
Setelah pulang kerumah masing-masing untuk berganti pakaian disinilah empat pasangan itu berada.
" Hhhhh, seger adem di sini..." Ucap Alexandria dengan menyenderkan tubuhnya pada pundak Roy.
Sementara ketiga pasang lainya saling berpandangan, iri.
Sejatinya dari empat pasang ini, yang benar-benar pacaran itu cuma Roy dan Alexandria. Sementara Shine dan Ayu memang udah sering ketemu saat mereka liburan ke Surabaya seperti sekarang ini.
Binar dan Shanum ya...cuma kenal-kenal begitulah, sedangkan Arnov dan Alya justru blas sama sekali tidak saling kenal. Mereka semua sama-sama tertarik akan pusara arus Roy dan Ayu.
Arnov terbawa oleh Roy, dan Alya terbawa oleh Ayu.
" Lo pengen senderan dipundak gue kayak Alexa gitu nggak babe?" Bisik Binar sok romantis.
" Dih...ogah!!" Sahut Shanum, dengan menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Lagi-lagi Binar tertawa lepas dibalik maskernya.
Arnov tercengan melihat pemandangan yang sangat langka di depan matanya itu.
Binar tertawa?
Apa ini sudah akhir dunia?
Si iblis itu tertawa?
Arnov mencubit lengan Roy dan menunjuk Binar dengan dagunya. Roy pun mengarahkan pandangannya pada Binar yang terus saja tertawa dengan tingkah menggemaskan Shanum.
Roy ternganga melihatnya...
" Nov, pukul gue.... Gue mau memastikan aja gue ini sedang mimpi atau gimana?, ini langka ini, si Binar ketawa cuy!!" Ucap Roy masih menatap Binar dengan mata melotot.
Buaghhh!!
Satu tinju Arnov mendarat di rahang Roy. Alexa sampai tersedak oleh minumnya saking terkejutnya, begitupun dengan yang lain.
" Bangsat!!! Anj*ing lo Nov!!" Maki Roy yang segera mengusap darah dari sudut bibirnya. Alexa sendiri masih terbatuk-batuk karena syok dan tersedak.
" Nah lo sendiri yang minta pukul!" Sahut Arnov tak mau kalah.
" Gue bilang pukul bego!! bukan bogem, anj*ng!!" Maki Roy kesal, tangan kirinya mengusap punggung Alexa yang terus terbatuk-batuk.
" Minum air putih sayang..." Roy tak mempedulikan rahangnya yang ngilu, dia justru mengurisi keadaan Alexa.
Shanum speechless melihat begitu manisnya perilaku Roy, ide jahilpun timbul dari benaknya.
" Ya ampun Roy, lo so sweet banget..., gue mau lah jadi pacar kedua lo.." Ucap Shanum alay.
Binar menggebrak meja tiba-tiba, membuat semua menatap ke arahnya.
" Apa?" Tanyanya pada Shanum yang menatapnya dengan takut.
" Lo kenapa?" Tanya Shanum.
" Nggak papa tuh, cuma nepuk nyamuk doang..." Jawab Binar santai. Tanganya merogoh saku kemeja dan mengeluarkan rokoknya dari sana.
Roy mengedipkan sebelah matanya pada Shanum, dengan tersenyum tipis.
" Sorry Cahaya, biar bangsat begini gue setia, sekalinya Alexa tetap Alexa sampai gue mati..." Ucap Roy sambil mengecup kening Alexa.
" Wadaww, pamer terus..." Seloroh Arnov.
" Apa lo! Anj*ng" Sambar Roy masih kesal dengan Arnov.
" Sudah ihh Roy...., jangan ngeluarin kebun binatang terus dong yang, nggak suka akunya....." Alexa meniupi rahang Roy lembut.
" Jadi lo menolak pacaran sama gue dan malah mau jadi selirnya Roy gitu?" Bisik Binar pada telinga. Dari nada suaranya terdengar nada kesal yang luar biasa.
Shanum menoleh saat wajah Binar masih mendekat pada telinga Shanum.
Kurang sepersekian inchi saja kedua ujung hidung mereka hampir bertabrakan.
Binar yang memang memiliki kepekaan luar bisa segera mempergunakan kesempatan yang ada. Binar dengan cepat memajukan wajahnya.
Sett...
Shanum pun tak kalah jeli, saat wajah Binar maju Shanum dengan cepat segera menunduk.
