
Roy tetap memaksa untuk membawa Aivy untuk nonton film siang ini.
Kebetulan mereka pulang cepat karena hari terakhir ujian.
Setelah mereka pulang kerumah masing-masing dan berganti pakaian, Roy sang sopir bertugas menjemput para penumpangnya.
Binar dan Aivy sudah berada di rumahnya beberapa saat lalu, kini tujuannya adalah rumah Alexandria.
" Kita jemput Alex dulu sekalian jalan ya Bin..." Ucap Roy sambil matanya fokus ke arah jalan.
" Hemmm" Balas Binar.
" Aivy nanti minta boneka BT21nya pilih yang paling gede ya, dan 3 atau 4 buah gitu, kak Arnov lagi banyak duit soalnya he..he......" Roy mulai memprovokasi Aivy.
" Siap kak..." Jawab Aivy.
" Jangan dengerin kak Roy Aivy!, ajaranya sesat. Kamu harus menghormati yang lebih tua..ingat itu!!" Nasehat Binar cepat, matanya melirik Roy kesal.
Sementara Roy hanya cengengesan.
" Baik kak.." Sahut Aivy, gadis kecil itu menjulurkan lidahnya mengejek Roy saat mata Roy meliriknya dari rear mirror di depanya.
Ehh..., gila!!. Emang cakep juga bocil ini..
Pantesan Arnov klepek-klepek..
" Kita jemput Arnov dulu deh..." Ucap Roy gaje, tanganya dengan lihai memutar setir mobil untuk berputar arah.
" Serah lo lah..." Ucap Binar pasrah.
Pemuda itu bersedekap tangan, kepalanya disandarkan di punggung kursi dengan mata terpejam. Besok lusa dia berencana akan pergi ke Jakarta membawa papanya kontrol, tapi rumah siapa yang akan menjadi tujuannya?.
Tidak mungkin juga kan langsung ke rumah sakit. Kalau naik kereta api di pagi hari pasti sampainya di malam hari kan?. Trus kemana tujuanya?
Hotel?, Dari mana uangnya?.
Tabungan?, Trus biaya kuliahnya dan kelanjutan sekolah Aivy bagaimana?.
Jual rumah?, Itu terlalu beresiko. Kita belum tahu keadaan sebenarnya kaki papa Sanjaya.
Apalagi kalau sampai berita penjualan rumah di kampung sampai kedengaran mama Ganis, bisa runyam semua.
Biarlah...
Binar berserah kepada Tuhan..
Apapun yang terjadi pasti sudah menjadi garis takdirnya.
Binar terus melamun, bahkan pemuda itu tidak menyadari bahwa mereka telah berada di depan rumah Arnov.
Tubuhnya bertingkat kaget saat Arnov mengetuk kaca di sampingnya.
" Bin, lo belakang aja sama Aivy.." Ucap Arnov.
" Ngga deh lo aja.." Sahut Binar yang memang kadung mager.
" Lo nggak pengen ayang-ayangan sama Cahaya gitu?" Rayu Arnov.
" Ada adek gue gimana mau ayang-ayangan? Bego lu!!. Udah lo aja duduk sana!. Gue udah kangen Aya nih.." Bentak Binar kesal.
Roy hanya diam sambil mengamati reaksi Arnov yang terlihat canggung.
"Anjriitt...lucu amat jones satu ini ha...ha..ha.., gue perlu piala buat nobatin Arnov sebagai Jones ter-imut ha..ha..ha.." Roy tertawa puas dalam hatinya.
Sementara Aivy menggeser tubuhnya memberikan ruang untuk Arnov yang mau tidak mau duduk disamping Aivy.
" Kak, inget kan janjinya?" Tagih Aivy begitu mobil mulai berjalan lagi.
" Hemmm, tentu.." Jawab Arnov singkat.
" Sini pinjam tanganya" Ucap Aivy lagi.
" Apa?, buat apa?" Tanya Arnov bingung.
__ADS_1
Aivy meraih tangan Arnov dan diletakkan di pangkuannya. Gadis itu lalu meluruskan jari kelingking Arnov dan mengaitkannya dengan kelingkingnya.
" Janji ya beliin bonekanya dua.."
" Eitss nggak ada ya beli dua!, satu saja!. Keluar rapor dulu, jika kamu juara pertama baru satu lagi...." Ucap Arnov, kelingkingnya reflek menaut jari kecil Aivy itu erat.
