BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Tatto..


__ADS_3

Almeer terus merengut walau saat ini mereka sudah kembali berada di WB.


" Kenapa dek?" Tanya Shanum saat berpapasan di ruang keluarga.


Almeer baru akan membuka mulutnya, tapi saat ingat pesan brothynya untuk diam terlebih dahulu akhirnya Almeer kembali menutup mulutnya.


" Ahh, nggak papa Sha, Almeer hanya pengen balon yang dijual oleh badut dilampu merah tadi" Sahut Shinee sambil tertawa kecil. Pemuda itu jelas tahu bahwa Almeer cemburu pada Arnov sejak tadi.


" Nggak ada ya!!, balon apa!! Dikira aku bocil apa??" Seru Almeer kesal dan cepat-cepat berlari ke arah kamarnya.


Shinee menggelengkan kepalanya saat melihat ulah Almeer.


" Gue kayak nggak yakin dengan test hari ini Shinee, gue nggak fokus.." Ucap Shanum sambil berjalan beriringan menuju sofa kosong di ruang keluarga.


" Mending lo cuma nggak fokus dan gue malah lupa kalau hari ini ada test!!" Sahut Shinee sambil membanting tubuhnya duduk disofa, disamping Saga.


" Memangnya apa yang ada difikiran lo sampai-sampai lo lupa jadwal test.." Tanya Shanum heran dan ikut duduk disamping pemuda itu.


Shinee menoleh kearah wajah Shanum, menatapnya intens, berusaha mengukir raut wajah ini sebelum nantinya berubah saat mendengar jawabannya.


" Shinee, kok lo bisa lupa!, lo ngapain aja sih!!" Seru Shanum lagi, karena belum mendapatkan jawaban Shinee, dan malah menatapnya seperti ini.


" Brotherku.., brother Sunny sudah ketemu. Dia sedang dalam perawatan saat ini, mungkin lusa akan pulang..." Ucap Shinee sambil terus menatap Shanum tajam, meneliti reaksi gadis itu.


Dan yang dilihat oleh Shinee adalah wajah pias Shanum, wajah gadis itu nampak berubah putih seputih kapas. Gadis itu terlihat menciut kecut, pucat pasi dan cemas.


" Di...dia..su..sudah...ketemu?" Ucapnya terbata-bata, wajahnya terlihat begitu pias tak ada raut bahagia seperti yang diharapkan Shinee disana.


" Hei...kenapa? Ada apa?, kau tidak suka?" Tanya Shinee penasaran melihat gurat kecemasan di wajah Shanum.


" A..a..aku, aku malu Shinee, apa masih pantas kami meneruskan hubungan ini. Aku telah menghianati brothermu Shinee.." Ucap Shanum sendu, wajahnya tertunduk dalam.


Sementara Shinee malah tertawa terbahak-bahak tanpa suara.


Kau menghianati tunanganmu dengan kekasihmu sendiri..


Kalian hebat, kemanapun brothy dan kau berada maka disitulah ada kisah cinta...


Cinta?


Siapa yang ku cintai?


Nadia? Tidak!!, dia bahkan menolakku sebelum dia mengetahui perasaanku..


Ayu? Tidak!!, tidak ada rasa apapun dihatiku untuknya...


" Shinee katakan padaku?, bagaimana aku harus bersikap pada brothy mu itu?, aku malu Shinee..." Rengek Shanum yang justru semakin membuat Shinee ingin tertawa.


" Nah kalau itu gue nggak mau ikut campur deh..., dan itu derita lo.." Sahut Shinee masih dengan mengigit lidahnya menahan tawanya yang semakin membuatnya geli.


" Lalu kau sendiri bro?, kapan kenalin cewek lo ke kita?" Suara Bianca dan jeweran ditelinganya membuat Shinee menoleh.


" Auuuu, sister!!. Ini sakit!!" Teriak Shinee dengan menggosok telinganya yang panas akibat ulah Bianca barusan.


" Sist hanya pengen tahu mana pacarmu?, ini udah lulus SMU masih juga nggak punya gebetan, sia-sia aja kegantengan kamu Shinee"


" Ada!!, namanya... ..." Shinee menggantung ucapannya.


Almaeera dan Almaureen terlihat langsung menoleh menatap Shinee dengan tatapan yang tidak terbaca. Sepertinya kedua gadis itu juga sangat ingin mendengar jawaban Shinee.


