BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Keblangsakan Sunny.


__ADS_3

"Emmhhh, sepertinya...dua benda itu agak lebih besar dari yang kemarin, ahhhh rupanya dia semakin tumbuh setelah pijatanku kemarin..." Bisik Sunny nakal.


Shanum yang kurang paham dengan maksud Sunny hanya bisa menoleh dan menaikkan alisnya bingung.


" Apa?" Tanya Shanum polos.


" Itu...." Tunjuk Sunny pada kedua bulatan di dada Shanum.


Jawaban Sunny yang santai itu kini justru semakin membuat Shanum bertambah emosi.


" SUNNYYYYY!!!!!"


Bugh...bughh...bughh..


Lagi, timpukan bantal benar-benar menghujam tubuhnya bertubi-tubi.


Tapi bukanya marah atau apa lah, Sunny justru tertawa terbahak-bahak.


" A ha..ha..ha...ampun Shan, ampun...ha...ha...ha..."


Sunny menangkap bantal di tangan Shanum berserta Shanumnya sekaligus.


" Sudah sayang, ampun...ampun sayang please....." Bisik Sunny.


Lalu mengunci pergerakan Shanum yang masih terus berontak.


Dilemparkanya bantal itu ke sembarang tempat dan segera menarik Shanum dalam pelukanya.


" Maafkan aku Shan...maaf...." Bisiknya dengan semakin mempererat pelukanya.


" Saat itu aku emosi sayang, aku sakit hati kau ingin memutuskan aku sayang, aku nggak terima..... Apalagi kau bilang tidak pernah mencintaiku..... Aku gelap mata Sha....maaf....aku mohon maaf....."


Cup..cup..cup...


Sunny mengecupi pucuk kepala Shanum berulang-ulang. Berharap bisa meluruhkan kekesalan Shanum.


" Aku tidak berniat untuk melecehkan kamu Shanum, aku hanya tidak kerima kau tidak mencintaiku, itu sangat sakit untukku..., maaf sayang, maaf ya.., please..." Rayu Sunny


Shanum akhirnya kembali tenang, tapi jantungnya tidak, justru semakin heboh tak karuan.


Memang sudah sangat sering mereka berpelukan seperti ini saat Sunny masih menjadi Binar.


Tapi ini beda, ini Sunny yang dicintainya sampai mengalahkan logikanya selama ini, ini adalah Sunnynya.


Sunny yang selalu ada di mimpinnya, Sunny yang terus ditunggui kedatanganya.


Sunny yang mendebarkan hatinya sejak usia belianya. Sunny yang menawarkan cinta monyetnya, Sunny yang membuat tatto hena ditangannya. Dan ya....


Sunny itu kini berada di depanya, memeluknya, Sunnynya yang juga adalah Binarnya.


Orang yang sama dengan dua nama, dan sama-sama begitu dicintainya.


" Kau tahu Shan..... Aku bersyukur, kaulah orangnya. Kau yang membuatku jatuh cinta di masa remajaku sekarang ini adalah tunanganku sendiri, gadis yang menjadi pacarku di masa kecil..." Bisik Sunny.


" Cintaku tahu, dimana dia harus pulang, hatiku tahu kalau rasaku akan tetap kamu..." Kali ini Sunny tidak hanya berbisik.


Sunny yang nakal tentu tetap mencari-cari kesempatan di dalam kesempitan.


Sembari berbisik, dia juga melancarkan aksinya, dengan nakal pemuda itu mengunyah telinga Shanum dengan lembut.


" Akkhhhh..." Jerit Shanum terjingkat kaget


" Lepasin ihhh, nakal kamu mah..." Elak gadis itu dengan cepat-cepat melarikan diri dari pelukan Sunny.


Shanum merinding luar biasa, bahkan bulu kuduknya berdiri semua. Shanum menggosok-gosok kedua lengannya demi mengurangi rasa asing yang menjalari tubuhnya, dan menjauhi tunangannya itu sejauhnya, Sunny berbahaya.


Tapi Sunny justru semakin tersenyum nakal, melihat reaksi gadisnya yang imut seperti itu membuatnya begitu gemas.


" Sini, kenapa menjauh?, kamu nggak kangen gitu sama Sunnymu ini....?" Panggilnya pada Shanum yang kini berdiri disudut kamar.


" Nggak, nggak mau..." Shanum terus menggelengkan kepalanya.


" Sini sayang..., atau mau aku yang kesitu..." Ancam Sunny dengan mulai beranjak berdiri.


" Nggak disitu saja!!, awas jangan maju!!" Teriak Shanum sedikit cemas.

__ADS_1


" Aha ha...ha..ha.., heyy kau itu kenapa sayang? Ya ampun Tuhan, kenapa Engkau merubah Shanumku menjadi kucing yang imut begini Tuhan! Kan makin gemesin, pen gue uyel-uyel kan jadinya..." Lanjut Sunny.


