
Sudah tiga hari ini Sunny kembali ke White Base. Tapi yang menyesakkan hatinya adalah tiga hari itu pula dirinya tidak pernah bisa bertemu dengan Shanum sama sekali.
Itu benar-benar menyebalkan, rasanya ingin sekali Sunny membalikkan meja belajarnya sekarang ini karena begitu kesalnya.
Bagaimana tidak, hari pertama pulang dia harus duduk manis di ruang keluarga karena harus menemui para tamu dan sahabat 'para daddy' dan 'para mommynya'. Mereka rata-rata datang untuk sekedar menjenguk dan ikut bersyukur atas kembalinya dirinya.
Tapi, yang namanya emak-emak tahu sendirilah ritual setiap berkumpul. Yapp, bergosip dan Sunnypun auto harus bersabar dengan keceriwisan emak-emak yang mewarnai acara gosip berbalut penjengukan ini.
Walaupun begitu matanya terus menatap deretan pintu dilantai dua, deretan pintu para girls. Pintu bergantung hiasan matahari besar buatanya dahulu itu, tidak juga terbuka sedari tadi.
Yah, pintu diujung itu adalah kamar Shanum dan Azmya.
Ck, kemana dia?. Apa dia keluar ya?
Keluar kemana? Sama siapa?
Gatal rasanya Sunny untuk menelepon Shanum, tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengakuinya secara face to face.
Tamu terus berdatangan sampai malam, Sunny hanya akan pergi kekamarnya untuk istirahat dan bebersih selanjutnya kembali lagi ke ruang keluarga untuk berbincang dengan keluarga besarnya. Tapi anehnya, pintu Shanum masih juga tidak terbuka.
Hari kedua semakin parah, karena Sunny harus pergi ke kantor polisi untuk memberikan kesaksiannya atas kasus penculikan tujuh tahun lalu. Dan itu memakan waktu yang panjang, dari pagi sampai menjelang maghrib baru pulang, lagi-lagi wajah Shanum tidak dilihatnya sama sekali.
Hari ketiga, hari yang lebih parah. Seharian penuh sampai malam hari Sunny harus berada di pemakaman dan mengikuti proses pembongkaran makan untuk sekali lagi, dengan tujuan untuk mengakuratkan DNA antara jasad tersebut dan papa Sanjaya.
Lalu dilanjutkan dengan prosesi pemakanan resmi setelah sebelumnya merubah nama pada batu nisan tersebut menjadi Binar Buana Sanjaya.
Suasana begitu emosional saat itu. Arnov dan Roy benar-benar merasa kehilangan sahabat kecil mereka. Tapi mereka juga bersyukur, masih bisa melihat Binar sahabat mereka untuk terakhir kalinya.
Karena ini sunggung keajaiban, jasad Binar begitu bersih dan utuh. Papa dan Aivy tak dapat membendung ledakan emosi mereka hari ini.
Bahkan Aivy sampai harus terkulai pingsan di gendongan Arnov.
...***...
Hari yang melelahkan beberapa hari kemarin rupanya masih belum berakhir, karena besok masih ada juga jadwal yang harus membutuhkan kehadiran dirinya. Bahkan hari ini saja mereka berada di salah satu hotel milik keluarga Al Ghifari untuk acara syukuran atas kembalinya putra sulung klan Syahril.
" Brother, besok kita harus datang di konferensi pers yang diadakan oleh Al Ghifari company.." Ucap Shinee yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit dipinggangnya.
" Hahh...tidak bisa kah tanpa aku?, huhhh...capek Shinee, apa hanya konferensi pers saja kan?" Tanya Sunny jengah.
" Nggak, habis itu kita kekantor ayah untuk ikut rapat dewan pemegang saham..." Jawab Shinee yang kali ini sedang menggosok rambutnya yang basah.
" Duuhhh!!, kenapa mesti ribet kaya gini sih!! Huhhhh!!" Sunny kesal sendiri, seminggu sudah dia tidak melihat wajah kekasihnya.
Sunny memasuki kamar mandi dengan malas.
Shan....kamu kemana sih???