Saga melihat itu, sudah sangat sering dia mendengar bahwa Meera selalu memuji-muji Shinee yang dewasalah, yang ganteng lah. Dan kali ini akhirnya dia melihatnya sendiri, tatapan Almaeera terlihat sangat memuja Shinee. Ada yang menjalar seperti virus kesal dalam hatinya.

__ADS_1


Rupanya tak hanya dia, Rayden juga terlihat kesal melihat Maureen yang selalu terkesima setiap manatap Shinee.


" Kenapa hanya brothy Shinee yang terlihat bersinar dirumah ini. Besok gue akan minta ayah mengganti namaku..." Desis Rayden ditelinga Luigi


" Lo emang mau ganti nama apa, ya emang Shinee itu artinya bersinar kenapa elo sewot?" Sahut Luigi.


" Pokoknya yang lebih bersinar dari brothy..." Balas Rayden.


Luigi terlihat menepuk-nepuk keningnya untuk berfikir dan tak berapa lama pria kecil itu menjentikkan jarinya tanda telah mendapatkan ide.


" Aha gue tahu yang bersinar selain Shinee. Dan itu adalah Bright..." Seru Luigi.


" Bright!!, Bright Vacirawit maksud lo!!, nah itu sih bokap lo dodol!!!" Sentak Rayden sambil menggeplak pundak Luigi geram.


" Hey!!, kalian berdua kenapa bisik-bisik??" Sembur Bianca.


Rayden terlihat melengos saat melihat mata kakak tertuanya itu menatapnya.


" Yaelah sist!! masak iya ngomongin rahasia keceng-kenceng.." Sahutnya jutek.


" Yaelah bro!!, bocil kaya kalian ngomongin rahasia apaan memangnya?" Bianca semakin penasaran.


" Namanya juga rahasia sist, ya nggak harus dibilang lah..." Ucap Rayden kesel dan langsung menarik Luigi untuk pergi ke kamar menemui Almeer.


" Tuh semua adik langsung kabur tiap kak Bian nongol" Gumam Saga.


" Iya, habis killer banget dia mah " Sahut Saka.


" Apa!! Siapa yang killer!!" Bentak Bianca pada Saka dan Saga.


" Entahlah siapa tadi yang killer dek?, oh iya..Coach basket kamu ya kan dek..., main PS aja yuk..." Saga segera membuat alibi untuk bisa menghindari interogasi dari Bianca. Saga langsung merangkul adiknya dan ikut menyusul Rayden dan Luigi menaiki tangga.


Jadi Bianca ini memiliki watak yang paling komplit, jika gadis bercadar umumnya lemah lembut dan berperangai halus maka itu tidak ada pada dirinya.


...****...


Kembali ke Sunny.


Setelah Aivy dan sahabat-sahabatnya pulang, Sunny berusaha meyakinkan keadaan papanya dengan menelepon sahabat-sahabatnya yang menginap dirumah sederhana mereka.


" Hallo brey.., gue udah ada dirumah lo sekarang, Arnov, Ayu dan Aivy sedang keluar beli panci untuk ganti korban keganasan Alexandria tadi pag----- Auuhh yang sakit!!!" Ucap Roy yang diakhiri dengan jeritan karena cubitan pedas Alexandria mendarat di perutnya.


Sunny tertawa terkikik-kikik mendengar keributan keduanya yang lucu. Sunny sangat rindu Shanum saat ini. Tapi dia harus bersabar, lusa dia akan bertemu dengan kekasihnya dengan status lama tapi terkesan baru.


" Papaku sudah datang Roy?" Tanya Sunny.


" Belum, katanya sih satu jam lagi.." Sahut Roy dari seberang.


" Oh ya udah, ntar gue hubungin lo lagi deh..., bye Roy.."


" Oke brey...bye.." Sambar Roy cepat.


Sunny menimang-nimang ponselnya sesaat. Dibukanya galerinya dan kembali menatapi foto-fotonya bersama Shanum.


" Jadi kamu pacaran dengan tunanganmu sendiri selama ini?" Tanya bunda sambil mengelus rambut Sunny.


" Iihhh so sweet banget kalian..." Lanjut bunda yang semakin membuat Sunny malu. Tangan wanita itu mengambil alih ponsel Sunny dan menggulir foto-foto kebersamaan mereka.


Bunda tampak tersenyum saat banyak sekali foto selfi mereka saat berciuman di pipi.


