
Drrttt..
Getaran dari ponselnya, mambuat Shanum terjingkat kaget. Biasanya tidak ada yang mengirimkan pesan padanya saat jam pelajaran begini.
Dengan sembunyi-sembunyi Shanum mencoba membuka ponselnya, gadis itu hanya penasaran siapa yang mengiriminya pesan.
Unknown number π₯ : Simpan babe ini nomor gue..
Shanum tersenyum saat melihat isi pesan singkat itu.
Dia sangat tahu itu Binar, siapa lagi yang memanggilnya begitu selain dia.
Me π€ : πOkey.
Binar menatap ponselnya dengan terus terseyum. Semalam dia mencuri nomor Shanum dari kontak hp Aivy.
Untuk memintanya pada Shanum langsung, rasanya malu.
Dihh, Binar emang lucu. Ngerayu anak gadis orang berani, giliran minta nomor ponsel aja gengsi.
" Binar, lo dipanggil pak Harun ke kantor, lo juga Nov!!"
Arnov yang sedang tiduran di bangku paling belakang segera mengangkat kepalanya saat ada yang menyebut namanya.
" Ada apa Bin?" Tanya Arnov dengan mengusap matanya yang masih berat, dengan ujung dagunya pula dia mengelap iler di sudut bibirnya.
" Gak tau" Binar menggendikkan bahunya dan berdiri melangkah menuju ruang guru.
Diikuti Arnov yang berlarian kecil mengejarnya.
Di depan pintu ruang guru mereka bertemu Roy yang berbeda kelas dengan keduanya. Arnov dan Binar satu kelas di XII IPA 2, sedangkan Roy XII IPS 1.
" Kenapa kita dipanggil?, kalian nggak macem-macem kan!!" Tatap Binar pada kedua sahabatnya.
" Nggak lah, gue kan selalu sama lo" Sahut Arnov.
" Gue pun" Sambar Roy pula.
Mereka langsung menuju ruangan pak Harun.
" Selamat siang Pak..." Sapa mereka bertiga.
" Siang, duduk!!"
Karena tempat duduk cuma ada dua, dan Binar sudah menduduki salah satunya, Roy dan Arnov sibuk berebutan.
" Roy lo berdiri saja!!" Sentak Binar.
Dengan kesal dan melirik tajam pada Arnov, Roypun berdiri dibelakang kursi keduanya.
" Besok adalah Gala Seni Siswa, semua siswa setara SMU di Surabaya ini wajib mengirimkan utusannya "
" Dan bapak memutuskan kalian bertiga yang mewakili Putra Bangsa"
Arnov dan Roy saling tatap, melongo tak percaya.
" Seni pak? Kami?" Tanya Binar syok.
" Yaelah pak!!, kami ini soldiers. Masa disuruh jogetan macem boyband Korea!! Dihh pak, mati merinding saya pak..." Arnov bergidik ngeri.
" Seni apa yang akan kalian tampilkan up to you're boys!!, tapi saat ini bapak tidak terima bantahan!!" Seru pak Harun penuh penekanan.
" Maaf Pak, saya tidak bisa. Saya akan segera carikan penggantinya" Ucap Binar tegas.
Roy menatap Binar dan segera ikut untuk menolaknya tapi, saat mulutnya baru terbuka, sambaran tegas pak Harun membuatnya kicep.
" Pak saya jug----"
" Kalian berdua tetap pergi!!. Dan untuk kamu Binar, kamu sudah harus menyerahkan nama penggantimu siang ini. Mengerti!!"
Mereka bertiga pun mengagguk dan undur diri untuk kembali ke kelas.
" Ck!! Jatuh harga diri gue. Sialan!!" Umpat Arnov.
" Apalagi gue!!, malu gue sama Alexandria..Anjirr!!, jangan ada yang bilang ke Alex kalo gue besok ke Gala Seni. Gue gorok kalian sampai bocorin aib gue ke Alexa !!" Seru Roy sebelum masuk ke kelasnya.
...***...
Binar hendak menjalankan kembali motornya setelah menurunkan Aivy. Tanganya dengan cepat mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Shanum, senyum kecil tersungging dari bibirnya.
Me π€ : Gue otw jemput babe..
