BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Roti sobek..


__ADS_3

" Mereka kenapa?" Roy menyenggol pundak Alexandria saat matanya menangkap hal ganjil di depannya.


Binar berjalan sendiri di depan, sedangkan Shanum bergandengan dengan Ayu.


Saat ini mereka sedang berada di mall untuk mencari kostum yang pas untuk tampil di acara final Nasional Gala Seni di Bali.


Sedangkan Arnov? Pemuda itu sibuk terus menatap ponselnya walaupun sedang berjalan sekalipun.


" Binar sama Aya lagi ada masalah ya?" Ulang Roy lagi setelah dari tadi tidak mendapat jawaban dari Alexa.


" Nggak tahu, tapi dari pagi tadi dia udah badmood begitu.." Bisik Alexa.


Arnov mendekati keduanya lalu merangkul Roy dan membisikkan sesuatu di telinga sahabatnya itu.


" Hehhh?, benarkah?" Roy menoleh dengan mata melotot kaget.


Arnov mengangguk mantap.


Flashback on


Arnov yang masuk kelas agak terlambat langsung berganti baju olahraga tanpa keruang ganti. Pemuda itu berganti begitu saja di ruang kelas.


Saat matanya tak sengaja melihat Binar, Arnov dibuat terkejut melihat sikap Binar yang aneh.


Binar yang biasanya paling aktif saat class meeting begini tetapi hari ini terlihat malas dan kurang bersemangat.


" Lo nggak ikut basket Bin?"


" Nggak lah, ada Rudy gantiin posisi gue.." Sahut Binar acuh.


Arnov menepuk pundak Binar lalu duduk disampingnya.


" Lo ada masalah?, kesehatan papamu?" Tanya Arnov.


" Bukan, tapi kesehatan jantung gue..." Sahut Binar cepat.


" Jantung lo?"


" Ya, gue jantungan tiap kali deketan sama Aya, apalagi semakin hari perasaan gue semakin tidak bisa dikendalikan.... Semalem aja gue hampir kebablasan kalau nggak direm sama dia.." Ucap Binar lirih.


" Semalem?"


" Ya, pulang dari cafe niat hati gue pengen temenin dia dan ya cup-cup dikit lah....lo tahulah anak pacaran kaya gimana?"


" Tahu darimana!!! gue aja belum ada pacar!!" Sela Arnov.


" Oh iya gue lupa lo under 18 ha..ha..ha..." Binar tertawa, tapi hanya sebentar. Setelahnya dia kembali diam.


" Terus?"


" Ya gue kebablasan. Gue semakin panas, apalagi lo tahu kan Aya kalo pake baju suka seksi begitu, gue takut nggak bisa kontrol nafsu gue Nov..."


Binar mengusap-usap rambutnya ke belakang.


" Ya kalau itu mah di agama kita ada tuh caranya. Lo mesti puasa man!!, untuk nundukkin itu lo..."ucap Arnov sok ngustadz.


" Yah sepertinya gue udah mulai harus puasa. Huuffftt, kayaknya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, gue juga mesti agak menjauh dari Aya deh Nov. Sumpah Nov!!, hanya padanya gue kayak gini asal lo tau, melihatnya aja gue langsung on fire!! Gila nggak!! Ini benar-benar nggak bagus untuk jantung gue Nov.." Curhatan Binar pada Arnov panjang lebar.


Flashback off


Roy tersenyum tipis, matanya langsung melirik pada gadis di sampingnya. Alexapun sama seperti Shanum yang juga suka berpenampilan seksi.


Roy jelas paham akan derita Binar, karena dia juga merasakan hal yang sama. Mangkanya dia memberanikan diri untuk menghadap papanya, meminta ijin untuk bertunangan dengan Alexa sebelum mereka sama-sama kuliah diluar kota.


Dasarnya Roy adalah anak Sultan Surabaya, apapun akan menjadi mudah baginya.


Puas berkeliling sampai sore hari mereka pun memutuskan langsung ke rumah Binar untuk sama-sama menjenguk papa Sanjaya.


Mereka seperti biasa, tidak ada yang menginjakkan kaki lewat pintu utama, tapi ke pintu samping seperti biasa.

__ADS_1


Papa Sanjaya didorong Aivy menuju teras samping yang sejuk. Disana sudah ada tante Lilis, ibunda Arnov.


