
Binar tertegun di kelasnya siang ini, pelajaran yang disampaikan guru lewat begitu saja, masuk dari telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.
Tidak ada berfokus sama sekali, fikiranya entah lari kemana saat ini.
" Bin?, lo melamun terus. Nih ada titipan brosur dari pak Harun. " Arnov menepuk pundak Binar yang ada di depanya.
Binar memutar tubuhnya untuk menghadap Arnov.
" Apa sangat terlihat jelas kalau gue sedang melamun?" Tanya Binar dengan sedikit menyengir malu.
" Dari tadi gue manggil-manggil lo, tapi lo nggak respek sama sekali. Jelas lo sedang melamun.." Jelas Arnov.
" Apa yang lo lamunin Bin?, om Sanjaya?" Tebak Arnov.
" Bukan, gue lagi mikirin diri gue sendiri..." Jawab Binar sendu.
" Maksud lo?" Arnov membetulkan duduknya dan mulai antusias dengan pembicaraan Binar.
" Sebenarnya gue ini siapa Nov?, kenapa keberadaan Cahaya disekitar gue serasa tidak asing bagi gue...."
Arnov mengernyitkan wajahnya, lagi-lagi kurang paham dengan kata-kata Binar.
" Gue ada lihat foto rumah putih yang sangat besar di rumah Cahaya..., gue merasa kenal betul dengan rumah itu Nov. Seakan-akan rumah itu adalah pusat kunci ingatan masa kecil gue.."
" Rumah putih?" Sahut Roy yang berdiri dibelakang Binar, dia menunggu kedua sahabatnya ini di depan kelasnya sangat lama, tapi tidak muncul juga. Akhirnya Roy memutuskan untuk nyamperin keduanya di kelas. Dan benar saja, mereka berdua sedang ngerumpi dengan santainya.
Binar menggusur satu kursi dibelakangnya dengan sebelah kalinya, dengan isyrat dagunya pemuda itu mempersilahkan Roy duduk.
" Rumah putih apa?" Tanya Roy lagi setelah dia ikut duduk dengan bersedekap.
" Binar mendapatkan ingatan lagi, dia mengingat sebuah rumah putih setelah melihat foto rumah itu ada di rumah Cahaya.." Bisik Arnov.
" Lo yakin kenal rumah itu Bin?"
Binar mengangguk mantap, karena sejak semalam memori terus memutar gambar rumah itu beserta isi dan sekitarnya.
" Trus lo udah nanya ke Aya belum rumah itu punya siapa ?" Tanya Roy.
" Kata Aya, rumah mereka semua?"
" Maksudnya??"
" Katanya rumah bersama, entahlah..." Jawab Binar dengan kembali meremas kepalanya yang lagi-lagi berdenyut pusing.
Roy mengetuk-ketuk keningnya sesaat, lalu menatap Binar.
" Alexa pernah cerita, dia pernah diajakin Aya ke rumahnya yang di Jakarta, Alexa bilang rumah itu gede banget bisa muat sepuluh keluarga..."
Binar memejamkan matanya, rumah putih yang diingatannya juga sangat besar, bahkan tepat seperti kata Roy. Rumah putih yang diingatnya lebih mirip seperti sepuluh rumah digabung menjadi satu.
" Trus apa hubungan gue dengan rumah itu?, kenapa gue harus punya memory yang berkaitan dengan Aya?, sshhhh harus kemana gue mencari jawaban atas ini semua...." Binar mengetuk-ketukkan keningnya di meja bangkunya.
Arnov dan Roy hanya bisa saling pandang. Mereka berdua juga tidak tahu harus berbuat apa, yang mereka tahu Binar sahabat kecil mereka memang kehilangan ingatan saat pertengahan semester awal SMP.
" Gue rasa om Sanjaya yang bisa menjawab ini Bin..."
Ucapan Arnov membuat Binar tersentak. Papa....
Papanya, orang yang selalu dihormati dan disayanginya seumur hidupnya itu. Tapi entah kenapa dia tidak merasakan apa-apa saat bersamanya. Beda dengan apa yang dirasakannya saat berdekatan dengan ayah Shinee dua bulan yang lalu.
" Sshhhhh..." Lagi-lagi Bibar meringis kesakitan sambil meremas kepalanya.
" Sudahlah Bin..cukup. Biar coba gue tanyain ke Alexa dulu tentang rumah itu. Lo jangan banyak berfikir nanti otak lo meledak!!" Roy mengipas-ngipasi kepala Binar dengan buku yang tergeletak diatas meja.
" Oh iya, brosur dari pak Harun apa isinya Bin?" Tanya Roy lagi.
" Universitas di Amerika jalur beasiswa..." Sahut Binar.
