BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
I love you Binar...


__ADS_3

Binar tidak dapat memejamkan matanya sama sekali. Sertifikat rumah yang baru diambilnya dari bank sepulang dari panti hanya dibolak-baliknya.


Flashback on.


" Jadi Alexandria pacaran dengan Roy Alamsyah sahabatmu itu.., lalu kamu sendiri pacaran dengan siapa nak?" Tanya papa Sanjaya tersenyum simpul sambil melirik Binar yang terlihat tersipu dan menunduk.


" Gadis yang kamu bawa kesini waktu itu?, Cahaya?" Tebak papa Sanjaya sambil tersenyum geli melihat reaksi Binar yang imut.


" Hemmm" Jawab Binar masih menunduk, wajahnya begitu merah seperti tomat masak.


" Tapi sepertinya tidak akan berhasil pah. Mungkin cerita cinta SMA kami akan berakhir beberapa bulan lagi ..." Ucap Binar sendu.


Papa Sanjaya tersentak kaget.


" Kenapa?, karena status sosial?, Cahaya sudah dijodohkan?" Tanya papa Sanjaya sedih. Sedikit banyak dia tahu dari cerita-cerita Aivy betapa kayanya keluarga Cahaya.


" Bukan pah, dia akan pergi jauh. Binar tidak yakin LDRan akan berhasil, papa taukan dia begitu cantik, pasti jadi pusat perhatian dimanapun dia berada..." Binar terus meremas tangannya.


" Pergi?"


" Ya pah, Dia akan melanjutkan kuliahnya di USA.." Binar menggigit bibirnya karena hatinya tiba-tiba begitu sesak.


" Kenapa?, kamu juga bisa kesana kan?. Rumah yang di Kampung jual saja untuk biaya kesana..." Papa Sanjaya mengelus pundak Binar penuh kasih.


" Tapi papa dan Aivy bagaimana?, sebenarnya Binar ada tawaran beasiswa sebelum ini. Tapi karena memikirkan keadaan papa dan Aivy, Binar memutuskan untuk menolaknya pah..."


" LOH !! Jangan dong. Ambil kembali nak...!!. Kamu dengar nggak tadi papa bilang bahwa papa masih ada kemungkinan bisa jalan kembali dengan jalan operasi, papa akan sembuh Binar. Papa bisa jaga Aivy "


" Ambil kembali beasiswamu nak!. Itu masa depanmu..." Papa Sanjaya mengeluarkan sesuatu dari bawah kasurnya.


Selembar kertas kotak kecil, bertuliskan nama salah satu bank.


" Berikan ini pada karyawan bank yang bernama pak Hakim. Papa menitipkan sertifikat rumah nenek dan kakekmu padanya. Jual saja rumah itu, sebagian kita gunakan untuk operasi kaki papa, dan sebagian lainya untukmu mengejar Cahaya..." Ucap papa Sanjaya, tanganya terus menepuk-nepuk pundak putranya itu untuk memberikan semangat.


" Tapi pah..."


" Tidak ada tapi-tapi, papa akan segera berjalan kembali, tenang saja..." Sentak papa Sanjaya.


" Sekolah Aivy bagaimana?"


" Itu urusan papa!, Aivy urusan papa!. Bukan urusanmu..." Sambarnya cepat.


" Kamu harus cepat mendapatkan pembeli rumah itu, waktumu tinggal 4 bulan untuk bersiap..." Lanjut papa Sanjaya lagi.


Flashback off.


Binar mengacak-acak rambutnya galau, jika dia pergi maka papanya lah yang harus menuruti kemauan mama Ganis dan Lyra.


Papa juga yang harus berperan sebagai pembantu dirumah besar itu seperti dia selama ini, kecuali...


Binar merenung, memikirkan ide yang tepat untuk mempengaruhi papanya agar tidak kembali ke neraka ini.


Dalam kalutnya Binar teringat akan Shanum, bibirnya tersenyum tipis. Dengan bergegas Binar menyambar hoodienya dan segera loncat keluar kamarnya lewat jendela.


Disinilah kini pemuda itu berada, di balkon kamar Shanum.


Seperti maling Binar mengendap-endap mengintip kamar yang masih terang itu.


Tak terlihat sosok Shanum di tempat tidurnya, kosong.