Baru juga Binar akan memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku hoodienya, ponsel itupun kembali berdering tanda notifikasi masuk.
__ADS_1
My Princess π π₯ : Nggak usah jemput Bin, gue dianterin papa. Hari ini nggak kesekolah..
Me π€ : Kenapa?
My Princess π π₯ : Gue ada acara...
Me π€ : Acara apa?
My Princess π π₯ : Gala Seni Siswa.
" Akkkhh...Sh***!!" Teriaknya Geram, setelah membaca pesan Shanum.
Dengan tergesa-gesa, Binar memacu motornya dengan kecepatan yang menggila menuju sekolahnya, Putra Bangsa.
Binar meninggalkan motornya begitu saja disamping pos satpam. Seperti orang yang sedang dikejar setan, Binar berlari kesana-kemari mencari pak Harun.
" Lo liat pak Harun?" Tanya Binar kepada siapa saja yang ditemuinya di Koridor.
Dan disinilah Binar berada, di ruang musik.
" Jadi kamu mau ikut Gala Siswa!, tapi kan kamu sendiri yang meminta Reza menggantikanmu"
" Saya berubah fikiran pak, saya harus ikut, pokoknya saya harus ikut!" Binar memaksakan diri.
" Tapi Reza sudah siap, semalam juga dia sudah berlatih. Tidak bisa lagi diganti kamu Binar!!" Tolak pak Harun tegas
" Pak saya mohon pak, saya harus ikut!!" Paksa Binar tidak mau kalah.
" Memangnya kamu bisa apa Binar?" Tanya Reza yang berada diambang pintu, pemuda itu datang ke ruang musik untuk mengambil gitar.
" Gue bisa beberapa alat musik.."
" Hah!!! Apa??" Roy dan Arnov yang ada di belakang Reza ternganga tak percaya.
" Harmonika, Gitar, piano, drum saya bisa..." Sahut Binar mantap.
" Ya sudah, Binar saja yang pergi pak. Saya juga merasa kurang percaya diri. Latihan hanya semalam, membuat saya ragu-ragu..." Ucap Reza, sebenarnya diapun terpaksa saat tiba-tiba ditunjuk kemarin.
" Tapi beneran kamu bisa Binar?" Tanya pak Harun.
" Bisa pak, saya janji bawa pulang piala" Ucap Binar penuh percaya diri.
" Ya sudah, siapkan pakaian ganti untuk tiga hari, karena kalian akan karantina di Villa Bestari..."
Binar mengeratkan kepalan tanganya.
" Yes..yes...yes..., babe I'm coming...." Gumamnya lirih, senyumnya begitu cerah dibalik maskernya.
Tak sampai satu jam, Binar, Roy dan Arnov di antar oleh mobil sekolah menuju lapangan tempat berkumpulnya jemputan para peserta Gala Seni Siswa.
Puluhan remaja berseragam putih abu memenuhi lapangan Mandala Krida.
Mata Binar menelusuri sudut-sudut lapangan, berusaha memindai target yang sedang dicarinya.
" Dimana dia?" Desahnya kesal.
Dikeluarkannya ponsel dari saku hoodie nya, lalu mendial nomor Shanum.
Ddrrttt...ddrttt...ddrrttt..
Puluhan panggilannya tak satupun diangkat oleh Shanum.
" Uugghhhh!!, brengsek!!!" Kesal Binar.
" Gila anak SMU Pelita tadi cakep banget ya..."
" Iya apalagi yang namanya Cahaya, tipe gue banget, agak polos-polos gimana gitu.."
" Hemm, boleh juga selera lo, Cahaya sexy woy, bodynya aduhai..."
" Liat aja, gue akan buat dia sujud di kaki gue, lo tau kan kalau cewek pasti akan mudah klepek-klepek dengan duit.. "
" Ya!!, dan lo tajir melintir Do, gue yakin lo selalu bisa naklukin cewek.."
Binar langsung menoleh dan mendekati gerombolan cowok- cowok yang menyebut-nyebut nama Cahaya.
" Lo lihat Cahaya anak SMU Pelita?" Tanya Binar.
" Lo siapa?, oh Putra Bangsa rupanya..." Ucap salah satu dari mereka dengan menatap Binar dari kepala sampai kaki.