" Lo mau ambil?" Tanya Arnov cepat.
" Pengennya sih, tapi Aivy...." Binar mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
__ADS_1
" Aivy biar sama mama gue..., mama gue seneng ada dia. Kakak gue juga udah mau merried bentar lagi, pasti ikut suaminya. Dan gue....." Arnov menggantungkan ucapanya, membuat Roy dan Binar saling pandang.
" Lo?" Tanya Binar dan Roy kompak.
" Gue mau ambil Taruna AU...." Ucap Arnov
" WHAT!!!" Teriak keduanya lagi.
" Papa gue seorang prajurit, gue juga ingin seperti papa gue. Bagi gue papa gue adalah figur terbaik dimata gue, bahkan sedari kecil papa gue sudah menyematkan nama Dirgantara dibelakang nama gue"
"Papa gue memiliki impian tinggi, agar gue bisa melanjutkan perjuangannya di Angkatan Udara"
"Walaupun papa gue gugur dalam tugas, bagi gue papa adalah pahlawan luar biasa..." Arnov menundukkan kepalanya.
Menyembunyikan kesedihan ditinggalkan papanya saat bertugas mengantarkan bantuan logistik ke daerah terpencil. Tapi saat kembali, cuaca yang buruk membuat helikopter yang dioperasikan papanya jatuh dan meledak. Ketiganya terlihat menunduk untuk beberapa saat lama.
" Kalau lo Bin?" Tanya Roy pada Binar.
" Gue belum tahu Roy, kalau gue ambil ini. Berarti gue harus ninggalin papa dan Aivy dan juga......." Binar menggantung ucapannya, pemuda itu memejamkan matanya. Wajah Cahaya berkelebatan di benaknya saat ini.
" Hubungan gue dengan Cahaya baru mulai tumbuh, apa kami sudah harus berpisah karena jarak..." Binar meremas poninya.
" Memang lo udah tanya Cahaya?, dia mau lanjut kemana?" Roy membolak-balikan brosur Universitas yang ada ditanyanya itu tanpa sedikitpun dibacanya.
" Belum..."
...***...
Karena harus berkonsultasi dengan pak Harun dulu sepulang sekolah tentang beasiswa keluar negerinya, dan itu ternyata membutuhkan waktu yang lama.
Sialnya Binar sampai lupa memberi kabar kepada Shanum bahwa dia terlambat menjemputnya.
Shanum yang duduk manis di bangku samping pos sekuriti hanya memainkan ponselnya karena bosan. Ngechat Binar sudah, menelponnya juga sudah. Tapi tidak ada satupun yang ditanggapi oleh Binar.
Hampir dua jam Shanum duduk disana, pak Sekuriti dan dirinyapun sudah sama-sama kehabisan bahan obrolan. Sekolah pun mulai sepi, hanya beberapa anak yang tertinggal karena ada kegiatan club dan ekskul.
" Dia ini kemana sih?" Shanum mengetuk ponselnya geram.
" Iya..." Jawab Shanum dengan terus mengamati pemuda di depannya.
" Gue Daniel, gue diminta Binar untuk jemput lo..." Ucap pemuda itu.
Shanum menoleh ke arah pos Sekuriti, dan sayangnya pak Sekuriti telah tidak di tempat karena beberapa saat lalu beliau dipanggil untuk menghadap ke kantor.
" Kenapa?, memangnya Binar kemana?" Tanya Shanum.
" Binar ada kegiatan yang nggak bisa di tinggal, ayo gue antar lo pulang..." Daniel meraih tangan Shanum dengan paksa.
" Heyy!!, jangan sembarangan!!" Shanum menepis tangan Daniel kuat.
" Sorry Cahaya, tapi gue juga ada keperluan lain selain anter lo pul---"
" Ya sudah pulang sana!!, gue juga bisa pulang sendiri" Sahut Shanum.
Shanum merasa janggal saja, nggak mungkinkah Binar menyuruh-nyuruh orang lain jemput dia. Bahkan hujan petir saja Binar masih nekat jagain dia. Inikan hanya perkara jemput, Shanum merasa ada yang nggak beres.
" Lo harus nurut sama gue, kalau nggak gue akan habis ditangan Binar.." Paksa Daniel dengan masih memaksa dengan mendorong Shanum ke dalam mobil, rupanya di dalam mobil ada beberapa anak lain yang menarik Shanum.
" Aduh kok lo maksa sih, Heyy lepasin...Pak tolong....." Teriakan Shanum berbarengan dengan munculnya pak Sekuriti dari balik dinding, tapi pintu mobil terlanjur tertutup.
Mobil melesat di depan mata kepala pak Sekuriti tanpa beliau tahu bahwa salah satu muridnya ada didalam sana.
