BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Bye my Prince, bye my lovely wife.


__ADS_3

Setelah makan siang usai, Saga mendorong kopernya keluar kamar, begitu pula Sunny yang juga menurunkan koper-koper milik Shanum dan Prince. Kini koper-koper itu telah berada di ruang tamu. Sunny terlihat menghembuskan nafasnya beberapa kali.


Saat-saat seperti inilah yang berulangkali harus dilaluinya dengan berat. Tapi khususnya hari inilah yang terasa begitu berat. Jika biasanya dia yang meninggalkan, maka hari ini dia yang ditinggalkan oleh istri dan anaknya.


Entah bagaimana dia akan menjalani hari-harinya setelah ini. Apalagi kenangan istri dan putranya telah begitu terekam jelas di tiap-tiap sudut apartemennya selama dua minggu ini.


Prince bahkan sedari pagi terlihat terus menempel dalam gendongan daddynya.


Beberapa jam lagi mereka dijadwalkan akan segera berangkat ke bandara untuk kembali ke Boston.


" Daddy sedih karena Prince akan pulang?" Tanya Prince polos.


Pria kecil itu sangat tahu dan pandai memahami arti kesenduan dalam raut wajah daddynya sejak pagi. Ditatapnya mata sendu daddynya dalam-dalam.


Sedih??, tentu saja...


Inilah kesedihan yang sebenarnya...


Daddy selalu sanggup menjalani LDRan dengan mommymu selama ini...


Tapi sekarang??


Ahh entahlah...apa aku sanggup menjalani setelah ini...


Puk!!


" Daddy?" Prince menepuk pelan pipi daddynya, karena sejak tadi tidak ada jawaban atas pertanyaannya.


" Sure sweetheart !, berpisah denganmu dan mommy adalah satu-satunya hal yang menyedihkan bagi daddy..." Jawab Sunny, matanya memanas saat itu.


Tapi sekuat tenaga ia tahan, tidak mungkin dan pantang baginya menangis di depan putranya itu.


" Prince juga sedih banget daddy..." Ucap Prince lirih bahkan semakin mempererat pelukannya di leher sang daddy.


Shanum yang sedang melangkah ke arah merekapun termangu ditempatnya berdiri saat ini. Dadanya begitu ngilu melihat dan mendengar pembicaraan dua pria tercintanya tepat didepan matanya.


" Kenapa daddy tidak ikut kami saja pulang ke Boston?, biar daddy bisa jemput Prince di penitipan seperti daddynya William.." Harap Prince dengan mata bulat sempurna.


William adalah putra dari Revaldi, sahabat Shanum, Ayu dan Shinee. Revaldi sebenarnya sudah punya pacar bule di kampusnya, tetapi orangtuanya memaksa menikah dengan gadis pilihan mereka. Dan itu bertepatan saat Revaldi membersamai kepulangan Shanum Sunny dan Shinee Ayu pulang untuk acara pernikahan mereka dahulu.


" Daddy sangat, sangat, sangat ingin itu. Mengantarmu, menjemputmu, bermain denganmu, bahkan daddy sangat memimpikannya moment bersamamu setiap saat. Tapi maaf son...belum untuk sekarang, daddy masih harus kerja, kerja yang rajin. Semuanya daddy lakukan hanya untukmu dan untuk mommymu.." Ucap Sunny berat.


...***...



Saat ini keluarga kecil Sunny plus Saga telah sampai di bandara.


Prince benar-benar tidak pernah lepas dari gendongan Sunny, di dalam taxi sepanjang jalan menuju bandarapun pria itu terus berada dalam pangkuan daddynya.


Sesampai bandara sekalipun pria kecil itu terus merepek minta digandeng oleh sang daddy.

__ADS_1


" Prince sama mommy dulu, daddy urus tiket kali---"


" Tidak brothy, biar Saga saja yang urus check-in nya. Sini paspor kak Sha..." Saga tiba-tiba dengan cepat merebut paspor Shanum yang berada dalam genggaman Sunny. Lalu melangkah cepat begitu saja menuju ke arah petugas boarding.


" Ck, semangat sekali dia!!" Decih Sunny.


" Ya sudah, kita tunggu disana saja..." Tunjuk Sunny pada spot ruang tunggu yang tak jauh dari area bermain anak.


Sepeninggal Sunny dan Prince, Saga melirik sekilas sang kakak, senyum tipis terukir dari sudut bibirnya, begitu juga Shanum yang mengangguk kecil.


" Babe!!, ayo... Kenapa masih disitu.." Panggil Sunny yang telah lumayan jauh didepan Shanum.


" Ehhh, iya..iya..." Jawab Shanum kikuk. Lalu berlari kecil menghampiri suaminya.


Belum juga sampai pada tempatnya, Sunny sudah lebih dulu mendekat, bahkan meraih pinggang ramping istrinya untuk merapat padanya.


" Jangan jauh-jauh dariku, aku bisa mati..." Bisik Sunny manja.


