BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Kecurigaan Brian..


__ADS_3

Suasana sekitar RS pagi ini telah ramai dengan aktivitasnya. Sunny memapah papa Sanjaya untuk turun dari angkot, sementara Aivy yang sudah turun dengan gesit membuka kursi dorongnya.


Tidak jauh dari angkot yang dinaiki Sunny juga berhenti sebuah mobil. Seorang pria yang berwajah mirip seperti ayah Marvel keluar dari mobil itu dengan buru-buru.


Ya, dia adalah uncle Brian yang bertugas di Indonesia beberapa bulan ini.


Brugh!!


Karena saking buru-burunya uncle Brian menyenggol Aivy yang berjalan agak memisah dari papa dan kakaknya.


" I'm sorry little girl..., are you oke?" Tanya Brian dengan memegangi pundak Aivy yang hampir jatuh.


Aivy menatap sekilas lalu mengangguk, Brian yang begitu buru-buru hanya mengusap kepala Aivy lalu kembali berlari, pundaknya sedikit menyenggol pundak Sunny, tapi keduanya tak menyadari.


Sunny menatap punggung pria yang berlari di depannya itu. Sepertinya dia begitu tidak asing dengan punggung kokoh itu.


Ayah?


Ahh..bukan, ayah tidak suka pakai jaket kulit...


Sunny terus mendorong kursi roda papanya menuju ruangan Dr. Nanda Marvelino.


" Binar, Aivy...." Panggil mommy Ara sebelum mereka sampai pada ruangan yang dituju.


" Tante..." Seru Aivy, dan berlari menghambur ke pelukan mommy Ara.


" Heyy kalian pagi sekali?, semalam nginep dimana?. Kenapa nggak langsung kerumah..." Pertanyaan mommy Ara membuat mereka bertiga saling tatap.


" Eemmm, sebenarnya kami sudah dua hari di Jakarta dokter, kami sudah pindah ke Jakarta..." Jawab papa Sanjaya.


" Masya Allah, terus kenapa nggak ngabarin?, kan saya punya banyak prajurit buat bantu-bantu he..he.." Mommy Ara tersenyum lucu mengingat betapa senangnya putra-putrinya jika tahu Aivy sudah pindah ke Jakarta.


" Tidak memerlukan prajurit untuk membersihkan kandang kucing ha..ha.. ha.." Sahut papa Sanjaya dengan tawanya yang khas.


" Kebetulan brothy saya sedang ada tamu, kita keruangan saya dulu. Biar saya periksa keadaan kakinya dulu.." Lanjut mommy Ara.


Binar mengangguk lalu mengikuti mommy Ara menuju ruangannya.


Sementara di ruangan ayah Marvel. Uncle Brian mengeluarkan berkas-berkas di dalam tasnya dengan tangan bergetar.


" Ini yang kudapat saat ke Surabaya seminggu yang lalu brother.."


" Polisi disana beberapa kali terbantu oleh anak ini.. " Tunjuk uncle Brian pada pasfoto hitam putih seorang anak SMU.


" Ini Binar..." Ucap ayah Marvel.


" You know him....?" Tanya uncle Brian terkejut.


" Yess I do, dia teman Sha.... Aku pernah bertemu denganya. Dialah yang kuminta kau selidiki beberapa bulan lalu.." Ucap Ayah Marvel lagi.


" He is look like your son right!!" Brian semakin jeli menatap foto itu lekat-lekat.


" Ya, kau benar. Verry similarly..., sangat mirip.." Desis ayah Marvel dengan suara serak.


" Seandainya dia putraku, aku pasti langsung menggunduli rambutku..ha..ha..ha.." Lanjutnya lagi dengan mengusap-usap kepalanya.


" Bisa jadi brother. Bahkan ini juga yang akan aku tunjukkan padamu"


"Jadi begini brother, seorang wanita mengadu ke pengadilan. Bahwa suaminya telah menjual rumah peninggalan orang tuanya. Bahkan dia juga mengadukan bahwa suaminya telah menculik anak seorang dokter dari Jakarta. Dan dokter itu adalah....." Uncle Brian menjeda ucapannya dengan mata menatap saudara kembarnya itu sendu.


" Who?" Mata ayah Marvel memerah, bahkan air mata menggenang disana.


Kilatan-kilatan peristiwa penculikan itu begitu mengiris hatinya. Dia yang selama ini tak pernah terkalahkan, masih bisa kecolongan. Sampai-sampai dia pernah dititik terpuruk yang teramat sangat. Dia merasa tidak berguna, karena penculikan putranya yang di depan mata saja tak dapat dia gagalkan.

__ADS_1


Ayah Marvel sempat mengalami depresi karena merasa gagal menjadi seorang ayah.


" Dr. Nanda Marvelino Putra Syahril..." Jawab uncle Brian cepat.


" What!!!" Seru ayah Marvel.


" Awww...kaget aku!!!, apa yang mengejutkan brothy? Kenapa berteriak begitu?" Seru mommy Ara di depan pintu sambil mendorong papa Sanjaya.


" Ahhh...ehhh, ini tidak apa-apa..."


Ayah Marvel segera mengemas berkas-berkas yang terdapat foto Binar tadi cepat-cepat, begitupun uncle Brian.


Uncle Brian yang kesal mendekati mommy Ara lalu menjewer telinganya.


" Awww, sakit brothy!!!" Seru mommy Ara.


" Biarin aja sakit, orang masih ada tamu kok nyelonong masuk aja!!" Sahut uncle Brian.


" Mana tamunya?, nggak ada tuh..." Ucap mommy Ara dengan celingukan.


" Ini !, siapa memangnya?" Tunjuk uncle Brian pada wajahnya sendiri.


