
Binar gelisah dalam tidurnya, pemuda itu terus-terusan membolak-balikkan tubuhnya.
Elusan bunda Dian di rambutnya membuatnya tidak bisa tidur.
Flashback on.
Mommy Ara yang tiba-tiba disodorin gitar oleh ayah Marvel, mau tidak mau akhirnya memetik senar gitar itu. Sementara Shine duduk di balik piano.
Bunda Dian terlihat memeluk Shanum dan membisikkan sesuatu di telinga gadis itu. Tak lama wanita cantik itu menyerahkan microphone padanya. Lalu berjalan kearah Ara dan lagi-lagi berbisik sesuatu.
Alunan lagu sendu terdengan dari nada gitar mommy Ara disusul dentingan piano oleh Shine.
Bianca dan mama Vera yang langsung paham lagu apa yang akan dinyanyikan oleh Shanum pun terlihat memalingkan wajah mereka.
Shanum terlihat menarik nafasnya dalam-dalam, mengumpulkan kesiapannya sebelum membuka suaranya.
πΆπΆπΆ
Sunny....Sunny....
Jantungku berdebar tiap ku ingat padamu
Sunny...Sunny....
Mengapa ada yang kurang saat kau tak ada
Sunny....Sunny...
Melihatmu menyentuhmu itu yang ku mau..
Kau tak sempat tanyakan aku. Cinta kah aku padamu...
Tiap kali aku berlutut, aku berdo'a. Suatu saat kau bisa cinta padaku. Tiap kali aku memanggil didalam hati.
Mana Sunny...mana Sunnyku...
Sunny...Sunny
Apa kabarmu, kabarku baik-baik saja
Sunny...Sunny
Begitu banyak cerita tak habis tentangmu
Sunny...Sunny
Salamku untukmu dari hati yang terdalam
Kau tak sempat tanyakan aku. Cintakah aku padamu
Tiap kali aku berlutut, aku berdo'a. Suatu saat kau bisa cinta padaku.Tiap kali aku memanggil didalam hati
Mana Sunny...mana Sunnyku...
πΆπΆπΆ
Tubuh Shanum bergetar dengan tangis kesedihan yang hebat.
Ayah Marvel berlari untuk memeluknya, begitupun bunda Dian. Sementara mama Vera dalam pelukan papa Vino.
Mommy Ara mendongakan kepalanya berusaha tabah.
Tak ada satupun yang tidak terenyuh dengan lagu Shanum kali ini.
Binar mengeratkan genggaman tangannya demi menekan rasa inginnya untuk berlari memeluk Shanum.
Pemuda itu gelisah seperti orang yang sedang sakaw. Giginya terus saja bergerutuk saking kuatnya dia menahan gejolak aneh yang tiba-tiba menguasai hatinya saat ini.
Berat!!, rasa sesaknya sudah dibatas yang tidak sanggup dia tahan lagi.
Langkah kakinya mengayun berjalan mendekati Shanum tanpa dapat ia kontrol lagi.
" Cahaya..." Panggilnya.
Bunda Dian dan ayah Marvel menoleh padanya. Shine sempat bercerita bahwa Shanum mulai bisa membuka hatinya, tentu ayah Marvel dan bunda Dian senang mendengar nya. Setidaknya Shanum tidak terus terbelenggu pada masa lalu.
Bunda tersenyum manis menatap mata yang jelas dia sadari sangat mirip seperti milik mata putranya.
" Titip anak gadis bunda ya boy, dia berhak bahagia..." Bunda Dian mengelus kepala Binar lembut.
Sumpah!!. Saat ini dia benar-benar merasakan yang namanya lega tingkat tertinggi, seolah sedang bernafas di hamparan yang luas...
Hatinya seakan rakus, ingin interaksi yang lebih, ingin tidak hanya elusan dikepalanya saja. Binar berperang kuat untuk menekan egonya yang ingin sekali memeluk wanita yang begitu manis di depanya ini.
" Iya tante..." Jawab Binar pelan.
__ADS_1
" Jangan panggil tante, panggil saja dia bunda dan saya ayah. Putra kami, jika masih ada pasti setinggi kamu sekarang..." Ucap ayah Marvel mengelus bahu Binar.
Flashback off.
...***...
Rombongan keluarga daddy Rangga dan ayah Marvel, pagi ini bersiap menuju bandara.
Disini Aivy dan Maureen yang terlihat tidak bisa berpisah satu sama lain.
Mereka terlihat sama-sama menangis tersedu-sedu tak ingin berpisah.
" Sudah Aivy..., jangan cengeng ahh..." Binar menenangkan adiknya yang sesenggukan karena tangis nya.
" Mobil sudah siap.." Ucap salah satu sopir yang bertugas mengantar mereka ke bandara.
Samalam Aivy tidak ikut pulang bersama Binar karena ingin tidur dengan Maureen.
Dan pagi ini Binar berniat menjemput Aivy dahulu sebelum ke sekolah.
Bolos satu, dua, atau tiga jam pelajaran sih, Binar sudah biasa.