" Halahhh...lebay!!" Sahut Shanum, dicubitnya kecil pinggang Sunny gemas.


" Haissh...nggak usah nakal deh.." Sunny menangkap tangan Shanum lalu membawanya ke dalam kecupanya.


" Kamu nggak suka di nakalin istrimu?" Bisik Shanum.


" Tentu saja suka, sangat suka malah. Tapi waktunya nggak tepat lagi. Kamu saja beberapa menit lagi sudah harus pergi. Trus kalo suamimu ini terpancing oleh kenakalanmu dan tiba-tiba on fire, apa harus aku jepitkan ke pintu milikku ini..." Jawab Sunny dengan bisikan lembut di depan telinga Shanum.


" Daddy dan mommy kenapa bisik-bisik!!, Prince nggak suka!!, Prince juga mau diajak ngobrol!!"


Shanum dan Sunny hanya bisa saling betatap muka dan tertawa melihat kecemburuan putra mereka itu.


Wanita cantik berhijab pink itu tersentak saat melihat nama yang tertera dalam layar ponselnya. Buru-buru Shanum kembali berdiri tegak dan meminta waktu pada suaminya untuk mengangkat panggilan.


" Yang aku angkat ini dulu ya..." Pamit Shanum.


" Angkat saja..." Balas Sunny santai.


Tapi mendadak dia membulatkan matanya melebar saat mendapati istrinya beranjak meninggalkan dirinya hanya untuk mengangkat panggilan telpon.


Memang siapa yang nelpon sih..


Kenapa harus pergi..


Sunny hanya bisa meggendikkan bahunya berusaha acuh, walaupun sejujurnya ada sedikit rasa sesak dihatinya.


Sementara Shanum segera mengangkat ponselnya saat dirasa posisinya sudah sedikit menjauh dari Sunny.


" Ya, Assalamualaikum ayah....."


"........................."


" Iya ayah, sejauh ini rencana kita lancar. Saga sudah mengurus semua.."

__ADS_1


"......................."


" Tidak ayah, Sha rasa suamiku tidak curiga..."


"..........................."


" Iya ayah, thanks you so much. Love you ayah, salam rindu Sha buat bunda...."


"....................."


" Bye ayah, waalaikumsalam..."


Shanum baru akan memasukkan ponselnya ke tas saat suara Sunny membuatnya tersentak kaget.


" Ayah yang telpon?"


Degh!!


Shanum segera menetralkan keterkejutanya lalu menoleh dan mengulas senyum manisnya yang tampak kaku.


" Kenapa angkat panggilan ayah saja menjauh dariku?" Tanya Sunny.


" Disana ramai Yang.., nggak kedengeran.." Jawab Shanum cepat.


" Aku rasa nggak, masih wajar, bandara tidak begitu bising hari ini..." Tangkis Sunny.


" Dihhh, gitu aja kok dimasalahin sih. Lagian kan Sha cuma berusaha menghormati ayah. Daripada hah heh hah heh kurang denger.... Lagian ini tu ayah Marvel loh, masa kamu cemburu !!, gimana jadinya kalau seseorang yang pengen jadi ayah baru untuk Prin---"


" Heyyy Shanum babe!!" Bentak Sunny gemas.


" Mulutmu itu jangan asal ngomong...." Ucap Sunny geram sambil mencomot bibir Shanum dengan lima jarinya.


" Ummmm" Jerit Shanum dengan mata melotot.


" Jangan ulangi!!, ngomong sembarangan begitu!!" Bentak Sunny lagi.


Shanum tersenyum kecil lalu menggeleng imut.


" Iya deh, maaf.... Kamu marah Yang?, cemburu? Sampai-sampai mbuntutin Sha kesini?, ya ampun posesif amat sih masehhh..."


Gantian, Shanum kini balas mencubit pipi suaminya geram, bahkan disertai kerlingan sebelah matanya.


Dimata Sunny, seorang Shanum benar-benar menggemaskan.


" Kalau nggemesinnya sampai tembus ke sumsum gini gimana bisa aku lepasin!!, shiitt!!" Umpat Sunny lirih.


Shanum yang masih bisa mendengar umpatan Shanum hanya bisa tersenyum tipis.


Check in telah clear, tinggal masuk ke gate dimana ruang tunggu untuk masing-masing tujuan berada. Panggilan untuk para penumpang pun telah terdengar berulangkali. Walaupun penuh drama perpisahan yang mellow dari Prince dan Sunny, akhirnya ketiga orang yang dijadwalkan pergi inipun mulai melangkah menuju ruang tunggu.


" Bye Daddy...see you next time..." Seru Prince dengan lambaian tangan mungilnya sebelum berbelok kearah yang dituju.

__ADS_1


Sunny hanya mengangguk tanpa bisa berkata-kata, bahkan airmata telah luruh tanpa disadarinya.


" Bye my Prince....., bye my lovely wife...." Lirihhnya.


__ADS_2