" Binar" Ucapnya cepat.
" Lo buat apa cari Caha---"
__ADS_1
" Jangan banyak bacot!!, dimana dia!!"
Sambar Binar geram.
Pemuda berkacamata yang dibentak Bibar itupun keder melihat kemurkaan Binar yang mengerikan.
Dengan tangan bergetar, pemuda itu menunjuk pada beberapa truk yang sedang dinaiki oleh beberapa siswa.
Dari tempatnya, Binar bisa melihat beberapa murid dari beberapa SMU yang berbeda-beda itu mengantri untuk naik ke badan truk.
" Apa? Naik truk?" Gumam Binar tak percaya.
Belum juga tersadar dengan keterkejutannya, Binar melihat sosok Shanum yang kesulitan menaiki badan truk di deretan truk paling depan.
Reflek pemuda itu berlari dan dengan cepat pula meraih pinggang Shanum untuk mengangkat tubuh gadis itu naik ke truk.
Shanum yang terkejut hampir menonjok wajah Binar.
" Eiitsss, ini gue babe..." Ucap Binar cepat.
Setelah Shanum naik diatas, Binarpun menyusul naik. Bahkan pemuda itu sama sekali tidak ingat akan keberadaan dua sahabatnya, Arnov dan Roy.
Setelah badan truk terisi 25an siswa, badan truk itupun segera ditutup.
" Emang penyelenggara nggak ada dana ya, masa kita dijadiin sapi begini..." Geram Binar setelah truk mulai berjalan.
" Gue dengernya sih, dananya terkuras untuk biaya sewa Villanya Bin...." Ucap Shanum pelan, gadis itu terlihat sedikit terhuyung ke belakang karena sebuah guncangan, lagi-lagi dengan cepat Binar menarik pinggangnya untuk mendekat padanya.
Dag..dug...dag...dug...
Jatung mereka begitu riuh berdemo saat ini.
Keduanya terlihat salting dan sama-sama canggung.
" Ahh...emmm, ma..maaf.." Binar mengangkat keduanya tanganya keatas. Tapi rupanya jalan yang dilewati saat ini memang banyak lubang-lubangnya.
Sekali lagi goncangan di badan truk begitu kencang, beberapa siswi bahkan ada yang berteriak histeris.
Greebb..
Daripada jatuh tersungkur, jelas Shanum memilih jatuh dipelukan Binar dong.
Dan sekali lagi rasa jantung keduanya seolah-olah sedang merayakan pesta tahun baruan. Kembang api seakan meledak-ledak dalam hati keduanya.
Binar, pemuda yang sedang merasakan jatuh cinta untuk yang pertama kalinya itupun tak membuang kesempatan.
Pemuda dengan masker hitam menutupi hidung dan mulutnya itu perlahan-lahan mundur sampai mentok pada sudut badan truk.
Shanum segera melepas diri dan membuang pandanganya kesegala arah.
" Sorry Bin..." Bisiknya kecil, wajahnya bersemu merah menahan malu sambil menunduk.
" Santai aja, sering-sering juga boleh. Gue malah suka.." Binar mengusap tengkuknya dan ikut membuang muka ke segala arah. Malu....
Binar menjatuhkan ranselnya, di lantai truk.
"Duduk disini aja Aya"
Binar mempersilahkan Shanum menduduki ranselnya.
" Sini, biar ransel lo gue yang bawain" Binar melepas ransel besar yang ada dipunggung Shanum untuk di sandangnya.
Shanum duduk diatas ransel Binar, sedangkan Binar duduk disampingnya beralaskan sobekan kecil koran.
Shanum terlihat menutup mulutnya dan matanya terlihat tertutup.
" Kenapa?" Tanya Binar khawatir.
Hanya gelengan pelan dari kepala Shanum sebagai jawaban.
" Kamu mabuk kendaraan?" " Tanya Binar lagi.
Anggukan kecil kepala Shanum begitu lemah.
" Sini, pegangan tanganku.." Binar menyodorkan telapak tanganya dan disambut oleh Shanum.
Mereka menyembunyikan genggaman mereka dibelakang ransel.
Tapi memang, Shanum menjadi merasa lebih nyaman dengan menggenggam tangan Binar.
__ADS_1