BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Efek dari rasa..


__ADS_3

" Hoekkk...hoekk..."


Sedari pagi Ayu terus memuntahkan cairan kuning dari mulutnya. Entah apa yang terjadi dengannya, kepalanya sangat pusing sejak subuh tadi, perutnya melilit bagai diaduk-aduk, begitu menyiksa.


Suaminya memberi kabar bahwa hari ini adalah kepulangannya. Tapi lihatlah, bahkan dia tidak bisa ke dapur untuk sekedar memasakkan makanan kesukaannya saat suaminya pulang nanti.


Tak seharipun mereka bolong untuk saling memberi kabar. Shineelah pihak yang paling aktif menghubungi duluan, bahkan disetiap menit, setiap jam dari pagi siang sore dan malam.


Modusnya sih bertanya sudah sholat belum?, sudah makan belum?, padahal mah kangen tapi malu mengungkapkan.


Malam terakhir perjumpaan mereka adalah awal dari segala-galanya, awal dari kebucinan seorang Shinee. Apa yang terjadi malam itu adalah pupuk penyubur hubungan mereka.


Ayu yang memang sudah cinta dari awalnya menjadi semakin cinta. Sedangkan Shinee yang masih malu-malu mengakuinya kini semakin gencar menunjukkan bukti cintanya pada Ayu.


Karena bagi Shinee, cinta bukanlah hal yang perlu diucapkan dengan kata-kata saja, tapi dibuktikan dengan tindakan yang nyata.


"Tidur saja duluan yang...., nggak usah nungguin aku, soalnya dari bandara aku langsung ke kampus dulu" Ucap Shinee dari ponsel saat dia menghubungi Ayu hari ini.


" Hemmmm " Jawab Ayu lemah.


" Yang?, kamu sakit?, eh iya yang.. kok kamu pucet banget " Seru Shinee begitu cemas saat mendengar suara Ayu yang tidak seperti biasa, apalagi saat mengamati dengan jelas wajah putih Ayu bukanlah putih normal, tapi cenderung ke pucat.


" Enggak Shinee, cuma masuk angin..." Sangkal Ayu cepat.


" Masuk angin? Masa sih?, emang kamu kembenan doang selama aku nggak ada?"


" Apa sih Shinee, kamu ini! ya nggak lah!. Pake kembennya ya nanti saat kamu ada dirumah" Ucap Ayu genit.


" Waahhh asyekk...asyekkk....Duh jadi nggak sabar pen cepet pulang..." Sahut Shinee disertai tawanya yang khas.


" Iya makanya cepet pulang Shinee aku kange emmpp...hoekk...hoekkk..." Rengekan Ayu terjeda saat perutnya kembali terasa meremat-remat.


" Sayang..., kamu kenapa?" Seru Shinee cemas.


" Mual Shinee, aku ke wastafel dulu ya. Emmphh hoek...hoekkk..." Ayu segera berlari ke kamar mandi tanpa mematikan ponselnya.


Dan Shinee ikut ngilu mendengar suara Ayu yang begitu tersiksa dengan mual muntahnya.


Shinee menerawang ke peristiwa sebulan lalu, tepatnya malam sebelum keberangkatannya ke Florida.


Insting calon dokternya langsung mengarah kesana, apalagi memangnya kalau bukan buah cinta. Apalagi Shinee sangat tahu saat itu Ayu sedang dimasa suburnya. Ya mereka melakukannya saat setelah seminggu Ayu bersih.


Aku melakukannya beberapa kali malam itu..


Bahkan aku mengulanginya dua kali lagi di pagi hari dan sebelum berangkat..


Dan tidak menggunakan pengaman sama sekali..


Apa berarti Ayu?


Hamil?


" Sayang? Sayang...." Panggil Shinee lembut.


" Hemmmm" Jawab Ayu lemas dan tak bersemangat.


" Beberapa hari ini kamu sholat tepat waktu nggak?, hayoo....jujur!!" Pancing Shinee.


Seingat Shinee harusnya minggu ini Ayu ada dalam masa periodiknya. Jika jawabanya sedang tidak sholat berati prediksi Shinee salah.


" Beberapa hari ini, sholat dzuhur dan asharnya yang rada-rada molor Shinee ha..ha...ha...sorry..." Sahut Ayu tanpa curiga akan maksud Shinee sama sekali.


" Tapi seminggu ini sholat kan?, nggak ada yang bolong?" Tanya Shinee untuk semakin menyakinkan kecurigaannya.


Hatinya berdebar-debar, antara binggung dan cemas. Usianya baru akan masuk 23 akhir tahun ini, dan harus punya baby?.


" Yeee, nggak ada ya Ayu bolong sholat, Ayu sholat full..." Sela Ayu cepat.