Tak beselang lama mobil meninggalkan SMU Pelita, motor Binar melesat cepat dari ujung jalan dan berhenti di depan pos Sekuriti.
" Siang Pak!, Cahaya sudah pulang?" Sapa Binar ramah.
" Mbak Cahaya tadi masih disini tuh..." Pak Sekuriti memutar kepalanya ke sekililing mencari Shanum.
" Sepertinya pulang dijemput mobil deh, soalnya barusan ada mobil yang melintas..." Tebak pak Sekuriti.
" Mobil?"
__ADS_1
" Iya , mobil bergambar Naga Merah kalau nggak salah..."
Deghh!!!!
" APA!!! Ke..kemana arahnya pak..." Ucap Binar tegas dan dingin.
Pak Sekuriti bahkan sampai bergidik ngeri mendengarnya.
" K...k..kesana..." Tunjuknya pada arah mobil yang membawa Shanum tadi melintas.
Brunggg....brunggg....
Tanpa berkata apa-apa Binar langsung melesat cepat. Pak Sekuriti mengusap dadanya yang hampir copot karena melihat tingkah Binar.
Berani kalian sentuh cewek gue!!, mati kalian semua...
Binar mengendarai motornya seperti orang gila, tujuanya cuma satu.
Markas Naga Merah.
Sementara itu Shanum di dalam mobil terus memaksa untuk keluar.
" Heyy turunin gue!!" Teriaknya marah.
" Tidak akan!!, lo adalah umpan kami untuk menghabisi Buana.."
" Bangsat itu udah bunuh adek gue..." ucap seorang pemuda dengan tampilan yang rapi, dari pakainya yang bermerk membuat Shanum langsung paham bahkan cowok yang ada disampingnya ini pastilah ketuanya.
Apa tadi katanya?, pembunuh?, Shanum tersentak kaget, dia tahu Binar adalah berandalan. Tapi membunuh?
" Lo cantik banget gila!!!, pantas saja iblis itu klepek-klepek sama lo" Ucap cowok itu dengan menatap intens Shanum dari ujung kepala sampai kakinya.
Tangannya yang penuh tatto itu membelai wajah Shanum, tapi..
Takk!!!
" Jauhkan tangan lo dari gue!!" Tepisan keras Shanum membuat sang pemuda itu melotot kaget.
" Wuahhhh!!!, keren!!!. Ini dia!!, pantas Buana milih lo...gila!!!. Lo cewek yang kuat dan pemberani.... Sshhhhh aakkhhhhh, gue jadi berhasrat...." Ucap pemuda itu lagi dengan menggerakkan bibirnya dan lidahnya dengan menjijikkan.
Tanganya lagi-lagi meraih tengkuk Shanum dan menjambak rambut gadis itu hingga mendongak.
Kedua tangan Shanum yang hendak meninju segera ditangkapnya dengan satu tanganya.
Pemuda itu sangat kuat, Shanum hanya punya pilihan menggunakan kakinya untuk melawan.
Tapi sia-sia, pemuda itu dengan gesit mengunci pergerakan kaki Shanum dengan kedua kakinya.
" Lepasin gue brengsek!!"
" Hemmm, tidak sayang..... Apa lo tahu, detik ini juga gue jatuh cinta sama lo..." Ucap Miko, ketua genk Naga Merah itu dengan semakin menjambak rambut Shanum hingga gadis itupun semakin mendongak.
Leher Shanum yang mulus membuat mata Miko hanya terfokus disana. Lagi-lagi Miko menggerak-gerakan lidahnya dengan menjijikkan.
" Oh Gosh!!!, lo benar-benar buat mood gue naik sayang..." De*ah Miko di depan wajah Shanum yang mendongak.
Kini tatapan matanya menatap pada bibir pink Shanum yang terbuka karena menahan sakitnya jambakan pada kepalanya.
Miko menyeringai, memajukan wajahnya hendak menyambar bibir Shanum, tapi..
Cuihhh!!!
Ludah Shanum memenuhi wajahnya yang lumayan tampan itu.
" Oh...., beraninya kamu sayang...." Miko mengusap wajahnya dengan tisu, matanya memerah menahan marahnya.
Srettt...
" Akkhhhh....Sunnny!!!!!!" Teriak Shanum histeris saat Miko dengan ganas menyesap lehernya.
Tepat disaat teriakan Shanum, Binar yang begitu ugal-ugalan membawa motornya terpeleset karena mengerem mendadak saat seorang nenek menyeberang jalan.
" SHANUM!!!!" Satu kata yang keluar dari mulutnya sesaat sebelum kepalanya membentur aspal.
__ADS_1