
Telah disepakati oleh papa dan Sunny. Mereka akan tetap diam sampai ingatan Sunny benar-benar kembali, dan caranya hanya kembali ke Jakarta. Disana awal mulanya, disana tempat kejadiannya dan disana pulalah kenangan Sunny ada.
" Setelah acara kelulusanmu kita langsung pindah. Teman papa sudah mencarikan rumah yang dekat dengan White Base tempatmu tumbuh besar.."
Ucapa papa Sanjaya.
" Papa pergi dulu dan Aivy saja, Binar akan antar kalian dulu. Binar akan balik ke Surabaya lagi untuk mendampingi Cahaya di kelulusannya pah.." Ucap Sunny malu-malu.
Papa Sanjaya ikut tersenyum dan mengelus rambut putra Marvel itu penuh kasih sayang.
" Kamu masih mau menggunakan nama putraku setelah mengetahui semuanya nak?, bukankah namamu Sunny?" Tanya papa Sanjaya.
Sunny hanya tersenyum.
" Sunny dan Binar memiliki arti yang hampir sama, sama-sama bercahaya. Biarkan aku tetap menjadi putramu. Walau aku ini juga putra ayahku. Dan aku yakin ayahku juga tidak melarangnya.."
Papa Sanjaya mengusap kembali kepala Sunny lembut dan dikecupnya kening pemuda itu dengan hati sesak.
Binar Buana Sanjaya yang aslilah yang dikuburkan penuh cinta di samping makam istri kakek Al Ghifari, di Jogjakarta.
" Papa percaya, anak seorang yang baik akan menuruni sifat kebaikan dari orang tuanya. Dan kamu juga begitu, Manggala Sunny Marvelino Putra..." Ucap papa Sanjaya lagi, menepuk bahu pemuda itu berulang-ulang.
" Papa banyak mendengar kebaikan ayahmu Dr. Nanda Marvelino Syahril dan bundamu Dr. Dian Angguni. Mereka adalah malaikat-malaikat tak bersayap yang bertebaran di muka bumi, seorang seperti ayahmu adalah Al Ghifari sejati, sukses di dunia tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi membawa kebaikan untuk sekitarnya."
Sunny tersenyum dan mengangguk, mengingat wajah ayah dan bundanya yang ditemuinya beberapa bulan lalu.
" Hemmm betulkah begitu?, tapi setahuku aku ini nakal, Sunny si nakal seperti ayahku yang juga nakal ha..ha..ha..." Sunny tertawa saat mengingat kenangan yang berkelebatan tentang ayahnya yang nakal, dan bundanya yang terus-terusan menjewernya.
Dibalik pintu dapur mama Ganis menutup mulutnya, pembicaraan yang didengarnya begitu membuatnya syok.
Apa?
Binar itu bukan putranya Sanjaya ?
Si Binar itu, bukan Binar yang itu?
Ini?, apa maksudnya ini?
Mama Ganis segera berlari ke kamar Lyra untuk memberitahukan apa yang telah didengarnya.
" Lyra harus secepatnya menghubungi Crystal ma..., hanya dia yang bisa membungkam Binar!!" ucap Lyra dan segera menghubungi seseorang lewat ponselnya.
" Crystal...cepatlah kembali, sebelum kau kehilangan Binar!!"
...*** ...
Sunny yang begitu berbahagia setelah benar-benar lega atas pengakuan papa Sanjaya, beberapa hari ini bisa tidur dengan nyenyak. Rindunya pada Shanum juga begitu besar dari hari ke hari, begitu ada kesempatan pemuda itu segera meluncur ke rumah Shanum yang fix adalah tunangannya.
" Shan...jalan yuk..." Ajak Sunny setelah mereka duduk dan ngobrol beberapa saat di teras.
" Kemana? dirumah aja lah. Masak sesuatu yuk habis itu belajar untuk test.." Shanum sepertinya sedang malas, maklum lagi datang bulan.
" Masak?, mau aku masakin? Pengen makan apa memangnya..?" Tanya Sunny dengan terus menatap wajah ayu didepannya. Wajah yang disukainya seperti orang gila bahkan saat sunat saja belum.
