
Dua setengah tahun telah berlaku, dan masih dengan siklus yang sama. Shanum dan Sunny sejauh ini masih mampu menjaga kualitas LDRan mereka dengan sangat baik.
Walaupun yah...itu semua sangat berat untuk Shanum karena selama lima bulanan terakhir kemarin dia sempat kehilangan kabar tentang Sunny dan sama sekali tidak bisa menembus keberadaannya meski dengan bantuan uncle Brian sekalipun.
Tapi beberapa minggu berikutnya barulah Sunny menjelaskan bahwa dirinya mendadak mendapatkan jadwal pelatihan di pedalamam Afrika.
Selain itu dia juga sedang dalam masa training materi penyamaran dan penyembunyian identitas.
" Aku kirain kamu hilang yang..., hampir-hampir saja aku bunuh diri nyemplung ke air saking cemasnya nggak dapet kabar dari kamu tau nggak sih..." Rengek Shanum manja.
" Haiishh!!, apaan sih! Bunuh diri-bunuh diri! ngga bagus ah ngomong kayak gitu..." Sela Sunny, tatapanya begitu dalam.
Menyiratkan rasa rindu yang menggebu.
" Yeeee, kan bunuh dirinya nyemplung ke bathup yang ha..ha..ha.." Sambar Shanum.
" Bahkan aku juga hampir sewa detektif Conan buat cariin sebelah hati aku ini, sakit tau yang saat sebelah hati hilang, lagian juga kan sayang dong udah gantengnya kebangetan kaya gini ilang"
" Trus takutnya pas hilang diketemuin orang, trus di aku-akuin, trus di jadikan hak milik, trus udah gitu yang nemunya cewek pula yang, alamak yang...bisa mati aku yang ha..ha...." Lanjut Shanum dengan terus tertawa-tawa ceria, walau sudut matanya masih saja mengalirkan cairan bening.
Hampir enam bulan sudah dia bertahan diri dari beratnya rasa rindu dan cemas, dan jelas itu sangat menyesakkan. Kalau biasanya dia masih bisa bersabar menunggu telpon dari Sunny paling lama 3 sampai 4 mingguan. Beberapa bulan ini adalah waktu yang terlama..., jadi saat ini dia benar-benar meluapkan rasa bahagianya.
" Maafkan aku sayang....maaf..." Bisik Sunny saat matanya masih dapat menangkap air mata itu, walaupun Shanum terus membungkusnya dengan senyum palsunya sekalipun.
Yakinlah bahwa dia pun merasa lebih tersiksa daripada apa yang dirasakan oleh Shanum saat ini. Bahkan dia sempat putus asa dan sempat pula ingin mengakhiri semua. Untung seorang sahabat memberikannya support.
Edgar Hansen namanya, sama seperti dirinya. Sama-sama meninggalkan kekasih demi sebuah cita-cita.
" Sayang maafkan aku.... Maafkan aku..." Sunny terus meminta maaf bahkan wajahnyapun sampai memerah karena menahan tangis. Memang sih, apa yang dilakukan Sunny bisa disebut keterlaluan juga.
Membiarkan tunangan dalam keadaan yang kalut selama berbulan-bulan tanpa kabar, apa itu namanya kalau bukan tega.
Membiarkan tunangan terombang-ambing oleh rasa yang tidak menentu sepanjang waktu, jelas itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang berhati batu.
" Sayang...Please forgive me..." Ucap Sunny lagi, kali ini lebih tulus dari sebelumnya.
" Sudahlah, tidak masalah..... Setidaknya satu semester lagi kita sudah bisa bertemu kan?" Tanya Shanum dengan penuh harap.
" Iya, tentu sayang, dan aku berjanji akan segera menjemputmu..." Ucap Sunny tegas, dengan dada yang berdetak kencang dan penuh keyakinan.
Shanum kembali tersenyum, menampilkan gigi gingsulnya yang semakin membuatnya manis.
" Asyyikkk...aku tunggu ya... Awas loh kalo PHP, aku laporin ke komnas HAM kamu yang...ha..ha..ha.."