Duuarrrrr!!


Tuh kan bener prediksi gue!!!


Ayu hamil anak gue!!


Ya Allah, Alhamdulilah, Allahuakbar...


" Oh...ah..eh...untunglah. Alhamdulilah.."

__ADS_1


Saat pembicaraannya dengan Ayu berakhir Shinee justru didera rasa kalut yang luar biasa.


" Akhh...., bagaimana ini?"



Shinee langsung menghubungi Shanum dan menceritakan semua.


" Yee..Alhamdulillah!!" Seru gadis itu bersemangat.


" Ssstttt, diem dulu bawel!! Ini masih prediksi aku..." Bisik Shinee.


" Yeee itu mah udah nggak usah diprediksi juga udah langsung tahu kalau istri lo itu bunting!!"


" Apa sih Sha, bunting! bunting!. Hamil!" Sela Shinee.


" Iya sih sama aja juga Shinee..." Balas Shanum.


" Ya nggak sama lah dodol. Bunting itu untuk binatang, Hamil untuk manusia..." Seru Shinee lagi.


" Iya....iya.... Serah deh..." Ucap Shanum mengalah.


" Tapi Sha...aku takut dia marah Sha, jika dia tahu dia hamil, reaksinya seperti apa kira-kira?. Aku nggak bisa bayanginya".


" Soalnya dia masih harus menyelesaikan pendidikannya, apalagi semester tujuh sudah harus ribet dengan skripsi, dan aku merusaknya Sha. Aku merusak mimpinya..." Ucap Shinee.


" Tidak Shinee, jangan terlalu overthinking. Aku sangat kenal Ayu, dia gadis yang cerdas. Sebelum dia memutuskan untuk melakukannya tanpa pengaman, pasti dia sudah mempertimbangkannya masak-masak. Ayu adalah seseorang yang merencanakan apapun dengan sangat matang.... Kamu tenang saja Shinee.." Jelas Shanum panjang lebar.


" Begitukah?, jadi apakah berarti aku sudah boleh bernafas lega?" Tanya Shinee lagi.


" InshaAllah..." Sahut Shanum.


" Huhhhhh..." Terdengar suara hembusan nafas lega dari Shinee.


Jujur saat mendengar Ayu muntah-muntah saja dia langsung drop!, tidak makan sesuap pun sedari pagi. Dan hanya mematung seperti orang linglung sepanjang hari.


Bahkan selama di bandara dan di pesawat saja dia bagai mayat hidup. Diam tapi tak mati, hidup tapi tak gerak. Saat ini dia sudah sampai di Boston, tepatnya dia sedang di kampus untuk mengumpulkan laporannya.


" Ya udah, dosenku sudah hadir nih. Tolong liat-liat istriku Sha.... Aku titipin sama kamu..., mungkin dua atau tiga jam lagi aku udah dirumah.." Ucap Shinee sebelum mengakhiri obrolan mereka.


Sementara itu Sunny begitu berbahagia saat ini, semua materi telah berhasil ia selesaikan dengan nilai di atas rata-rata. Berarti hanya tinggal dua bulan masa pengabdian untuk dirinya.


" Hahh....Alhamdulillah...Alhamdulillah" Serunya penuh rasa syukur saat namanya dipanggil sebagai prajurit terbaik di angkatannya.


Hingga tak sabar lagi pria muda itu langsung meraih ponselnya saat baru saja turun dari podium.


" Bun....persiapkan pernikahanku dua bulan lagi..."


" .............."


" Di Surabaya saja bun, disana Shanum tumbuh besar, disana juga aku pernah tumbuh dan beranjak dewasa..."


" .............."


" Iya bun, Sunny langsung ke Amerika jemput Sha dulu.... Mungkin dua atau tiga hari tinggal disana baru pulang...."


".............."


" Iya! Iya!, nggak akan Sunny apa-apain perawan uncle Vino tenang aja bun!, ya...palingan cuma kelonan tipis-tipis, sama *****-***** dikit lah bun...."


"..............."


" Iya bun iya!, dih ribet amat sih udah tunangan juga ini bun...., kalau kangen trus kebablasan ya..Wallahu a'lam ha...ha..ha..."


Sunny benar-benar berbahagia hari ini, wajahnya begitu cerah, secerah namanya.. Sunny.


Brugh!!


Dilemparkan tubuhnya di sofa hotel tempat acara yudisium hari ini berlangsung.


" Shan....tunggu aku sayang....aku akan datang..." Sunny terus mengecup liontin yang berisi foto Shanum.


Tok...tok..tok..


Sunny menoleh ke pintu kamar hotel tempatnya beristirahat.


