BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Kekonyolan Sunny


__ADS_3

Matahari semakin terus naik, dua koper dan satu ransel motif Army coklat telah berada di depan pintu kamar Sunny dan Shanum. Sementara sang pemilik masih malas-malasan diatas sofa dengan tatapan terus tertuju pada gerak-gerik istrinya. Sang istri yang ditatap sedemikian rupa masih sibuk mengecek keperluan suaminya, tanpa menyadari sama sekali.


" Paspor, KTP, Kartu Identitas Shandhurs, Kartu Surat Jalan, dompet, eemm apalagi ya?" Shanum menggaruk rambutnya sesaat, lalu tatapanya tak sengaja tertuju pada tatapan sendu Sunny yang masih saja lekat menatapnya.



" Nah Yang..semua sudah beres, apalagi yang belum ya?" Tanya Shanum yang kini berjalan mendekat pada Sunny.


Brughh!!


" Aawww!!" teriak Shanum saat Sunny menarik tanganya kuat sehingga membuatnya jatuh dipangkuan kekasihnya.


" Kamu sepertinya bahagia sekali aku tinggalkan.." bisik Sunny lemah, ada rasa kecewa di hatinya.


Melihat Shanum terus tersenyum sejak pagi membuatnya bertanya-tanya, apakah Shanum tidak merasakan apa-apa dengan perpisahan mereka.


" Maksudmu?" tanya Shanum, keningnya berkerut bingung, kemana arah pertanyaan suaminya ini.


" Kamu tidak sedih? Kita akan berpisah lagi, dan kamu terus saja tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa..." lanjut Sunny putus asa.


Mendengar ungkapan hati Sunny yang begitu resah, Shanum sangat sadar apa yang terjadi. Suaminya kembali mellow. Perlahan kedua telapak tangan halus Shanum kini menangkup wajah tampan Sunny, menghadapkanya tepat didepan wajahnya.


" Terus?, apa aku harus memasang wajah sedih dan jutek saat akan kamu tinggalkan?, apa aku juga harus menangis meraung-raung agar kamu tidak jadi pergi?, kamu ingin hari terakhirku denganmu di hiasi dengan wajah jelekku begitu? Hemmm?"


" Aku lebih sedih daripada kamu asal kamu tahu Yang..., tapi aku selalu sadar diri. Ini adalah takdir yang harus kita jalani. Dua tahun tidak akan lama jika kita jalani dengan santai dan enjoy, dengan begitu rasa sepi tak adanya dirimu disisiku akan tidak terasa berat, rasa sedih juga pasti akan terus menipis.." lanjut Shanum.


" Aku sayang kamu Yang.., tidak hanya sekarang setelah statusmu berubah menjadi suamiku, tapi sejak dahulu... Aku cinta kamu sedari dulu, bahkan mungkin sebelum aku paham akan arti cinta itu sendiri. Aku selalu mempelajari sifatmu sejak kecil, bahkan mungkin itu saat aku belum bisa membaca dan menulis. Apalagi saat semua orang mengabarkan kematian kamu waktu itu, aku masih saja percaya akan cintaku, aku berpegang teguh pada keyakinan hatiku, aku yakin kamu masih hidup. Dan lalu sekarang?, kamu meragukan aku?"


Deghh!!


Bak belati yang terhunus, tatapan mata sendu Shanum kini mulai mengusik jantung Sunny, menikamnya begitu pedih.


" I'm sorry..." isaknya pedih dengan suara bergetar.


Tidak seharusnya dia goyah, tidak seharusnya dia meragukan Shanumnya hanya karena dia bersikap biasa saja saat mereka akan berpisah seperti ini.


" I'm sorry babe.., I'm really-really sorry..." Dikecupinya seluruh wajah Shanum, seolah tidak pernah ada puasnya.


Didekapnya semakin erat tubuh sang istri yang kini masih berada di pangkuanya, tubuh keduanya bergetar karena tangis pilu yang mereka rasakan saat ini.


Berat memang, semua ini terasa berat bagi keduanya, lagi-lagi keadaan memaksa mereka untuk berpisah kembali, lagi...

__ADS_1


" Aku pasti akan terus merindukanmu siang dan malam.." keluh Sunny.


" Ada ponsel yang akan mendekatkan kita.." balas Shanum cepat.


" Akkh iya..., tapi..."


" Sudahlah Yang...please deh..." pinta Shanum sungguh-sungguh.


Pembahasan ini tidak akan pernah selesai sampai lebaran monyet sekalipun. Sunny itu keras dan tegas nampak luarnya saja, tapi dia selalu lemah dan manja jika berada di sekitaran orang-orang yang begitu dicintainya.


...** ...


Jarum jam terus berputar, penerbangan Sunny yang dijadwalkan malam hari nantipun kian mendekat dengan pasti. Sementara sang pelaku semakin kuat meremas dada yang luar biasa ngilu menghadapi pedihnya perpisahan. Hari ini Sunny jatuh terpuruk diatas rasa sesak yang luar biasa, sesak itu semakin mencekik seiring berjalannya arah jarum jam.


Suara panggilan Ayu dari dapur untuk makan siang menggema di sudut apartemen.


Shine menuruni tangga dengan kedua tangan dimasukkan kedalam kantung celana pendeknya. Didasar tangga dia berpapasan dengan kembarannya yang juga sama-sama sedang menuju ruang makan.


