BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Detik-detik..


__ADS_3

Telah diambil keputusan, bahwa Shinee dan Ayu tetap harus menikah.


Shinee tidak bisa melepaskan begitu saja gadis yang sudah dijamahnya, walaupun tidak ada cinta sama sekali untuk saat ini.


Hati nurani Shinee tidak bisa membiarkan Ayu kelak dimiliki orang lain, sedangkan bayangan tubuh polosnya saja masih melekat erat dimatanya.


Biarlah, jalani saja dulu karena bagi Shinee cinta bisa datang dengan berjalannya waktu.


Ayu juga telah diacam Shinee untuk tidak membongkar kebenaran yang sebenarnya itu seperti apa.


Memang tidak ada yang dirugikan baik Shinee maupun Ayu. Ayu tidak kehilangan mahkota berharganya dan Shinee pun tidak hilang keperjakaannya, ya walapun bisa dibilang sudah cacat.


Ayu sudah memohon-mohon untuk tidak ada pernikahan, akan tetapi rupanya Shinee terus-terusan memaksa untuk tetap menikahi Ayu Andira.


Sunny tidak jadi pergi menjemput ibu Ayu, karena rupanya papa Vino memang akan ke Jakarta menjemput Saka yang beberapa hari ini akan balik ke pesantren kembali.


Mendengar putri angkatnya akan menikah, tuan Hanggara pun ikut serta berangkat ke Jakarta bersama papa Vino.


...****...


Sementara itu Sunny terus saja uring-uringan.


Nah dia yang paling ngebet ingin kawin aja nggak terkabul. Dan ini Shinee, pacaran aja nggak masa tiba-tiba langsung kawin.


Kok hidup nggak adil banget buat dia, kan kesel jadinya.


Saat ini Sunny sengaja membawa Shanum untuk keluar dari White Base, mencari udara segar. Karena jujur, melihat orang repot mondar-mandir untuk mempersiapkan pernikahan dadakan Shinee dan Ayu rasa iri dalam hatinya menjerit-jerit.


" Hemmmhhhh" Sunny menghembuskan nafasnya kasar.


Dan Shanum pun menoleh heran melihat gerak-gerik Sunny yang terlihat kesal dari tadi.


" Kenapa sih yang?" Tanyanya lembut, jemarinya lentik mengusap rahang tegas milik Sunny.


" Aku yang ngebet pingin kawin, kenapa justru Shinee yang kawin duluan!! Ihhhh...sialan!!" Sunny menggaruk rambutnya kasar.


" Husstt!!, kata-katanya dijaga dong yang..." Lagi Shanum bisa dengan mudah menurunkan tensi Sunny saat ini. Dengan hanya menggenggam tangan Sunny saja amarah yang menggebu tadi hilang sirna.


Ibarat api yang berkobar-kobar langsung padam dengan siraman air.



" Kita nikah setelah semester 4 aja ya yang...." Rengek Sunny manja.


Shanum begitu gemas melihat itu, dicoleknya dagu Sunny sekilas.


Sunny tersenyum imut, dan memutar tubuh Shanum untuk menghadapnya.


" Haish jangan colek-colek, ntar dicolek ganti teriak-teriak kurang kamu...." Goda Sunny.


" Akkh!!, omongan kamu itu!! " Shanum mendorong dada Sunny sedikit menjauh darinya.


" Lah kok, apa coba?, kamu tuh mikir ngeres yang!!" Seru Sunny sambil tertawa-tawa.


" Nggak ada ya aku ngeres!!, kamu yang pinter ngeles. Aku tahu maksudnya kamu apa! " Sahut Shanum kesal.


" Apa coba?, apa?" Tanya Sunny dengan matanya yang mengarah ke dada Shanum.


Plak!!


Tepukan di lengan Sunny begitu keras saat Shanum melihat arah tatapan Sunny.


" Tuh kan kamu!!" Kesal Shanum.


" Ya makanya kita nikah cepetan biar nggak aku colekin " Bisik Sunny sambil terus tertawa.


" Nggak, kita menikah sesuai waktu yang sudah disepakati!!, dan matanya itu harap dikondisikan!!" Ucap Shanum tegas.


