BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Terbukanya Tabir...


__ADS_3

Tubuh bunda Dian bergetar dalam pelukan Shinee saat jenasah Sunny di keluarkan dari peristirahatan terakhirnya.


Ini memang keputusan yang berat, tapi jalan ini harus diambil.


Tim forensik sudah berkumpul, hanya pihak keluarga yang hadir.


Kakek Syahril dan kakek Syakieb ada diantara mereka, begitupun para putra putri mereka kecuali Brian yang masih berada di Surabaya.


Jika tes DNA pada jenasah umumnya memerlukan waktu dua mingguan untuk mendapatkan hasilnya, maka kali ini mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk secepatnya bisa mendapatkan hasil itu.


Dan yah...., tentu tetap ada Gama Bagaskara di belakang itu. Si Leader bisa melakukan apa saja demi memuluskan semua.


Saat jenasah sudah berada di brangkar, mereka langsung membawanya ke tenda yang telah disediakan tak jauh dari ambulance.


Hanya ayah Marvel, mommy Ara dan uncle Lenox dari pihak keluarga yang diperbolehkan masuk untuk melihat prosesi itu.


" MasyaAllah...." Gumam mommy Ara saat melihat jenasah yang masih utuh dan kain kafan yang masih tampak rapi.


" Anak ini pasti anak baik Le, jasadnya masih bagus, kafannya juga rapi ...." Bisik mommy Ara pada uncle Lenox.


" Ya iyalah rapi, memang dia mau ngapain sampai harus buat kusut kain kafanya, orang tujuh tahun ini dia cuman tiduran doang..." Sahut Lenox.


"Sstttt, bukan itu maksudnya Le ya ampun..." Mommy Ara menepuk jidatnya pelan.


Uncle Lenox menyengir, jelas dia tahu maksudnya mommy Ara tadi apa, tapi ngusilin mommy Ara adalah hobbynya. Pelan diapun mencondongkan kepalanya ke telinga mommy Ara dan berisik.


" Aku fikir juga begitu Ra, dan yang jelas dia pasti bukan Sunny. Sunny kan blangsak mirip ayahn---"


Plakkk!!!


Geplakan di belakang kepalanya begitu pedih. Siapa lagi pelakunya kalau bukan ayah Marvel yang geram.


Telinganya mendengar dengan jelas apa yang dibisikkan uncle Lenox pada mommy Ara.


Tapi entahlah, sudut hatinya ikut bahagia, dia kini menjadi lebih bersemangat untuk membongkar kasus ini, dan ada keyakinan kuat bahwa jasad didepanya ini, bukanlah putranya.


Proses telah berlalu hampir dua jam saat mobil kakek buyut Al Ghifari datang. Kakek buyut terlihat turun dari mobil di dampingi cicit tersayangnya Aryan Sanbalt, putra pertama Brian.


Rambut, kumis dan janggut kakek buyut sudah memutih semua. Tapi memang dasarnya pemilik bibit premium unggul yang menghasilkan keturunan tampan-tampan bak dewa, biarpun sudah berumur lewat 90tahun, beliau masih terlihat berwibawa dan gagah.


Pembongkaran kali ini sangat di rahasiakan, bahkan para girlspun tidak ada yang tahu. Para boys hanya keturunan langsung Al Ghifari saja yang bisa datang ke pemakaman.


" Piye Le?..." Bisik kakek buyut pada kakek Syakieb.


" Belum romo, mungkin satu jam lagi" Balas kakek Syakieb.


Bunda Dian yang melihat kedatangan orang pertama Al Ghifari itu langsung menghambur ke pelukan beliau.


" Sing sabar nduk, Mudah-mudahan anak ini bukanlah Sunny kita..."


" Aamiin kek...amiin..., tapi dimana putraku itu sekarang berada?"


" Sing tenang nduk, putramu pasti ketemu, jangan sepelekan adikmu Brian, dia pasti berusaha keras untuk ini..."


...*** ...


Sunny dan Shanum saat ini berjalan bergandengan tangan menyusuri tepi pantai.


