
Binar tertegun di dapurnya, ingatan bagaimana nakalnya dia dua malam ini. Pemuda itupun begitu heran dengan tindakannya, kenapa dia begitu agresif saat bersama Shanum.
Apa yang aku lakukan?, kenapa aku begini?.
Gila!!, dari mana keberanian ini datang?
Bagaimana bisa aku memasuki kamar gadis dan bahkan tidur disana.
Kenapa aku begitu kehilangan kontrol akan diriku jika bersamanya...
" Bin, bagi duit!!"
Suara Lyra mengagetkan lamunannya.
" Nggak ada, kemarin udah sama mama semua..." Jawab Binar ketus.
" Jangan bohong!!, lo semaleman nggak pulang kan!!, pasti ada uang. Lo habis balap kan!!" Lyra dengan cepat menyambar jaket Binar yang tergeletak di punggung kursi.
Dirogohnya semua saku jaket itu, ada duaratusan lebih sisa uang belanja tadi pagi.
" Itu untuk bayar les Aivy kak!!" Binar menyambar dengan cepat uang dalam genggaman Lyra.
" Kesiniin nggak!!, atau lo mau pergi dari rumah ini. Jadi gembel diluar sana hahh!!!" Bentak Lyra.
" Brengsek!!, gue sumpahin jadi perawan tua lo!!" Dengan kesal Binar melempar uang yang ada digenggaman tanganya ke wajah Lyra.
" Kalo bukan kakak tiri gue, udah mati lo di tangan gue..." Gumam Binar.
" Apa lo!!" Hardik Lyra yang mendengar gumamam kecil itu samar-samar.
" Nyamuk-nyamuk brengsek!!, harus disemprot Bay*on biar mampus..." Seru Binar tanpa menoleh.
Liat aja, begitu gue udah mampu!, gue pergi dari sini bawa Aivy dan papa..
Minggu yang membosankan, Binar hanya rebahan dikamarnya. Ingin sekali rasanya berlari ke rumah kekasih hatinya. Tapi Shanum memberi kabar bahwa dia sedang tidak dirumah, Shanum ada acara bersama sahabatnya di rumah keluarga Ayu Andira.
Binar sedang dilanda kasmaran yang begitu hebatnya.
Rindu begitu menggulung seluruh akal sehatnya.
Dipandanginya foto-foto Shanum yang memenuhi galeri ponselnya.
Flasback on.
" Sunny...."
Shanum menubruk Binar dan memeluknya dengan erat. Rasa bahagia bercampur dengan rasa kecewa yang luar biasa dirasakan Binar.
Bahagia karena Shanum terlihat sudah mulai menerima dirinya, tapi dia kecewa karena gadis itu hanya menganggapnya sebagai Sunny saja.
Tapi itu tak apa, asalkan Shanum nyaman bersamanya, dianggap sebagai Sunnypun Binar terima.
" Apa kau tahu Bin..., Sunnyku juga selalu berjanji menggunakan telunjuknya. Katanya kelingking hanya untuk anak kecil. Promise dengan telunjuk lebih meyakinkan..." Ucap Shanum beberapa saat setelah melepaskan pelukanya pada Binar.
" Apa yang dijanjikan Sunny padamu?" Tanya Binar sendu. Bahkan tanpa ragu-ragu pemuda itu merebahkan tubuhnya di samping Shanum yang masih duduk dengan memeluk lututnya.
" Dia berjanji akan menjadikan aku pengantinya kelak.." Jawab Shanum dengan tersenyum manis.
" Kamu akan terus menunggunya?" Tanya Binar lagi.
__ADS_1
" Tentu saja..., dia yang selalu membuatku nyaman.." Shanum meluruskan kakinya, melirik Binar yang nyaman berbaring di sisi ranjangnya.
Mata pemuda itu terpejam dengan kedua tangan sebagai batalnya.
" Kenyamanan seperti apa yang diberikan Sunny padamu..." Tanya Binar masih dengan mata terpejam.
" Seperti ini, dia selalu menyelinap ke kamarku saat kami di White Base.."
" APA!!" Binar langsung membuka matanya dan duduk bersila menghadap tepat di depan wajah Shanum.
" Ja..jadi...k..ka..kalian juga sering seperti ini?, berduaan di kamar begini?, hah?. Katakan babe itu tidak benar kan?" Binar menarik kedua tangan Shanum untuk digenggamnya.
Binar merasa hidupnya hancur!!, gadis yang begitu dicintainya mengatakan kejujuran yang menyakitinya.
" Iya, memangnya kenapa?, dia tunanganku.... Lagian kami cuma tidur bareng..." Ucap Shanum santai, tanganya meraih selimut dibawah kakinya, dibawanya menyelimuti tubuhnya yang mulai berbaring.
Binar masih duduk disamping Shanum.
" Apa benar hanya tidur bersama?, tidak aneh-aneh?" Binar merasakan rasa cemburu yang hebat saat ini.
" Kau fikirlah sendiri, kami saling suka saat itu. Sunny itu besar di dunia yang bebas..., dah ah... Aku ngantuk. Matiin lampunya Bin..." Ucap Shanum mulai memejamkan matanya dan memunggungi Binar.
Binar mengusap wajahnya geram.
Sunny...kalau wajah kita mirip, kenapa Cahaya hanya terus menyimpanmu saja di dalam bilik hatinya.
Apa yang membuatmu berbeda denganku?
" Babe...." Binar menyentuh lengan Shanum pelan.
