
Sore, tepatnya pukul 14.00. Genk Black Tigers telah berkumpul di markasnya.
Semua sudah mempersiapkan dirinya masing-masing.
" Ingat guy's jangan menyerang di lokasi yang sudah gue share, karena lokasi itu ada CCTV-nya."
" Dan...., sebisa mungkin kalian bertahan, karena target kita bukan menang, target kita adalah kedatangan polisi, lebih tepatnya kita adalah umpan..."
" Gue harap walaupun bertahan kalian cukup pintar mengambil kesempatan.." Ucap Binar disertai senyum liciknya.
Mereka pun ikut tersenyum devil dan sangat paham akan maksud Binar.
" Lex lo tinggal di markas aja " Ucap Binar saat matanya menatap Alexa yang masih memeluk lengan Roy. Alexa memang tidak diantarkan pulang oleh Roy, dan langsung kesini.
" Nggak mau! gue ikut" Sahut Alexa semakin mengerat memeluk lengan Roy. Alexa sudah tau siapa Roy sebelum mereka resmi pacaran, bahkan saat mereka masih bertemanpun sudah sering kali Alexa mendapati Roy tawuran. Tapi baru pertama kali ini Alexa benar-benar ikut melepaskan pacarnya perang.
" Sayang, nurut ya.... Disini aja.., atau mau gue panggilin Cahaya kesini nemenin lo?" Bujuk Roy pada Alexa.
" No!!!" Bentak Binar tiba-tiba.
Roy, Alexa, Arnov dan yang lainya tersentak kaget.
" Jangan bawa-bawa Cahaya kesini!!, dia belum tahu siapa sebenarnya gue, yang dia tahu gue hanya preman sekolah...." Lanjut Binar kecut.
Sudut hatinya begitu takut, jika Shanum mengetahui sisi dirinya yang seperti ini. Apakah Shanum masih mau berteman?.
Berteman?, kata yang menggelikan. Bagaimana bisa hubungan mereka disebut berteman sedangkan dihati salah satunya telah hadir getaran.
" Nov, mereka sudah di lokasi.." Bisik Thole, dengan masih menatap ponselnya.
" Bin, kita berangkat sekarang?" Tanya Arnov.
Binar mengangguk. Dan merekapun keluar markas dengan satu mobil dan beberapa motor.
" Lo nggak usah bersih-bersih Lex, istirahat aja di kamar, kunci pintunya dari dalam" Pesan Binar.
" Iya sayang, nggak usah nyapu-nyapu. Entar anak-anak juga bisa bersihin markas..., gue berangkat ya sayang..." Roy mengelus rambut Alexa pelan, lalu turun membelai pipinya sekilas.
Roy memang bangsat yang suka tawuran, tapi Roy tidak pernah memperlakukan Alexa dengan kasar. Bahkan sekedar mencicip bibir Alexa saja Roy tidak berani.
Sementara itu di Bandar Udara Juanda Surabaya, Ayah Marvel dan rombongannya telah keluar dari bandara dan menuju mobil jemputan mereka. Tepatnya sopir yang dikirimkan papa Vino untuk menjemput orang yang paling berjasa diawal kehidupan berumah tangganya bersama mama Vera dahulu.
" Cak Warso apa kabar?" Sapa Ayah Marvel hangat.
" Alhamdulillah mas..., sehat. Mas dan keluarga bagaimana?"
" Alhamdulilah.." Sahut Ayah Marvel lagi dengan menepuk pundak sopir pribadi papa Vino ini.
Ayah Marvel tidak datang sendiri, ada bunda Dian istrinya, Bianca Aurora, Rasya Adnan Syakieb dan Luigi putra Dokter Lenox Maha Dafran.
Mobil meluncur menuju alamat hotel tempat mereka istirahat, karena besok mereka juga langsung balik ke Jakarta.
Perjalanan cukup lancar awalnya, sampai pada titik yang tiba-tiba semua kendaraan berjalan melambat.
" Ada apa cak?" Tanya Ayah Marvel penasaran. Sementara bunda Dian membaringkan kepalanya di paha suaminya. Kepalanya selalu berat dan rasa sedih menguasainya saat kembali ke Indonesia.
" Kenapa?, ada apa?" Tanya bunda Dian panik dan gelisah. Trauma akan perjalanan yang terganggu tiba-tiba datang kembali.