" Kamu sudah berobat Bin, maksudku amnesiamu, apa kau sudah bertemu dengan terapis khusus untuk itu?" Tanya Shanum.


" Belum..." Jawab Sunny pelan, saat ini fikiranya bercabang-cabang. Dia memikirkan papanya, dia tahu betul bagaimana ayah dan uncle Brian kalau sudah menangani kasus.


Mereka berdua akan bergerak lincah seperti belut dalam mencari informasi seakurat-akuratnya dan sedetil-detilnya.


" Bin, mau aku kenalkan dengan bundaku?" Tanya Shanum pelan.


" Hemmmm " Jawabnya singkat, kepalanya langsung menoleh menatap Shanum.


Apa katanya?


Bundaku?


Maksudnya Bundaku?, bunda Dian?


Sumpah!, saat ini Sunny benar-benar sangat kacau. Hatinya bercabang dua, satu sisi bahagia tiada tara karena bisa bersama-sama dengan kekasih hatinya dan satu sisi lainya harus gelisah menanggung sesak memikirkan keselamatan papanya jika sampai uncle dan ayahnya mengetahui yang sebenarnya sebelum ingatanya kembali.


" Bin?, are you okey.." Tanya Shanum yang berulang kali melihat Sunny melamun.


" Sure I'm..." Jawab Sunny cepat-cepat.


" Emmhh jadi?, mau nggak aku kenalin bunda Dian. Dia ahli terapis yang hebat...mungkin enggak sampai tiga bulan aja amnesiamu bisa sembuh kalau yang nanganin beliau.." lanjut Shanum.


Sunny mengulum bibirnya, menyembunyikan senyumannya.

__ADS_1


Lihatlah, hanya mendengar seseorang menyebut bunda nya saja dia begitu girang ingin guling-guling di pasir pantai.


Apalagi membicarakan bundanya yang menang ahli terapis klinis.


" Emmhh Shan..., itu ngomong-ngomong tentang Sunny..." Sunny penasaran ingin menggali perasaan Shanum padanya selama ini seperti apa.


" Iya kenapa dengan Sunny?"


" Sebenarnya secinta apa kau padanya?" Tanyanya cepat.


" Secinta apa?, jadi kamu ingin tahu?, baiklah.. Jika kau bertanya padaku apa itu cinta?, maka jawabannya adalah Manggala Sunny, biarlah semua orang bilang kalau dia sudah tidak ada, tapi Sunnyku tetap ada disini..." Tunjuknya pada dadanya.


" Walaupun aku pada akhirnya mengkhianatinya denganmu, tapi itu tak akan menyurutkan cintaku padanya, dan aku yakin Sunnyku pasti mengerti keadaanku ." Lanjutnya tegas.


Sunny menggigit gumpalan tanganya karena gemas dengan jawaban Shanum, dicintai seperti ini membuatnya ingin menari-nari keatas awan


Ingin banget rasanya menyambar bibir Shanum saking bahagianya, sampai-sampai dadanya bergetar karena terlalu bungah.


" Terus gimana kelanjutannya Bin?, kamu kuliahnya gimana?"


Sunny yang sedari tadi menatap Shanum jadi gelagapan tiba-tiba.


" Cari di Jakarta saja Shan, sekalian jagain papa dan Aivy..."


" Oh gitu, trus kerjaan?"


" Malam ini udah mulai kerja di cafe depan gang rumahku, bisa untuk selingan juga sih..." Ucap Sunny.


" Emmmhhh, Bin...aku mau ucapain makasih buat kamu. Selama empat bulan kita barengan, terus terang aku bisa menilaimu A plus. Kamu pacar yang baik, pengertian, siaga, siap antar jaga aku kemana-mana ha..ha.." Kini mereka berdua duduk beralaskan koran diatas pasir putih sambil memandangi air laut yang mulai naik.


" Pokonya bagiku kau mantan terindah untukku Bin... Dan maaf jika aku selama ini merepotkan kamu, aku terlalu rewel, sering buat kamu kesel.... Semoga kedepannya kita tetap menjadi teman yang baik, mau kan?" Ucap Shanum panjang lebar.