__ADS_1
Duak...
" Shi*t !!!" Umpat Binar kesal dengan menggosok keningnya yang beradu dengan kepala Shanum.
Shine tertawa melihat tingkah kedua orang itu.
Kenapa tingkah Binar mirip sekali dengan brother saat bersama Shanum.
Mereka berdua mirip, sama-sama hanya terfokus pada Shanum..., tidak perduli sekitar.
Apa itu kau brother?
Tapi bagaimana kau tidak mengenali kami?
Dan juga bagaimana kau bisa menjadi Binar?
Shine membuang wajahnya kesamping saat tatapan matanya bertabrakan dengan mata Binar. Shine hanya tidak mau Binar menyadari kecurigaannya.
Barusan Shine itu natap gue..
Apa dia marah gue deketin pacar kakaknya.
Terserahlah!!!, itu urusan nanti. Urusan sekarang adalah gue harus menaklukkan tikus betina ini.
Sial!!, ini benar-benar get crush gue. Ini yang disebut tergila-gila akan cinta.
Binar benar-benar kesal, pemuda itu beranjak dari duduknya dan menuju tepi sungai. Duduk diatas batu dengan menjulurkan kakinya ke dalam air.
" Dia kenapa?" Tanya Arnov, pandangan matanya tertuju pada punggung Binar.
" Nggak tahu" Shanum menggendikkan bahunya acuh.
" Dia marah, Sha...kesana..." Shine mengkode Shanum agar mendekati Binar.
"Loh, apa hubungannya sama gue?, kalau mau marah ya marah aja!. Kenapa bawa-bawa gue..." Sahut Shanum jutek.
" Emang dia marah kenapa?" Tanya Arnov penasaran.
" Entahlah, tapi ku rasa dia yang bego!!, dan kesal sendiri. Akhirnya dia marah begit--"
" Heyy Shine!!, gue nggak tau lo siapa?, darimana?. Tapi jika sekali lagi lo ngatain Binar bego!!, lo berurusan dengan gue bro!!" Sahut Arnov.
" Berurusan apa!!" Bentak Shanum.
" Lagak lo udah kaya preman aja Nov..." Lanjut Shanum.
Roy, Alexa dan Arnov saling lirik.
Ya emang kami preman Ya...
Karena Shanum tidak juga beranjak akhirnya Shine sendirilah yang mendekati Binar.
Mereka duduk bersisihan, kedua bahu bereka saling bersinggungan. Sepertinya tinggi mereka tidak jauh beda, dilihat dari belakang begini saja postur tubuh mereka terlihat sama. Mereka benar-benar seperti kembar.
" Lo kenapa?" Tanya Shine tanpa menoleh, matanya asyik melihat air jernih yang mengalir dibawah kakinya.
" Nggak kenapa-napa" Jawab Binar acuh.
" Bohong!!, lo marah karena nggak bisa cium Aya!!" Bentak Shine dingin.
Binar mengusap wajahnya. Ditariknya masker yang menutupi hidung dan mulutnya itu kebawah dagunya.
" Jadi lo melihatnya?" Binar tersenyum kecil.
" Ya!!, dan gue nggak suka!!. Dia calon tunangan gue!!, calon istri gue!!!" Lagi Shine berbicara dengan suara tertahan.
" Tapi tingkah konyolmu hari ini mengingatkanku pada brotherku..., dia sepertimu. Suka mencoba mengambil keuntungan saat bersama Aya..." Shine tersenyum menerawang masa lalu.
Tapi sudut hatinya ingin memastikan sesuatu.
" Bin, gue akan menyebutkan sebuah nama, dengar baik-baik..." Shine menoleh menghadap Binar.
Saat ini kedua mata itu saling tatap. Entah kenapa Binar merasa was-was dan sedikit grogi.
" Dih apaan! sebut nama aja ijin, sebut-sebut aja lah!!" Sentak Binar.
" Dian, Dian Angguni.." Ucap Shine cepat.
Duaarrrrr!!!
__ADS_1
Binar mendadak panik, jantungnya serasa bagai ada yang merematnya, sampai pecah berkeping-keping. Tanganya bergerak tanpa komando mengusap dadanya yang terasa ngilu.
Matanya terasa pedih luar biasa, bahkan terlihat genangan disana.
Shine mengamati reaksi aneh yang diperlihatkan Binat saat ini.
