
Tiga hari sudah Sunny bolak-balik ke rumah Shanum, tapi rumah itu tetap sepi, gelap tanpa penghuni. Hatinya hancur tak terperi lagi rasanya. Inilah definisi ambyar yang sesungguhnya.
Sunny mengusap wajahnya kasar, pusing dan penat, resah, gelisah, risau, galau semua rasa bercampur aduk tak tahu lagi untuk diungkapkan.
Pemuda itu terduduk lesu di tepi jalan begitu saja.
Inikah akhirnya?
Seperti inikah..
Seperti inikan akhir kisah kita Shan...
" Akkkhhhhh" Sunny meninju-ninju dinding trotoar dengan membabi-buta.
Setiap hari yang dilakukannya hanya menunggu, menunggu di depan rumah Shanum seperti orang gila. Bahkan tak sesuap nasi pun masuk keperutnya sejak tiga hari ini.
Dia akan berjalan kaki disubuh hari menuju rumah Shanum, lalu akan berdiam diri disana sampai sore menjelang.
Papa Sanjaya dan yang lain tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi Roy dan Alexandria mau tidak mau juga harus berangkat ke Jogja untuk tes tulis di UGM. Sedangkan Arnov juga sudah berada di pelatihan sepulang acara kelulusan waktu itu.
Beberapa kali sebenarnya Ayu menemaninya, tapi karena fikiran Sunny yang tidak pada tempatnya, Sunny tidak bisa diajak bicara dengan baik-baik. Dan Ayupun tidak bisa membantu dan berbuat apa-apa.
" Kamu kemana babe?, tolong baca pesanku...please...." Sunny menatap ponselnya yang telah hancur karena emosinya pada Lyra beberapa hari lalu.
" Babe, I'm sorry..please come back for me..." Sunny mengusap matanya yang memerah.
Pesan-pesan yang dikirim tak satupun dibaca oleh Shanum. Seolah-olah gadis itu tidak perduli sama sekali.
Tiga hari lalu sepulang dari acara kelulusan, Sunny mengamuk dirumahnya. Tidak ada lagi wajah manis Binar yang mereka kenal dulu. Yang ada hanya iblis Buana yang sedang murka!.
Hari itu juga untuk pertama kalinya seorang Sunny memukul perempuan. Lyra dan Crystal akhirnya mendapatkan tamparan yang akan terus membekas di pipi mereka untuk beberapa hari.
Emosinya sudah ditahap yang tidak bisa ia kendalikan. Bahkan kamar Lyra bagaikan kapal pecah karena amukan Sunny hari itu.
Beberapa saat setelah mobil papa Vino meninggalkan gerbang sekolah waktu itu, Shanum mengirimkan foto-foto kebersamaan Binar dengan para cewek dan beberapa tante-tante pada Binar.
Semua gambar itu didapatkan Shanum dari nomor ponsel Crystal dan Lyra.
Bisa dimaklumi jika Shanum seemosi itu. Pemicunya jelas tidak sebatas ucapan Crystal saja, tapi bukti menunjukkan segalanya, sesaat setelah itu ponsel Shanum sama sekali tidak bisa dihubungi sampai sekarang.
Seperti hari-hari yang lalu, Sunny akan pulang saat hari sudah mulai gelap. Tiga hari ini dia luntang lantung dijalan seperti orang stress. Kadang-kadang dia menangis didepan toko. Kadang dia meringkuk di tangga, dan kadang berbaring terlentang di tengah jalan. Kehilangan Shanum bagaikan kehilangan pijakan. Tubuhnya serasa hanya daging tanpa tulang...rapuh..lumpuh.
Hidup Sunny seakan-akan telah berakhir. Dia hidup, tapi tak bernyawa. Semangat hidupnya hilang, Cahayanya telah padam. Hidup Sunny kembali gelap.
...***...
" Sunny makan dulu nak...sudah berapa hari ini kamu tidak makan..." Papa menepuk-nepuk punggung Sunny yang meringkuk di bawah tempat tidurnya.
" Belum lapar pah..." Jawabnya lemah.
" Kita percepat saja ke Jakartanya nak.. Kita buka lembaran baru disana..lupakan semua yang disini, om Haris juga sudah mendapatkan rumahnya...." Papa Sanjaya mengusap punggung Sunny yang kini menelungkupkan wajahnya di pangkuan papa Sanjaya.
" Tidak pah..., Aku harus meluruskan ini terlebih dulu.." Ucapnya lirih.
Tidak makan tiga hari pasti berpengaruh bagi fisiknya.