" Halah Shan sok jual mahal!! Aku loh udah pernah liat penampakannya kayak giman--"


" SUNNY!!!, Ihhhh Sunny mah gitu malas aku mah!!!" Shanum bersedekap dan membuang wajahnya ke samping.


" Yeee, gitu aja ngambek. Ya sorry...., yuk ah yang kita kesana...." Sunny menggeret tunangannya itu untuk menyusuri pinggir pantai.


Tangan satunya menggenggam erat tangan Shanum sementara tangan satunya lagi memegang rokoknya yang telah dibakar beberapa saat lalu.


" Ngerokok terus kamu ih" Protes Shanum kesal.


" Sorry yang.....aku belum bisa benar-benar berhenti, ini juga udah dikurangi kok. Nggak sebanyak dulu...." Ucap Sunny dengan mata menatap ke hamparan lautan.


Sunny ingat betul awal mulanya dia mulai ketagihan rokok.


Ya, saat papa Sanjaya dinyatakan lumpuh, serangan verbal dari mama Ganis telak menghajar mentalnya.


Bercerita kepada Arnov dan Roy tidaklah serta merta bisa membuang sesaknya, dan akhirnya rokoklah yang bisa menenangkannya.

__ADS_1


" Yang...kamu ngelamun?" Tanya Shanum lembut.


" Nggak" Jawab Sunny cepat.


Dibuangnya rokok itu asal, lalu dengan cepat menghadap Shanum dengan senyumnya yang terlihat mengerikan bagi Shanum.


" Apa?" Tanya Shanum bingung saat Sunny membuat gerakan kecup angin dengan bibirnya.


" Apa sih?"


" Masa nggak ngerti sih?, calon suamimu ini minta cup..." Bisik Sunny nakal.


" Ihhhh...nggak disini juga kali yang...." Seru Shanum geli saat Sunny memajukan wajahnya sambil memonyongkan bibirnya.


" Dikit aja...tempel doang juga nggak papa.." Rengek Sunny semakin menjadi-jadi. Bibirnya semakin terlihat mengerucut mirip Suneo.


" Ya nggak gitu juga kali yang...geli gue ya Ampun....!!" Ucap Shanum sambil terus tertawa-tawa melihat Sunny yang terus mencoba mencium pipi Shanum dengan bibir monyongnya, sementara Shanum yang merasa geli terus saja menghindar.


" Yang, lusa aku udah mau berangkat, kamu gimana?" Sunny memeluk Shanum dari belakang, melingkarkan kedua tangannya di perut rata gadisnya, seolah tak ingin melepasnya lagi.


" Ya sama, dua hari setelah keberakatanmu akupun berangkat..." Sahut Shanum dengan suara yang bergetar. Shanum pun sama beratnya seperti Sunny untuk berpisah, tapi masa depan mereka sudah ada di depan mata.


Dan mereka wajib berlari untuk menggapainya.


" Yang, kalau aku kangen kamu gimana dong nanti?" Tanya Sunny manja, dagunya nangkring indah di bahu Shanum.


" Ya telpon dong yang...." Sahut Shanum santai.


" Kalo aku masih kangen?"


" Video call juga kan bisa...." Jawab Shanum lagi.


" Yaelah...Itu sih cuma bisa ngobatin rindu akan suara dan wajahmu doang yang..."


" Nah iya! Trus selain itu apa sih emang?" Tanya Shanum tidak paham akan maksud Sunny.


" Kamu emang nggak kangen peluk-peluk aku, cium-cium aku, kelonan sama aku gitu yang, bibirku nggak ngangenin emang?" Kata-kata Sunny mengalir begitu saja tanpa rasa canggung sedikitpun, padahal Shanum saja yang mendengar merasa malu luar biasa. Bahkan pipinya kini merah bagai tomat yang siap petik.


Pluk!! Shanum yang gemas dengan setiap omongan vulgar Sunny. Tidak tahan lagi, ditepuknya pelan bibir Sunny yang pink dan tebal itu gemas.


" Mulai sekarang omongannya dijaga yang..., kurangin dong kata-kata vulgarnya, karena nggak semua orang nyaman mendengarnya sayangku...."