Dengan malas pemuda itu membuka pintu kamarnya. Seorang wanita cantik berpakaian minim berdiri di depan pintu.

__ADS_1


" Who are you looking for?" Tanya Shinee dingin.


" You.." Jawab wanita itu dengan sedikit bergerak sensual untuk menarik perhatian Sunny.


" Me?, for what?" Tanya Sunny lagi dengan semakin dingin.


" Making have fun baby..." Ucapnya dengan langsung merangsek masuk.


" Stopped!!, or you will regret it later! " Teriak Sunny.


Tapi gadis itu justru menulikan telinganya, dan terus menuju ke tempat tidur, bahkan tanpa babibu, wanita yang entah darimana itu langsung melepaskan pakaiannya.


Grebbb!!!


Sunny dengan kesal mencengkeram kedua sisi pipi wanita itu sampai memerah. Memang pantang bagi Sunny untuk menyakiti wanita, tapi ini situasi yang rumit.


" PAKAI KEMBALI DRESS MU!! DAN CEPAT KELUAR!!"


" Ta...tapi..tapi saya diutus kesini sebagai hadiah untukmu tuan!, Aku bisa memuaskanmu tuan.." Ucap wanita itu masih dengan keberanian yang tinggi.


Bahkan semakin menggerakkan tubuhnya berusaha membuat Sunny takluk.


" AKU TIDAK BUTUH!!, PERGI!!"


" Maaf tidak bisa, saya dibayar mahal untuk memuaskan anda tuan..." Tangan lentik itu mencoba menjulur untuk mengelus rahang tegas Sunny.


Tapi belum juga menyentuh, Sunny sudah keburu mengangkat pipi gadis itu dalam cengkraman tangannya hingga terangkat keatas, pasti sangat sakit rasanya saat rahang diangkat begitu.


Brugh!!


Dijatuhkannya wanita itu begitu saja dilantai.


" Baiklah!!, jika kau tidak mau keluar. Maka aku saja yang keluar!"


Sunny meninggalkan ruangan itu dan bergegas menuju resepsionis, membuka kamar baru dengan biayanya sendiri.


" Brengsek!!, ulet keket macem dia mana gue doyan!!, yang ada malah pengen muntah!!!" Guman Sunny pada diri sendiri saat berjalan menuju kamar barunya.


" Trus kamu doyanya yang kaya gimana? seperti Cahaya?" Tanya seseorang di belakangnya.


Sunny sedikit terkejut, dia mengenal betul suara pria dibelakangnya itu.


" Roy!!! Bro? You here?" Seru Sunny terkejut bisa melihat Roy ada di London saat ini.


" Ya, gue disini udah seminggu. Papaku sedang sakit, dia harus dioperasi di salah satu rumah sakit disini..." Ucap Roy sendu.


" Ouhh, ikut prihatin atas kabar ini Roy" Sunny memeluk sahabatnya itu tulus.


" Jadi lo menginap disini juga Roy?" Tanya Sunny.


" Ya, sama istri dan anak gue..." Sahut Roy.


Sunny membelalakan matanya, istri? Alexandria kah? Dan anak...?.


" Lo udah merr...."


" Udah!!" Sahut Roy cepat.


" Dan lo nggak ngabarin gue?, lo nggak anggep gue temen lo lagi Roy??" Sunny menggeplak kepala belakang Roy seperti dahulu.


" Semua serba tiba-tiba Bin, kami kebablasan. Tahu-tahu Alexandria udah hamil. Lo tahu lah gimana jadinya jika cewek cowok tinggal dalam satu apartemen Bin!, gue mana bisa tahan lihat Alexa mondar-mandir pake tanktop doang dan celana pendek di depan gue, yahh...gue terkamlah lama-lama ha...ha..ha..." Roy bukanya merasa malu, malah justru terlihat bangga. Gila!!


" Daddy..." Panggil gadis kecil berkisar setahun lebih berlarian menuju keberadaan mereka.


" Anak lo udah gede Roy!!"


" Iya ha..ha..., gue cuma bisa menahan diri nggak *****-***** satu semester doang Bin, selanjutnya sudah gasak terus!!, gas poll!!, apalagi udah tahu rasanya Bin...beuhhh nagih tau nggak sih ha...ha..ha..." Roy merendahkan tubuhnya untuk menangkap putrinya. Lalu menggendongnya.


Sunny mengigit bibirnya kecil-kecil dan berulang-ulang. Kata-kata Roy langsung berefek pada dirinya.


Sialan!! Brengsek lo Roy..


Gue kan jadi kangen banget sama tunangan gue..


Shanum...duh..gue kangen sayang...


Duh...duh...Shanum...lama banget dua bulan ini habis....

__ADS_1


__ADS_2