Ayah Marvel tahu betul, alasan kegelisahan Dian. Karena dahulu, hampir tujuh tahun yang lalu juga seperti ini. Mereka sedang menuju bandara untuk balik ke Chelsea, tapi perjalanan mereka terganggu dengan diculiknya Sunny.
" Nggak papa wife, tidur saja lagi..." Ayah Marvel kembali menekan kepala bunda Dian pada pangkuannya agar tidak bangun.
Mobil mulai bergerak lambat, dan tersendat-sendat. Dari tempatnya, ayah Marvel dapat melihat puluhan preman dan anak berseragam abu putih memenuhi jalan.
Ditangan para preman terdapat senjata yang beraneka ragam. Ada tongkat baseball, ger, samurai, golok dan parang.... . Tapi kubu anak SMU hanya tangan kosong, ah tidak!. Rupanya tas mereka berisi batu.
" Gila, kapan majunya kalau generasinya saja seperti itu..." Gumam Ayah Marvel.
" Lui nanti juga ikutan begituan kalau udah SMU, uncle..." Sahut Luigi yang duduk dibelakang.
__ADS_1
" Bocil diem ajalah!!, lo dijentik aja lo udah nangis.." Sambar Rasya.
" Hisshh kalian berisik..." Sahut Bianca yang duduk diantara keduanya.
Mobil semakin maju dan maju mendekati lokasi tawuran.
Tapi rupanya di depan begitu macet parah.
" Mereka itu sesama anak sekolah ya cak?" Tanya Ayah Marvel yang begitu penasaran.
" Iya campur mas, kadang preman juga.." Sahut sang sopir.
Mata ayah Marvel terpaku pada sosok pemuda yang sedang duel tak jauh dari tempatnya saat ini.
Pemuda itu hanya mengelak dan terus menghindar tanpa mau melawan.
Tapi ayah Marvel mengakui kehebatan pemuda itu, walau betahan tanpa menyerangpun tangkisannya begitu lincah dan akurat.
Caranya menangkis dan keakuratannya bergerak mirip sekali dengan putraku...
Lihat!!, bahkan taktiknya menghindari pukulan mematikanpun sama persis...
Ayah Marvel terus menatap punggung pemuda itu lekat.
" Bodoh!!" Umpat Bianca!, rupanya arah pandangannya juga sama seperti yang sedang ditatap oleh ayah Marvel saat ini. Bianca ikut gregetan melihat pemuda yang tidak menggunakan atasan alias bertelanjang dada itu terus saja menghindar.
" Minggir Lui..." Bianca menggeser Luigi, gadis itu berpindah ke pinggir dekat pintu agar bisa melihat dengan jelas. Entah kenapa ada rasa geram dihatinya saat melihat pemuda yang ternyata adalah Binar itu dikeroyok tiga orang preman sekaligus, tapi bodohnya Binar justru tidak melawan sama sekali.
Ternyata yang dihati ayah Marvel pun sama, genggamannya terkepal kuat melihat Binat dikeroyok. Egonya ingin sekali turun dan membabat ketiga preman yang sedang mengeroyok Binar.
" Dih!!, bodoh banget dia!!" Teriak Bianca lagi saat dua preman kembali datang mengeroyok Binar.
Total saat ini, Binar harus berhadapan dengan lima preman yang berbadan lebih besar darinya. Apalagi para preman itu bersenjata, dan Binar hanya tangan kosong.
Binar yang jelas punya maksud dengan tak tiknya terlihat santai menghadapi mereka, lecet sedikit dan tergores sedikit tak masalah baginya.
Tapi nyatanya yang ditunggu tak juga datang, polisi tak juga hadir.
Tapi rupanya Arnov sang Ksatria penyerang sudah tidak tahan untuk membalas.
" Guy's pukul diperut dan paha!!. Jangan di wajah dan area terbuka!!!" Teriak nya.
Binar tersenyum mengerikan, baru tanganya ingin mengayun ke perut salah satu preman di hadapanya, tiba-tiba.
Buaaghhh...
Salah satu preman di depanya tekapar.
Binar melotot melihat gadis bercadar telah menumbangkan salah satu preman di depanya.
" Heiii!!!, Ninja Hatori jangan ikut campur!!!" Bentak Binar geram.
