
Beberapa hari ini Shinee di sibukkan dengan bimbingan-bimbingan tambahan yang diambilnya.
Belum lagi setiap pulang kuliah dia juga harus bekerja paruh waktu di dua tempat sekaligus. Selain sebagai pelayan di salah satu restoran, Shinee juga bekerja di salah satu apotek.
Semua dilakuan demi bisa memenuhi kebutuhan hidup yang sangat mahal di Amerika.
Ya sih jujur, untuk makan dan kebutuhan rumah sehari-hari semua di handel oleh Shanum yang transferannya selalu lancar luncur. Sementara kebutuhan sandang seperti baju, sepatu baru dan apapun yang Shinee butuhkan telah dipersiapkan dengan teliti oleh Ayu.
Selama masa hukuman memang Shinee hanya memakai uang pemberian Sunny untuk biaya kuliah, membeli alat penujang belajar dan biaya praktek kedokteran.
Ayu yang justru mendapatkan jatah bulanan dari Al Ghifari company ataupun Syahril karena dia adalah salah satu anggota keluarga.
Tapi walau begitu Shinee tahu diri, pria muda itu masih harus tetap berkerja banting tulang hanya untuk bisa memberikan uang kepada istrinya.
Setidaknya, dia mengusahakan untuk bisa memberikan nafkah dari keringatnya sendiri untuk istrinya. Walaupun hanya nafkah lahir terlebih dahulu, sebelum nafkah batin yang entah kapan bisa terberi.
Itu semua bukan berarti Shinee tidak ingin atau mati rasa, Shinee sangat ingin malah. Bahkan dia harus sering mandi tengah malah demi untuk menurunkan hasratnya.
Loh? Lalu? Kenapa? Bukankah mereka sudah sah?
Itu semua dilakukan Shinee semata-mata demi untuk memberikan kebebasan untuk Ayu berkarier. Jika mereka melakukannya dan Ayu hamil maka otomatis semua cita-cita Ayu akan runtuh! Dan shinee tidak mau itu.
Apalagi keadaan mereka yang sedang seperti ini, Shinee sedang butuh-butuhnya banyak dana untuk biaya prakteknya disetiap bulan.
Kalau masih harus bertambah lagi untuk membiayai hidup seorang bayi rasanya itu...bagaimana gitu?
...****...
Melihat istrinya sudah nyenyak, Shinee hanya tersenyum. Dikecupnya pelan kening Ayu, lalu mengusap kepalanya pelan.
Tapi rupanya semua pergerakan itu membuat Ayu terjaga dan perlahan membuka mata.
" Sudah pulang sayang?" Suara seraknya terdengar seksi si telingan Shinee.
" Emmm iya sayang, apa aku membangunkanmu?, I'm sorry..." Shinee merasa bersalah lalu duduk disamping Ayu.
" Nggak Shinee, aku memang sudah lama tertidur. Mau aku panaskan nasi gorengnya?" Tanya Ayu sambil meraih hoodie nya dan memakainya.
" Asal tidak merepotkan kamu saja..." Balas Shinee, matanya menatap Ayu tak berkedip.
Dia sangat cantik setiap bangun tidur begini....
Shinee terus menatap bibir pink Ayu, sementara Ayu yang tahu arah pandang Shinee semakin grogi dengan menggigit bibir bawahnya.
Tanpa diduga-duga Shinee meraih tengkuk Ayu dan dibawanya mendekat ke wajahnya.
" Emmmphhh......."
Shinee meluapkan rasanya dengan mencium bibir Ayu. Dia sangat mencintai istrinya, tapi sayangnya Shinee tidak bisa mengungkapkannya.
Desa*han keduanya memenuhi satu ruangan lebar dilantai dua ini.
Wujud ekpresi cinta mereka sejauh ini hanya bermesraan dengan cara berciuman seperti ini dan tak lebih.
" Sayang..., besok aku akan pergi... " Ucap Shinee lirih.
Jari jempolnya menyeka bibir Ayu, sementara Ayu juga melakukan hal yang sama pada bibir Shinee.
" Pergi?"
" Ya, aku terpilih menjadi salah satu volunteer untuk acara seminar kesehatan jantung ke Florida. Hanya satu bulan.." Lanjut Shinee.
" Apa? satu bulan kamu bilang hanya? " Teriak Ayu kesal.
" Sayang, kita tidak pernah berpisah semenjak kita menikah. Sayang....aku nggak bisa jauh dari kamu...." Ayu memeluk Shinee erat.
" Akupun begitu sayang...., tapi..."
Baik Shinee maupun Ayu sebenarnya sama-sama berat untuk berpisah, tapi mereka harus bersikap dewasa dan bertanggungjawab.
" Ya udah mandilah dulu. Biar aku panaskan nasi gorengnya dulu..." Ayu meloloskan dirinya dengan cepat, takut Shinee melihat air matanya.
Tapi sayang Shinee sudah keburu melihat itu.
