
Binar mengobati luka-lukanya didalam kamarnya yang remang.
" Kak, malam ini kita diundang kak Shine makan malam. Mereka akan balik ke Jakarta besok..." Aivy memasuki kamar Binar dengan ponsel pemberian Almeer ditangannya.
" Tawuran lagi?" Sindir Aivy melihat penampakan kakaknya yang penuh luka.
" Kalau sampai kak Aya tahu, pasti kakak akan diputuskan jadi bestynya!!" Seru Aivy kesal.
Binar tersenyum kecil, diraihnya adiknya itu dan didudukanya di pangkuannya.
" Memangnya kakak dan kak Aya cocok kalau besty-an?" Tanya Binar.
" Ya cocok lah kak, kakak itu tampan dan kak Aya cantik. Nanti ponakan Aivy pasti keren!!"
Binar melotot mendengar omongan adiknya.
" Hissstt!!, bocil ngomongnya ngawur!!" Binar meremat bibir Aivy gemas, tapi sumpah!!. Dalam hatinya dia senang bukan main, rasanya ingin beguling-guling. Bahkan kalau nggak ada Aivy mungkin dia sudah jingkrak-jingkrak joget paragoy dengan heboh.
" Kak Aya kalau nyanyi merdu banget suaranya, apa kakak pernah dengar?" Tanya Aivy lagi.
Binar menggeleng.
Tanganya meraih kemeja terbarunya, lalu memakainya sebagai outer.
" Bagus nggak?" Binar berdiri di depan Aivy minta pendapat gadis itu.
" Dih gayamu kak!!, kayak orang jatuh cinta aja, mikirin penampilan segala!!, biasanya kemana-mana pakai hoodie doang, rambut aja nggak pernah disisir..." Sindir Aivy.
Binar melongo ditempat.
Kurang ajar Aivy!!, semua ucapanya benar!!, sialan.
Tiba-tiba Binar terserang rasa malu yang luar biasa.
" Dah sana!!, siap-siap cepat!!" Seru Binar demi untuk menyembunyikan rasa malunya kepergok bertingkah alay didepan Aivy.
Diihhh, gue jadi alay begini gara-gara si Cahaya nih
Awas saja kalau sampai gak bisa gue taklukin.
...***...
Semenjak pertemuannya dengan Binar saat perjalanan ke hotel tadi, fikiran ayah Marvel terus terisi oleh Binar.
Ada rasa rindu yang aneh yang dirasakannya sekarang. Rasa ingin terus menatap wajah Binar.
" Uncle..." Panggil Bianca dengan kepala tertunduk, duduk di samping Marvel.
" Hemmmm" Sahut ayah Marvel tanpa menoleh.
" Bian minta maaf..." Ucap Bianca.
Sementara ayah Marvel melirik pada Binca yang tertunduk dengan tersenyum tipis. Putri angkat Ardi ini begitu segan dan hormat padanya sejak kecil, walaupun sekarang usianya sudah hampir 20tahun, tak mengurangi rasa hormat pada dirinya sedikitpun.
" Jadi kamu sudah tahu salahmu apa?" Ucap ayah Marvel pelan.
Bianca mengangguk.
Bianca menyesal karena gara-gara dia, unclenya sampai memukul orang yang tidak bersalah.
" Sekali lagi Bian minta maaf...."
" Ya..., uncle maafkan. Tapi ingat jangan diulangi lagi, kamu sudah dewasa Bianca. Sudah harus bisa menjaga sikap. Jangan terus-terusan gatal untuk meninju orang...."
" Umurmu sudah cocok untuk memiliki cowok!, kalau kamu nggak bisa cari. Biar uncle yang carikan..." Lanjut ayah Marvel lagi dengan tertawa renyah.
" Isshhh, apa sih uncle..." Bianca menepuk lengan ayah Marvel geram.
" Kamu nggak tau saja Huby, Bianca tiap malam itu kerjaannya chatingan sampai tengah malam dengan cowok..." Sambar bunda Dian dari belakang mereka.
" Haduuhhh, aunty apa sihhhhhh" Bianca semakin panik, gadis itu menggaruk kepalanya yang tertutup jilbab itu kesal.
" Tuh kan pipinya merah tuh..." Olok Dian dengan tawa kecilnya yang lucu.
Wajah Bianca berubah merah seperti tomat masak saat ini.
Ya, saat bersama keluarganya Bianca melepas cadarnya.