" Yuk masak yuk..." Shanum menarik tangan Sunny untuk masuk ke dapur dari pintu samping.
" Ada mama papamu nggak dirumah?" Tanya Sunny sambil celingukan.
" Adalah..." Jawab Shanum.
" Nggak mau ah!! Nggak seru.., keluar yuk... Kita ke jalan Nias liat Tabebuya ungu, sakura KW itu sedang mekar sekarang...." Ajak Sunny dengan memutar tubuhnya gantian menarik Shanum.
" Apanya yang nggak seru?" Ucap mama Vera dari balik kulkas. Tubuhnya yang kecil tak terlihat oleh Sunny.
" Jadi nggak seru kalau ada tante dirumah gitu?" Lanjut mama Vera lagi.
Sunny mematung sesaat, pemuda itu terlihat kesusahan bernafas bahkan menelan ludahpun seret. Belum-belum harga dirinya sudah keburu rontok didepan calon mama mertuanya.
" Bb..bu..bukan seperti itu tante, ha..ha..hanya, I..itu..." Sunny gelagapan tak tahu lagi harus ngomong apa.
Pemuda yang kepergok panik itu hanya bisa mencubit-cubit kecil telapak tangan Shanum yang ada di genggamannya.
" He...he..he lucunya kamu...." Mama Vera mencubit pipi Sunny gemas.
" Ya sudahlah Sha.., jalan-jalan sana sama Binar. Refreshing lah dulu sebelum berpusing-pusing test minggu depan..." Mama Vera mendorong putrinya ke tangga untuk berganti baju.
" Kita tunggu sambil masak yuk Bin..., tante ada resep kue enak, kesukaan papanya Sha..."
" Yakin om suka tant?, bukanya om lebih suka mie goreng daripada kue?" Ucap Sunny cepat.
" Duuhhhh, kamu tahu saja. Ya ampun gemes tante sama kamu.." Mama Vera menabok lengan Sunny lembut.
Sunny mengigit bibirnya ingin tersenyum seperti orang gila. Inilah yang dia suka dari tante Veranya, penuh pengertian. Benar-benar calon ibu mertua idaman.
__ADS_1
" Biar Sunn, eh maksudnya..Binar bantu tante masak yuk, sambil menunggu Shan eh Aya ganti.." Binar tidak duduk, melainkan membantu menyiapkan apa saja yang dibutuhkan
" Ohh...dengan senang hati.." Mama Vera merangkul tubuh yang lebih besar darinya itu sayang.
Tak berapa lama Shanum sudah memanggilnya dari pintu samping.
" Tuh, udah dipanggil tuh.." Ucap mama Vera.
Sunny yang sedang merajang bawang dan bumbu-bumbu segera menyelesaikannya dan mencuci tangannya.
" Sha..." Panggil Sunny.
Tapi matanya membesar saat melihat penampilan Shanum.
" No..no..no.., ganti baju!!. Ganti cepat!!" Teriak Sunny kesal.
" Apa sih? Kenapa?. Nyaman kok pake ini, cuma ke jalan Nias kan?"
Sunny menggelengkan kepala berulang-ulang. Nggak rela dong tubuh ceweknya jadi konsumsi publik.
" Ganti sayang... Atau nggak jadi aja sekalian!!" Ucap Binar tegas.
" Ck...banyak maunya kamu ihh!" Kesal Shanum.
Sunny tersenyum dengan mengusap rambut Shanum lembut.
" Nggak banyak mauku sayang, hanya satu. Baju yang begini hanya boleh dipakai didepanku saja. Tapi tidak didepan orang banyak!!. Sekarang gantilah...ya...sayangku..." Rayu Sunny lagi.
Walaupun dengan kesal Shanum tetap berlari ke atas untuk berganti baju. Papa Vino yang berada tak jauh dari merekapun hanya tersenyum melihat Binar begitu menghargai putrinya.
" Semoga engkau yang terbaik untuk putriku sebagai pengganti Sunny.." Gumamnya pelan.