" Ayu....sayang. Jangan menangis..." Ditariknya kembali tubuh Ayu agar kembali duduk lalu dipeluknya. Tapi Ayu menolak dan justru langsung menyembunyikan wajahnya di bawah bantal, dan menangis tersedu-sedu.
" Sayang...hanya sebentar.." Bisik Shinee.
" Sayang...." Shinee terus mencoba membujuk Ayu agar tidak menangis.
" Mana ada sebulan itu sebentar Shinee" Rajuk Ayu lagi.
" Sebentar dong yang, dibanding Shanum.." Ucap Shinee.
" Aku nggak sekuat dia yang...."
" Masa sih?, kamu kuat kok!" Seru Shinee.
" Nggak..." Sahut Ayu
" Kuat!!" Balas Shinee.
__ADS_1
" Apaan sih nggak kuat"
" Kuat!! Kamu kuat kok!! kamu aja bisa perko*a aku sampai aku tak berkutik waktu itu!!" Ucap Shinee cepat.
Jlesss....
Wajah Ayu memerah sampai keubun-ubun. Bahkan telinganya terasa terbakar saking panasnya.
" Aaaaaaaaa Shineeeeeee kenapa diungkit-ungkit!!" Teriak Ayu penuh emosi bercampur rasa malu yang sangat luar biasa.
Dengan geram digigitnya pundak Shinee demi mengurangi hawa panas rasa malu yang kini telah mendidih.
Shinee tertawa terbahak-bahak sampai perutnya mengeras.
" Hiks...hiks...hiks...." Ayu tidak lagi mampu menahan tangisnya, malunya sudah seluas samudera dan setinggi himalaya. Bertahun-tahun dia berusaha melupakan itu semua, tetapi Shinee justru mengingatkanya.
" Sayang maaf...ampun... Jangan nangis dong..." Shinee mendekap Ayu erat.
" Sayang aku cuma main-main, bercanda doang aku tuh.....".Bisiknya
Ayu terus terisak-isak dan hanya diam tanpa mempedulikan ucapan Shinee.
Dan akhirnya butuh beberapa menit untuk membuat Ayu kembali tenang.
Tapi rupanya Shinee tidak jera, pemuda itu masih juga membahas malam itu.
" Tapi kamu terlihat sangat cantik dan seksi saat itu yang, aku bahkan sangat ingin melihatnya lagi..." Bisiknya nakal.
" Shinee diam!!!" Teriak Ayu dengan menutup kedua telinganya, malu!.
" Aku ingin lihat lagi sayang, aku ingin lihat wajah berkeringatmu, aku ingin melihat wajah merahmu yang begitu eksotik, aku ingin lihat lagi please....setidaknya sebelum aku pergi...." Ucap Shinee dengan mata yang begitu sayu dan penuh permohonan.
Ayu menatap mata Shinee lekat, dan benar ada tatapan permohonan disana.
" Shinee?, kamu serius?" Tanya Ayu dengan terbata-bata.
" Ya....aku serius, aku sudah sangat lama menginginkannya.... Aku....aku...akkhhh.." Shinee terlihat gelisah dan terus mengelus bibir bawahnya
Ayu menatap mata Shinee yang kini juga menatapnya. Matanya begitu teduh dan menyejukkan hati.
Aku tahu kamu selalu mandi air dingin setiap malam Shinee...
Aku tahu kau selalu menahan sesuatu setiap kita bermesraan..
Aku tahu itu semua Shinee...walaupun aku selalu berpura-pura tidak tahu..
Aku juga tahu ini semua salah Shinee...
Bagaimana ini selanjutnya Shinee?
Shinee terlihat mengusap wajahnya berulangkali.
" Baiklah, lupakanlah....aku akan mandi dulu. Kau panasin saja nasi gorengnya.." Ucap Shinee pelan dan tak bersemangat.
Pria beristri itu melangkah gontai menuju kamar mandi, tapi belum juga tanganya menyentuh gagang pintu.
Greb.
Ayu memeluknya dari belakang.
" Kamu mau aku bagaimana?, apa kau mau aku memp*rkos*mu seperti dulu?" Tanya Ayu.
Suaranya tak jelas terdengar, hanya mirip kumur-kumur saja, karena bibirnya benar-benar menempel ke punggung Shinee.
Tapi Shinee bisa menangkap kata-kata gadis itu.
Jantung Shinee bagai dipompa saat itu juga, rasanya ingin meledak saking kuatnya pompaan itu.
Inikah saatnya?
Inikah waktunya?
Inikah waktu yang tepat untukku memberikan haknya?
Dan menunaikan kewajibanku memberinya nafkah batin yang bertahun-tahun tertunda?
" Tidak sayang, bukan kamu. Tapi biarkan aku yang memberikan kebahagiaan untukmu.." Bisik Shinee dan langsung berbalik.
Lalu meenggendong tubuh Ayu dan dibawanya keatas tempat tidur.
" Apa kamu siap?" Tanya Shinee.
Ayu membuang muka, malu saat Shinee terus menatapnya.
" Aku tidak tahu caranya..." Jawab Ayu jujur.