__ADS_1


" Iiihh, kamu nggak berubah rupanya, masih suka nyosor aja..." Ucap bunda dengan sedikit tertawa.


Sunny semakin malu dan menyembunyikan wajahnya diperut bunda nya.


" Jadi gimana kelanjutannya son, kapan kamu bilang ke Shanum kalau kamu Sunny?, kasihan dia nak... Diantara kita semua hanya dia yang belum tahu.." Bunda Dian terampil mengobati luka-luka Sunny dengan pelan dan penuh kasih.


" Tidak lama lagi bun, besok kita pulang saja bun. Sunny akan mengaku padanya"


Kepulangan Sunny akhirnya dipercepat karena keadaan Sunny juga cepat membaik. Perawatan bisa dilakukan dirumah.


Bunda Dian menatap tatto yang berada di punggung Sunny lama, beliau hanya sedikit berfikir kapan anak ini membuatnya.


" Kapan kau membuat ini?" Tanyanya.


Sunny sedikit tersentak, ada rasa takut bakalan ditatar oleh orang tuanya. Jelas dia tahu larangan membuat tatto permanen, tapi tetap ia lakukan. Pemuda itu terus menunduk dalam.


" Setelah pernikahan uncle Denis" jawab Sunny lirih.


" Diusia sekecil itu, kalau tidak salah itu kamu masih sembilan tahun Sunny!!!, MasyaAllah anak ini!!" bunda Dian menepuk keningnya gemas.


" Like father like son!!" Ucap kakek Syahril dan bu Sasti yang tau-tau telah berada di depan mereka.


" Ayahnya sama saja, tattonya ada di mana-mana. Tapi bedanya Marvel membuat tatto disaat dia betul-betul belum memahami agama islam.


" Apa Shanum tahu ini?, apalagi kalau sampai kakek Syakieb tahu...bahaya!!" Bunda Dian menakut-nakuti putranya itu.


" Setahu Sunny Shanum sudah tahu..." jawab Sunny lagi.


Kakek Syahril mengusap wajah Sunny dan mengecup keningnya.


" Besok ayahmu harus melakukan nadzarnya..." Ucap kakek lagi.


" Nadzar?, ayah membuat nadzar apa?" Tanya Sunny penasaran.


" Ayahmu akan menggunduli rambutnya jika kamu masih hidup.." Kali ini bu Sasti yang menjawab.


" What!!!, apa!!, su...suamiku akan gundul!!!" Teriak bunda Dian.


Plukk


" Haduhhhh" Bunda Dian menepuk keningnya lagi pelan.


" Memangnya kenapa kalau aku gundul?" Kini ayah Marvel yang mengendap-endap dari tadi langsung melingkarkan pelukanya di perut istrinya.


" Haishhh, kamu nggak gundul aja nakal hubby, apalagi gundul.." Sahut bunda.


" Biar nakal-nakal gini yang dinakalin juga cuma kamu, lagian kamu selalu suka tiap aku naka---"


" Hussst!!, nggak tahu malu kamu by!!, ada ayah ada anak ngomongnya ngelantur!!"


Sementara yang lain tertawa terbahak-bahak, mereka tak lagi terkejut dengan setiap ucapan vulgar Marvel, karena mereka paham betul bagaimana wataknya itu.


" Son!!, sudah menghubungi Shanum kamu?, nanti kalo dia marah gimana ?" Tanya ayah dengan mendekat dan mengecup pucuk kepala putranya sekilas.



" Belum ayah, besok aja langsung bilang, paling-paling perawan uncle Vino itu ngamuk-ngamuk sebentar sih, tapi Sunny bisalah atasinnya he...he.." Jawab Sunny sambil nyengir seperti biasa.


" Kau ini sudah semakin besar masih saja usil!!, ntar Shanum merajuk gimana?, terus minta putus.." Tanya bunda Dian lagi.


" Nggak akan bun, nggak akan pernah bisa Shanum marah sama Sunny, percaya deh..." Jawab Sunny dengan percaya diri

__ADS_1


" Hahh..., terserah lah. Tapi jangan sampai menyesal nanti, awas aja sampai nangis ke bunda gara-gara di abaikan oleh Shanum seperti dulu"


" Yee bun, dulu mah Sunny belum jago merayu, kalo sekarang mah udah suhu...ha..ha..ha..."


__ADS_2