
β Warning!!!, Banyak umpatan kasar di episode iniππΌππΌππΌ Mohon bijak dalam membaca.. Warning β
" Brother!!! Panggil polisi cepat, bajingan ini harus membusuk di penjara..." Teriak ayah Marvel dengan menggelegar.
" Maaf dokter, harusnya tidak begini. Tidak mungkin om Sanjaya menculik putra anda dok, om Sanjaya hanya menemukan putra anda di sung--" Roy berusaha menengahi.
" Lalu!! Bukan berarti dia menjadikanya putranya kan!!, dan menipu semua orang dengan cara memalsukan identitasnya kan. Perbuatan yang dilakukan tetaplah kriminal!!. Penjaralah tempatnya membusuk..." Sahut ayah Marvel cepat.
" Saya mohon maaf dokter, saya melakukan ini karen----" Papa Sanjaya berusaha untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi, tapi rupanya dr. Marvel sudah sangat terkuasai emosi hingga tidak dapat lagi berfikir waras.
" Diam!! Berikan alasanmu ke kantor polisi saja!!" Potong ayah Marvel cepat.
Lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan papa Sanjaya dengan tangan terkepal erat, ayah Marvel ingin secepatnya keluar karena takut kembali menggila, emosinya terasa mendidih sampai meluap saat ini.
Binar yang memang sudah dia duga adalah putranya sejak enam bulan lalu, ternyata adalah memang putranya.
Seandainya Binar saat itu tidak menunjukkan berkas-berkas yang telah dipalsukan pasti uncle Brian sudah tahu ini sejak lama.
Ayah Marvel merasa kesal, karena merasa telah dikelabuhi disini.
" BANGSAT!!, BRENGSEK!!, BABI LO SANJAYA!" teriak ayah Marvel seperti orang kerasukan. Wajahnya merah padam, menandakan betapa amarah telah benar-benar merasuk pada dirinya.
Saat ini uncle Brian membawa ayah Marvel ke dalam ruangannya, kalau tidak setan-setan yang bersarang dalam diri uncle Marvel bisa membuat kacau Rumah Sakit.
Tidak salah uncle Marvel juga jika dia sebegitu emosinya, banyak yang sudah terjadi selama kurun waktu tujuh tahun ini.
Apalagi tahun-tahun awal kepergian Sunny, semua sangat terasa sesak dan berat, bahkan terbersit dalam benak uncle Marvel untuk menyerah dan pasrah.
Bagaimana tidak, istrinya harus divonis sakit mental selama dua tahun karena kehilangan Sunny. Dua tahun pula bunda Dian hanya bengong seperti mayat hidup.
Tak ada gairah hidup, yang dilakukan dari hari ke hari hanya menangis dan menangis. Kadang-kadang beliau juga mengalami tantrum yang parah saat melihat Shinee.
Berat, semua terasa berat saat ayah Marvel harus mengalami fase terberat dan sangat berat karena ulah papa Sanjaya selama ini.
Dan dia sendiri sempat mengalami depresi yang parah, bahkan diapun jijik dengan dirinya sendiri setiap mengingat itu. Selama hampir setahun pula hari-harinya selalu dihabiskan berteman dengan minuman haram demi untuk melupakan rasa sesak kehilangan Sunnynya.
Entah sudah sebanyak apa dia minum minuman beralkohol itu selama setahun itu, apalagi rokok yang selalu ada dibibirnya yang tiada putus-putusnya seperti kereta api.
Tidak kata yang cocok untuk kehidupan keluarga mereka kala itu selain hancur. Ya, HANCUR!!!. Itulah yang dialami keluarga ayah Marvel saat awal kehilangan Sunny dahulu.
Tak hanya bunda Dian saja dan dirinya saja yang hancur saat itu, Shineepun demikian. Lalu ada Shanum.
Dengan kepedihan yang luar biasa seperti itu pantaskah papa Sanjaya hanya dipenjarakan saja??
Jelas kedengarannya sangat tidak adil.
__ADS_1
Mengingat itu ayah Marvel kembali hendak berlari ke ruangan papa Sanjaya.
" Oh No!!!, Shittt!!!" uncle Brian dengan gesit menangkap kerah belakang uncle dan menyeretnya kembali ke ruangannya ayah.
" Brother, tenang dulu.... Belum tentu tuan Sanjaya yang salah, anak buahku masih membawa berkasnya kemari .." Ucap uncle Brian sambil terus mengunci tubuh ayah Marvel.
" Aku tidak mau tahu!!, Dia harus menanggung balasan atas setiap deritaku!, derita istriku!, derita Shinee dan Shanum!!" Teriak Marvel lagi, matanya memerah nyalang, air mata sudah tidak terbendung lagi, jika ditampung mungkin bisa untuk berenang, semut.