" Hemmm"
" Aku tidur sini ya?, aku janji nggak aneh-aneh. Hanya tidur..." Ucap Binar ditelinga Shanum.
Binar jelas tidak bisa tidur karena semakin malam hawa tubuhnya semakin panas. Shanum yang tidur pulas tanpa sadar kini memeluknya seperti memeluk guling. Kaki sebelah Shanum menunpang indah di tubuhnya, tepat di bagian intinya.
Sementara tangan Shanum melingkar erat di perutnya yang keras.
" Tidur disini adalah pilihan yang salah..." Bisik Binar frustasi.
Shanum terlihat beribu-ribu kali lebih cantik saat tidur begini.
Mata Binar tak lepas dari bibir pink Shanum yang terbuka sedikit saat tidur.
" Ya Tuhan, apa aku bisa menahan diri..., tenang Binar!!!, tenang..... Ini ujian..." Binar mengusap lagi wajahnya yang begitu panas.
" Ampun...Tuhan, nggak lagi-lagi gue tiduran begini bareng dia ya Tuhan...mati gue...." Tangis Binar dalam hati saat Shanum kembali bergerak.
Baju tidurnya tersingkap, menampilkan pinggang ramping yang begitu halus dan mulus.
" Tidur Bin...tidur... Ayo pejamin mata lo Bin!!" Binar terus mensugesti dirinya agar segera tidur.
Tapi rupanya magnet Shanum tak mudah dilepas begitu saja. Tanpa komando tanganya berani menyentuh pinggang itu perlahan. Mengelusnya pelan dengan mata terpejam. Hanya satu kata untuk Binar saat ini. NAKAL.
" Sh*ttt!!" Umpatnya merutuki dirinya sendiri. Kesalahan besar baginya telah berani menyentuh pinggang Shanum yang terbuka, karena itu adalah awal mula dirinya semakin gelisah tidak karuan.
Matanya sayu menatap bibir Shanum, lagi-lagi tanganya bergerak sendiri mengusap-usap bibir pink itu.
" Apa Sunny sudah pernah menjamahnya?" Binar meremas tanganya geram. Rasa marahnya sudah mendidih, tapi dengan cepat pemuda itu memejamkan matanya, menarik nafas panjang...dan mulai merilekskan otaknya.
Tapi kantuk tidak juga kunjung datang, diapun meraih ponselnya perlahan, tidak mau menganggu kenyamanan Shanum yang memeluknya saat ini.
__ADS_1
Diambilnya foto tidur Shanum dan men savenya dalam ponselnya.
Dengan penuh kehati-hatian Binar mengganti tubuhnya yand dipeluk Shanum dengan guling, karena dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Binar membuka pintu balkon dan duduk disana, merokok adalah solusi ampuh untuknya menenangkan dirinya.
Flasback off.
***
Seperti biasanya, pagi ini Binar mengantarkan Aivy ke sekolahnya dan selanjutnya menjemput Shanum.
Mama Vera yang masih berada di teras karena baru saja melepaskan papa Vino berangkat bekerja mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah saat motor Binar terlihat memasuki pekarangan rumahnya.
" Assalamualaikum tante.." Sapa Binar sopan.
" Waalaikumsalam Bin, masuk dulu.... Sudah sarapan?"
" Sudah tante, terimakasih.."
Vera menepuk pundak Binar pelan.
" Terimakasih ya..sudah jagain Cahaya beberapa hari ini.., biasanya sih dia ikut juga, tapi terbentur Gala Siswa kemarin jadi terpaksa kami meninggalkannya.." Ucap mama Vera.
" Iya nggak papa kok tante..." Ucap Binar sambil mengangguk.
Shanum muncul dari dalam dan merekapun berangkat sekolah.
" Nanti pulang sekolah mampir dulu ke rumah ya Bin, Maureen ada titip sesuatu buat Aivy. Almeer juga.." Ucap Shanum di samping telinga Binar.
Binar hanya mengangguk, dari kaca spion motornya Binar bisa melihat beberapa motor terus mengikutinya sejak tadi.
Mata Binar terus mengamati gerak-gerik tiga motor dibelakangnya.
Saat menurunkan Shanum disekolahnya pun, ketiga motor itu juga ikut berhenti di ujung gang.
" Babe, pulang sekolah tunggu aku!, jangan keluar sekolah sebelum ada aku disini. Ingat!!" Binar menatap tajam Shanum.
" Kenapa?" Tanya Shanum curiga.
Shanum melihat kekhawatiran dari pancaran mata Binar.
" Nurut!!" Suara tegas dan dingin Binar yang telah lama tidak didengarnya kini kembali lagi. Apalagi sejak tadi sudut mata Binar terus-terusan menuju ujung gang.
" Ya sudah masuk sana..." Binar memutar pundak Shanum dan mendorongnya sedikit untuk segera masuk ke dalam gerbang.
" Tumben kamu suruh gue cepet masuk.., biasanya aja nanti-nanti.." Elak Shanum.
" Nurut sayang!!, atau mau dicium!!" Ucap Binar tegas.
" Cium-cium!!, ancamanmu mengerikan Bin.... " Shanum dengan gemas menyentil bibir Binar yang masih tertutup masker.
Binar melorot tak percaya, dadanya bergemuruh dengan hebatnya.
" Awas kamu..." Ancam Binar dengan tangan menggaruk kepala belakangnya.
Kurang ajar banget si Cahaya, nggak tau apa perjuangan gue menahan diri sejak semalam..
__ADS_1
Duh manis banget senyumnya...