang beliau sedang ribut di kantor polisi sampai-sampai tidak menyadari panggilan bunda Dian.
" Kakak yakin pemuda ini Sunny kita?" Tanya uncle Lenox was-was, takut terjadi ledakan emosi pada diri bunda Dian jika hasilnya tidak sesuai.
Karena sejak tadi uncle Lenox melihat bunda Dian bergerak-gerak tidak tenang.
"Huuffft....tenang Le, kak Dian sudah bisa mulai menerima keadaan kok, kak Dian tahu kamu cemas. Tapi jika pemuda ini bukan Sunnyku juga nggak apa-apa. Hanya tahu Sunnyku masih hidup saja bagi kak Dian cukup.... Kita tinggal mencarinya sampai ketemu..." Lanjut bunda Dian berusaha tabah.
Uncle Lenoxpun tersenyum tipis dan mengangguk setuju.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke Rumah Sakit. Uncle Lenox membawa bunda langsung ke ruang IGD.
Di sana masih ada Claireen dan Jhosua yang ditahan oleh pihak RS untuk dimintai keterangan atas perintah uncle Lenox.
" Kakak tunggu sini sebentar, biar aku periksa dulu.." Ucap uncle Lenox dan langsung masuk ke ruangan setelah berganti baju steril.
Bunda Dian terlihat menggigit-gigit jari jempolnya, lututnya bergetar tidak karuan.
Drtt...drrttt...
__ADS_1
Bunyi ponsel bunda Dian yang bergetar membuatnya sedikit terjingkat. Ternyata panggilan dari ayah Marvel yang baru sempat melihat ponselnya setelah berhasil menjebloskan papa Sanjaya ke penjara.
Tak ada perlawanan dari ayah dari Binar Buana Sanjaya dan Aivy Shofie itu. Beliau pasrah, beliau mengaku salah. Dan beliau ikhlas mendapatkan hukuman yang masih terbilang ringan.
Penjara seumur hidup sudah sangat pantas untuk dirinya.
" Wife? Ada apa sayang?" Tanya ayah.
" Hubby, dirumah sakit ada pemuda terluka parah yang memerlukan donor darah. Darahnya langka seperti milikmu, dan putra kita..."
" What!!!, siapa dia? . Binar kah?" Tanya ayah dengan dada yang bergemuruh hebat.
Entah kenapa sejak tadi perasaannya begitu tidak nyaman, begitupun Shinee yang terus-terusan bergerak tak tenang.
" Iya brothy!!, dia Binar!!" Sahut Lenox dengan mengeraskan suaranya tepat di belakang bunda.
Bunda Dian langsung menoleh menatap uncle Lenox dengan penuh pertanyaan.
" Binar?, maksudnya?" Tanya bunda Dian bingung.
" Mari kak, ganti baju steril dulu baru kita masuk.." Ucap uncle dengan sabar.
Bunda Dianpun mengikuti uncle Lenox.
Di atas brangkar, Sunny terbujur dengan luka yang begitu mengenaskan di sekujur tubuhnya.
Bunda Dian menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya saat melihat wajah pemuda itu.
" Sunny...., my Sunny..." Desisnya diiringi deraian air matanya.
" Le...Lenox dia???"
Uncle Lenox menganggukkan kepalanya, ditepuk-tepuknya pundak bunda untuk menyalurkan kekuatan.
" Ya, dia Binar. Binar adalah putramu kak, Binar adalah Sunny..."
Dengan tubuh bergetar karena tangis dan rasa bahagia yang meluap-luap, bunda mendekati brangkar.
Menatap pemuda yang tepejam lemah itu sendu, benar-benar Sunnynya.
Bunda sangat yakin pemuda ini Sunnynya, garis wajahnya benar-benar mirip Shinee...
Grepp
Dipeluknya tubuh penuh luka yang telah dibersihkan dan diobati itu begitu erat.
" Ouughhh..." Desah Sunny kesakitan saat pelukan bunda menekan bagian-bagian yang sakit pada tubuhnya.
" Sunny...?, darling? it's you son?" Bisik bunda di telinga Sunny yang masih terpejam.
" Hemmhhh" Hanya hembusan kasar yang mampu Sunny keluarkan saat ini. Rasa tubuhnya serasa remuk semua bagai habis digilas truk tronton.
" Sunny...ini bunda, ini bunda darling..." Bisik bunda dengan terisak-isak, suara tangisnya begitu memilukan membuat Sunny berusaha untuk membuka mulutnya walau harus bersusah payah.
" Emmhhhh, j jangan p panggil, a aku, d darling.., a aku n nggak mau, geli telingakuu bun..." Sahut Sunny lemah dan terbata-bata.
Benar!!! Ini putranya!! Ini benar-benar Sunny, karena Sunny pasti merasa mual setiap bunda manggilnya darling.
" Sunny.... Sunny my son. Alhamdulillah.., Alhamdulillah..."
Brughh!!
Bunda Dian merosot ke lantai untuk bersujud syukur akan kembalinya putranya. Ini lah titik balik atas semua dukanya selama ini. Lega....
Hatinya begitu lega, seolah-olah duka selama ini tidak pernah ada..
Tak lama pintu terbuka, ayah Marvel, uncle Brian dam Shinee muncul dari sana.
Atas saran uncle Lenox mereka bergerak cepat, karena Sunny juga tidak bisa menunggu lama untuk mendapatkan transfusi darah.
__ADS_1
Transfusi darahpun segera diberikan oleh Shinee yang masih sehat, karena ayah saat ini sedang hypertension karena peristiwa akhir-akhir ini.