
Shanum mondar-mandir di kamarnya, ucapan Saka membuat tubuhnya tremor sedari tadi. Sementara Bianca dan girls lainya berusaha menenangkannya.
Kabar dari Saka yang mengabarkan bahwa Sunny telah kembali benar-benar membuat gempar semua penghuni WB.
Rasa bahagia, lega, cemas, was-was mencengkeram hati mereka saat ini.
Denis langsung menghubungi Gama Bagaskara leader mereka untuk mengumpulkan anak buah mereka demi mencari keberadaan Sunny di luaran sana.
Aivy yang berada di tengah-tengah mereka ikut bingung, gadis itu sebenarnya beberapa kali memergoki papanya memanggil kakaknya dengan nama Sunny.
Apa maksud mereka Sunny itu kak Binar?
Aivy yang masih polos dan belum mengerti apa-apa hanya memutuskan untuk diam saja, daripada salah bicara.
Kegemparan itu akhirnya bisa diredam oleh uncle Brian yang juga telah memiliki banyak informasi setelah pertemuannya dengan sahabat-sahabat Binar.
Tapi saat ini uncle Brian masih mencari keberadaan mama tiri Binar dan putrinya untuk menggali informasi yang akurat dari mereka berdua.
Dari sambungan telponnya, uncle Brian meminta semua tetap tenang dan ikut mencari sebisa masing-masing.
" Aku dan timku sudah bergerak, kami sudah menyebar foto dan ciri-ciri Sunny ditangan timku.." Ucap Denis cepat.
" Semua cafe dan restoran punya gue juga udah mulai nge-cek CCTV, barang kali ada Sunny diantara pengunjung" Sahut uncle Ardiansyah.
" Ah...sorry lupa gue!!" Uncle Lenox menepuk keningnya saat lupa untuk mengecek CCTV di toko-toko retail mereka yang tersebar di seluruh Indonesia, toko sekelas Indoapril itu menjamur di mana-mana.
Uncle Adnan hanya menepuk-nepuk pundak uncle Lenox pelan sambil tersenyum.
Ya, mereka saat ini bersatu untuk mencari anggota keluarga mereka yang kini diyakini tengah tersesat diluar sana.
Karena mau tidak mau dan telah juga disetujui oleh keluarga besar, pagi ini rencananya makan Sunny akan dibongkar untuk meyakinkan diri mereka bahwa Sunny atau bukanya jenasah itu.
...***...
Sementara Sunny yang begitu berbahagia karena siang ini akan bertemu dengan Shanum bergerak gesit untuk merapikan rumahnya.
Memasak untuk dibawanya ke rumah sakit dan sekalian pamit kepada papanya untuk keluar sebentar bertemu Shanum.
" Pah, ayah bilang kalo kakinya udah enakkan udah boleh pulang besok..., ini juga udah tiga hari setelah operasi kan.." Ucap Sunny sambil membantu papanya menyiapkan makan beliau.
Sebenarnya dari RS juga udah dikasih makan, tapi Sunny hanya ingin papanya semakin banyak makan dengan makanan kesukaannya.
" Pah, nanti jam sepuluhan Sunny tinggal boleh ya?"
" Mau kemana?, jangan keluyuran terus nak, kamu belum ingat betul seluk beluk Jakarta dengan baik.." Ucap papa Sanjaya tegas.
" Sunny nggak pergi sendiri kok pah...." Ucapnya sambil menggigit bibirnya, menahan senyum yang ingin terbit sedari tadi.
" Terus sama siapa?" tanya papa Sanjaya bingung.
Beliau hanya berfikir simpel saja, apa anaknya sudah punya teman di Jakarta, sementara harinya saja habis dirumah sakit.
" Aya pah...." Ucapnya malu-malu.
" Jadi kalian udah baikan nih ceritanya?" Olok papa Sanjaya.
" Belum sih, dia mah cintanya sama aku yang Sunny. Sama Binar masih merajuk gara-gara fitnah Lampir tempo hari itu. Tapi Sunny minta doanya pah.... Semoga dia mau mendengar penjelasanku hari ini" Pinta Sunny tulus.
" Kenapa kamu nggak jujur saja pada mereka nak, papa lihat mereka semua baik-baik. Lagian dilihat dari fisik saja udah jelas, kamu mirip banget dengan adik kembarmu itu. Masa sih mereka tidak percaya..." Ucap papa Sanjaya panjang lebar.
" Pah, Sunny itu kenal betul dengan keluarga besar Sunny pah. Yah....mereka memang baik tapi mereka tidak akan mudah percaya pada siapapun sebelum mereka memegang bukti valid..." Sahut Sunny
" Nah kenapa nggak langsung tes DNA aja kamu sih nak, trus langsung bilang kamu anak Dr. Marvel, kenapa mesti ribet sih?" Papa Sanjaya mengusap wajahnya pelan.