Ceklek...


Pintu kamar terbuka dari luar, menampakkan gadis cantik dengan pakaian yang membuat Binar tak mampu menelan ludahnya sendiri.


Shanum hanya mengenakan hotpants super pendek dengan atasan tanktop yang hanya bertali spaghetti. Apalagi perut dan pinggang mulus yang pernah dijamahnya itu begitu terbuka.


__ADS_1


Visual yang nyata didepan matanya membuat Binar berulangkali menggosok dadanya yang meletup-letup ingin meledak.


Ditanganya terdapat segelas air putih, Binar menduga bahwa Shanum dari dapur.


Tek..tek..


Bunyi kunci motor yang beradu dengan kaca membuat Shanum segera menoleh.


Gadis itu tahu siapa pelakunya.


" Kamu ini kebiasaan Bin...." Ucapnya geram setelah membuka pintu dan membiarkan Binar masuk.


Binar hanya diam tapi tanganya dengan cepat menyambar selimut di tepi kasur, lalu membungkus tubuh Shanum dengan cepat.


" Hey..apaan sih..." Seru Shanum kaget karena tiba-tiba Binar menggulung tubuhnya dengan selimut seperti lepet.


" Tutup sayang!!, aku takut khilaf!!, nggak tahan pen nyosor!!" Bisik Binar ditelinga Shanum.


" Dihh..." Shanum melompat ke kasur dengan masih terbungkus selimut. Ada rasa takut juga, Binar seringkali terlihat begitu menahan diri selama ini.


" Kamu nggak bisa ya, kalau datang lewat depan, kebiasaan deh!!" Rutuk Shanum kesal.


" Nggak bisa, udah nyaman begini.." Jawab Binar, tanganya merapikan rambut Shanum.


" Apa ini masih sakit?" Tanyanya sambil mengelus luka di pelipis dan hidung Shanum.


" Nggak sakit, cuma tinggal keringnya aja.." Shanum kembali beranjak berdiri dan membuka lemarinya.


Lagi-lagi Binar harus ngilu melihat puluhan foto Sunny yang memenuhi balik pintu lemari Shanum.


Tak hanya foto Sunny sendiri, tapi juga ada beberapa foto Sunny merangkul gadis yang sekilas dikenalinya.


Tapi belum begitu jelas mata Binar mengenali foto gadis itu Shanum sudah lebih dulu menutup pintu lemarinya.


Shanum berjalan hendak membuka pintu..


" Ganti baju, gerah tau dibungkus kaya gini.." Jawab Shanum kesal.


" Ganti aja disini..." Sahut Binar, dengan genit dia menaik turunkan alisnya.


Shanum tersenyum licik, dengan santai dia melangkah kembali ke sisi ranjang untuk menghampiri Binar.


" Aku sih mau-mau aja, tapi takutnya ntar kamu pingsan" Sahut Shanum genit.


" Ck!! Sok tahu....." Binar tercekat sesaat, ingatan betapa indahnya tubuh Shanum yang memakai pakaian minim bahan beberapa saat lalu berkelebatan di benaknya.


Sebagai pria muda normal jelas sesuatu dalam diri Binar bereaksi jika melihat hal-hal yang mengusik kelelakiannya.


" Ssshhhh sana..." Binar mendorong Shanum menjauh darinya.


" He..he..he..lagak lo minta gue ganti baju disini, ckck...Bin..Bin..." Shanum melangkah keluar kamar.


Saat Shanum kembali memasuki kamar, Binar tidak ada lagi di tempat. Pintu balkon terbuka, dan Shanum pun ikut keluar.


Binar terlihat beberapa kali menghembuskan nafasnya.



" Ada apa Bin?, sepertinya kamu memiliki beban berat.." Tanya Shanum pelan, jari tanganya menarik ujung kaos Binar agar duduk disampingnya.


" Iya kamu benar. Ini sangat berat Ay...... Babe apa kau tahu?. Aku mendapatkan tiket beasiswa ke Boston. Tapi dua hari lalu aku menolaknya. Kau tahukan keadaan papa ku. Dan lagi Aivy..., aku tidak bisa meninggalkan mereka bersama para nyamuk penghisap darah itu..." Ucapnya sedih.


" Aku ingin babe..., ingin banget bisa sama-sama kamu. Tapi keadaanku..."