Sebenarnya sudah beberapa kali Sunny bertanya akan keberadaan Shanum pada adik-adiknya. Dan jawaban mereka selalu sama, bahwa Shanum ada dikamar untuk belajar.
Kenapa dia tidak mau menemuiku..
Apa karena kejadian malam itu, dia kecewa padaku?
Apa kini harga diriku telah jatuh didepan matanya karena amarah gilaku malam itu.
Shanum...apa kau marah??
Sunny menimang ponselnya, ingin sekali dia menelpon. Tapi rasanya belum ada nyali saat ini. Sunny benar-benar tetap ingin mengatakanya secara langsung. Tapi kenapa? pesan yang dikirimkannya beberapa hari bahkan tidak dibaca sama sekali oleh kekasihnya itu.
Sunny terus melamun di dalam bathup dengan air keran yang telah dibiarkan menyala.
...***...
Malam tiba...
Ballroom hotel telah ramai oleh para undangan.
Mata Sunny terus menatap pada pintu masuk, menanti dengan cemas kekasih hatinya.
Seminggu tak bertemu membuatnya ingin gila rasanya.
Sahabat-sahabat satu persatu telah memasuki ruangan begitu juga Aivy dan papa. Uncle, Aunty dan adik-adiknya juga telah hadir semua.
Bahkan uncle Vino dan kedua putranyapun sudah ada, lalu kemana Shanum dan mamanya.
__ADS_1
Pria muda itu masih bisa menyembunyikan sesaknya untuk satu jam berikutnya. Tapi tidak lagi untuk saat ini.
" Kenapa?" Tanya bunda Dian melihat gelagat putranya yang seperti orang linglung saat ini. Dasinya telah dilonggarkan, bahkan rambut yang sudah di pomade sedemikian rapinya kini sedikit berantakan karena berulang kali diacaknya geram.
" Dia kemana sih bun...?" Tanya Sunny dengan mata yang mulai memerah menahan tangisnya.Jebol sudah pertahanan Sunny saat ini, tak mampu lagi dia menahan sesaknya beberapa hari ini.
Kesal, marah, kecewa, sakit hati, semua rasa menghimpit dadanya saat ini.
Sementara itu di salah satu kamar di hotel yang sama.
" Sha...jangan seperti anak kecil, ayo dong sudah dimulai nih acaranya!!" Seru mama Vera kesal.
" Mama pergi saja, Sha nggak mau!!. Kalian tega sekali melakukan ini semua pada Sha..., sejak kapan mama tahu Binar itu Sunny?" Sahut Shanum kesal.
Gadis itu kesal sampai-sampai tidak mau keluar kamar saat tanpa sengaja mendengar obrolan mommy Ara dan mamanya yang mengatakan bahwa Sunny adalah Binar.
Dan parahnya Sunny sudah bisa mengingat bahwa Shanum adalah tunanganya jauh sebelum kecelakaan yang mengembalikan ingatanya secara utuh kemarin. Shanum merasa ditipu selama ini.
Pantas saja setiap ucapanya mengingatkanku pada Sunny..
Ternyata kau adalah Sunny itu sendiri..
Dan kau...juga telah berani menyentuhku
Sunny...lihat saja kau...
Kekesalan Shanum berlarut-larut sampai hari ini.
" Sha...ayo dong!!, ini papa sudah nelpon terus nih..." Mama Vera menunjukkan panggilan papanya yang memang sudah kesekian kalinya.
" Udah mama kesana saja, Shanum tetap disini. Kalau nanti dia bertanya bilang aja Sha males liat muka songongnya itu!!" Ucap Shanum tegas dan langsung meloncat kembali ke ranjang.
" Ya ampun..., anak perawan gue gini amat kelakuanya!!" Mama Vera mendengus kesal.
Sunny yang sudah sesak sedari tadi semakin sesak saat tak mendapati juga Shanumnya, padahal mama Vera telah hadir di tengah-tengah acara.
" Hhhhhhh" Desah Sunny kesal.
Giginya gemeretak menahan letupan emosi yang ingin meledak-ledak.
" Bun, bilang ayah Sunny ke-----"
Sunny mengamati cincin berhias ukiran matahari itu lekat.