...***...
Hari kelulusan sekolah Putra Bangsa telah tiba. Saga bersiap sedari pagi, begitupun papa, mama dan Shanum sendiri.
Shanum tidak bilang ke orang tuanya untuk khusus datang menghadiri kelulusan Binar. Jadi papa dan mama mengira Shanum ikut hanya untuk adiknya.
Tapi saat diaula Putra Bangsa, putrinya terlihat melipir menuju tempat duduk untuk tamu SMU.
Sunny yang tidak tahu bahwa Shanum sudah didalam justru menunggu diluar seorang diri.
" Gue nungguin Shan, eh Cahaya. Katanya dia mau datang..." Ucapnya masih terus menatap gerbang yayasan yang penuh orang hilir mudik.
" Loh kan udah ada di dalam, barengan orana tuanya dan Saga.." Ucap Arnov cepat.
" Hah?, benarkah?" Sunny langsung berdiri dan berlari kedalam aula, meninggalkan Arnov dan bundanya.
" Dihh, nggak sopan amat!!" Seru Arnov.
" Nah tuh Aivy sama papanya, kita kesana aja Nov.." Bunda Lilis menggandeng putranya ke samping aula.
Duh mati gue Tuhan!!, jantung gue kenapa dugeman kaya gini tiap lihat Aivy ya ampunnnn....
Arnov berjalan beriringan dengan bundanya menuju dimana papa Sanjaya dan Aivy berada. Acara formal telah selesai, hanya tinggal hiburan dan pesan kesan dari para alumni.
Tahun ini acara kelulusan diselenggarakan berbarengan, dari TK sampai SMU, tak ayal jika ribuan manusia saat ini memadati gedung yayasan Putra Bangsa.
Sementara Sunny yang berlarian masuk ke aula segera memindai kesetiap penjuru. Mencari keberadaan Shanum di antara ratusan tamu undangan.
" Shan..." Panggil Sunny saat terlihat sosok Shanumnya melintas tak jauh dari tempatnya berdiri.
Gadis itu menoleh padanya, sumpah!! Jantung Sunny rasanya ingin copot melihat begitu cantiknya Shanum hari ini.
Inilah gadis kecil yang selalu datang di mimpinya. Gadis yang selalu menangis memintanya untuk segera mejemputnya.
Ternyata inilah arti dari mimpi-mimpi itu.
Shanumnya akan terus terikat dengannya, dengan Sunnynya. Kemarin saat pulang dari gladi di sekolahnya, Sunny menyempatkan diri untuk membelikanya hena untuk menebalkan tulisan namanya di pergelangan tangannya.
Awalnya Shanum heran, bagaimana mungkin pacar yang sekarang masih mau menebalkan nama mantan kekasih pacarnya. Tapi Sunny cerdik dengan mengatakan bahwa tatto hena adalah seni yang indah. Dan tulisan nama itu begitu indah, sayang bila terhapus.
Padahal mah dia yang nggak mau namanya hilang.
"Kamu cantik banget babe..." Bisik Sunny, matanya tajam menatap Shanum tanpa kedip. Dan ya, giginya sudah otomatis menggigit-gigit kecil bibirnya sampai basah dan memerah. Menggemaskan!!
" Isshhh" Shanum salah tingkah, gadis itu jelas tahu tingkah Binar bermakna apa.
__ADS_1
" Kesana yuk bentar.." Tunjuk Sunny pada sudut yang agak sepi.
" Hemmmm" Shanum mengulum senyuman, sangat paham dengan tingkah absurd Binar.
" Nggak mau, aku tuh tau modusnya kamu Bin.." Sahut Shanum menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
" Bentar aja babe" Paksa Sunny semakin mengigit keras bibirnya sendiri, sebelah matanya mengedip genit pada Shanum.
Shanum hanya tersenyum manis dan tersipu malu melihat tingkah Binar.
Binar semakin terpesona melihatnya, rasanya ingin menguyel-uyelnya saat ini juga.
" Duh sayang...kamu nggemesin banget..Kan akunya jadi nggak tahan pengen cap cup..." Bisik Binar mesum.