Sunny menggigit lidahnya gemas, omongan Shanum benar-benar membuatnya ingin tertawa.


" Hemmmm, apa sih kamu...nggak usah kaya gitu kali. Aku tetap akan sama-sama terus sama kamu kok Shan, we're one, together and forever..." Sahut Sunny, di tariknya bahu Shanum hingga menempel padanya dan..


Cup


Dikecupnya kening Shanum lama..


" Ckck...omonganmu kaya Sunnyku deh Bin, we're one, together and forever itu omongan dia tuh..." sahut Shanum sambil tersenyum ayu mengingat begitu seringnya Sunny berbicara begitu.


" Tapi Bin...Nggak akan bisa!!, setelah aku kembali ke Sunny, berarti aku kembali membuka lembaranku bersamanya. Dan lembaran kita berdua sudah harus ditutup.." Ucap Shanum lagi.


" Kamu ngomong dari tadi nggak jelas deh, kamu memposisikan dirimu sejak tadi seolah-olah bukan Binar, heran aku!!" kesal Shanum.


Shanum langsung menoleh menatap Sunny heran, dari kemarin kata-katanya kok nggak banget di telinga Shanum.


Sebenarnya Shanum yang salah dengar ataukah Sunny yang salah bicara, entahlah.


" Kenapa?" Tanya Sunny saat Shanum terus menatapnya.


" Aku ganteng kan?, kamu terpesona?" Tanya Sunny alay.


" Dihh....songong amat!!" Sahut Shanum jutek, kesel banget rasa hatinya saat mendengar kenarsisan Binar.


" Yaelah...ampun dah!!!, anak perawan uncle Vino marah nih.." Seru Sunny.


Tapi Shanum justru mencelak!!, terkejut luar biasa dengan kata-kata Sunny saat ini.


Karena Sunnynya juga sering sekali berbicara seperti itu.


*Y*aelah...ampun dah!!, anak perawan uncle Vino marah nih


Kata-kata itu terus terngiang-ngiang di benaknya saat ini. Shanum berasa dejavu, Sunny sering sekali berbicara seperti itu.


" Sunny?" Ucap Shanum tanpa sadar.


" Ya?" Jawab Sunny juga tanpa menyadari apa yang diucapkannya saat ini.


" Kamu?" Kini mata Shanum membola lebar menatap Sunny penuh selidik, jari telunjuknya menunjuk pada wajah Sunny.


" Kenapa nih?, mau digigit telunjuknya?" Tanya Sunny sambil menurunkan telunjuk itu.


" Nggak sopan tau nunjuk begini sama calon suami..." ucapnya lagi.


" Heyy, kamu jangan ngesok kayak Sunny deh Bin!!, sebel aku tuh!!"


Sunny tiba-tiba tersadar, pemuda itu berdehem beberapa kali untuk mengembalikan suasana.


" Ahhh, emmmh...kayaknya aku cocok dengan nama Sunny nggak sih?"


Bless..

__ADS_1


Shanum seolah bagai kerupuk yang tersiram kuah, lemoy, ancuy, melehoy tak berbentuk lagi.


Melihat itu Sunny merasa dadanya begitu sesak.


Maafkan aku sayang...


Aku belum bisa mengaku sekarang...


Sebentar lagi, tunggu sebentar lagi sayang...


...***...



Shinee yang harap-harap cemas menunggu hasil test DNA sampai-sampai menghabiskan satu bungkus rokoknya demi untuk membuatnya tenang.


" Cukup sayang, itu udah kebanyakan..." Ucap bu Sasti, nenek sambungnya dengan lembut.


" I'm sorry grandny...I'm so much nervous now.." Jawab Shinne sambil menggusruk rokoknya.


" Nih brothy, permen aja mau?" Tawar Rasya dengan menyodorkan beberapa butir permen dengan rasa kopi.


Shinee mengambil beberapa butir dan langsung membuka lalu melemparnya ke dalam mulut.


Pintu tenda terbuka, ayah Marvel, mommy Ara dan uncle Lenox keluar dari sana dengan mata mereka yang memerah.