" Apa semua sudah beres brother?" sapa Shine.


" Sudah, tapi keadaan hatiku yang belum beres.." sahut Sunny sendu. Gurat kesedihan sangat nampak jelas pada wajah putihnya yang begitu tampan.


" Ha..ha..ha.., ternyata deritamu tak kunjung berakhir juga, kasihan sekali si belut, baru juga dua bulan asyik keluar masuk lubang kenikmatan, mulai hari ini sudah dipaksa harus hibernasi. Dan tidak tanggung-tanggung cuy!!! dua tahun bray!!" olokan Shine terdengar menyakitkan bagi Sunny, tapi tidak.


Mereka duduk mengelilingi meja makan. Menu masakan kesukaan Sunny terhidang dimeja makan, tentu saja Shanum ada dibalik semua ini.


Mata Sunny lagi-lagi terus tertuju pada gerak-gerik yang pemilik hati.


" Mau ini Yang?" Tunjuk Shanum pada udang balado diatas meja.


" Hemm, sama capcay itu juga..." Sahut Sunny lirih. Tak berselera rasanya untuk makan, apalagi waktu kebersamaan bersama istrinya semakin detik semakin sempit.


" Ya Tuhan....., aku tidak mau meninggalkannya Tuhan....Akkkhhhhh!!!"


Suara hati Sunny terus menjerit dan meronta, tak ingin pergi. Tapi dia bisa apa?, Sandhurst adalah cita-citanya. Disanalah dia menggantungkan mimpi-mimpinya.


" Bangkit Sunny!!! Bangkit!!"


Seruan dari hatinya terus berkobar-kobar, ya....benar kata Shanum. Dua tahun tidak akan lama jika dijalani dengan santai dan enjoy.


Makan siang akhirnya selesai setelah melalui drama panjang dengan manjanya Sunny yang terus merengek minta disuapin. Dan seperti biasa Shanum merapikan piring bekas suaminya lalu membawanya ke wastafel dapur.

__ADS_1


Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat rasa pusing begitu kuat meremas kepalanya, pandangannya semakin berkunang-kunang dan tiba-tiba semua begitu gelap baginya.


Brugh!! Pranggg.....


Tubuh Shanum jatuh terkulai didepan wastafel bersamaan dengan piring yang pecah berserakan.


" SHANUM!!!"


Sunny dan Shine berlarian menuju tubuh Shanum. Dengan gerakan cepat Sunny meraih tubuh terkulai istrinya. Lalu dengan segera membawa tubuh lemah istrinya keluar dari apartemen, tujuannya hanya satu, yaitu hospital terdekat.


...*...


" Ja..jadi..istri saya hamil dok?" Tanya Sunny cengo, tentu saja dengan bahasa setempat.


" Hamil?, dia hamil? maksudnya ada anak di dalam perutnya gitu?" Lagi-lagi pertanyaan nyleneh Sunny membuat sang dokter tersenyum simpul.


" Iya tuan, dan mari kita lihat di sini..., ini hasil USG istri tuan, kandungannya masih berusia 7minggu, masih sangat kecil.." Ucap dokter seraya menyerahkan kertas print out USG milik Shanum.



Sunny mengamati gambar yang berada di tangannya saat ini. Jelas, dia tidak paham akan apa yang tergambar disana.


" Jadi anakku yang mana dok?, tidak ada bayinya disini, ini hanya bulatan doang".


Plakkk!!


Geplakan tangan Shine membuatnya langsung menoleh pada kembarannya itu.


" Itu bukan sekedar bulatan brother!!, itu calon bayimu!!, sudahlah!!, aku jelaskan nanti saja, ayo kita lihat keadaan Sha dulu.." Bisik Shine geram di depan telinga Sunny.


" Oke dokter, thank's you so much..." Pamit Shine sopan kepada sang dokter seraya menarik lengan kembarannya untuk segera dibawa keluar.


" Haisshh Shine!!, kenapa kau menarikku!!, masih ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada dokter!!" Seru Sunny kesal.


" Tanya saja padaku brother, aku juga calon dokter!, pertanyaan konyol mu hanya akan membuatku malu..." Sahut Shine gemas sendiri dengan kelakuan Sunny.


" Apanya yang malu!, aku hanya ingin bertanya dimana letak bayiku, kenapa gambar itu hanya ada bulatan kecil saja!!"


Baru juga Shine ingin membuka mulutnya, Sunny sudah duluan menyerobot nya dengan pertanyaan yang semakin menggelikan ditelinga Shine.


" Ngomong-ngomong anakku tadi boy or girl?, trus wajahnya mirip aku atau Shanum?, kenapa tidak terlihat olehku tadi!!. Oh shitt!!, Shine tolong carikan aku alat USG yang lebih canggih dari punya dokter tadi, berapapun harganya akan aku bayar!!. Aku penasaran banget lihat anakku, alat punya dokter tadi kurang canggih!!" Ucap Sunny antusias. Bahkan jari jempolnya menukik ke bawah saat menilai alat USG milik dokter barusan.

__ADS_1


Shine hanya menepuk keningnya frustasi mendengar keinginan Sunny yang absurd dan diluar logikanya.


__ADS_2