Sunny menatap papa Sanjaya dengan tatapan iba, rupanya papa Sanjaya belum tahu siapa itu Dr. Nanda Marvelino..
"Jika itu bisa tentu akan Sunny lakukan sekarang juga, tapi RS ini adalah salah satu rumah sakitnya uncle Lenox. Yang peraturan dan regulasinya ketat banget. Kalau Sunny ujug-ujug ngaku anak dari Dr. Marvel hanya karena mirip dengan Shinee apa ada yang percaya?. Trus nasib papa dan Aivy gimana nantinya, pasti urusanya akan panjang. Sunny sampai hari ini saja belum ingat kenapa Sunny tiba-tiba ada sama papah".
"Ya, mungkin papa bisa saja akan ngomong kalau nemu Sunny di sungai. Tapi apa akan berhenti sampai itu saja terus beres. Papa pasti akan terus dikejar pertanyaan lain pah...."
" Termasuk kenapa nemu anak nggak dilaporin ke polisi, kok malah disembunyikan dan dibawa pulang. Apalagi data diri Sunny juga semua papa ganti ke Binar, itu akan membuat ribut dunia persilatan pah..."
__ADS_1
" Apalagi papa membuat urusanya sama orang seperti ayahku. Ini rahasia kita ya pah.... Ayahku itu, tidak semanis yang kita lihat. Ayahku orang yang bisa berbuat apa saja jika dia sedang marah atau terusik. Ayahku bahkan berulangkali masuk penjara karena menghajar orang sampai kelenger demi melindungi keluarga nya. Nah Sunny melindungi papa saat ini demi itu..."
" Pokoknya Sunny harus mendapatkan ingatan Sunny dulu sebelum ini semua terbongkar...itu semua demi papa dan demi Aivy. Sunny nggak mau papa dipenjara karena salah paham. Itu kalau cuma penjara, karena ayahku bisa melakukan yang lebih dari hanya penjara untuk papa. Karena apa?, karena papa sudah menyembunyikan Sunny selama tujuh tahun lamanya..."
Papa Sanjaya lagi-lagi mengusap wajahnya. Pria baya itu hanya tak percaya saja, ternyata perbuatannya yang hanya berniat menjadikan Sunny pengganti putranya akan berakhir rumit seperti ini.
" Astaghfirullah...., kok jadi serumit ini.."
" Sebenarnya nggak rumit, cuma kebetulan ketemu orang yang rumit seperti ayahku..ha..ha..ha... Sunny sih nggak minta banyak pah, cuma memohon dikembalikan ingatan sebelum kejadian Sunny ada di sungai itu saja cukup pah..." Ucap Sunny lagi.
Mereka ngobrol terus sampai nasi di piring habis, dan Sunnypun kini melirik jam dinding.
Papa Sanjaya tahu putranya sedang bahagia hari ini jadi diapun ikut bahagia juga.
" Bersiaplah nak, udah setengah sepuluh itu..." Ucapnya dengan bijaksana.
" Emmm, udah gini aja..." Ucap Sunny malu-malu.
Tapi masih sempat-sempatnya dia melirik kaca dan membenahi rambutnya.
Jika Sunny berambut lurus dan dengan poni panjang, maka Shinee agak ikal dan dengan poni pendek.
" Udah ganteng kok...., Cahaya pasti makin klepek-klepek.." Papa Sanjaya mengelus rahang Sunny pelan.
" Dia mah klepek-klepek sama Sunny dari bocil pah..ha..ha... Tapi Sunny sangat bersyukur pah, Sunny jatuh cinta lagi pada tunangan Sunny sendiri begitupun Shanum..."
Ponsel Sunny berkedip-kedip terus dan Sunnypun langsung menyambarnya.
" Pah, sayangku udah di bawah. Sunny berangkat dulu ya..." Pamit Sunny dengan senyumnya yang terkulum malu-malu.
" Cie..., sayangku pula....ha..ha..ha..."
Papa Sanjaya tertawa sembari melepaskan putranya keluar ruangan.
"Hati-hati nak..."
" Iya pah..." Jawab Sunny.
Papa Sanjaya menatap punggung kekar putranya itu..
Dari ceritanya yang panjang tadi dia banyak mengingat tentang sifat keluarganya, terutama ayahnya...
Semoga ingatanmu segera kembali nak...
Dan kembalilah berbahagia ditengah-tengah keluarga yang menyanyangimu
...***...
Sunny berlari-lari kecil menuju mobil Shanum yang berada di luar gerbang RS.
" Udah lama?" Tanyanya sambil membuka pintu kemudi.
