BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Latte..


__ADS_3

White Base, Jakarta, Indonesia.



Di keremangan malam, bunda Dian menatap sendu foto kedua buah hatinya. Rasa rindu yang tiba-tiba hadir membuatnya sesak.


Dua minggu lagi White Base akan ada gawe lagi, mantu untuk ketiga kalinya, ya..kali ini uncle Ardiansyah akan menyelenggarakan pesta pernikahan Bianca Aurora, setelah dua bulan lalu di sini juga terselenggara acara pernikahan Sunny dan Shanum.


Ditatapnya dengan lekat sekali lagi foto kedua putra tampanya, dielusnya pelah gambar wajah keduanya.


Waktu begitu cepat berlalu, bunda merasa baru kemarin dia menimang kedua putra kembarnya itu, tapi lihatlah sekarang. Bahkan Shinepun akan segera menimang putri kembarnya beberapa bulan lagi.


Seseorang di samping ranjangnya mengggeliat tanpa di sadarinya, siapa lagi kalau bukan ayah Marvel. Bahkan pergerakan pelan ayah yang mulai mendekatinya pun tak bunda sadari.


" Ada apa wife?, kau tidak tidur?" suara maskulin ngebass serak-serak basah itu mengangetkan bunda yang tengah tenggelam melamun.


" Ahh, ini...nggak ada apa-apa hubby. Aku hanya kangen mereka.." ucapnya lirih sambil menunjukkan foto si kembar yang sejak tadi dipeluknya.


" Harusnya mereka ada di sini juga berkumpul dengan saudaranya yang lain, tapi..." lanjutnya tercekal oleh kata-kata ayah Marvel.


" Keadaan perut Ayu yang kian besar tidak memungkinkan untuk bepergian wife, bayi kembar mereka harus terus sehat dan waktu keberangkatan Sunny ke London juga sudah tidak bisa lagi di undur, tidak apa-apa wife.... setidaknya mereka masih bisa mengikuti prosesnya dari manapun mereka berada" ucap Ayah bijak.


"Huffttt....semenjak tidak ada mereka hidupku serasa sunyi dan sepi..." desis bunda Dian.


Kembali diangkatnya kaki yang menjuntai dilantai itu ke tempat tidur berniat melanjutkan tidurnya lagi.


Sementara senyum tipis ayah Marvel terbit setelah mendengar desisan istrinya.


" Kamu merasa kesepian setelah kedua putramu memiliki istri?" kini kedua tanganya telah berada di perut bunda, membelit dengan kuat.


" Tentu saja..." sahut bunda cepat.


" Kan masih ada aku wife, masa masih sepi juga?"


" Kamu sibuk sendiri dengan pasien-pasien cantik dan genit-genit itu..." balas bunda kesal, sesekali tanganya menyikut perut ayah karena kedua tangan pria matang itu sudah mulai merusuh kemana-mana.


" Ha..ha..ha..., apa ini?, Dian Angguni si sok tegar ini bisa cemburu?" ayah Marvel tergelak saat mendapati raut imut istrinya yang menggemaskan.


Perlahan matanya berusaha menatap wajah manis istrinya yang terlihat sedang cemburu.


" Nggak ada!!, aku nggak cemburu" tepis bunda cepat.


" Masa?, baiklah kalau begitu. Tambah istri sepertinya ide bag.."


Brugh!!


Kata-kata ayah menggantung begitu saja kala bunda Dian dengan cepat menerjangnya, menindih tubuh berotot itu dengan lengan yang tepat berada dileher kokoh Marvel.


" Kamu berani hemm?, berani menikah lagi??" tanya bunda dengan mata melotot tajam penuh intimidasi.


" Ten..tentu saja aku hegghhh..." tekanan lengan bunda semakin kuat dan bertambah maju, membuat ayah tercekik hingga tak mampu berkata-kata.

__ADS_1


" Kamu boleh menikah lagi setelah aku mati!!" bibir bunda berucap dengan gemetar, disertai air mata yang mulai luruh dari kedua pipinya.