" Kamu nanya?, kamu nanya? kamu bertanya-tanya?, emang kamu siapa?" Ucap mommy Ara dibuat semirip mungkin dengan yang di tik tok itu.


Ayah Marvel dan uncle Brian yang begitu gemas segera menyerang adik mereka itu dengan cubitan-cubitan kecil. Membuat yang ada diruangan itu tertawa terbahak-bahak.


Aivy dan papa Sanjayapun tak mampu menyembunyikan tawa mereka.


" Ha..ha..ha..maaf Pak, adik kami memang agak-agak..." Ucap Ayah Marvel merasa tidak enak dengan pasiennya.


" Mari saya periksa dulu.."


Papa Sanjaya menatap lekat, pria baik yang adalah ayah kandung putranya selama ini.


" Kenapa pak?" Tanya ayah Marvel saat merasa kurang nyaman ditatap seperti itu oleh sesama pria.


Tapi kalau yang menatap wanita sih enjoy-anjoy saja.


" Tidak dok, anda sangat tampan..." Jawab papa Sanjaya jujur.


" What???, ha..ha..ha.." Ayah Marvel tertawa dan tersipu malu.


Sementara uncle Brian dan mommy Ara justru menjulurkan lidah mereka mengolok ayah Marvel.


" Sepertinya mata tuan harus di periksa juga..." Seloroh uncle Brian.


" Tidak, mata saya sehat. Anda juga tidak kalah tampan dari saudara anda tuan.." Ucap papa pada uncle Brian.


" Nahh...itu baru betul, dan saya setuju.." Seru uncle Brian lagi. Dan tawapun menggelegar lagi di ruangan itu.


" Stop sudah-sudah, kerja!!.... " Seru mommy Ara.


Uncle Brian hanya mengigit lidahnya menahan tawanya lalu duduk santai di kursi kebesaran Dr. Marvel.


Jari telunjuknya menunjuk pada Aivy, lalu mengedipkan sebelah matanya. Aivy tersenyum dan mengangguk.


" Binar mana?" Tanya ayah Marvel pada mommy Ara. Entah kenapa hatinya begitu berdebar ingin melihat pemuda itu.


" Masih mengurus administrasi di depan..." Jawab mommy Ara.


" Bapak siapnya kapan untuk operasinya pak?" Tanya ayah Marvel pada papa Sanjaya setelah menulis sesuatu pada jurnalnya.


" Saya nurut aja baiknya dok.., tapi saya butuh persetujuan putra saya dulu.." Jawab papa Sanjaya.

__ADS_1


Dari tempat duduknya uncle Brian terus meneliti setiap gerak-gerik dan gestur tubuh papa Sanjaya. Orang di depannya ini sedang dilaporkan karena kasus perebutan harta dan penculikan anak. Dan tidak tanggung-tanggung kasusnya, yang diculik adalah anak seorang Marvel, Marvel si iblis yang berbulu malaikat.



" Selamat siang dok.." Sunny berdiri diambang pintu dengan beberapa berkas di tangannya.


Pemuda itu masuk dengan perasaan yang diaduk-aduk. Rindu, senang, sedih, takut dan begitu was-was.


" Siang...masuk sini Binar. Nice to meet you..." Ayah Marvel menjabat tangan Binar erat.


Nyut...nyut...nyut..


Dada Sunny begitu sesak, ingin menangis meraung-raung rasanya. Ingin menghambur memeluk dada lebar itu dan menenggelamkan sesaknya di sana.


Ayah...


Ayah...


Ayah... I'm Sunny ayah....did you recognize me...


" How are you boy?" Ayah Marvel mengeratkan genggaman tangannya.


Tapi matanya membesar saat melihat bekas gigitan yang masih samar-samar di tangan Binar.


" Oh..ahhh...baik, saya baik.." Sunny yang tahu arah tatapan dokter Marvel pun segera menarik lengan baju panjangnya yang tertarik keatas.


Dokter Marvel tersenyum tipis dan menggigit-gigit bibirnya kecil-kecil.


" Oh iya lupa, kenalkan ini saudara kembar saya Nanda Briandika Putra Syahril..."


Uncle Brian segera berdiri dan menjabat tangan papa Sanjaya lalu ke arah Sunny.


Mata mereka berdua saling tatap untuk waktu yang lama.


Sunny tahu betul ini adalah adik ayahnya, tapi selain itu dia tidak ingat apa-apa lagi.


" Binar Buana Sanjaya " Ucap Sunny tegas.


" Binar?, aku rasa namamu lebih cocok Sunny daripada Binar..."


Duarrrr!!!


Baik Sunny maupun ayah Sanjaya saat ini sama-sama pucat.


" M..m..maafkan saya---"


" Pah...jadi gimana keputusanya pah, kapan operasinya?" Sunny segera memotong kalimat papanya, pemuda itu mengkode papanya dengan menggelengkan kepalanya pelan.


" Tergantung kalian, semua fit, jadi tinggal diproses..." Sahut dokter Marvel.


" Gimana pah?" Tanya Sunny lembut.


Telapak tangannya mengusap punggung papa Sanjaya terus menerus. Sunny tahu, karena omongan uncle Brian barusan papanya sedikit ketakutan.


Siapa yang tidak takut, mengusik keluarga Marvel sama seperti mencari mati. Apalagi yang dilakukan adalah menyembunyikan kebenaran ini selama hampir tujuh tahun.


" Pah...yang tenang please..." Sunny menyeka keringat dingin yang mulai menitik di sela-sela rambut papa Sanjaya.


" Ini..." Mommy Ara menyodorkan tissu padanya.


" Tenang..., aku akan selalu di sisimu. Binarmu akan selalu ada untukmu. Tenang pah...." bisik Sunny.


Uncle Brian terus menatap penuh selidik interaksi keduanya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2