Dadanya ikut nyeri, melihat perubahan wajah dan tubuh Binar yang bergetar. Tapi dia harus melihat ini, beberapa hari ini dia dihantui rasa penasaran akan siapa Binar.
" Nanda Marvelino Putra Syahril?" Sambung Shine.
Binar semakin terjingkat kaget, matanya menatap tajam Shine. Seolah memohon menghentikan menyebut nama-nama yang membuatnya semakin pusing.
" Lalu...Shan----"
" Cukup!!!" Bentak Binar, tanganya meremas kepalanya yang begitu sakit, sangat sakit sampai rasanya ingin meledak.
Shine panik melihat Binar yang semakin menggigil dan terus menerus memegangi kepalanya. Titik-titik keringat membasahi wajah tampanya.
" Bro..., are you oke? Bro tell me!!, what should I do..." Shine ikut bingung dan cemas. Rasa khawatir membuatnya linglung.
Tapi tepisan keras dan dorongan kuat dari Binar membuat Shine tersungkur.
" Just shut up!!, it's all because of you!!, go away!!!" Teriak Binar.
Untung saja yang lain sedang turun ke sungai. Kalau tidak mungkin Shine akan dikeroyok oleh Roy dan Arnov, karena mengganggu Binar.
Shine mengangguk-angguk pelan, sepertinya pemuda itu sedang memikirkan sesuatu.
Binar menarik nafas dalam-dalam lalu melangkah dengan terseok-seok menjauh dari Shine.
Drrttt....drrrt
Ponsel Binar bergetar, dan itu dari Aivy. Binar melirik jam pada tampilan ponselnya. Pukul sepuluh, dia harus menjemput adiknya.
" Iya Vy, bentar kakak ber----"
" Ngga usah jemput Aivy kak, om Rangga dan Maureen udah jemput Aivy ini. Kami mau jalan-jalan karena besok Maureen udah pulang, boleh kan?"
Suara bahagia Aivy bagaikan buluh perindu bagi Binar. Adiknya seminggu ini terlihat hidup, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang nampak seperti zombie, dia hidup tapi tak hidup.
" Hei Bin!!, kenapa disini?" Shanum menepuk punggung Binar pelan.
Tapi Binar tetap diam saja, acuh tak acuh dengan keberadaan Shanum.
" Bin turun ke air yuk, airnya sejuk, dingin.... Yuk Bin...." Shanum menarik tangan Binar, dan pemuda itu hanya menurut saja.
" Ha..ha..ha.., lihat tuh Bin, Roy basah kuyup ha..ha..ha.., Roy itu menggemaskan ya Bin.." Shanum tertawa puas saat melihat Roy dijeburkan oleh Shine dan Arnov ke dalam sungai.
Binar tak berkomentar, bereaksipun tidak. Shanum menatap Binar penuh selidik.
" Bin?" Shanum memutar bahu Binar agar mengadap padanya.
" Hemmm" Jawab singkat Binar.
" Lo kenapa sih Bin?, lo marah?"
" Nggak" Jawab singkatnya.
" Terus kenapa dong manyun?, nggak ganteng ih!!" Shanum mencolek dagu Binar.
Tapi Binar hanya menangkap tangan itu dan menggenggamnya, tanpa bicara apa-apa.
" Bin lo kenapa sih?, lo nggak asyik tahu.... Tadi aja sibuk ngajakin kencan, sekarang gue dikacangin. Males gue...." Shanum hendak beranjak pergi tapi lenganya segera ditarik oleh Binar.
Sett...
" Kesel nggak dikacangin?" Tanya Binar tepat di telinga Shanum, bahkan hembusan nafasnya saja membuat Shanum merinding.
" Te...tentu sa..ja..." Jawab Shanum gagap.
" Gue pun sama, gue kesel tiap lo ngacangin gue..." Sahut Binar dingin.
" Lo tau gue suka sama lo seperti orang gila kayak gini, tapi lo pura-pura nggak tahu.... Kesel nggak kalo lo jadi gue?"
" Dan tega sekali lo, dihadapan gue lo ngerayu Roy...."
" Lo anggep apa gue Cahaya, gue juga punya hati tau?" Ucap Binar panjang lebar.
__ADS_1
Shanum diam saja, menunduk tak tau harus berkata apa.
" Gue nggak peduli mau lo tolak beratus kalipun!!, gue tetap akan maju sebanyak lo mundur!!, ingat itu Cahaya...." Lanjutnya lagi.