__ADS_1
...***...
Seperti rencana semula, malam ini semua sudah berada di pinggir kolam renang untuk makan malam.
Alexa dan Roy datang lebih dulu, sedangkan Arnov yang bingung nggak ada gandengan akhirnya mengintil Ayu Andira.
" Nov lo tuh ngapain sih, gerah gue..." Ayu mendorong tubuh Arnov agar menjauh darinya.
" Ya elahhh, gue bingung mau ngobrol sama siapa?. Gue tau nya cuma lo dan dua cunguk yang lagi pacaran tu!!" Dagunya menunjuk pada Roy dan Alexa yang mojok berdua.
" Binar mana pula nih!!, ke salon dulu apa ya!!"
" Iya kali, Binar kan lagi ekhem-ekhem sama Cahaya..." Sahut Ayu.
Arnov menoleh sekilas menatap wajah Ayu, seperti namanya, gadis ini sangat ayu.
" Kalo lo sendiri ekhem-ekhem lo siapa?" Tanya Arnov.
" Ngga adalah!! sekolah aja belum lulus..."
"Terus Shine??" Serobot Arnov cepat.
Ayu menoleh menatap Arnov sesaat.
Awalnya dulu Ayu ada rasa dengan Shine, tapi setelah mengetahui siapa Shine dan keluarganya, Ayu memilih mundur.
Keluarga besar ayah Marvel, kerajaan bisnis Syahril dan Syakieb terlalu tinggi untuk digapai baginya.
Matanya menatap Shine yang sedari tadi gelendotan pada bundanya.
"Shine itu manis, siapapun jatuh hati padanya. Tapi...., dia terlalu tinggi untuk bisa dígapai..." Ucap Ayu sendu.
" Oh...." Sahut Arnov singkat.
" Ck...kau itu nggak pekaan!!, orang udah curhat gini jawaban lo cuma Oh!!, sialan!!" Umpat Ayu kesal, sementara Arnov malah tertawa diatas derita Ayu.
" Gue terlambat nggak sih?" Tepukan dibahunya membuat Arnov langsung kicep, Binar berdiri di belakangnya.
" Belum, Cahaya juga belum datang.." Jawab Ayu.
Shine yang melihat kedatangan Binar dari tempatnya segera berlari mendekat.
" Bentar bro, gue mau ngomong bentar sama lo..." Shine menarik lengan Binar sedikit menjauh.
" Untuk hari ini gue minta lo tetap menutupnya di depan ayah dan bunda gue..."
" Gue pernah bilangkan sama lo, you look so much like my twin..."
" Bundaku baru bisa kembali ke Indonesia sejak sekian lama, jika dia melihat wajahmu..., gue takut bundaku....."
Binar mengangguk paham, pemuda itu menepuk bahu Shine berulang-ulang.
" I see, I concerned about this...." Jawab Binar.
Mereka pun kembali ke meja, dan disana sudah penuh oleh keluarga daddy Rangga dan papa Vino.
Ayah Marvel mendekati meja dengan langkah tegapnya.
" Hai all, long time no see...." Sapanya ramah, lalu masing-masing saling berpelukan hangat.
" Wehhhh, Saga makin cakep aja nih?, usah punya pacar belum boy?" Ayah Marvel mencubit dagu Saga yang terdapat tahi lalat seperti papanya.
" Yang ditaksir udah ada uncle, tapi masih bocil!!, di bucinin aja dianya nggak ngerti..." Curhat Saga dengan mata melirik Meera yang asyik bercanda dengan Rasya dan Luigi.
" Ha...ha...ha..., yaelah Saga cewek itu nggak butuh bucin boy!!, cewek itu butuh cincin...." Seru ayah Marvel.
Sementara daddy Rangga dan papa Vino hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
Roy menatap Alexa penuh pertanyaan.
" Lo mau cincin yang?" Tanyanya sambil berbisik.
" Enggak, yang gue butuh lo setia..." Jawab Alexa.
" Berarti ucapan ayah Shine salah dong.." Sahut Arnov.
Sementara Binar tak berkutik, dia tidak menyangka pria yang menaparnya tadi adalah ayah Shine.
Pemuda itu sibuk menyembunyikan wajahnya.
__ADS_1
Setelah melepas kangen pada kedua keluarga itu, pandangan ayah Marvel tertuju pada Shanum yang menunduk di belakang mamanya.
" How are you princess...." Ayah Marvel mengangkat dagu Shanum yang terus menunduk untuk menatapnya.