Test yang seharusnya diikutinya dari Universitas uncle Rangga bahkan dilewatkanya begitu saja.
Apalagi setiap matanya menatap baju yang tergantung rapi di balik pintu, baju couple yang seharusnya dipakainya di pesta kelulusan bersama Shanum tidak jadi terpakai. Saat ini hatinya benar-benar terasa remuk dan hancur berkeping-keping.
" Sunny akan kerumahnya lagi pah, barangkali dia sudah pulang..." Ucap Sunny dengan kembali duduk.
__ADS_1
Tenaganya benar-benar terkuras untuk berjalan ke rumah Shanum yang lumayan jauh.
" Makanlah dulu nak.., kau perlu tenaga untuk memperjuangkan Shanum kan..?"
Aivy datang dengan membawakan sepiring nasi.
" Sini biar Aivy suapin kakak..." Ucap Aivy pelan.
Kemarin gadis itu baru tahu bahwa sosok pemuda yang dianggapnya sebagai kakak ini adalah orang lain. Sampai hari inipun matanya masih bengkak karena menangis, tidak menyangka saja ternyata orang sebaik itu bukan kakak kandungnya, dan yang lebih menyakitkan dia harus menerima kenyataan bahwa kakak kandungnya yang asli justru telah meninggal tanpa diketahuinya.
Seperti tiga hari yang lalu, Sunny menyusuri jalanan menuju rumah Shanum dengan berjalan kaki, motor dan barang-barang pemberian Crystal semua telah ia kembalikan. Bahkan tabunganya harus terkuras untuk menutup mulut busuk mereka yang terus-terusan mengungkit-ungkit pemberian-pemberian yang lainya.
Tak pernah terbayangkan akan seperti ini jadinya. Bahkan saat bekerja di cafepun Sunny hanya bisa membawakan lagu-lagu mellow dan patah hati.
Langkahnya yang lemah menjadi bersemangat lagi saat dari kejauhan nampak rumah Shanum terlihat terang. Lampu-lampu dirumah itu menyala, menandakan adanya penghuni.
Sunny bergegas berlarian untuk mempercepat langkahnya, hatinya bungah seketika.
Tok..tok..tok...
Sunny mengetuk pintu dengan tidak sabar.
Cekrek...
Pintu terbuka dari dalam, seorang anak lelaki berusia dua belasan muncul dari balik pintu.
" Cari siapa kak?" Tanyanya.
" Sha Shanum ada...?" Jawab Sunny cepat.
" Oh...kak Sha langsung ke Jakarta, beberapa hari ini dia harus pendalaman bahasa dikedutaan dan minggu depan sudah harus berangkat ke Oxford." Jawab anak lelaki itu dengan mata terus menatap Sunny penuh selidik.
" Oxford?, tidak jadi Boston University?"
" Tidak jadi, kak Sha mengikuti dimana brothy Shinne kuliah..." Jawab Saka.
" Sunny..." Jawab Sunny tegas.
Anak lelaki itu terlihat kaget dan mundur beberapa langkah. Dia tidak ingat wajah brothy Sunnynya yang dahulu. Tapi memang sih pemuda di depanya ini mirip dengan brothy Shinee.
" Kamu sendiri siapa?" Tanya Sunny balik.
" Saka, Saka Vino Malik..." Jawab Saka masih menatap Sunny seperti melihat hantu.
" Om atau tante ada?" Sunny melongok melihat ke dalam rumah.
" Mereka masih di Malang, mungkin setelah 40hari peringatan kematian kakek buyut, mereka baru balik ke sini" Jawab Saka.
" Kapan kakakmu kembali?" Sunny mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, rindu begitu sakit meremat hatinya.
" Nggak tahu, kak Sha nggak bilang..." Sahut Saka.
" Masuk yuk kak..." Ajak Saka ramah.
Sunny mengangguk dan ikut masuk. Mereka duduk diruang keluarga dan berbincang-bincang ringan. Lebih pada Saka yang bercerita tentang pengalamannya tinggal di pesantren selama enam tahun ini.
" Trus setelah ini kamu sekolah dimana?" Tanya Sunny.
" Ke Bandung, di pesantren barengan Almeer dan Almaeera" Jawab Saka.
" Mmm, Saka...boleh kakak pinjam ponsel kamu..." Ucap Sunny.
" Kakakmu tidak mau mengangkat panggilanku, kakak pingin bicara dengan kakakmu, ada yang mesti kakak luruskan.." Lanjutnya.