" Tidak tahu?, tapi kamu sangat hebat dahulu, liar seperti kucing..., meoww....meoww..." Goda Shinee.
" Akkhhh Shinee!!!" Seru Ayu kesal
" Jangan kesal begitu, justru aku suka. Kamu agresif, membuat aku bersemangat..." Shinee semakin menjadi-jadi menggoda istrinya.
__ADS_1
Tak!!
Shinee mematikan lampu kamar, yang tersisa hanya lampu tidur yang berwarna biru.
" Aku ingin memberikan hakmu yang tertunda sayang " Bisik Shinee semakin mendekati wajah Ayu.
" Tapi...a...aku ma...malu Shinee.."
" Kenapa malu?, kemarin dulu aja sampai polosan gitu nggak malu..."
" Shinee!! jangan diingetin mulu ihhh!!" Kesal Ayu.
" Tapi sayangnya aku nggak bisa lupa sayang, selama bertahun-tahun ini setiap aku memejamkan mataku, bayangan keindahamu selalu melekat dimataku..."
" Dan itu sampai sekarang!!, aku bisa tersiksa jika terus seperti ini!!, aku akan pergi besok, dan aku tidak akan bisa tidur jika aku...aku...aku...Ayu aku mau kamu..." Shinee sudah dibatas ujung sabarnya.
Dan sepertinya Ayu sangat paham.
" Baiklah..." Bisik Ayu lirih.
" Baiklah?, jadi kamu setuju?" wajah Shinee auto berseri-seri.
" Oke, tunggu aku mandi dulu...." pemuda itu langsung berlari ke kamar mandi disertai siulan dari bibirnya.
Sementara Ayu mematung, tidak tahu harus berbuat apa.
Tapi matanya melirik ponsel, jemarinya bergerak mengetik pada pencarian bagaimana proses reproduksi pada manusia dilakukan.
Jreng!!!
Gambar-gambar pose-pose kegiatan manusia terpampang disana dengan gambaran ilustrasi, tapi masih bisa dipahami oleh akal cerdas Ayu.
Pluk!! dilemparkannya ponsel itu menjauh, rasanya geli juga melihatnya.
Ceklek.
Pintu terbuka dengan tampilan Shinee yang hanya mengenakan jubah mandi saja. Biasanya Shinee selalu memakai baju dan celananya dari dalam sebelum keluar.
Sebelum benar-benar pada rencana mereka, Shinee sholat isya dulu, lalu sholat dua rakaat. Dan melangkah menuju ranjang dimana istrinya bersila di atas tempat tidur.
Shinee memandu istrinya berdoa untuk kebaikan mereka dan kebaikan keturunan mereka.
Mereka melakukannya dengan perlahan-lahan, meresapi setiap rasa asing yang tersaji, bermesraan dan bercumbu seperti biasanya.
Tapi semua cumbuan yang awalnya perlahan-lahan tadi berubah saat kini tubuh atas mereka sama-sama telah polos.
Doronga rasa dari dalam diri masing-masing membuat hawa semakin panas. Shinee jatuh dalam rasa asing yang begitu melenakan, rasa yang pernah dirasakannya dahulu, rasa yang dirindui di setiap malamnya.
" Shinee..., k*nd*mnya mana?, pakai dulu..." Bisik Ayu saat Shinee sudah mulai bersiap ketahap puncaknya.
" Ak..aku...aku nggak punya..." Jawab Shinee kaku, peluh sudah membajiri tubuhnya yang padat.
" Jadi?" Tanya Ayu bingung.
" Iya? Jadi?" Shinee juga ikut bingung.
Pria muda itu menggigit bibir bawahnya seolah menahan sesuatu yang menyakitkan.
Ayu sangat tidak tega jika harus membiarkan Shinee mandi air dingin lagi.
" Teruskan saja Shinee..." Ucap Ayu pasrah.
" Apa?" Tanya Shinee tak percaya.
" Teruskan saja..."
" Tap...tapi..tapi...nanti.." Shinee masih belum sepenuhnya percaya akan keputusan Ayu.
" Tidak apa-apa sayang, teruskan saja. Aku sangat mencintaimu Shinee, dari dulu..."
Ayu sudah pasrah, kalau mau hamil, hamilah.
Lagian sudah sangat lama Ayu menginginkannya, memberikan yang dia punya untuk Shinee, untuk pria yang merajai hatinya.
" Akhhh sakit...." jerit Ayu lirih.
" Sa..sakit?, ja... jadi gimana?" Tanya Shinee frustasi.
Sakit ya?, aduh gimana dong!!
Bisa gila gue kalau gagal!!
Ayu melihat kegelisahan Shinee, gadis itu tak sampai hati untuk membuat Shinee kecewa.
" Pelan-pelan Shinee...."
" Iya sayang, aku akan pelan-pelan"
Akhirnya, setelah pernikahan berjalan dua tahun setengah lebih mereka berdua baru bisa melakukan malam pertama yang indah.
...*****...
__ADS_1
Ini sudah versi tersopan momππΌππΌ
by πLuckπ