Marvel hanya mampu melipat bibirnya kedalam, ada rasa hangat mengalir di sendi- sendi aliran darahnya. Istri sok tegarnya itu begitu imut dimatanya, bagaimana dia bisa menikah lagi, sementara hatinya telah dicengkeram erat oleh satu nama, Dian Angguni.


" Biarpun ayahku menikah tiga kali karena kegagalan rumah tangganya, aku putranya tidak akan pernah sudi mengikuti jejaknya. Percaya padaku wife.." di angkatnya bunda ke dalam pangkuanya.


" Aku pria setia wife, sekalinya kamu disini! hanya akan tetap ada kamu disiniku. Bahkan princess Lili saja bisa lenyap tanpa bekas sama sekali disini.." bisiknya lembut sambil menepuk dadanya.


" Tapi walau begitu, kamu pasti penasaran dengan rasa perawan kan?" Isak bunda perlahan.


Sepersekian detik mata ayah terbelalak oleh ungkapan bunda.


" Maksudmu?" Tanya ayah bingung.


" Bukankah aku ini sudah hina dan rusak saat kau nikahi...." Lirih kata yang keluar dari setangkup bibir yang kini gemetar karena tangis.


" Siapa bilang!!!" Sahut ayah cepat.


Ayah mengangkat wajah tertunduk istrinya dengan cubitan di dagu runcing wanita yang awet manis itu.


" Kamu masih perawan saat aku menikahimu sayang..., akulah orang pertama yang mengoyaknya..." Bisik Marvel lembut, kecupan ringan dilabuhkan pada bibir bunda yang menganga karena syok akan apa yang didengarkan barusan.


" Bajingan itu tidak cukup mampu menerobos milikmu, sebelum dia mampu mengoyak kehormatanmu, santan basinya telah keburu menyembur disekitar pahamu. Jadi milikmu tidak tersentuh sedikitpun olehnya sayang, tapi aku....Akulah pemilik kehormatanmu..." Lanjut ayah panjang lebar.


" Ta..tapi hubby, saat itu aku..."


" Sudahlah...., maaf jika selama ini aku menyembunyikan kenyataan ini, karena bagiku itu tidak penting. I love you so much Dian, kau adalah sahabatku..., cintaku, istriku, ibu dari kedua putra tampanku..., sisa hidupku, sisa usiaku akan aku habisnya hanya denganmu sayang..."


" Aiihhhsss..., apaan sih. Kita udah mau jadi nenek dan kakek!, apa nggak malu masih mikirin tambah anak..." tampik bunda yang berusaha menjauhkan tubuhnya dari si predator gila seperti Marvel.


Tapi rupanya usahanya sia-sia, ayah Marvel sudah diposisi on maka jangan harap bunda bisa lepas. Serangan sentuhanya begitu datang bertubi-tubi bunda Dian rasakan, tak ada kemampuan untuk menampik atau menolak, karena rasa yang di suguhkan suaminya itu begitu candu baginya.


" Wife, kamu komandanya malam ini. Kamu harus memimpin 'perang' kita malam ini, aku ingin menikmati wajah merahmu sekali lagi....." ucap ayah serak disela-sela cumbuanya yang mulai brutal.


...***...


Boston, USA.


Suara adzan subuh pada alarm ponsel Sunny berbunyi, membuat sepasang mata lekat itu lambat laun terbuka.


Belum juga terkumpul seutuhnya kesadaran yang masih terserak, suara luahan di kamar mandi mengharuskanya untuk segera duduk dan memasang telinganya dengan seksama.


" Hoeekk...hoekkk.."


Suara dari kamar mandi terdengar lagi, Sunny seketika menoleh ke samping, tidak ada istrinya disana. Padahal biasanya Sunny selalu terjaga dan bangun lebih dulu dari Shanum.


Kembali suara seseorang meluah membuatnya tersentak dan langsung berlari menuju kamar mandi.