Degh!!!


Jantung Sunny bagai ingin meloncat keluar, panggilan sayangku padanya oleh Shanum membuatnya mabuk dan tershanum-shanum.


Shanum langsung menjepit bibir Sunny menggunakan jari telunjuk dan jempolnya.


" Sunn!!, kamu ini!! Baru juga dibilangin mulutnya dijaga..." Sentak Shanum kesal.


" Sunnyku sayang, aku tuh sayang banget sama kamu..., lebih sayang lagi kalau setiap kata-kata kamu di sopanin dikit..." ucap Shanum lembut.


Ditariknya Sunny untuk duduk dipasir putih.


" Sini dengerin aku ngomong Sun..., jika kamu pingin banget jadi suami aku, maka syaratnya harus bisa manajemen omongan!!"


" Dan satu lagi, kamu nggak perlu merengek-rengek minta menikah terus, aku kan jadi kepikiran nggak enak Sunn, aku juga pengen kali Sunn sama-sama kamu terus kaya gini".


"Tapi itu nanti ada waktunya yang tepat Sunn, semua akan indah pada waktunya. Dimana saat waktu itu tiba, aku juga sudah sangat siap untuk menjadi istrimu yang baik"


" Sunn..., menikah tidaklah hanya tentang kita, tapi dua keluarga dengan adat dan kebiasaan yang berbeda akan disatukan.."


" Dua isi kepala kita harus bisa diselaraskan. Kau tahu kenapa dari kecil aku sangat ingin sekali untuk bisa sekolah di luar Sunn?"


" Itu karena aku ingin mempelajari adat dan kebiasaan kalian diluar sana itu seperti apa?, aku ingin menyesuaikan diriku dan kebiasaanmu. Kau tumbuh disana, di tempat yang memiliki kultur yang tidak sama denganku. Kau selalu sarapan roti, dan aku harus makan nasi di pagi hari".


" Aku ingin hidup kita serasi Sunny, agar kita terus harmonis. Aku ingin mempelajari semua tentangmu Sunny, agar muncul compatibility diantara kita.."


Sunny hanya diam mendengarkan kata-kata Shanum yang seratus persen benar itu.


" Emmuachh....semakin sayang aku sama kamu yang, aku nggak nyangka aja, gadis yang suka ngelap ingus di baju lengan atasnya ini sudah sebegitu dewasanya..." Bisiknya sambil mengecup pucuk kepala Shanum.



Sunny tak bisa lagi menahan letupan rasa bahagianya, dicintai dan mencintai Shanum adalah anugerah terindah dalam hidupnya.


Pemuda itu melakukan apa saja yang dia inginkan pada tunangannya itu, memeluknya erat, menggendongnya, mengecupi seluruh wajahnya, tak peduli lagi akan penolakan Shanum.


Baginya hari ini adalah batas terakhirnya bisa bersama Shanum seperti ini. Sunny meluapkan semua rasa sayang dan cintanya pada Shanumnya.


" Love you so much my Shanum...."


...***...


Jika Sunny dan Shanum saat ini sedang berbahagia, keadaan itu berbanding terbalik dengan keadaan Shinee dan Ayu saat ini.

__ADS_1


Sejak kembali ke White Base untuk persiapan pernikahan, Ayu tidak keluar sama sekali dari kamarnya. Gadis itu masih kukuh untuk menolak pernikahan ini.


Mama angkat dan ibu kandungnya bahkan sudah angkat tangan untuk membujuknya keluar.


Sampai-sampai Shineelah yang harus turun tangan.


Tok..tok..


" Ayu!!, buka pintunya..." Seru Shinee


" Tidak!!" Sahut Ayu.


" Buka sekarang atau aku masuk sendiri!!" Ancam Shinee.


Mungkin Ayu lupa siapa si pemilik rumah ini, Shinee pasti bisa dong untuk mendapatkan salinan kunci setiap kamar di White Base ini.


Tak ada sahutan dari dalam, dan Shinee pun di batas ujung kesabarannya.


" Saga!!" Panggil Shinee yang melihat Saga melintas tak jauh dari posisinya.