" Maaf tante, Aivy lama bawa papanya ke luar, soalnya kak Binar belum pulang..." Ucap Aivy sambil menyalami tante Lilis dengan takzim.


" Itu, kakakmu udah ada..." Tunjuk tante Lilis pada Binar yang muncul dari pintu bersama sahabat-sahabatnya.


Mereka satu persatu bersalaman pada papa Sanjaya dan tante Lilis.


" Binar sama nak Cahaya, Roy sama nak Alexa, jadi Arnov sama nak A---"


" Bukan om!! Ayu cuma teman..." Sahut Arnov cepat. Matanya melirik Aivy yang terus menunduk mengotak-atik ponselnya.


Kesal, entah kenapa hati Arnov kesal melihat gadis itu tidak lagi bermanja-manja padanya seperti biasanya. Semenjak Aivy punya HP, gadis itu seperti punya dunia sendiri.


Shanum mengikuti Binar yang menuju dapur untuk membuat minuman untuk para tamunya.


" Biar aku yang buat Bin.." Ucap Shanum.


" Ya, udah. Itu gulanya disitu.... Aku mandi dulu bentar..." Ucap Binar, sebelum benar-benar meninggalkan Shanum, Binar mengusap rambut panjang Shanum sekilas.


Tak berapa lama teh telah tersaji, Shanum juga sudah berinisiatif membuka snacknya untuk dijadikan suguhan cemilan.


Tapi setelah mencari sedari tadi Shanum tidak juga tahu dimana toples biskuit di simpan.


Gadis itupun mau tidak mau mengetuk pintu kamar Binar dan memanggilnya.


" Bin..." Panggil Shanum.


Tapi tidak juga ada sahutan dan panggilan berikutnyapun sama saja.


Shanum mencoba mendorong pintu yang ternyata tidak dikunci.


" Akkhhh" Shanum menutup matanya saat tanpa sengaja dia melihat Binar yang sedang mengancingkan celananya.



Binar tersenyum sambil melangkah mendekati Shanum.


" Ya emang sengaja diem, biar kamu masuk..." Bisik Binar.


" Dihhh, lebay. Toples mana?" Tanya Shanum dengan posisi masih memunggungi Binar.


" Toples?, buat apa?, buat nampung iler kamu?"


" Iiuuyyyy, siapa juga yang ngiler!!" Geram Shanum sambil menghentakkan kakinya kesal.


" Masa nggak ngiler liat roti sobek kayak gini..." Binar semakin menempelkan tubuhnya dibelakang Shanum.


Shanum langsung berbalik badan, dengan cepat cubitanya menyerang perut padat itu.


" Akkhh!!!, mati gue!!" Teriak Binar syok!!, tidak menyangka bahwa Shanum akan bereaksi begitu. Yang justru membuatnya gelagapan sendiri.


Sementara gadis itu segera berlari cepat berlalu kedapur, biskuit di tuangnya dipiring dengan tangan bergetar. Cewek normal di mana-mana juga akan serangan jantung melihat siluet menggiurkan seperti Binar ini. Cepat-cepat Shanum membawa tatakan itu kedepan, karena tidak mau lagi dia bertemu dengan Binar saat ini.


Binar tertawa-tawa seperti orang gila dikamarnya sendiri, puas banget bisa mengerjai Shanum.


" Duhhh...makkk tolong.... Binar pengen kawin makkk..." Teriak Binar frustasi.


...***...


Arnov duduk di samping Aivy setelah meminum teh buatan Shanum. Sementara para gadis asyik ngobrol dengan papa Sanjaya dan bundanya. Roy terlihat tertidur dibahu Alexa.


" HP baru dek?" Basa-basi Arnov.


" He emm" Sahut Aivy, matanya masih saja menatap ponselnya.


" Chattingan sama siapa sih?" Arnov melongok melihat ke arah layar ponsel Aivy.


" Sama kak Almeer, kakak nya Maureen sahabat Aivy.." Jawab Aivy singkat.

__ADS_1


" Maureen yang sahabatnya kamu, kok kakaknya yang ngechat kamu!, gimana ceritanya sih!" Tanya Arnov mulai kesal.


" Kak Almeer hanya nanya, ponselnya ada masalah nggak, fitur-fitur berfungsi semua apa nggak?, gitu aja.."