" Asyyekkk..." Seru Aivy girang. Binar menoleh sekilas melihat adiknya yang begitu bahagia. Tapi...
Kalau besok dia dan ayahnya ke Jakarta, terus Aivy dititipin ke siapa pula?
Cahaya ada pembekalan dan tes untuk mempersiapkan tesnya ke Boston selama dua hari.
Arnov juga sudah mulai harus mempersiapkan diri mengurus dan melengkapi syarat-syarat untuk menjadi salah satu taruna AU.
Sedangkan Roy?
Walaupun mereka bersahabat, Binar agak sungkan dengan keluarga Roy. Ayah Roy yang pebisnis dan jarang dirumah, apalagi ibunya yang seorang mantan model sangat jarang ia temui jika mereka berkumpul dirumah Roy.
Tapi yang Binar tahu mereka berdua sangat baik. Mereka selalu mempersiapkan kudapan dan cemilan yang wah tiap kali giliran kumpul belajar dirumah Roy.
Beda dengan bunda Arnov yang selalu welcome dengan wajah sumringahnya saat mereka datang. Bahkan tak sungkan-sungkan bunda Arnov ikut nimbrung mengobrol.
Sehingga tidak ada jarak yang luas diantara mereka, malahan saking asiknya, bunda Arnov serasa ibu sendiri bagi Roy dan Binar.
...***...
Binar terlihat manyun sejak memasuki bioskop. Dia pengen peluk, pengen ngecup Shanum dari tadi. Tapi keberadaan Aivy di tengah-tengah mereka membuatnya benar-benar berusaha menjaga sikap.
Pemuda itu sejatinya ingin dilihat sebagai pemuda yang gentleman oleh adiknya. Contoh yang terbaik untuk adiknya.
Padahal mah aslinya ya berandalan, belum tahu saja Aivy bahwa kakaknya tiap malam berubah jadi ninja yang selalu menyelinap ke kamar ceweknya.
Sebenarnya tidak ada niatnya untuk macam-macam walaupun mereka berada di kamar berduaan. Hanya ngobrol dan melepaskan rindu saja.
Tidak selalu mesum-mesuman juga, kissing saja mereka sangat jarang. Kalaupun Binar terpaksa menginap, karena kadang Saga tidur di rumah kawannya dan papa mana Shanum ke Malang. Dia akan tidur di lantai dan Shanum dikasurnya, paling hanya tangan mereka saja yang terus bertautan.
Jujur, keinginan untuk macam-macam itu kadang hadir, maklumlah hormon pubertas dimasanya sedang tinggi-tingginya. Tapi untungnya iman Binar masih sangat tebal, Alhamdulillah.
" Babe, kamu nggak kangen aku ya?" Bisik Binar kesal.
" Kangen dong...." Jawab Shanum sambil menoleh.
" Tapi dari tadi kamu cuekin aku.." Sahut Binar.
" Nggak cuekin babe.." Shanum berbalik menghadap Binar. Masih ada 6 orang lagi yang antri di depanya, cukuplah waktu untuk mengobrol dulu.
" Aku nggak bisa liat wajah kamu hari ini, kamu terlalu tampan. Aku takut nggak bisa tahan..." Shanum hanya menggerakkan bibirnya komat kamit, kedua tanganya berada di pipinya, menghalangi pandangan orang lain saat dia berbicara rahasia pada Binar saat ini.
Binar melotot sambil menggigit bibirnya, aduh senennya dia.
Ditatapnya wajah Shanum penuh rasa rindu yang menggebu. Tapi semakin lama tatapan itu meresap ke hatinya. Semakin dia tidak mampu untuk tidak menyentuh Shanum.
" Ckk...mati gue, gue pengen gigit kamu babe ya ampun....." Ucap Binar gemas.
Dia selalu salah tingkah dan terbang melayang tiap kali Shanum memujinya tampan.
Nggak tahan lagi!, Binar membalik tubuh Shanum dan memeluknya erat dari belakang. Lalu mendorongnya pelan-pelan untuk maju kedepan karena antrian di depanya sudah sedikit menjauh. Binar terus memeluk Shanum selama antri, bahkan dagunya dimainkannya di atas kepala Shanum.
Beberapa pengunjung begitu iri melihat mereka berdua. Kombinasi yang sempurna, cewek yang cantik dan manis, sementara cowok yang gagah dan tampan.
"Besok malam bisa nggak ke cafe lihat perfom aku babe, ada acara weeding.." Bisik Binar.
