
Hati Binar tiba-tiba berdetak cepat saat pesawat mulai mendarat.
Rasa hatinya begitu berbunga-bunga, seolah-olah rasa ini sering di rasakanya dahulu setiap pesawat mendarat.
Tapi kapan dia naik pesawat selain sekarang ini?. Kenapa pula dia sejak tadi merasakan tidak asing dengan semua, padahal begitu asing bagi papa dan Aivy. Anehnya lagi, sepertinya dia sering sekali menaiki burung besi raksasa ini dahulu.
Lagi-lagi keheranan dan kebingungan Binar tampak jelas saat dirinya begitu hafal jalan menuju pintu keluarnya. Dan hatinya yang berbunga-bunga terus saja berdenyut-denyut.
Apa sebenarnya yang membuatku begitu bahagia?
Dari saat pesawat hendak turun sampai saat ini, hatiku terus berbunga-bunga..
Aku merasa seseorang sedang menunggu kedatangan ku disuatu tempat, di Jakarta ini..
" Kak itu uncle Rangga..." Seru Aivy membuat Binar tersadar dari lamunannya.
" Selamat datang, tuan Sanjaya, Binar, Aivy.... Apa kabar?" Sapa uncle Rangga ramah.
" Terimakasih tuan Rangga, maaf kami merepotkan waktu tuan.." Sahut papa Sanjaya merasa tak enak hati.
" Tidak repot, kebetulan saya tidak ada jadwal ngajar, mari...mobilnya ada disana.." Rangga mengambil alih kursi roda dan mendorongnya ke arah mobil Rangga terparkir.
Almeer, Almaeera dan Almaureen begitu senang, mereka segera membuka pintu mempersilahkan tamu mereka masuk.
Almeer terus saja mencuri-curi pandang pada Aivy.
" Bagaimana perjalanannya tuan Sanjaya?" Tanya daddy Rangga.
" Alhamdulillah, putraku sangat gesit dan bisa diandalkan" Ucap papa Sanjaya bangga.
Binar menoleh sesaat ke arah papanya, lalu ikut masuk ke dalam mobil.
...***...
Binar terus-terusan kebingungan sendiri sejak tadi. Kenapa Jakarta serasa lebih meresap di hatinya daripada Surabaya?.
Tepat lahirnya itu tidak memiliki kesan apa-apa, tidak seperti Jakarta ini. Setiap sudutnya begitu memberikan kesan tersendiri.
Binar terus diam memikirkan keanehan demi keanehan ini seorang diri.
Tapi saat mobil mulai melintasi jembatan layang yang kiri kanannya sebuah sungai yang luas. Binar tiba-tiba mendapatkan kilasan-kilasan peristiwa yang tidak dipahami oleh logikanya.
Tubuhnya mengigil, keringat dingin membasahi tubuhnya.
" Kak Binar kenapa?" Tanya Almeer pelan.
" Ahh...ehhh..itu..itu..." Ucapnya terbata-bata.
" Dad..., tambah AC-nya. Kak Binar masih kepanasan.." Ucap Meera menanggapi.
" Ti..tidak usah om, hanya sedikit gerah saja kok..." Sambar Binar cepat.
...***...
Rumah megah berdiri di hadapan Binar kali ini, lagi-lagi Binar begitu terpaku. Tapi bukan kagum atau sejenisnya, Binar hanya merasa rumah ini tak asing lagi baginya. Memang telah ada perubahan di beberapa sudut, tapi garis dasarnya tetap sama.
" Silakan masuk..." Rangga dengan sopan mempersilahkan para tamunya masuk.
" Assalamualaikum mom..." Seru anak bungsu Ara itu menggelegar.
" Waalaikumsalam, mari silahkan masuk. Pak Sanjaya istirahat saja dulu di kamar. Nanti kalau sudah hilang capeknya saya akan coba diagnosa dulu.." Ucap mommy Ara ramah.
" Ayo Aivy kita ke loteng..." Maureen menarik tangan Aivy ke paviliun belakang bangunan rumah utama.
" Iya Binar. Istirahat dulu saja boy, bersih- bersih dulu habis itu kita makan siang bersama.." Ucap Rangga lagi.
" Ahhh, iya om. Terimakasih banyak om..." Sahut Binar.