" Kok kepo amat dia, emang apa urusanya?"


" Ya adalah urusanya kak, orang yang ngasih ponsel ini kak Almeer loh..." Jawab Aivy sambil memamerkan ponselnya yang super duper canggih.


Arnov terkejut melihat ponsel Aivy, dia sedari tadi nggak jeli melihat model dan merknya.


" A..apa?, ponsel kayak gini diberikan cuma-cuma ?" Ucap Arnov syok sampai tidak bisa berkata-kata.


" Emmm, terkejut ya?. Ya sama!, Aivy juga terkejut saat itu. Tapi melihat ponsel terbarunya yang lebih canggih sih wajar-wajar aja yang ini di berikan ke Aivy"


Ada rasa kesal pada dada Arnov, gadis yang selalu manja padanya kini mulai menjauh. Ponsel telah menggantikan perannya sebagai 'kakak kedua selain Binar' dihidup Aivy.


Entah kenapa ada rasa kehilangan dan rasa kesal pada Almeer saat ini.


" Apa Almeer sangat baik?"


" Tentu saja, kak Almeer buaiikkk banget. Udah gitu cuakep banget... ya ampun..."


Terlihat binar indah dari mata Aivy saat membicarakan Almeer.


" Baikkan kak Arnov atau Almeer?" Tanya Arnov kesal.


" Emmmm, gimana ya?" Aivy terlihat berat untuk berfikir


Arnov terlihat galau tingkat dewa.



Matanya terus menerus malirik Aivy yang asyik chatingan kembali dengan terus tersenyum.


" Cakepan kak Arnov atau Almeer?" Desak Arnov lagi.


Aivy terlihat bingung. Gadis kecil itu jelas belum tahu apa-apa dengan pertanyaan Arnov. Gadis bau kencur itu hanya akan menjawab pertanyaan yang bisa dijawabnya, itupun jawaban yang memang berasal dari hatinya.


Mana ngerti bocah cilik itu dicemburui seperti itu. Arnov saja yang gila!, nggak bisa membawa diri. Kalau dia sekarang kesal mah itu salahnya sendiri.


" Nih..., ini yang namanya kak Almeer, Aivy nggak ngerti yang kayak gini cakepan kakak atau dia..."



Bocil itu udah merebut Aivyku....


Huhh...kesel kan jadinya gue..


Penggen makan orang gue uhhhhhhh...


" Nov, pulang yuk nak. Udah sore ini..." Suara bundanya mengagetkan Arnov yang sedang kesal, jiwanya sangat sakit dan terluka saat ini.


" Kenapa buru-buru tante Lilis, Binar baru juga mau bungkusin oleh-oleh kemarin.." Ucap Binar yang muncul dari dalam dengan menggeret koper besar ke arah mereka.


" Wah sempet-sempetnya beli oleh-oleh nak..." Seru tante Lilis.


" Bukan Binar yang belanja Lis, nyonya dan tuan Rangga Wijaya yang meminta kami membawanya.." Sahut papa Sanjaya.


" MasyaAllah, baik banget mereka ya mas..."


" Begitulah Lis, ku kira sudah tidak adalagi orang baik didunia ini..." Ucap papa Sanjaya sendu.


Binar dan Shanum sibuk membagi-bagi oleh-oleh itu menjadi beberapa paper bag untuk dibawakan kepada para tamunya saat suara mama Ganis dari ambang pintu mengagetkan mereka semua. Bahkan Roy yang nyenyak tidur pun langsung duduk tegak.


" Wah...wah...ada acara apa ini?, wahhh...oleh-oleh?, kamu darimana Bin?, Jalan-jalan?, dapat duit darimana kamu?" Mata mama Ganis meneliti keadaan suaminya yang terlihat bugar.


" Ealah...kamu pulang mas? Emang udah bisa jalan?" Tanya mama Ganis sinis.


" Bisa jalan atau tidak, tidak akan merubah apa-apa Nis!!, aku kembali ke rumahku hanya untuk meluruskan satu hal. Ini rumahku dan aku akan menjualnya..., aku dan anak-anak ku sudah memutuskan untuk pindah ke Jakarta.." Ucap papa Sanjaya dingin dan tegas.

__ADS_1


__ADS_2