" Hu...Hubby, bagaimana?" Tanya bunda Dian tak sabar, tubuhnya kini begitu lemah dipelukan Hana.


"Hasilnya NEGATIF, his not my son..." Seru Marvel penuh deru airmata, hatinya sangat berbahagia saat ini.


" Bukan?, jadi Sunny kita masih hidup?" Tanya kakek buyut dengan suara bergetar.


" Masih kek..., Sunny kita masih hidup hu..hu..hu..." Tangis bahagia uncle Marvel kini pecah dipundak kakeknya.


Semua klan Ghifari saling peluk menumpahkan rasa bahagia yang begitu membuncah saat ini.


Setelah mengembalikan jenasah kembali ke tempatnya, mereka, atau tepatnya klan Ghifari tetap duduk mengelilingi pusara dan berdo'a untuk kelapangan kubur anak ini. Batu nisan yang bertuliskan nama Manggala Sunny Marvellino Putra otomatis dicabut dari tempatnya dan dikosongkan terlebih dahulu sampai uncle Brian datang membawa informasi yang didapatkan nya selama berhari-hari ini.


...*** ...


Sementara itu Roy Alexa dan Arnov yang beberapa hari lalu didatangi Brian untuk interogasi ringan, memutuskan untuk datang ke Jakarta.


Dan sore ini mereka sudah berada di ruangan papa Sanjaya bersama Aivy.


Dan dari papa Sanjaya pulalah akhirnya para sahabat Binar mengetahui siapa jati diri Binar sebenarnya, tapi tetap, mereka harus menyembunyikan kenyataan ini sebelum Sunny benar-benar ingat semua.


" Tapi om, ini beresiko.... Harusnya om jujur saja dulu.... Mereka mungkin akan ngerti niat om nyembunyiin Sunny, om juga sama kayak mereka kehilangan Binar..." Ucap Arnov.


" Iya, andaikan om sadar akan hal itu sejak dulu mungkin om tidak akan menyesal seperti ini.." Jawan papa Sanjaya sendu.


Brakk!!!


Pintu ruangan terbuka paksa dari luar. Tampak dr. Marvel menatap garang papa Sanjaya dengan mata merah menyala-nyala.


" WHERE IS MY SON!!!" Bentakan yang begitu kencang dan mengerikan.


Aivy terjingkat ketakutan, tubuhnya gemetaran tak karuan. Arnov segera menariknya dalam dekapanya.


" Dokter...maafkan saya... Saya akan jel---"


Bughhh!!! Bughhh!!!


Dua bogeman uncle Marvel mendarat di kedua sisi rahang papa Sanjaya.


" Papaaaaa.....hu..hu...papaaaa...." Jerit Aivy histeris.


" BERANINYA KAU MENYEMBUNYIKAN PUTRAKU SELAMA INI!!!


Bughh!! Bughhh!!


Roy dan Arnov tak tahan lagi, mereka berusaha mencekal tubuh dr. Marvel yang kini sedang mengamuk. Tampak dari pintu muncul Shinee dan uncle Brian yang berlarian masuk dan langsung mengunci tubuh ayah Marvel agar berhenti menghajar papa Sanjaya.


" Be patient brother please!!! Calm down!!!" Teriak uncle Brian di telinga kakaknya


" Ayah!!!, sabar ayah!!. Istighfar......" Demikian juga Shinee, pemuda itu ikut menenangkan ayahnya.


Mendengar tangisan Aivy yang menyedihkan, apalagi gadis kecil itu kini memasang badan di depan papanya membuat dr. Marvel menghembuskan nafasnya yang terengah-engah karena amarah.


" Panggil polisi cepat, penjahat ini harus membusuk di penjara..."


" Maaf dokter, harusnya tidak begini. Tidak mungkin om Sanjaya menculik putra anda dok, om Sanjaya hanya menemukan putra anda di sung--"


" Lalu!! Bukan berarti dia menjadikanya putranya kan!!, dan menipu semua orang dengan cara memalsukan identitasnya kan. Perbuatan yang dilakukan tetaplah kriminal!!. Penjaralah tempatnya membusuk..."

__ADS_1


__ADS_2