Tampak Shanum sedang menundukkan kepalanya di mangkok wastafel.


Sunny segera mendekat dan meraih rambut panjang Shanum yang terlihat basah disana-sini, mengumpulkanya kebelakang lalu di diikatnya dengan karet rambut yang ada di rak samping wastafel. Wajahnya terlihat sangat cemas saat mendapati wajah pucat Shanum.

__ADS_1


" Babe, are you oke?" bisiknya lembut.


" Yes i'm..." sahut Shanum lemas, senyum manis masih juga terbit di bibir pucat itu.


" Are you sure?" lagi-lagi Sunny menatap curiga.


Shanum kembali tersenyum dan mengangguk pelan, diusapnya lengan kokoh itu pelan, seolah berusaha meyakinkan sesuatu.


" Ini hanya masuk angin Yang, semalam aku nggak makan nasi. Aku hanya menghabiskan ramen pedas buatan Shine kan?" Sangkal Shanum cepat, agar suaminya yang posesif ini tak terlalu cemas.


Sunny mengangguk setuju, mungkin memang benar hanya masuk angin, karena memang semalam mereka tidak makan nasi sama sekali.


...*...


Setelah beribadah subuh, seperti biasa mereka lari pagi di sekitaran taman apartemen, tentu saja beserta Shine dan Ayu juga.


Setelah berlari beberapa putaran, seperti biasa mereka sarapan bersama di Foodcar yang selalu ada di sudut taman.


" Aku sandwiche tuna dan latte aja yang.." ucap Shanum antusias saat menyebutkan pesananya pada sang suami.


" Latte, Are you serious?"


Pertanyaan Sunny juga mewakili rasa keheranan kedua orang yang bersama mereka saat ini. Ayu dan Shine bahkan ikut melongo mendengarnya.


Shanum itu pencinta kopi murni, alias kopi asli yang hitam pekat.


Bertahun-tahun mereka mengenal Shanum tak sekalipun mereka menemui Shanum mau mencoba kopi dengan aneka variasi, tapi sekarang?.


" Kenapa kalian menatapku sepeti itu? aku hanya sedang sangat penasaran ingin tahu rasanya seperti apa." ucap Shanum saat ketiga pasang mata itu menatapnya heran.


Sunny hanya mengangguk heran, lalu mengelus kepala Shanum sesaat sebelum menuju mobil penjaja aneka sarapan itu berada.


Shine, Ayu dan Shanum sendiri kini sudah duduk melingkar dia atas rerumputan tak jauh dari FoodCar.


Tak lama Sunny datang bersama pelayan yang membawa pesanan mereka.


Lagi-lagi tingkah aneh Shanum membuat mereka melongo untuk kesekian kalinya. Gadis itu langsung menyambar Latte yang ada dihadapanya dan meneguknya begitu saja.


" Hemm, rasanya lumayan juga. Tidak buruk, mungkin setelah ini aku bisa menikmatinya lagi lain kali.."


Shine dan Sunny saling tatap untuk beberapa saat, keduanya seolah sama- sama terlempar ke kenangan belasan tahun silam.


" Ayah.., minuman apa yang ayah pesan itu?, kenapa dilukis seperti itu?" tanya Sunny kecil pada ayah Marvel kala itu.


" Ini namanya Latte, kalau di Indonesia sejenis kopi susu, tapi aroma dan rasanya jelas beda..mau coba.." ucap ayah seraya menggeser cangkir itu ke depan putra sulungnya.


" Hemm, rasanya lumayan juga. Tidak buruk, mungkin setelah ini aku bisa menikmatinya lagi lain kali.." ucap Sunny kecil antusias, dan mulai menyeruput minuman itu lagi.


Dan dari sejak saat itulah, Latte adalah minuman kegemaran Sunny sampai saat ini.


" Kenapa yang diucapkan Shanum sama persis seperti yang kamu ucapkan waktu itu brother?" Tanya Shine bingung, sementara Sunny sendiri juga semakin bingung.

__ADS_1


__ADS_2