Air mata tergenang disana, mata basah yang ditahanya sedemikian rupa sejak tadi akhirnya tumpah juga.
Shanum menghambur dalam pelukan ayah Marvel dengan tangis yang memilukan.
" Enough princess, don't cry anymore. Your prince won't like this..." Ayah Marvel mengecup pucuk kepala gadis yang begitu dicintai oleh putra sulungnya itu.
Bunda Dian ikut menangis dibelakang punggung ayah Marvel.
Binar merasa sesak dan hampir pingsan saat dia begitu susah bernafas melihat pemandangan di depanya.
Hatinya begitu sakit seperti dicabut dari tempatnya saat melihat dua wanita itu menangis.
Berulangkali dia membuang pandangannya ke segala arah untuk mengurangi rasa yang begitu menyiksa hatinya saat ini.
Tanpa ada yang tahu, Binar mengusap air matanya yang meleleh tanpa ia sadari.
Brengsek
Sejak kapan gue cengeng sepeti ini.
****
" Ayah, kenalkan ini teman-teman Shine dan Sha...selama disini..." Shine memperkenalkan teman-temanya. Mulai dari Roy, Alexandria, Arnov, Ayu.
Tapi saat tangan ayah Marvel menjabat tangan Binar, keduanya terpaku.
" Bi..Binar Buana Sanjaya om..." Ucap Binar memperkenalkan diri.
" Kamu?, bukanya tadi yang tawuran?"
Duarrrr!!!
Roy, Alexa dan Arnov tersentak kaget.
Binar gemeteran sesaat. Bukan kepergoknya yang dia takuti, tapi bagaimana pandangan papa Vino terhadap dirinya yang membuatnya ngilu.
" Tawuran?" Ucap yang lain.
" Sebenarnya kami tidak berniat perang om, hanya saja kami hanya membantu polisi untuk menangkap mereka.., kami hanya umpan kok om..." Sahut Arnov cepat.
" Genk kami hany---"
" Genk, perang??" Tanya papa Vino.
" Bu..bu..bukan genk yang aneh-aneh kok om, hanya genk Putra Bangsa doang kok om, cuma nge-genk asyik-asyikan doang kok..." Sambar Roy.
" Mau membantu polisi atau apalah itu. Jangan sekali-kali kamu ikutan Saga!!, atau mau papa pindah saja kamu ke Jakarta!!" Ucap papa Vino dengan suara yang angker.
" Pindah ke Jakarta?. Nah itu yang Saga mau pah, sekarang juga mau..."
Jawaban Saga membuat yang di sana tertawa.
" Hubby, sampai kapan kamu menggenggam tangan Binar begitu?, lihat Binarnya sampai pucat..." Bunda Dian menepuk lengan suaminya pelan.
" Oh...ahh, maaf boy... Oh iya, ini yang cantik sejagat ini adalah istri tercinta om, Dian...bundanya Shine.." Ucap ayah Marvel, sengaja ayah Marvel menghalangi mereka berjabat tangan, karena Marvel tidak ingin istrinya kembali terpuruk.
" Nah hidangannya sudah datang, mari-mari silahkan di cicipi..." Ayah Marvel mempersilahkan tamu-tamunya.
Binar kembali duduk ditempatnya, tapi matanya terus mencuri tatap pada bunda Dian.
Kenapa aku ingin sekali belari kesana.
Kenapa aku ingin begitu dekat denganya, rasa apa ini?
Aku ingin memeluknya...
Rasa ini lebih besar dari yang ku rasakan pada Cahaya.
Masa sih gue cinta tante-tante..., istri orang lagi...
" Lo kenapa sih Bin?, ngelamun terus.... Tuh adik lo udah kayak anak kandung mereka saja..." Tunjuk Roy pada Aivy yang kini ada dalam pangkuan daddy Rangga.
Binar melirik Shanum yang duduk di pinggir kolam renang, dengan kaki yang dibiarkan masuk ke dalam air. Gadis itu akan seperti itu jika sedang mengenang Sunny.
__ADS_1
" Boleh duduk disini?" Binar mendekati Shanum, sepiring nasi goreng ada di tangannya saat ini.
" Duduk ajalah, ini hotel milik papanya Rasya itu...., kamu ijin sama dia harusnya, jangan sama aku..." sahut Shanum dengan menunjukan tangannya pada Rasya Adnan Syakieb.