" Bunda dapat darimana?" Tanyanya bingung.
Soalnya dia juga mencarinya saat ingatanya sudah pulih beberapa hari lalu.
" Tuan Sanjaya yang menyimpan saat menemukanmu dahulu beliau memang sengaja menyimpannya" sahut bunda.
Sunny mengecup cincin itu sekilas lalu berlalu keluar ballroom menuju kamar Shanum berada.
" Dia mau kemana wife?" Tanya ayah yang melihat putranya melesat keluar.
" Menemui Shanum hubby..., kasihan dia. Kau tega sekali padanya. Kau sengaja kan merapatkan kegiatannya beberapa hari ini!!" Bunda Dian menepuk lengan kekar suaminya itu gemas.
" Ya..., sekali-kali bikin dia nangis, aku kesal dengannya wife. Dia begitu menyayangi tuah Sanjaya sampai bersujud-sujud begitu..."
" Apa kau tahu wife. Saat itu dadaku terasa remuk. Sunny benar-benar memukulku telak wife.., aku benar-benar kena mental dibuatnya.." Curhatan ayah Marvel begitu menyayat hati bunda.
" Hubby, sudahlah.... Lupakan semua sesaknya. Kita tatap masa depan yang baru, masa depan bersama anak-anak kita.." Bunda mengusap rahang tegas ayah dengan lembut.
...*...
Sunny langsung menuju kamar yang ditempati Shanum setelah mendapatkan informasi dari Shinee.
Tok..tok..
Shanum yang malas-malasan segera beranjak dan membuka pintu begitu saja tampa melihat siapa yang berada di depan pintu. Gadis itu langsung membalikkan badanya setelah membuka pintu, gadis itu mengira mamanya balik lagi untuk menjemputnya lagi.
" Sha nggak mau kesana ma...malas Sha ketemu dia!!" Ucap Shanum.
" Udah bikin kesel, masih berani memamerkan wajah songongnya itu di depan banyak orang..., pen Shanum remes aja rasanya..." Lanjut Shanum masih belum menyadari bahwa Sunny lah yang berdiri di belakangnya.
Brakk
Ceklek...ceklek..
__ADS_1
Bunyi pintu tertutup dan kunci yang berputar membuat Shanum langsung menolah.
Pemuda tampan yang begitu sangat dirinduinya itu berdiri gagah di depannya.
Shanum merasakan tenggorokannya tercekat tiba-tiba, sampai-sampai sulit menelan ludahnya sendiri.
Apalagi setelah dia sadar akan penampilanya sekarang, yang hanya menggunakan stelan rok yang begitu pendek.
" Ke...ke...kenapa kamu ada disini?" Tanya Shanum gugup dengan tangan yang menyilang di dada, sesekali dia menarik-narik rok mininya agar sedikit turun dan menutupi pahanya yang tereksplor sempurna.
Dan tentu saja itu sama saja hasilnya, saat dia menarik turun, justru perutnya akan terlihat.
Sunny hanya diam, matanya terus menatap Shanum tanpa kedip. Jika boys lainya akan memalingkan muka jika melihat ketidak sopanan didepannya, maka jangan pernah harapkan itu pada Sunny.
" Ke...ke...keluarlah dulu Sunn, aku akan ganti baju..." Ucap Shanum gelagapan dan merasa tak enak, ditatap seperti itu membuat dadanya berdesir tak karuan.
Sementara Sunny tetap diam, hanya mematung dengan tatapan yang sama, matanya terfokus pada dada Shanum. Kapan lagi dia bisa melihat yang seperti ini, mahakarya Tuhan yang indah tercetak nyata di depan matanya saat ini.
Shanum yang menyadari arah pandang Sunnypun mulai emosi.
" Turunkan matamu itu!!, nggak sopan!!, mau aku congkel matamu itu hahh!!" Bentak Shanum kesal bercampur malu.
" Kau berani membentak calon suamimu?" Tanya Sunny dengan suara yang begitu lirih.
" Itu karena ulah kamu sendiri!!, keluar dulu sana!!" Elak Shanum tak mau di salahkan, gadis itu menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya. Jaga-jaga, batin Shanum.