" Tolong mintakan kunci kamar ini pada Mang Rustam.." Seru Shinee, dan Sagapun mengangguk patuh.


Sebenarnya para adiknya heran, terutama Saga sendiri, brothynya ini tidak pernah terliha dekat dengan kak Ayu, tapi kok mereka akan menikah malam ini.


"Ahhhh, nggak taulah..." Gumam Saga untuk diri sendiri.


Beberapa saat kemudian,


Ceklek..


Pintu terbuka dari luar, Shinee memasuki kamar yang remang tanpa penerangan itu.


" Ayu...." Panggil Shinee.


Tak ada balasan apapun, Shinee mau tak mau masuk semakin dalam. Dan mendapati Ayu yang sedang merebahkan kepalanya di sofa, sedangkan tubuhnya terduduk dilantai.



Keadaannya begitu memprihatinkan, Ayu benar-benar didera depresi berat akan kejadian malam itu. Malam yang membuatnya malu sampai ke sumsum tulang belulangnya, malu pada Shinee, orang tua Shinee dan Sunny.


Bagaimana bisa dia menikah dengan Shinee, sedangkan menatap matanya saja Ayu tidak akan pernah bisa. Jangankan menatap, mengangkat kepalanya saja Ayu tidak akan sanggup.


Yang seperti itu masihkah mereka bisa menikah?.


Bagaimana hidup mereka nantinya jika si perempuannya saja tidak mampu lagi berinteraksi dengan si laki-laki.


Lalu apa nama dari pernikahan ini.


" Shinne....please bantu aku sekali lagi. Tolong bilang pada keluargamu untuk membatalkan pernikahan ini....kumohon Shinee..hiks..hiks..." Ayu kembali menangis tersedu-sedu.


" Kenapa? kenapa harus dibatalkan?" tanya Shinee lirih.


" Aku tidak bisa menikah dengan mu Shinee....hiks...hiks..."


" Karena apa? bukankah beberapa minggu lalu aku mendapatkan surat darimu. Disana kamu bilang kamu cinta aku?, apakah itu cuma lelucon?"


Shinee kini ikut duduk di lantai seperti halnya Ayu, punggungnya disandarkan pada kursi sofa tak jauh dari Ayu berada.


" Berikan aku alasan yang tepat!!, kenapa kamu tidak mau menikah denganku..." Lanjut Shinee.


" Shinee hiks...hiks..., aku tidak mau menghancurkan masa depanmu Shinee. Aku tidak mau kamu menanggung dosa atas kesalahanku. Aku tidak bisa lagi berdiri di depanmu Shinee...aku bisa mati karena harus menanggung malu setiap kali melihatmu...hu...hu...hu..."


Ingin sekali Shinee merengkuh gadis rapuh itu dalam peluknya.


Tapi apa Ayu mau kusentuh?


" Katakan satu alasan lagi yang lebih menyakinkan!!" Desak Shinee lagi.


Ayu mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya, lalu memberanikan dirinya melirik Shinee yang ada di samping.


Tepat saat itu ternyata tatapan mata Shinee yang begitu sembab dan sayu juga lekat tertuju padanya.



" Katakan Ayu, katakan lagi padaku satu saja alasan yang meyakinkan aku untuk membatalkan pernikahan ini.."


Ayu *******-***** kedua tangannya canggung, setelah malam itu, saat inilah kali pertama mereka berada di ruangan hanya berdua. Membuat perasaan kedua hati mereka sama-sama didera rasa yang entah...


" Aku tidak akan bisa hidup dengan orang yang tidak mencintaiku Shinee..." Jawab Ayu lirih.


" Siapa yang tidak cinta denganmu!!, kamu pikir kamu dukun yang bisa menerawang isi hatiku begitu!!" Seru Shinee jengkel.


Ayu membelalakan matanya tak percaya dengan artian kata-kata Shinee. Ayu gadis cerdas!, dia sangat tahu maksudnya Shinee.


Tapi sayang Ayu tetap tak yakin oleh pemahamannya sendiri dan memilih acuh saat Shinee mengulurkan tanganya untuk mengelus pucuk kepala gadis keras kepala itu.

__ADS_1


...🌹...


__ADS_2