" Kucing! Kucing! Siapa yang kucing" Shanum menyolot keras.


" Kan kamu kucingnya, kucing imut yang penakut.." Sahut Sanny masih meladeni kemarahan Shanum.


" Penakut?, siapa? Aku?, sini kalau berani!!" Tentang Shanum kesal, pantang bagi Shanum di sebut penakut.


Sunny menyeringai dan langsung maju, tapi rupanya Shanum lebih gesit, gadis itu mengelak kesana kemari saat Sunny berusaha menangkapnya. Mereka terlihat bagai Tom and Jerry yang kejar-kejaran kesana kemari.


" Ohooo, kamu mau main-main denganku princess? Kucing nakalku?, lihat saja kalau tertangkap nanti!!" Seringaian Sunny di bibirnya membuat Shanum menelan ludahnya kasar.


Dan hupp...


" Weee, nggak kena!!" Seru Shanum saat mampu berkelit.


Tapi Sunny si blangsak tidak kekurangan ide untuk ngerjain Shanum, bibirnya tersenyum miring.


" Jangan lari-lari sayang! nanti dua buah kesayanganku itu jatuh gimana?" Seru Sunny.


Shanum melotot kaget dan syok akan omongan Sunny yang luar biasa vulgar itu.


Tepp!! Grebb...


" Yeee, ketangkep!!"


Benar saja, saat Shanum masih terpaku karena ucapan absurd Sunny.


Sunny dengan cepat melompat dan menyambar tubuh Shanum dan lalu...


Bugghhh....


Tubuh mereka berdua terlempar di sofa depan jendela.


Sunny mengunci tubuh Shanum di bawah kungkungannya.


Mereka saling tatap, ada rindu yang meledak-ledak dihati keduanya, rindu yang begitu dalam, membuat detak jantung mereka berpacu dengan tak beraturan.


" Shanum....Shanum Cahaya Nilam, Shanumku..." Bisik Sunny lirih.


" Emmhhh, I..ini...telalu dekat Sunn...." Shanum merasa cemas, berdekatan dengan Sunny saat ini begitu membahayakan baginya.


"I miss you so much princess...., and I...I...." Sunny tak mampu meneruskan ucapannya, yang ada dia justru menggigiti bibirnya sendiri dengan geram. Matanya tajam menatap bibir Shanum.


Sunny memang brengsek, tapi Sunny tetap gentlemen yang tidak akan mencium Shanum jika Shanum tidak mau.


Ya tentu terkecuali saat malam itu, malam dimana emosi membutakan prinsip-prinsip dan akal sehatnya.


" Boleh?" Bisiknya memohon ijin.


Hembusan nafasnya menerpa wajah Shanum, menghangatkan ruang rindunya.


Shanum tak menjawab, tapi kedua tangannya justru bergerak menyusup ke kulit kepala Sunny, meremas rambut pemuda itu perlahan dan sedikit demi sedikit menekannya untuk turun mendekati wajahnya.


Cup...


Shanum mempertaruhkan harga dirinya sekarang, hilang sudah jaim-jaimnya selama ini. Lagian buat apa?


Pemuda ini adalah cintanya. Dia adalah Sunnynya, tidak perlu lagi jaga imej.


Dil*matnya perlahan-lahan bibir Sunny yang tebal dan indah dimatanya selama ini dengan mata terpejam.


Shanum mengikuti naluriahnya saja, dia mempraktekkan apa yang diperbuat Sunny malam itu.


Rasa indah yang membuat keduanya seakan terbang melayang-layang. Rasa yang melenakan, rasa yang semakin memacu jantung mereka untuk semakin menggila.


" Emmhhh..hah...hah...hah..." Deru nafas Sunny begitu memburu, dia memejamkan matanya menikmati ciuman Shanum yang luar biasa manisnya.


" Sunny....Sunny....Sunnyku...." Shanum terus meracau saat kini giliran Sunny mengeksekusi bibirnya...


" Emmhhhmmm....emmhhmmm" Mereka berdua larut dalam rasa rindu yang dalam, decapan dan sesapan terus menggema diruangan itu sampai suara ponsel di jas Sunny mengehentikan aktivitas panas dua sejoli itu.


" Sebentar sayang...." Sunny menghentikan keberingasannya dengan kesal. Diusapnya bibir Shanum yang bengkak dan memerah basah dengan jari jempolnya. Sebelum mengeluarkan ponselnya, Sunny mengecup kening Shanum dan menariknya dalam dekapannya.


" Ya Shinee?" Jawab Sunny.

__ADS_1


" ................"


" Aku masih bersama Shanum.."


"..............."


" Memangnya kau tidak bisa menggantikan aku?"


"............."


" Isshhhh!!!, kau tega sekali Shinee!, aku masih kangen-kangenan ini!"


