BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Balap 2


__ADS_3

Shine masih syok dengan wajah terbuka Binar, yang benar-benar mirip dengan saudara kembarnya.


Matanya masih saja terus menatap penuh selidik pada Binar, mencoba meyakinkan dirinya Sunnykah yang ada di depanya ini.


" Apa !, jangan liatin gue kayak gitu!!. Dan jangan naksir gue!!. Gue cowok sejati keles!!, gue suka cewek!!" Bentak Binar pada Shine yang terus menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kakinya.


" Ck...nggak ada!!. Siapa juga naksir lo!!, Cuma kok bisa ya lo mirip banget sama brothy gue...?" Ucap Shine bingung.


" Yaelah bro!...orang mirip di bumi ini bejibun kali bro, nggak cuma gue sama lo!" Sahut Binar.


Risih rasanya ditatap seperti itu oleh sesama lelaki. Dia berasa ditelanjangi.


Brothynya katanya?


Apa maksudnya Sunny?


Jadi gue mirip Sunny begitu?


Trus...., apa Cahaya juga melihat gue sebagai Sunny?


" Yang jelas, gue bukan saudara lo!! Gue dari bayi juga udah disini. Gue anak dari Edi Sanjaya, kalo lo nggak percaya, nih KTP gue..." Binar mengeluarkan dompetnya.


Shine yang benar-benar penasaran langsung menyambar dompet Binar. Benar disana tertulis nama Binar Buana Sanjaya bin Edi Sanjaya. Bahkan tempat lahir dan tanggal lahirpun tak sama.


Satu lagi, tanda tangan Sunny dan Binar, sangat jauh berbeda.


" Tapi kok bisa ya, lo mirip banget sama brother Sunny, bahkan----"


" Dahlah!!, mirip itu wajar, itu tandanya wajah kita ini pasaran..." Sahut Binar.


Shine berfikir sejenak. Benar sih apa yang dibilang Binar. Bahwa orang mirip di bumi ini banyak.


Tapi masa iya, dia dan Binar bisa plek keteplek kayak gini.


" Sejak kapan lo udah tahu ini Sha?" Tanya Shine pada Shanum.


Shanum mengangguk, sementara tanganya masih saja digenggaman oleh Binar.


"Kemarin siang, saat tahu wajah dia untuk pertama kalinya, gue sampai pingsan tau nggak Shine" Gumam Shanum.


" Jadi beneran lo pingsan karena gue kemarin..?" Binar melotot tajam menatap Shanum. Shanum hanya tersenyum dan mengangguk, gadis itu menggoyangkan tanganya yang masih setia digenggaman Binar.


Binar hanya melirik tautan tangan mereka. Senyum tipis mengembang disudut bibirnya. Entah rasa apa ini, tapi begitu nyaman dan tentram saat tangan ini ada dalam genggamannya seperti ini.


Persetanlah!!, pokonya Binar tidak akan melepaskannya.


Bahkan sejak tadipun Binar sadar bila mata Shine sedari tadi tertuju pada genggaman tanganya pada tangan Shanum. Tapi Binar tidak peduli, yang dia mau hanya seperti ini. Titik!!


" Bro, lo harus pakai ini.." Binar menyodorkan masker pada Shine.


"Wajah lo yang mirip dengan gue, bisa membahayakan keselamatan lo..." Ucap Binar cepat.


" Hah!!, kok bisa?, kenapa?" Tanya Shine penasaran dan sangat ingin tahu alasan tepatnya, kenapa selama ini Binar menyembunyikan wajahnya.


" Itu karena...., karena..." Binar menjeda ucapanya. Bingung juga dia harus menjelaskan seperti apa?. Apa dia harus jujur saja bahwa dia ini iblis yang suka tawuran.


Tapi walau tawuran dan sering perangpun, mereka ada misinya. Mereka hanya melindungi daerah kekuasaan mereka agar tidak diganggu oleh siapapun.


Walaupun suka tawuran dan trek-trekan di jalan, kelompok Binar tidak pernah mengganggu orang atau merepotkan orang lain.


Binar masih melamun saat suara Shanum menusuk gendang telinganya.


" Karena dia ketua klan Black Tiger, genk Putra Bangsa yang selalu menang duel atau tawuran antar geng..." Sahut Shanum kesal.


Binar langsung menolehkan wajahnya pada Shanum. Matanya menatap lekat mata bulat itu. Shine melotot tak percaya mendengar ini.


" Apa berarti kau membenciku?, kau takut denganku?" Tanya Binar, tatapanya penuh rasa ingin kepastian dan juga dipenuhi kekhawatiran.


" Ya..." Jawab singkat Shanum.


Wajah Binar nampak pias sesaat. Pemuda tinggi tegap itu bahkan sampai mundur satu langkah.