" Pas nelpon kamu tadi udah disini" Jawab Shanum sambil bergeser tubuhnya ke kursi samping, memberi ruang untuk Sunny duduk di kursi kemudi.
" Kita mau kemana?" Tanya Sunny setelah duduk dan bersiap.
Ditatapnya gadis cantik penguasa hatinya itu penuh rasa rindu.
" Ancol boleh..." Jawab Shanum.
Tatapan Sunny masih terpaku pada gadis cantik itu untuk beberapa saat lamanya.
" Kamu sangat cantik..." Ucapnya tanpa sadar.
" Emmmhh, terimakasih Bin.." Jawab Shanum dengan menundukkan kepalanya.
Sunny membuka aplikasi mapsnya dan menempatkan di depan kemudi. Biar second menurut Almeer, ponsel pemberian Almeer masih benar-benar bagus bahkan lebih bagus dari ponsel Sunny yang lama.
" Bismillah...."
Sunny sebenarnya tidak percaya diri membawa mobil, dag dig dug juga rasa dadanya. Tapi eh...lama-lama kok enjoy juga.
__ADS_1
" Siniin tangannya " Sunny menyodorkan telapak tanganya, di depan Shanum. Dan gadis itupun menyambutnya.
" Kita pacaran lagi ya hari ini..." Ucapnya sambil mengecup tangan Shanum yang berada di genggamannya.
" Hemmm, hanya hari ini saja. Karena Sunnyku sudah kembali..." Ucap Shanum dengan mata menerawang jauh.
Deggh!!
Jantung Sunny langsung terasa copot saat itu juga.
Cciiitttttt.....
Sreekkkkk....
" Binar!!!!, yang bener bawa mobilnya!!!" Teriak Shanum histeris saat Sunny tiba-tiba mengerem mendadak disaat mobil melaju kencang. Untung saja jalanan sedang tidak terlalu ramai.
" Ap...apa?, apa kamu bilang?" Tubuhnya tiba-tiba berkeringat dingin.
Takut, Sunny sangat takut papanya kenapa-kenapa oleh amukan ayahnya. Sementara dia nggak mungkin bisa menolong papanya saat ingatan ini belum seratus persen balik.
" Minggir dulu deh!!" Seru Shanum kesal.
Dan Sunnypun menjalankan mobilnya lagi saat klakson di belakang begitu ramai.
" Sunnymu kembali maksudnya?" Tanya Sunny dengan tubuh bergetar.
" Saka bilang, ada cowok yang dateng kerumah dan ngaku bernama Sunny.."
Plakk!!
Sunny menepuk keningnya, baru sadar akan kesalahannya waktu itu.
Bodoh!!, ini karena kebodohanku....
Sialan!!, pasti uncle Brian sudah mulai bertindak..
Sebenarnya ingatan Sunny sudah banyak kemajuan semenjak dia berada di Jakarta, hanya saja peristiwa yang membuatnya hilang ingatan belum kembali juga.
Perlu satu jam untuk sampai Ancol, dan selama waktu itupun Sunny menceritakan bagaimana dia bisa banyak bersama cewek-cewek dan tante-tante seperti di foto yang dikirimkannya oleh Lyra dan Crystal padanya.
Itu semua karena dia yang tidak ingat siapa dirinya. Dan percaya saja dengan apa yang dikatakan 'kakaknya'.
Dan bukti-bukti transaksi transfer itu bukanlah untuknya, tapi untuk mama dan kakaknya.
" Jadi kamu pasien amnesia Bin?" Shanum kini menatap Sunny dengan iba.
Sunny mengangguk dan memberanikan diri mengelus kepala Shanum lembut.
" Tidak benar-benar reset total sih. Masih ada yang bisa ku ingat, dan itu yang melekat erat dihatiku..."
" Ibumu?" Tebak Shanum
" Bukan.." Jawab Sunny cepat
" Bapakmu?" Tebak Shanum lagi.
" Bukan juga..." Kali ini Sunny sedikit tertawa.
" Terus siap dong....??"
" Kekasihku...." Jawab Sunny tegas.
" Oh...kekasihmu...." ucap Shanum datar.
" Kamu nggak cemburu?"
" Buat apa?, kita kan udah putus. Kita ngedate hari ini kan bonus karena gue nggak mau punya mantan yang sakit hati trus main dukun segala macem buat aku ngemis-ngemis balikan sama dia..."
" Dia itu maksudnya aku?" tunjuk Sunny pada wajahnya.
" Ya iyalah kamu, mantanku kan cuma kamu..."
" Mantanmu Binar kali yang.., bukan aku..." ucap Sunny sambil menyeringai tipis.
__ADS_1
Shanum tersentak kaget dengan ucapan absurd Sunny.
...πππ...