".............."


" Akkhh!!!, Iya! Iya! Aku kesana..."


Sunny menutup secara sepihak panggilan Shinee, lalu melemparkan ponselnya ke meja sofa dengan kesal.


" Kenapa?" Tanya Shanum lembut.


Sunny menoleh melihat tampilan Shanum yang acak-acakan karena ulahnya. Gadis itu tak menyadari penampilannya sekarang, lehernya memerah bekas kenakalan Sunny barusan.


" Sebelum kamu berangkat ke Boston dan aku ke Inggris, kita menikah dulu saja bagaimana menurutmu?" Tanya Sunny dengan wajah serius.


" No!! Big No!! Sunn, dahulu keluarga kita sudah sepakat. Kita harus menjadi yang kita cita-citakan dahulu baru memikirkan pernikahan.."


" Tapi aku---"


" Kita masih piyik Sunn, umurku juga baru delapan belas, dan kamu sembilan belas. Aku tidak mau mempunyai anak diusia belasan seperti mamaku. Aku tidak mau menelantarkan anakku karena ketidak tahuanku seperti mamaku Sunn..." Shanum berbicara sambil merapikan jas Sunny yang berantakan. Wajah Sunny terlihat kecewa mendengar jawaban Shanum.


Masih sangat jelas diingatan Shanum, bagaimana reaksi mamanya yang hanya diam saja saat melihat Saga menangis, untung ada mommy Ara. Dan dalam dua kali melahirkan mamanya terus saja mengalami baby blues syndrome.


Itu semua karena mamanya mengalami hal-hal buruk yang berkaitan dengan kehamilannya. Mama diusir keluarganya setelah ketahuan menjalin hubungan dengan papanya, yang adalah kakak angkat mamanya sendiri.


Keluar dari rumah di usia yang masih lima belas tahun, dan harus melahirkan dirinya diusia enam belas tahun. Shanum bergidik ngeri membayangkan nasibnya jika harus seperti mamanya.


" Tapi kita bisa menikah dulu. Dan jika yang kamu takutkan adalah hamil, maka aku bisa pastikan untuk tidak membuatmu hamil Shan. Kau masih bisa melanjutkan sekolahmu, kau masih bisa mengejar cita-citamu, kita masih bisa melakukan apapun yang kita mau tanpa ada beban anak. Pengaman sudah sangat banyak macamnya Shan...apa yang kau risaukan.." Ucap Sunny berusaha meyakinkan Shanum.


Shanum menatap Sunny yang kini memangkunya itu dengan tatapan tajam.


" Memang benar, tapi aku tetap belum siap...." Jawab Shanum pelan.


" Kenapa, apanya?. Menikah enak kok yang.....kita bisa kelonan tiap har---"


" Sunny!!! Seriusan dong!! Apa yang ada di otakmu itu hanya ****?, kau ingin cepat-cepat menikahiku hanya untuk tujuan menghalalkan itu ya?" Tanya Shanum penuh penekanan.


Gadis itu heran saja, semenjak si Binar ini kembali menjadi Sunny kok blangsaknya kembali juga.


" Apa yang terlihat dariku seperti itu yang?" Ucap Sunny sedih.


" Iya...." Sahut Shanum cepat.


" Hhhhh, aku harus gimana? Setiap didekatmu rasanya selalu ingin menerkam. Aku nggak tahu ini wajar atau enggak, tapi ini kenyataan Shan. Dan itu cuma sama kamu doang kaya gini...aneh kan?" Curhat Sunny.


Drrtt...drrtt...drrtt...


Ponselnya kembali berbunyi.


" Iisshhh!! Kalau membunuh itu nggak dosa, udah ku bunuh kamu Shinee!!" Sambar Sunny pada seseorang di seberang panggilan.



" Husst!! Ngomong kok nggak dijaga!!" Shanum menepuk pundak Sunny.


Lalu berlarian kecil menuju meja riasnya untuk mengambil sisir. Disisirinya dengan pelan rambut Sunny, lalu merapikan dasi dan jasnya yang kusut.


" Nah sana...., udah ditunggin banyak tamu.." Shanum mendorong tubuh Sunny yang sudah kembali rapi untuk keluar.


" Kamu sama siapa dikamar ini?" Tanya Sunny sebelum benar-benar keluar kamar.


" Sama Azmya, kenapa?" Tanya Shanum balik.


" Nggak papa sih..." Ucap Sunny penuh misteri.


Lagi-lagi terlihat senyum miringnya yang penuh teka-teki. Kalau sudah begitu bisa dipastikan, Sunny sedang merencanakan sesuatu.

__ADS_1


" Yakin nggak mau ikut?" Tanyanya sambil menoleh menatap Shanum sekali lagi untuk memastikan.


" Nggak Sunn. Boston menungguku...dan aku harus berlari kencang kesana..."


__ADS_2