" InsyaAllah, nggak janji ya. Lihat Saga mau apa enggak ngantarnya.." Jawab Shanum.
Mereka kini berjalan menuju studio yang dituju.
" Wehhh, gila wehhh antri..." Bisik Roy.
" Nggak papa lah malah ramai, nonton film horor kolo sorangan kan ngeri pula!!" Timpal Arnov.
" Dihhh!!, ngomong aja takut..." Sambar Ayu.
__ADS_1
" Gue??, no way!!"
Aivy membuat ekspresi imut di wajahnya.
" Bohong!!, kemarin aja pas ada trailer film Kuntilanak di TV, kakak langsung loncat..ha..ha...ha.."
Arnov langsung menoleh ke Aivy dan menempelkan telunjuknya pada bibir gadis itu.
" Ssstttt, duh Aivy kenapa kamu buka aib kakak!!, nggak jadi deh beli boneka BT21nya..." Arnov merajuk dengan bersedekap lalu berjalan menjauh dari kelompoknya.
" Eehhhh, marah ya?" Ucap Aivy bingung sambil menatap punggung Arnov.
Kelima sahabat Arnov tertawa terbahak-bahak, mereka baru tahu ternyata Arnov itu seorang pengecut. Menebas orang dan di tebas orang dia begitu berani, giliran melihat kuntilanak di TV dianya mengkerut.
...***...
Aivy duduk diantara Arnov dan Ayu. Roy dan Alexandria jangan ditanya, mereka asik mojok pacaran. Sedangkan Binar dan Cahaya bertingkah sewajarnya, walau tanpa sepengetahuan Aivy mereka terus saling tempel.
Film berputar hampir sepertiganya saat ponsel Aivy berbunyi.
πΆπΆ
Baby shark du du du du...
Baby shark du du du du...
πΆπΆ
Aivy dengan cepat mengangkat ponselnya agar tidak mengganggu penonton lain.
" Assalamualaikum Maureen..."
" Waalaikumsalam Aivy....miss you so much bestie...."
" Apa kabar Maureen?"
" Alhamdulillah Aivy, I'm fine...you?"
" Alhamdulilah me too..."
" Yeeyyyy, Aivy udah pinter speaking English..." Teriak Maureen heboh.
" Ya iyalah, gue gurunya" Ucap Almeer dibelakang Maureen.
" Dih kakak selalu nimbrung tiap Maureen telponan sana Aivy!, sanalah jangan kepo urusan cewek!!" Usir Maureen sambil mendorong Almeer menjauh.
" Pelit amat, mati kegencet tanah lo!!" Umpat Almeer kesal. Pria kecil itu hanya pindah ke belakang Maureen, tapi matanya jeli menatap layar ponsel Maureen yang menampilkan wajah cantik Aivy.
" Aivy, maaf ya liburan kali ini kami nggak bisa ke Surabaya. Mommy dan daddy ku sibuk mempersiapkan kakak-kakakku masuk pesantren.." Ucap Maureen.
" Yaaaa..., jadi kalian nggak ke Surabaya??" Ucap Aivy sedikit kencang. Raut wajah mereka begitu terlihat sedih.
Binar langsung menoleh menatap adiknya.
" Siapa yang telpon?" Tanyanya dengan tubuh melengkung di depan Arnov.
" Maureen.." Jawab Aivy dengan hanya menggerakkan bibirnya.
" Nov geser bentar, Aivy kesini.." Binar meminta Arnov pindah ke tempat Aivy, dan Aivy kesebelahnya di tempat Arnov tadi.
" Apa kata Maureen?" Tanya Binar sambil berbisik.
"Mereka nggak kesini liburan ini, kak Meera dan kak Almeer mau daftar pesantren..." Bisik Aivy cepat.
" Sini pinjam ponselnya.." Binar mengambil alih ponsel Aivy.
" Hai Maureen.." Maureen kini melihat wajah kak Binar memenuhi layar ponselnya.
" Hai kak Binar, miss you.."
" Miss you too. Emmm, Maureen..apa mommy ada?" Tanya Binar.
Binar langsung ada ide saat Aivy mengatakan bahwa Maureen menghubungi, hatinya begitu lega. Kebingungan tinggal dimana saat di Jakarta nanti akhirnya menunjukan jalan keluarnya. Apalagi mommynya Maureen juga seorang dokter.
__ADS_1
" Alhamdulillah ya Allah...akhirnya ada jalan keluar..." Syukur Binar dalam hati.