Shanum terdiam, matanya menatap intens wajah tampan Binar di depannya.


Ya Tuhan..ternyata Binar seserius ini padaku...

__ADS_1


Bagaimana ini Tuhan....


Aku takut terjerat dalam pesonanya dan tidak akan bisa lepas...


" Kenapa?" Tanya Binar, jantungnya seolah ingin lepas saat menyadari Shanum menatapnya begitu rupa.


" Benar kata kamu..." Ucap Shanum masih tetap menatap Binar.


" Kataku yang mana?" Tanya Binar kikuk.


" Kamu tampan..." Ucap Shanum pelan.


Binar melotot mendengar ucapan Shanum, tiba-tiba saja dia merasakan di dalam perutnya penuh kupu-kupu yang sedang mengepak. Digigitnya bibir bawahnya demi mengurangi rasa yang ingin meledak.


Bahagia..., bahkan melebihi rasa bahagia yang selayaknya. Bahagia yang dirasakan Binar jauh melampaui definisi dari kata bahagia itu sendiri.


" Kamu juga cantik.., sangat cantik..." Balas Binar, jujur dia mati gaya saat ini.


Tidak tahu lagi harus ngomong apa, yang ada di otaknya saat ini hanya ingin mencium bibir Shanum saja.


Entah darimana datangnya dorongan gila itu. Tapi tatapan matanya tidak bisa move on dari bibir pink Shanum yang tampak begitu menarik malam ini.


"Emmhhh, babe...om dan tante kapan balik dari Malang?" Tanya Binar tiba-tiba.


" Nggak tau juga ya Bin, dari kabar yang aku dapat dari mama, keadaan kakek buyut semakin memburuk, mungkin papa dan mama akan lama disana"


" Memangnya mau ngapain nyariin papaku?" Lanjut Shanum.


" Cuma mau minta ijin..." Jawab Binar singkat.


" Minta ijin?"


" Ya, aku harus menghadap papamu dan minta ijin untuk menjadikan kamu pacar aku..." Ucap Binar yakin.


" Emmhhh, kamu serius?" Shanum takjub dengan keberanian yang ditunjukkan Binar. Semakin kesini, Shanum semakin dibuat terpesona dengan karakter Binar.


Pertama dia misterius dengan maskernya. Kedua, diam-diam dia bucin yang sangat romantis. Ketiga, dia jujur. Jujur antara perasaan dan ucapanya. Keempat, dia brave dan manly. Dengan melihat bagaimana dia membantai Miko sedemikiannya jelas Shanum tahu arti tindakannya itu. Dibalik keganasan Binar yang seperti iblish kemarin lusa pasti ada cinta yang begitu besar untuknya.


Selain itu, dua malam ini Shanum dibuat susah tidur tiap kali mengingat tubuh berotot Binar yang bertelanjang dada saat mengamuk kemarin.


Shanum hanyalah gadis biasa yang juga pasti akan tergoda oleh paras yang rupawan seperti Binar. Tak hanya tampan, Binar juga menunjukkan itikat baik padanya. Dengan cepatnya dia menutupi tubuh Shanum yang terbuka tadi saja adalah poin tersendiri bagi Shanum untuk Binar.


" Binar....." Panggil Shanum lembut, suaranya begitu halus menyusup memasuki telingan Binar, terasa damai di hati sang penganggum sejati.


" Hemm, ya babe..." Binar melangkah mendekat, lalu berjongkok di depan Shanum yang duduk di kursi balkon.


Shanum bingung, tiba-tiba dia grogi, sampai-sampai lupa apa yang akan diucapkannya.


" Apa?" Tanya Binar lembut sambil terus menatap Shanum.


" I...emmhhh.." Shanum mengusap wajahnya pelan.


" I..?" Pancing Binar.


" I l...love you Binar....." Ucap Shanum cepat dan lantas sedikit berlari masuk ke dalam kamar.


Brugh..


Shanum yang berdebar- debar tak karuan dengan cepat menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.


Sementara Binar yang syok hanya diam mematung ditempatnya.


Apa?


Dia bilang apa?


Ini mimpikah?

__ADS_1


Ya Tuhan..., jika memang iya ini mimpi, jangan lagi bangunkan aku Tuhan....


__ADS_2