" Oh boleh, bentar..." Saka berlari kecil ke dalam kamarnya dan tidak lama kembali dengan membawa ponsel ditangannya.
" Nih..., kakak masuk aja di kamar itu biar nyaman, Saka buatin minum dulu ya..."
Saka melangkah ke dapur, sementara Sunny memasuki kamar Shinne.
__ADS_1
Sunny menimang ponsel Saka beberapa saat lamanya, sebelum benar-benar yakin untuk melakukan panggilan.
" Assalamualaikum Saka?, ada apa dek? Semua oke kan?" Suara Shanum bagai air telaga yang menyejukkan musyafir yang kering kerontang karena dahaga.
" Ini aku babe" Ucap Sunny cepat.
" Bin?, kenapa bisa ada ponsel Saka dikamu?"
" Karena aku ingin bicara denganmu..."
" Sudahlah Bin..., semua sudah selesai" Sahut Shanum.
" No! you're my mine. Since the past until the end. Go wherever you want, but you will always back to me..." Ucap Sunny tegas.
" Buka pesanku dan bacalah babe please...." Lanjut Sunny lagi saat tidak ada lagi jawaban dari Shanum.
" Shan...Shanum....Princess???"
Shanum menutup mulutnya dengan telapak tanganya. Sudah cukup!!, tidak ada lagi Binar dihidupnya. Mungkin beginilah akhirnya.
Diapun sama hancurnya. Hatinya juga sakit dengan semua ini. Tapi mungkin ini yang terbaik, toh mereka juga akhirnya harus berpisah.
Terang saja dia cemburu sampai emosi begitu, karena cintanya sudah sangat besar pada Binar.
Shanum sampai hari ini juga bingung, kenapa dia begitu cepat bisa melupakan Sunny semenjak hadirnya Binar dihidupnya.
Padahal hampir tujuh tahun ini hatinya begitu kukuh menggenggam nama Sunny. Tapi seorang Binar, hanya perlu waktu dua bulan saja untuk menggeser nama itu perlahan-lahan.
Awalnya Shanum tidak percaya dengan foto-foto teror macam itu, sesaat sebelum berangkat ke Putra Bangsa foto-foto itu gencar dikirimkan oleh dua nomor.
Tapi setelah melihat keberadaan Crystal didepan matanya. Entah kenapa cemburunya begitu mendominasi akal sehatnya. Dan tak mampu lagi untuk berfikir jernih saat itu.
Beberapa hari inipun Shanum hanya mengurung diri dikamar, menyesali keputusanya membuka hatinya untuk Binar.
Mungkin inilah karmanya karena tidak setia pada cinta pertamanya, Sunny.
Shanum kembali menata hatinya, kembali membesarkan cintanya pada Sunny. Kembali berjalan dijalannya kembali, ke satu cintanya Sunny.
" Selamat tinggal Binar...." Ucap Shanum lirih.
" No!, don't say that..." Seru Sunny dengan dada yang begitu sesak saat Shanum langsung menutup panggilannya.
Please princess..., just try to know me...i'm your Sunny...i'm Sunny...
Malam itu juga Sunny mengajak papa Sanjaya untuk segera berkemas ke Jakarta.
" Rumah yang akan kita tempati sangat sederhana nak, apa kau setuju.." Tanya papa Sanjaya.
" Dimanapun itu asal bersamamu dan Aivy, aku tidak masalah..." Jawab Sunny.
" Papa sudah menitipkan nomor rekening kamu pada teman papa, jika sewaktu-waktu rumah ini terjual akan langsung ditransfer kesitu.."
" Ya, dan papa juga bisa langsung operasi, aku dengar dari Saka. Ayah dan Shinne sudah berada di pesawat menuju ke sini." Ucap Sunny sendu, ada ketakutan yang teramat sangat mencengkeram hatinya.
Takut dia tidak bisa menjaga emosinya saat bertemu ayah dan saudara kembarnya nanti. Kalau kemarin-kemarin dia bisa bersikap biasa saja itu karena dia belum tahu akan hubungan mereka, tapi sekarang setelah tahu...
Apakah dia bisa menahan diri??
Dan jika itu terjadi, apa mereka akan percaya?..
Sementara beberapa hari ini ingatannya sama sekali tidak menunjukkan perkembangannya.
Malah harus memikirkan hubunganya yang berantakan seperti ini.
Tidak!!, sampai kapanpun kau tidak akan kulepaskan princess.
Pergilah sesaat jika kau bosan padaku, tapi suatu saat aku akan menarikmu kembali...
Shanum hanya untuk Sunny...
__ADS_1