" Binar baby...i'm coming honey...."
Suara dari sampingnya mengagetkan Sunny, dia langsung menoleh dan mendapati Crystal, Lyra dan mama Ganis disana.
Shanum yang terkejut mendengar seseorang memanggil Binar begitu mesra seperti itu menjadi panas.
Apalagi penampilan gadis itu begitu menyita perhatian. Terbilang berani untuk adap ketimuran.
Sunny dengan cepat mendekati Shanum dan memeluk pinggangnya rapat.
Mata Shanum yang menatap penuh selidik bagai sebilah pisau yang siap menguliti Sunny saat ini.
Ada kemarahan yang berapi-api dari mata gadis manis itu.
" Dia bukan siapa-siapa babe.." Bisiknya mencoba menurunkan semburat marah yang terlihat dari wajah Shanum.
" Baby...kamu nggak rindu aku?" Crystal mencoba mendekati Sunny.
" Miss you?, who you are? " Ucap Sunny sadis.
" Baby..., kau tidak ingat malam-malam yang pernah kita lalui hemmm?" Crystal semakin mendekat, bahkan mengecup jauh Binar dengan bibirnya yang glossy.
" Apa maksudnya Bin?" Shanum melepas pelukan Sunny pada pinggangnya.
" Babe...dia itu, dia..."
" Kenalkan aku Crystal, kekasihnya Binar..." Crystal meraih tangan Shanum paksa untuk dijabatnya.
" No!!, you not!!" Sunny menampik tangan Crystal dari tangan Shanum.
" She's lying babe..., you're my girlfriend, just only you.." Sunny menarik Shanum ke belakangnya.
" Oh ya? Terus kebersamaan kita apa namanya baby?, hanya bersenang-senang kah?. Terlalu menyenangkan untuk disebut begitu baby..." Crystal dengan berani meraba dada Sunny di depan Shanum.
Shanum meremas lengan Sunny geram.
" Pantas kamu begitu 'inginya' ternyata ini ya Bin alasanya" Shanum berbicara dengan menggeretakkan giginya. Marah sudah menguasai emosinya saat ini.
" No Shan...itu tidak benar!!" Sunny berusaha memeluk kembali Shanum yang dikuasai emosi.
" Pantas saja kau begitu cepat panas Bin!!, rupanya kau ahlinya!!"
" No!!, itu hanya kamu!!. Hanya karena kamu aku begitu..." Sunny terus berusaha memeluk Shanum yang terus memberontak.
" Lepas Bin!! " teriak Shanum kesal.
" No!! never!!, kamu harus mendengarkan penjelasanku dulu..."
" Penjelasa apa baby?, apa kamu juga akan bilang padanya, bahwa tidak hanya aku saja yang kamu ajak bersenang-senang selama ini, bahkan ada beberapa gadis lain.... Oh iya, bahkan beberapa tante juga ya ampun lupa gue..." ucap Crystal semakin membuat mendidih hati Shanum.
" Kita putus Bin!!, jangan hubungin aku lagi!!" Shanum menghempaskan tangan Sunny dengan keras dan berlalu menuju bagian kursi tamu khusus SMP dimana Saga dan orang tuanya berada.
Belum juga sampai ke tempat yang dituju papa dan mama berlarian kearahnya dengan menangis begitupun Saga.
" Ayo kita pulang Sha...kita langsung ke Malang sekarang..., kakek buyut meninggal" Ucap papa dengan wajah yang memerah bekas menangis.
Mereka berempat berlarian ke parkiran, semua serba buru-buru. Tak menghiraukan Sunny yang memanggil-manggil mereka.
Sunny terus mengejar walaupun mereka tak menggubris sama sekali.
" Shan...tunggu....Shan...." Teriak Sunny mengejar mobil yang melesat cepat menuju bandara langsung.
Brugh!!
Sunny jatuh terduduk tepat di depan gerbang, mobil begitu cepat melesat tak mungkin lagi dia kejar.
Apa?
Putus?
__ADS_1
Dia minta putus? Dariku? Sunnynya?