Nyut...nyut..


Hatinya begitu ngilu.


Ada rasa takut, kecewa, sedih dan marah.


Takut Shanum meninggalkannya setelah mengetahui siapa sebenarnya dirinya. Ketua genk Black Tiger yang terkenal sadis seperti iblis.


Kecewa, kenapa dia harus merasakan ini semua sekarang, jatuh cinta?. Rasa yang baru hadir dalam hidupnya. Rasa indah yang baru tumbuh, tapi harus segera dicabut tunas-tunasnya jika Shanum benar-benar nantinya akan membenci dirinya dan pergi.


Sedih, Binar pasti akan bersedih saat melihat bagaimana Aivy yang menyayangi Shanum, harus kehilangan Shanum karena penolakan Shanum pada dirinya.


" Ya aku takut padamu, tapi aku tidak benci..., kamu begini pasti ada alasannya kan?" Lanjut Shanum.


" Hufffttt...." Binar menghembuskan nafasnya sesaat.


Ada rasa lega yang luar biasa saat ini. Ingin rasanya dia memeluk Shanum. Entahlah dorongan apa ini. Tapi mengingat Shine masih saja menatapnya penuh selidik membuat Binar merasa kesal juga.

__ADS_1


Setelah Shine menggunakan masker, mereka berkumpul di depan lintasan balap malam ini. Semua sudah diposisinya masing-masing.


Alexa memeluk Roy, karena hari ini, mau tidak mau dia akan turun menemani Roy.


Shine dan Shanum pun telah bersiap.


Binar seperti biasa, sendiri.



Brung...brung...brung...


Raungan bunyi knalpot racing begitu meraung-raung di arena sirkuit.


" Aya, lo turun!!. Temenin Binar. Gue ikut Shine..." Ayu Andira menepuk pundak Shanum, gadis itu sedikit berteriak karena suaranya sudah barang tentu kalah dengan deru motor.


" Loh kok lo disini?" Tanya Shanum dan Shine bersamaan.


" Alex minta gue datang!!, sana gih lo sama Binar.... Besok pacar khayalan gue ini udah balik Jakarta. Biarkan gue merasakan diboncengan Shine sekali aja..." Ucap Ayu sambil berteriak-teriak karena kini semua mesin motor sudah pemanasan semua.


Shine tersenyum melihat Ayu yang stylish dan modis malam ini. Jaket kulit hitam membungkus tubuhnya.


" Lo turun Sha!!, gue mau boncengin Ayu..., setelah ini nggak tahu lagi kapan bisa ketemu dia lagi..." Ucap Shine sambil menoleh.


Jelas Shanum tidak akan menolak, karena sedari tadi matanya hanya menatap Binar saja.


Dengan segera dia turun, dan berlari kecil kearah motor Binar yang lumayan jauh dari motor Shine dan motor Roy.


Binar yang fokus pada mesin motornya tak menyadari kehadiran Shanum.


Grep...


Binar hampir saja menepis keras tangan yang berani menyentuh bahunya, tapi saat matanya menatap spion dan ternyata Shanum sudah duduk di belakangnya, bibirnya terlipat kedalam dan menundukkan kepalanya.


Menyembunyikan senyum yang begitu indah di wajahnya yang menawan.


Sret...


Diraihnya kedua tangan Shanum yang berada di bahunya untuk disatukan melingkar diperutnya.


Karena terlalu tiba-tiba, Shanumpun terkejut dan tertarik kedepan. Otomatis dadanya pun menempel pada punggung Binar. Baik Binar ataupun Shanum sendiri saat ini sama-sama syok dengan apa yang terjadi.


Degup jantung keduanya terpompa seakan ingin meledak.


Binar memejamkan matanya, mencoba mengatur rasa yang begitu luar biasa. Semakin dihindarinya rasa itu semakin menggila.


Shanum yang tidak sanggup merasakan dadanya yang berdetak seakan mau pecah itupun berusaha meloloskan diri.


Tapi kenapa rasanya begitu berbeda?. Saat bersama Binar rasanya lebih....


" Jangan dilepas, pegangan yang kuat Cahaya, kita udah mau start!!" Teriak Binar dengan sedikit menoleh.


Shanum dengan sigap mengangguk.


Semua peseta bersiap saat ini, mereka memfokuskan diri pada ujung pistol.


Door!!!!


Brung...brung..brung..


Bunyi deru motor menggema disudut penjuru stadion lama.


Shanum mengeratkan pelukanya di perut Binar. Motor Binar melesat bagai anak panah yang terlepas dari busurnya.


Shanum merasa saat ini dia tidak berada di atas motor, tapi tepatnya terbang. Entah bagaimana dan seperti apa Binar membawa motornya, tapi ini benar-benar luar biasa...