" Iiiihhhh, gue nolong lo bego!!" Umpat Bianca yang sedari tadi geram melihat Binar, akhirnya gadis itu keluar dari mobil.
" Masuk ke mobil!!!" Bentak Binar.
Tapi Bianca justru ikut melawan beberapa preman.
" Bodoh!!" Binar kesal bukan main, melihat gadis bercadar yang ngeyel di depanya itu. Dengan cepat ditariknya tangan Bianca dan mendorong nya kearah mobil.
" Masuk ke mobil kata gue!" Suara Binar begitu menggelegar dan terdengar mengerikan, tak lama terdengar sirine polisi.
Bianca termangu dengan suara yang membuatnya syok. Aura iblis menguar dari suaranya.
Melihat Bianca yang cuma mematung saja membuat Binar kembali menariknya agar mendekat pada pintu, lalu berbalik badan melindungi Bianca dari keganasan preman yang marah karena merasa dijebak hari ini.
" Masuk Ninja Hatori bego!!, lo budek!!" Bentak Binar lagi.
Luigi segera membuka pintu dari dalam.
__ADS_1
Tidak sabar lagi, Binar mendorong Bianca begitu saja hingga tersungkur di bawah kaki Luigi.
Plakk!!!
Tamparan keras dari ayah Marvel kini mendarat di pipinya.
" Apa orang tuamu tidak mengajarimu untuk bersopan santun pada wanita?" Suara ayah Marvel yang dingin dan tegas membuat Binar begitu gemetaran.
Tatapan mereka beradu.
Serr...serrr...
Ada rasa aneh yang menjalari hati keduanya.
" Dia ber----" Belum selesai Binar berucap tangan Roy menariknya kuat.
" Bin!!, cepat. Romi terluka...." Roy menarik lengan Binar buru-buru, mau tak mau Binar pun mengikuti Roy berlari menuju tubuh Romi yang terkapar.
Ayah Marvel mengusap dadanya yang begitu nyeri saat melihat mata Binar.
Ditatapnya telapak tangan yang telah menampar pipi pemuda itu.
Tes..tes..., air matanya tiba-tiba terjatuh tanpa ia sadari.
Kenapa ini?
Aku kenapa?
Kenapa hatiku begitu menyesal telah memukulnya..... Siapa dia?
Ayah Marvel kembali mengarahkan pandangannya pada Binar yang saat ini sedang bersalaman dengan beberapa polisi.
Ada dorongan dalam hatinya untuk berlari dan memeluk pemuda itu, tapi..
" Hubby ayo, jalan usah terbuka tuh..." Panggil bunda Dian.
Ayah Marvel masuk kembali ke dalam mobil dengan tatapan yang belum move on dari Binar.
Begitu juga Bianca, gadis itu terus menatap Binar dengan tatapan penuh arti.
Ninja Hatori?
Sunny juga menyebut mmy seperti Ninja Hatori..
Bahkan aunty Numapun...
Flashback on..
White base tujuh tahun yang lalu.
" Bun, bunda pakai jilbab juga dan masih terlihat wajahnya. Tapi kenapa aunty Azura dan aunty Numa seperti itu?" Tanya Sunny pada bundanya yang sedang memasak di dapur bersama aunty Azura, aunty Hana dan mommy Ara.
" Seperti apa?" Sahut Bianca yang ikut mengaduk adonan kue.
" Seperti..." Sunny ragu-ragu menjawabnya, matanya melirik pada aunty Azura dan Uncle Briannya yang juga ada di dapur.
" He..he..he..." Sunny malah tertawa tanpa menjawab, tanganya mengusap-usap tengkuknya.
" Apa sih, gaje deh!!" Seru Bianca.
Sunny maju mendekat pada telinga Bianca dan membisikan sesuatu.
" Apa!! Jahat kamu. Mmy...Sunny bilang mmy dan aunty Numa mirip Ninja Hatori..." Adu Bianca pada mmy nya.
Sementara Sunny dengan cepat melarikan diri kabur dari dapur.
Uncle Brian tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah keponakan tersayangnya itu.
Sunny itu perpaduan lengkap antara dirinya dan ayah Marvel.
Wajah Sunny tegas seperti ayah Marvel, tapi hatinya lembut seperti uncle Brian.
__ADS_1
Sedangkan Shine itu duplikat bunda Dian secara utuh.
Flashback off.