" Brengsek!!!, Setan!!!, Iblis!!! Anjing!!, pokonya dia harus HANCUR!!!" Ayah Marvel meninju-ninju dinding saking kuatnya amarah menguasainya saat ini.
Untung saja pintu ruangannya saat ini sudah dikunci dan kuncinya ada dikantung celana uncle Brian, kalau tidak pasti papa Sanjaya sudah almarhum di tangannya.
" Lepasin brother!!, akan kubuat patah lagi kakinya, LEPAS!!" Ayah Marvel kembali memberontak untuk melepaskan diri, tapi kuncian uncle Brian begitu kuat.
Saat dirasa uncle Brian sudah tak sanggup lagi menahan berontakan ayah Marvel, maka pilihan hanya satu yaitu..
Clekk...clekk..
" Sorry brother, I should do this!!" Ucap uncle Brian dengan memasang borgol ditangan ayah Marvel pada tiang rak obatnya.
" Brother!!! I hate you!!!" Bentak ayah Marvel, dengan penuh amarah pria itu mengacungkan jari tengahnya pada saudara kembarnya itu, dengan masih terus memberontak.
...***...
" Dek...sayang?, what happened??" Seru Sunny khawarir.
" Kaaakkkkk...papaaaaa...polisi membawa papaaaaa hu...hu..."
" What!!! Anjing!!!, gue terlambat!!" Sunny langsung mematikan ponselnya begitu saja dan berlari meninggalkan rumahnya menuju rumah sakit.
Tapi saat melintas gang yang lumayan sepi sebuah benda keras menghantam belakang kepalanya.
Buaghh!!!
" AAKKHHHH" Teriak Sunny kesakitan.
Meski rasa kepalanya benar-benar serasa akan pecah, tapi dengan gagahnya pemuda itu langsung menoleh dan menendang sosok yang ada dibelakangnya.
Dan semakin Sunny melawan semakin bermunculan beberapa sosok lain dari beberapa sudut gang.
Ditangan mereka terdapat tongkat baseball.
Sementara beberapa dari mereka melumpuhkan Sunny dengan menguci tangan Sunny dan dipelintirnya di belakang.
Bukan Sunny namanya kalau tidak bisa berinisitif. Dia masih bisa menendang dan menanduk dengan kepalanya, hingga salah satu dari mereka harus memukul kembali kepala Sunny dengan tongkat baseball itu.
__ADS_1
Duakkkk!!!
" Akkkhhh...." ringis Sunny.
Darah mengucur dari sela-sela rambut Sunny, membasahi wajahnya.
Tepat saat itu seorang pria dengan kaki yang tak sempurna mendekati Sunny.
" Sudah hampir mati juga masih sok lo!!!, benar-benar jelmaan Iblis seperti ayahmu!!" Ucap pria bertato Naga itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Milano, kakak Jessica ( jika ingin tahu siapa Jessica bisa buka novel Childhood Love Story)
" Lihat kakiku!! Itu juga karena ayahmu yang jelmaan Iblis itu..., dan hari ini aku akan puas dengan bisa mematahkan kedua kakimu..ha..ha..ha..." Milano mencengkeram rahang Sunny dan merematnya geram.
Cuihhh!!
Sunny yang tidak gentar membuang ludahnya pada wajah Milano, membuat pria itu gelap mata.
Buaghh!!
Dengkulnya bersarang indah di perut Sunny, mengakibatkan pemuda itu memuntahkan darah segar dari bibirnya.
Bruukk...
Tubuhnya ambruk ke aspal seketika, apalagi pukulan di belakang kepalanya yang begitu kuat tadi membuatnya begitu pusing.
Kepala belakang adalah organ vital yang akan melumpuhkan siapa saja, sekuat apapun dia, walau Sunny sekalipun.
Krekkkk.
Belum juga Sunny bisa bangkit, seseorang bersepatu boot menginjak jemari kanannya dengan sengaja.
" Akkkhhhh" Jerit Sunny tertahan.
Milano berjongkok di depan wajahnya, mengetukkan sebuah pena pada keningnya dengan kasar sembari menjambak poni panjang Sunny kebelakang hingga kepalanya mendongak keatas.
" Tanda tangani ini!!, CEPAT!!"
Sunny yang pandanganya sedikit buram karena darah yang mengucur dari kepalanya masih bisa membaca isi kertas itu.
Ya..., dikertas itu menerangkan bahwa Binar telah menguasakan pada mama Ganis untuk penjualan rumah di Surabaya.
" Anjing!! Ternyata tak hanya Lampir Lyra saja yang berulah padaku, rupanya Sundel satu ini berulah juga, setan wanita itu!!! Awas kau...." Desis Sunny dengan meludahkan darah dari bibirnya.
" Cepat tanda tangani ini. CEPAT!!" Bentak Milano dengan semakin menguatkan jambakanya.
" Cihhh, sampai gue mati lo nggak akan dapet yang lo mau!!" Lawan Sunny.
__ADS_1