Tapi beberapa detik berikutnya, gambar wajah Shanum tidak terlihat lagi di layar ponsel Sunny, dan justru bergerak-gerak tak menentu.
Masih terdengar oleh Sunny samar-sanar suara isakan tangis.
" Sayang! sayang !...Shanum....?" Panggil Sunny kebingungan dan cemas.
"Sunny...i...i...i...miss you hu..hu..hu..." Jebol sudah pertahanan Shanum dari tadi, pura-pura tertawa diatas rasa sesak rupanya begitu menyakitkan. Suaranya yang bergetar begitu mengiris hati Sunny saat ini.
Jelas Shanum bukanlah Wonder Women yang mampu untuk mengeraskan hati disaat hatinya begitu rapuh, dan itu terjadi bertahun-tahun lamanya. Menahan sesak selama itu bukanlah hal mudah.
Bahkan tak seorangpun tahu setiap malam dia harus terus menangis dengan memeluk foto pertunangan mereka. Tujuh tahun harus berpisah, dan kembali harus berpisah lagi. Inikah takdir mereka?
Kadang-kadang dalam kesunyian Shanum bertanya-tanya pada Tuhan, memang takdir seperti inikah yang harus mereka lalui?
" Sssshhhh sayang cup..cup..I'm sorry sayang please.... I miss you too.... Don't cry please.." Sunny memejamkan matanya. Bulir bening juga ikut luruh dari kelopak matanya yang tertutup.
" Tunggu sebentar lagi, bersabarlah sedikit lagi..aku mohon...jangan menangis..." Pinta Sunny dengan suara serak dan terbata-bata.
...**...
Beberapa hari setelah berhasil menghubungi Shanum, Sunny berdiri di depan pintu barak tempat dia menghabiskan malam-malamya.
" Tiga bulan lagi sayang..... Paling lama tiga bulan lagi, akan aku tuntaskan semua, dan aku akan langsung berlari menujumu...." Batin Sunny.
Sunny menatap kembali foto Shanum yang menjadi bandul kalungnya.
" Good bye Academy Sandhurst, hari ini adalah terakhir kalinya aku ada disini..." Batinnya lagi.
" Sun! The plane is ready at the airbase! Let's go soon! " Seru Edgar Hansen.
" Okey I'm ready.." Sahut Sunny.
Jadi selama ini Sunny rela mendobel-dobel materi demi secepatnya bisa menyelesaikan keseluruhannya. Dan tentu tujuanya hanya satu, yaitu agar secepatnya bisa bertemu dengan Shanumnya, kekasih hatinya.
__ADS_1
Dan perjalanannya kali ini adalah materi terakhir yang harus di tempuhnya. Jika dalam materi ini dia berhasil dengan sempurna. Maka dia bisa langsung dinyatakan lulus dan tidak perlu lagi kembali ke camp.
Lantas untuk pembelajaran dua tahun berikutnya, dia bisa tinggal diluar camp.
" We must succeed together Sun!, I want to marry my girlfriend soon.." Ucap Edgar penuh semangat.
Dan Sunny hanya menganggukkan kepalanya mantap.
Mereka berdua berlarian ke pangkalan udara yang berada di belakang kampus.
...**...
Jika Sunny berjuang penuh semangat untuk bisa secepatnya bertemu dengan Shanum, maka Shinee justru stay cool.
Pemuda itu justru menjalani hidupnya dengan prinsip easy going.
Jika Ayu mati-matian belajar sampai larut malam, berbanding terbalik dengan dirinya. Shinee menyikapi semua materi dengan santai dan tanpa beban.
" Shinee, ini maksudnya kaya gimana nih?" Ayu menunjuk baris kalimat yang ada di buku tebalnya.
Sebenarnya nggak etis didengarnya, masa iya anak bisnis bertanya tentang istilah-istilah perbankan kepada anak kedokteran.
Tapi inilah kenyataan yang terjadi, dan pemandangan ini terjadi selama bertahun-tahun ini.