" Kau suka??" Tanya Binar dengan berteriak.


" Iya...." Jawab Shanum juga dengan berteriak.


" Pegangan yang erat!!" Perintah Binar.


Dan Shanum langsung mengeratkan pelukanya.


Wusshhh....


Motor Binar meliuk-liuk menyalip beberapa yang ada di depanya, Shanum baru merasakan sensasi menegangkan seperti ini. Jika selama ini dia menemani Roy, itu lain rasanya. Tidak seperti saat ini.


Ini begitu gila, dan begitu menyenangkan!. Begitukah?, tidakkah itu karena Binar?


Tiga putaran yang mendebarkan, menegangkan dan mengasyikkan.


Luar biasa...pengalaman yang tak terlupakan bagi Shanum.


Sretttt.....


" Yeayyy, Yuhhhuiii" Teriak Alexa dan Roy histeris saat keduanya finish dibelakangnya.


Lalu mereka, Binar dan Shanum finish di urutan berapa?.

__ADS_1


Binar telah melepaskan helmnya, begitu pula Shanum.


" Kita menang kan Bin?" Tanya Shanum tak sabar dengan mengangkat tubuhnya mendekat pada sisi samping wajah Binar. Bahkan pipi keduanya saat ini bersentuhan.


Hangat...pipi Binar terasa hangat.


Keduanya mematung sesaat, menikmati debaran indah yang ada diantara keduanya.


Binar menunjuk dagunya pada motor disamping mereka. Shanum mengikuti arah pandang Binar. Motor Shine tepat disamping mereka, dan Shanum sama sekali tak menyadarinya.


" Kalian berdua hanya selisih sepersekian menit, mau diulang?" Tanya seorang panitia


" Nggak!!, buat dia saja" Sahut Binar cepat.


" Shine, gue bisa antar Aya pulang..." Lanjut Binar, belum juga Shine membuka mulutnya, Binar telah melesatkan motornya keluar dari kerumunan.


Shanum yang ada di boncengan Binarpun tak dapat berbuat apa-apa selain menurut.


" Lo mau kemana?" Tanya Binar setelah mereka berada di jalanan menuju arah jalan Nias.


" Terserahmu lah, gue ikut..." Shanum meletakkan kepalanya di punggung Binar.


" Capek?" Tanya Binar lagi saat merasakan kepala Shanum menempel di punggungnya.


Bahkan Binarpun dapat merasakan anggukan Shanum.


Binar menghentikan motornya di sebuah taman.


Dilepaskanya helm Shanum, dengan mata yang terus menatap wajah indah dihadapannya, jemarinya mulai terulur untuk merapikan rambut-rambut Shanum yang berantakan.


Sehelai demi sehelai rambut itu di sangkutkan oleh Binar kebelakang telinga Shanum.


Matanya tak lepas menatap mata indah berbulu lentik itu.


Cantik....


Shanum sungguh cantik.


Matanya cantik..


Senyumnya cantik...


Hidungnya cantik...


Pipinya chubby dan imut...


Bibirnya......


Mata Binar langsung memandang ke segala arah. Menatap bibir Shanum membuat sesuatu dalam dirinya meronta-ronta.


Binar bukan anak remaja katro dan kampungan. Jelas Binar anak yang berpendidikan.


Taulah dia...apa itu **** dan sejenisnya..


Dada keduanya tak lagi dapat dikondisikan detakanya. Begitu riuh dan heboh!!. Bagai melodi merdu yang bertalu-talu.


" Cahaya?, Shine itu....bukan pacarmu kan?" Entah apa awalnya. Tapi tiba-tiba muncul kalimat itu dari bibir Binar.


Shanum menggelengkan kepalanya pelan.


" Aku mirip dengan Sunny?" Tanya Binar lagi.


Dan lagi, Shanum hanya mengangguk.


" Boleh aku jadi Sunny?, aku....... Aku su...., emmm " Binar diam, tak mampu melanjutkan kata-katanya.


Tiba-tiba saja suhu tubuhnya menjadi panas.


Dilepaskanya jaket yang dipakainya dan dilemparkan begitu saja di stang motor.


Gugup, Binar gugup saat ini.


Dengan tangan bergetar, Binar mengeluarkan rokok dari saku celananya.



Cetik...cetik..


Binar menhidupkan pematik dan mulai mengisap rokoknya.


Tenang, dia kembali tenang setelah menghirup beberapa kali asap rokok itu.


" Kamu sudah lama merokok?" Basa basi Shanum.


Padah Demi Allah, gadis ini sungguh penasaran dengan apa yang akan diucapkan Binar tadi.


Ingin menjadi Sunny?


Apa maksudnya coba?

__ADS_1


Dan su..?, su apa?


__ADS_2