Merekapun beristirahat sebentar untuk sekedar bersih-bersih badan dan berganti baju.
__ADS_1
Setelah lepas sholat dzuhur, merekapun telah berkumpul di meja makan.
Dirasa waktunya tepat, mommy Ara akhirnya mulai memeriksa papa Sanjaya. Keadaan fisik papa Sanjaya sangat siap untuk dilakukan operasi. Tapi mengenai pendalaman tentang masalah kakinya secara terperinci lebih baik dikonsultasikan secara khusus ke dokter spesialis neurologi.
Dan dokter neurologi terbaik saat ini hanya satu orang. Dia tidak lain dan tidak bukan adalah Dr. Nanda Marvelino Putra Syahril Sp.N.
Tapi sayang, beliau sedang berada di luar negeri sekarang ini.
" Sebenarnya ini kalau ditangani langsung oleh brothy saya akan lebih cepat dan efisien " Ucap mommy Ara pada papa Sanjaya.
" Brothy anda?" Tanya papa Sanjaya.
" Iya, brothy saya dokter spesialis neurologi, tapi saat ini beliau berada di Chelsea. Berarti besok kita ke dokter yang ada dulu saja ya pak..."
Papa Sanjaya mengangguk setuju, sudah ditolong begini saja lebih dari bersyukur.
Sore tiba, beberapa anak-anak genk somplak satu persatu mulai berdatangan.
Rasya datang bersama Azmya. Rayden datang bersama Tiara.
Rumah sangat ramai, anak-anak terlihat heboh membicarakan topik yang menarik.
Binar duduk sendirian agak menjauh, fikiranya amburadul seperti benang kusut saat ini. Ratusan lintasan kenangan masa lalu berkelebat-kelebat tanpa henti.
Otaknya benar-benar panas seolah ingin memuntahkan lava mendidihnya.
Bagaimanapun dia berusaha dan ingin mengingatnya, hanya rasa pusing luar biasa yang didapatkanya.
" Maaf, kakak istirahat dulu ya..." Pamitnya kepada anak-anak yang asyik sendiri itu, kakinya melangkah malas menuju kamar tamu dimana papanya berada.
Saat melintasi ruang belajar yang luas, Binar melihat foto keluarga yang begitu besar. Matanya tak berkedip saat penglihatannya menemukan wajah yang begitu dikenalinya diantara puluhan orang dalam gambar itu.
Matanya hanya menatap satu wajah itu tanpa berkedip.
" Kenapa kak?" Tanya Rasya yang penasaran akan sikap Binar yang aneh.
" Itu, siapa gadis itu.." Tunjuknya pada foto kecil Shanum yang berada dalam dekapan Sunny.
Loh?
Bukanya Sunny itu kekasih Cahaya ya?
Kok?
Terus, dimana Cahaya?. Kenapa foto dia tidak ada diantara om Vino dan tante Vera.
Lalu matanya menatap pada wajah yang sangat mirip dengan ayah Shinne.
Lagi-lagi dia merasa mengenal dekat dengan orang itu. Reflek tanpa disadarinya tanganya mengusap pelan wajah Brian yang tersenyum lembut dalam foto itu.
" Itu uncle Brian namanya, adik kembarnya uncle Marvel ayahnya brothy double S.." Ucap Azmya.
Binar menoleh pada gadis kecil itu, gadis kecil yang sepertinya masih berusia sembilan atau sepuluh tahun, tanganya menjulur mengusap jilbab rapi yang dipakainya.
" Kamu siapa?" Tanya Binar.
" Aku Azmya, dan ini daddy dan mmyku... Daddy ku kakak kembarannya aunty Ara.." Ucap Azmya sambil menunjuk foto Ardy dan Azura.
" Ini siapa?" Tanya Binar pada foto Shanum, pemuda itu hanya ingin memastikan sesuatu.
" Itu kak Shan..." Jawab Azmya, menyebut nama panggilan Shanum.
Shan?
Binar menyentuh bahunya pelan.
Ya, nama ini nama Shanum..
Tapi Sunn itu nama siapa?
" Trus kak Cahaya mana?, kok nggak ikutan foto?" Tanya Binar, jarinya melingkar-lingkar di foto keluarga Vino.
__ADS_1
" Nah itu sama brothy Sunny!!" Tunjuk Azmya.
Nyut...nyut...nyut...