Shinee mendekati Ayu dan duduk disampingnya. Membaca buku gadis itu sekilas, lalu menjelaskan dengan kata-katanya secara sederhana agar mudah dipahami oleh Ayu.
Istilah-istilah bisnis ataupun perbankan bukanlah hal baru bagi Shinee, sejak kecil dia sering mengikuti ayahnya ataupun kakek Syahril ke kantor. Ayahnya saja walaupun seorang dokter, dia masih sangat mampu membagi waktunya ke rumah sakit dan ke kantor, begitu juga uncle Brian.
" Hoammm, bobo yuk yang....aku udah ngantuk nih..." Shinee menjatuhkan kepalanya di pundak Ayu dengan manja.
Dan Ayu hanya tersenyum sambil mengelus rahang Shinee lembut.
" Tidurlah dulu yang.., aku selesaikan ini sedikit lagi..." Bisik Ayu.
Dikecupnya kening Shinee lembut.
Yah..., dua setengah tahun ini membawa perubahan yang sangat berarti untuk hubungan mereka berdua.
Shinee enggan beranjak, tapi besok dia ada kuliah pagi, jadi mau tidak mau dia harus tidur awal.
Dikecupnya pucuk kepala Ayu, dan sebelum berbalik di usapnya pula rambut Ayu sekilas.
" Aku tidur duluan ya yang....., kamu jangan begadang terlalu larut, nanti jika kamu kurus aku yang disalahin orang...."Ucap Shinee lagi.
" Hemmm" Jawab Ayu masih dengan mata yang menatap pada layar laptopnya
Shinee menatap wajah cantik Ayu yang entah sejak kapan selalu dipandanginya sebelum tidur, seolah menjadi suatu rutinitas wajibnya. Dia seakan-akan tidak akan bisa tidur nyenyak tanpa merekam dulu wajah Ayu dalam benaknya.
I love you so much my dear wife...
Jika hubungan mereka ada kemajuan pesat seperti ini, itu karena diawali oleh kemarahan Shinee setahun yang lalu.
Tepatnya saat lagi-lagi Angkasa datang untuk meminta Ayu kembali.
Flashback on
Shinee berlarian berangkat ke kampus karena dia bangun kesiangan, semalam dia harus mengikuti bimbingan dari seorang dokter yang hanya tinggal beberapa jam saat transit dikota ini. Otomatis membuatnya pulang terlalu larut.
Sebenarnya Ayu sudah membangunkanya tadi, tapi karena matanya begitu berat Shinee tertidur lagi saat Ayu dan Shanum berangkat ke kampus duluan.
Untung baju dan perlengkapan Shinee sudah dipersiapkan oleh Ayu, begitupun juga dengan bekalnya.
" Ya Tuhan...so sweetnya istriku..." Batin Shinee saat membaca memo yang tertempel di meja rias, apalagi ada gambar hati yang membuat Shinee salah tingkah sendiri.
Shinee, roti bakar dan bekalmu sudah aku persiapkan di pantry!!. Jangan lupa sarapan... Aku nggak mau dibilang istri yang nggak bertanggung jawab jika nanti suamiku menjadi kurus.. β€
Sampai di depan gerbang kampus mata Shinee dibuat mendelik saat melihat Ayu dan Angkasa sedang duduk berdua ditaman kampus.
Kenapa si Ang pengendali udara itu datang?
Dan kenapa Ayu mau menemuinya..
Selama ini Ayu selalu terlihat sering bersama teman wanitanya, jika saat ini Ayu terlihat duduk berdua dengan pria rasanya itu menyakitkan sudut hati Shinee.
Dengan dada berdebar dan hati yang panas, Shinee memberanikan diri mendekati keduanya.
__ADS_1
" Heyyy bang, abang disini?. Apa kabar?" Sapa Shinee sopan.
" Ahhh..Shinee..kabar abang baik.." Sahut Angkasa dengan senyum yang kecut saat Shinee langsung melingkarkan tanganya di pundak Ayu dengan posesif.