" Kenapa kau tidak menemuiku sama sekali setelah aku pulang?" Kini Sunny melangkah mendekat, tapi Shanum justru mundur ke belakang.
" A..a..aku sibuk..." Jawab Shanum grogi.
" Sibuk sembunyi?, kau ingin main petak umpet denganku hahh!!!" Sunny meninggikan suaranya membuat Shanum terjingkat kaget. Kesal, Sunny begitu kesal, tidak melihatnya berhari-hari membuatnya mudah emosi karena begitu kesalnya.
" Apa kau tidak pernah memikirkan perasaan ku Shan...., aku begitu gila karena rasa rindu ini dan kau memperkeruhnya!!, kau malah bersembunyi. Apa maumu Shan??" Sunny sengaja nengijak ujung selimut Shanum yang terus saja mundur, membut gadis itu kini tak bisa bergerak lagi.
" Maafkan aku Shan, aku salah..... Aku mengulur waktu untuk mengatakan kenyataan ini. Itu karena aku belum bisa mengingat semua. Yang bisa ku ingat saat itu hanya kamu adalah tunanganku. Yang lainya belum sayang..." Sunny menundukkan kepalanya, menyesal.
" Kapan kau mulai ingat itu?" Tanya Shanum.
" Saat datang ke rumah aunty princess..." Jawab Sunny.
" Ap...apa? Ja..ja..jadi..kejadian malam itu kau juga sudah tahu siapa aku?, maksudku saat kau datang ke kamarku di White Base kau tahu bahwa aku ini tunanganmu?" Tanya Shanum, wajahnya memerah dan tubuhnya terasa panas saat mengingat malam itu.
Begitupun Sunny, kini tubuhnya bagai tersengat listrik saat mengingat malam itu.
Bukan dosa dan kebejatanya yang diingatnya, justru ******* Shanum yang menari-nari dibenaknya.
" Ya, saat itu aku sudah ingat kau adalah tunanganku..." Jawab Sunny.
Shanum membelalakan matanya tak percaya.
" Apa??, lalu bagaimana bisa kamu melakukan itu padaku Sunn!!, kau melecehkan aku!!" Teriak Shanum marah.
Jujur, saat pertemuan terakhirnya dengan Sunny di ancol kemarin saja Shanum sangat menahan diri untuk tidak mengamuk. Tapi karena cinta menutupi logika, semua seolah tidak pernah terjadi.
Tapi hari ini lain, emosi telah duduk di singgasana, amarah telah menjadi mahkota. Semua rasa sesal dan kesal Shanum tersalurkan saat ini.
Bugh...bugh...bugh..
Pukulan bantal sofa kini bertubi-tubi mendarat di dadanya. Sunny hanya menerimanya dengan pasrah, hingga membuatnya terhuyung kebelakang dan brugh...
Pemuda itupun jatuh terlentang diatas ranjang, tapi Sunny tidak bodoh. Sebelum tubuhnya benar-benar jatuh pemuda itu sempat menarik tubuh Shanum sehingga kini mereka jatuh bersama. Dengan tubuh Shanum yang tepat berada diatas tubuhnya.
Bahkan posisi yang amat sangat membuat Shanum kesal, kedua asetnya kini tepat berada diatas wajah Sunny.
Sontak dengan buru-buru Shanum segera bangkit dan duduk di tepi ranjang.
Sementara Sunny masih nyaman dengan posisinya yang terlentang.
" Emmhhh, sepertinya...dua benda itu agak lebih besar dari yang kemarin, ahhhh rupanya dia semakin tumbuh setelah pijatanku kemarin..." Bisik Sunny nakal.
Shanum yang kurang paham dengan maksud Sunny hanya bisa menoleh dan menaikkan alisnya bingung.
" Apa?" Tanya Shanum polos.
" Itu...." Tunjuk Sunny pada kedua bulatan di dada Shanum.
__ADS_1
Jawaban Sunny yang santai itu kini justru semakin membuat Shanum bertambah emosi.
" SUNNYYYYY!!!!!"