Kok???
" Akkhhhhh" Jerit Binar dengan terus *******-***** kepalanya yang ingin pecah.
" Kakak kenapa?, Azmya panggil aunty ya biar disuntik.." Ucap gadis kecil itu panik.
" Ahhhh, e..eng...enggak usah. Kakak hanya perlu istirahat.." Binar berjalan tertatih-tatih menuju kamar tamu.
...*...
Almeer sejak tadi tidak fokus dengan apa yang di bicarakan saudara-saudaranya.
Fokusnya hanya pada gerak-gerik Aivy.
" Kamu suka dia ya Meer?" Pertanyaan Rasya membuat Almeer menyembunyikan wajahnya pada bantal sofa.
" Emmmphhh ha..ha..ha.." Rasya tertawa sambil menutup mulutnya rapat-rapat.
" Sssttt kak!!, awas sampai ada yang tahu!!" Almeer mencekik Rasya pura-pura.
" Sorry dek!, kakak nggak janji. Lah wong nyata jelas begitu, orang lain juga pasti tahu lah..." Ucap Rasya masih dengan tertawa ngikik.
" Kakak nggak bisa nginep, kakak mau pulang. Oh iya besok ada Luigi, jangan lupa kita ke White Base.."
Rasya menyentuh mengelus semua kepala adik-adiknya dengan sayang lalu menemui uncle dan auntynya untuk pamit pulang. Jika ada Shinee, maka Shineelah yang paling tua diantara mereka, disusul Vino di seberang boysnya. Kalau untuk girls, jelas leadernya adalah Bianca Aurora, trus disusul Shanum baru Meera.
Pukul sepuluh malam mereka mulai menaiki loteng, kasur boys dan girl dipisahkan. Mereka beradu kepala, masing-masing bisa menatap langit malam yang berbintang. Untung saja malam ini tidak hujan, karena siang tadi hujan begitu deras.
" Aivy besok ikut ke White Base ya..." Ucap Maureen.
" White Base?"
" Itu rumah kedua kami Aivy, besok kita dianter supir kesana.." Sahut Almaeera.
" Tapi sendiri nggak sama kak Binar, kamu nggak nangis kan?" Ucap Almeer pula.
"Emang kak Binar kemana?" Tanya Aivy bingung.
" Kak Binarmu kan harus nemenin papamu ke Rumah Sakit.." Jawab Maureen.
" Ahhh boleh lah.. Asal ada Almaeera mah aku ikut aj.." Ucap Aivy senang.
Tak berapa lama suara ocehan-ocehan itu semakin berkurang dan benar-benar lenyap saat jam dinding sudah berdentang sebelas kali.
Almeer membuka selimutnya, tubuhnya segera tengkurap menatap Aivy yang telah tidur pulas di depanya. Ya, benar! Aivy kebetulan tidur di atas kepalanya.
" Kedatanganmu kali ini adalah yang terakhir bisa aku temui. Mungkin kedatanganmu yang selanjutnya aku sudah di Bandung"
Almeer mengeluarkan kalung yang berada di dalam dadanya. Ada liontin cincin yang imut disana. Terbuat dari batu giok berwarna hijau yang berserat indah. Dipisahkannya cincin itu dari talinya.
Lalu perlahan-lahan Almeer memakaikan cincin itu ke jari telunjuk Maureen yang memang kebetulan berada di bantal depan wajahnya saat ini.
" Aku akan mencarimu lagi setelah aku sukses Aivy.... " Bisiknya pelan.
Saat ada pergerakan dari tubuh Rayden, Almeer cepat-cepat kembali terlentang dan bersembunyi dalam selimutnya kembali.
Mati aku ya Allah!!!, dadaku rasanya mau pecah....
" Meer..Meer..." Rayden mengguncang bahu Almeer berulang-ulang.
" Hemm..." Sahut Almeer pura-pura sudah tidur.
" Anter gue ke toilet Meer"
Rayden sebenarnya lebih muda dari Almeer satu tahunan lebih, tapi karena Rayden ikut kelas akselerasi maka mereka jadi satu kelas.
__ADS_1
Jika Almeer dan Maureen melanjutkan pendidikannya ke pesantren. Rayden justru akan terbang ke Australia, bersekolah SMP disana sekalian menemani kakeknya, Profesor Pramana.