Ayu juga tak kalah terkejutnya, selama ini hubungan mereka hanya sebatas suami istri semu. Ya.. memang sih, semenjak tragedi awal Desember lalu mereka memutuskan untuk tidur satu ranjang, tapi ya begitu saja, hanya tidur dan tidak lebih.
Jika saat ini Shinee memeluknya begini didepan Angkasa, maka Ayu mengira ini hanya akting Shinee belaka.
" Aku datang untuk melihat keadaan Ayu.." Balas Angkasa.
" Dan seperti yang abang lihat, Ayu baik-baik saja bersamaku..." Sahut Shinee.
Angkasa lagi-lagi tersenyum kecut, ditatapnya wajah Ayu yang memang terlihat semakin cantik.
" Aku tidak percaya, Ayu terlihat kurus semenjak bersamamu... "
Deggh!!
Shinee sedikit ngilu mendengarnya, karena benar. Ayu memang agak kurusan semenjak tinggal disini.
" Jika kamu tidak bisa memberinya makan dengan layak. Aku bisa!, kembalilan dia padaku!!!"
Duarrr!!
Shinee benar-benar emosi mendengarnya.
Kembalikan! Kembalikan!
Apa yang dia pinjam!, Ayu miliknya, Ayu istrinya!!
Ya...walaupun jujur... Shinee masih belum bisa memberikan hak dan kewajiban Ayu, apalagi nafkah batin.
Tapi Ayu Andira adalah sah istrinya.
Dengan mengucapkan ijab qobulnya malam itu Shinee sudah berjanji untuk terus terikat pada gadis ini.
Lalu apa kata Angkasa?
Kembalikan! Kembalikan! Apa yang harus dia kembalikan.
" Aku tidak mencuri apapun dari mu bang!!, apa yang harus ku kembalikan padamu?" Tanya Shinee dengan tatapan mata yang begitu tajam.
" Kembalikan Ayu padaku Shinee, aku tahu sampai hari ini kau tidak mencintainya.." Sahut Angkasa.
Ayu menunduk, sementara Shinee semakin merapatkan pelukannya.
" Dari mana abang bisa mengambil kesimpulan begitu?" Tanya Shinee.
" Jika memang terjadi kesalahan dengan kalian malam itu tentu Ayu akan hamil. Dan saat ini kalian pasti sudah punya anak. Dan itu tidak ada sampai saat ini..." jawab Angkasa.
" Kembalikan Ayu Shinee..., aku masih sangat mencintainya, aku pasti bisa membahagiakan dirinya.." Lanjut Angkasa.
Shinee berusaha menahan amarahnya yang sudah meletup-letup.
" Jadi!!!, hanya itu pandanganmu tentang cinta!! Hanya **** !! Picik sekali isi otakmu bang!! Kau mau bukti apa untuk pembuktian rasa cinta?"
" Yang seperti ini kah?"
Shinee langsung menarik tengkuk Ayu dan melabuhkan ciumannya dibibir Ayu.
Ayu sempat melotot tak percaya, tapi ciuman lembut Shinee membuatnya terlena dan ikut menggila, bahkan gadis itu tak segan-segan membalasnya.
Mereka terus saling pagut, saling sesap, saling decap tak ingat tempat, dan tak ingat waktu.
Tak sampai disitu, bahkan Shinee juga terlalu terbawa suasana, dia lupa tempat dan lupa akan situasi dan kondisi.
Bibirnya semakin nakal menyusuri leher Ayu.
" Emmmppp...Shinee...sudah!!, kak Angkasa sudah pergi!!" Ayu berusaha mendorong kepala Shinee.
Shinee melepaskan tubuh Ayu perlahan, bibirnya tersenyum manis. Matanya menatap bibir Ayu yang merekah dan basah karena ultahnya.
Dan juga leher Ayu yang penuh tanda merah darinya. Ini pertama kalinya mereka berciuman setelah malam itu. Dan hari inilah awal manis dari hubungan mereka berdua.
Terimakasih Angkasa...., kamu memberiku istri secara mendadak.
Dan kamu juga membuatku bisa menyadari sesuatu.....
Aku mencintai istriku...
__ADS_1
Flashback off