" Lo nggak sekolah?" Tanya Shanum dari belakang tubuhnya.
" Nanti.." Jawab Binar santai.
" Hah??, nanti??" Ha..ha..ha... Kayak sekolah itu punya nenek moyang mu aja Bin..." Seloroh Shanum sambil tertawa.
Binar terlihat sedang berfikir, karena dia terdiam untuk beberapa saat.
" Yok lah gue anter.." Binar menyodorkan helmnya pada Shanum.
" Loh, katanya mau jemput Aivy?"
" Tuh dianya aja masih nangis-nangisan sama Maureen begitu, kapan kelarnya coba?" Binar menunjuk Maureen yang masih berpelukan dengan adiknya.
" Ya udah deh ayok, bentar gue titipin Aivy sama mama..dulu..."
Shanum menemui mamanya untuk menitipkan Aivy karena mereka akan berangkat sekolah. Sebelum itu Shanum menemui keluarga daddy Rangga untuk mengucapkan selamat jalan, begitu juga pada rombongan ayah Marvel.
Semalam sudah diambil keputusan bahwa pertunangan Shine dan dirinya akan digelar dua tahun lagi, atau tepatnya saat nanti usia mereka 20 tahun.
Shine juga membebaskan Shanum untuk dekat dengan siapa saja sebelum nantinya akan terikat bersamanya. Jelas sudut pandang remaja yang besar di luar dan di dalam negeri itu berbeda.
Binar ikut menyalami dua keluarga yang begitu memberinya kesan yang luar biasa beberapa hari ini.
" Boleh aku lihat wajahmu?, kau menutupnya bukan karena kau terpapar virus kan?" Ucap Bianca.
" Ha..ha.., kau sangat penasaran rupanya. Tapi aku takut!, jika aku membukanya kau akan tergila-gila padaku"
" Memangnya kenapa, kau single kan akupun begitu..." Sahut Bianca.
" Singel sih iya, tapi sayangnya lagi aku nggak selera dengan gadis yang lebih tua..." Balas Binar.
" Ck...sok tampan!!" Sambar Rasya yang berada disamping Bianca.
" Emang aku tampan, sirik lo!!" Balas Binar.
Entah kenapa dari semalam mereka bertiga terus saja berantem. Bahkan yang mengherankan mereka seakan akrab satu sama lain.
" Ayah, Sha dan Binar mau berangkat sekolah nih, they want to say goodbye to you..." Teriak Shine memanggil ayahnya yang sedang menerima telpon.
Ayah Marvel melambaikan tangannya pertanda tunggu sebentar.
" Jadi kalian tidak mau bolos aja hari ini untuk mengantar kami ke bandara?" Tanya ayah Marvel.
" Nggak uncle, kemarin udah bolos soalnya " Sahut Shanum.
" Bolos?"
" Iya yah, sama Shine juga..." Jawab Shine cepat.
Ayah Marvel menatap Binar penuh cinta, dia mempunyai keyakinan bahwa pemuda ini putranya. Cerita Shine semalam dirangkumnya begitu rupa, hingga kecurigaan mengerucut. Saat ini dia sudah menghubungi adik kembarnya, uncle Brian untuk menyelidiki ini.
" Boy, boleh ayah lihat wajahmu?. Sekali ini saja..." Ucap Marvel to the point. Matanya menatap tajam Binar.
" Putraku Shine dan Sha bilang kau begitu mirip dengan putraku, jelas aku tidak percaya bila tidak melihatnya sendiri..."
" Karena putraku sangat tampan. Dan tidak mungkin tersaingi..." Lanjut Marvel dengan tersenyum.
Semua orang tua pasti menganggap anaknya paling segala-galanya walau bagaimanapun keadaannya.
Binar mengangguk patuh, lalu perlahan-lahan melepas pengait masker yang melingkar di telinganya.
__ADS_1
Deghhh....
Ayah Marvel mundur selangkah melihat wajah Binar yang terbuka.
" Sunny..??, it is really you son?"
Binar menunduk dan menggelengkan kepalanya berulang-ulang.
" Tapi sayangnya bukan. Saya benar-benar Binar Buana Sanjaya..kalau masih belum percaya. Ini..."
Binar mengeluarkan semua berkas yang dibawanya.
Semalam dia tidak bisa tidur nyenyak. Akhirnya pemuda itu membongkar semua berkasnya, dia sendiri juga penasaran akan semua ini. Sudut kecil hatinya begitu berharap dia adalah Sunny.
Tapi saat mendapati kenyataan bahwa raport dari TK sampai SMP semua bernama Binar. Bahkan Akta Lahir dan KK juga bernama Binar. Binarpun memupuskan asa yang sempat ada dalam hatinya.
Marvel begitu bergetar membolak-balikan berkas-berkas di tangannya, begitu juga Shine.
" He's not you brother son...." Ayah menepuk pundak Shine.
" Tapi ayah....." Shine terlihat begitu kecewa berat.
" Maafkan saya jika kenyataannya mengecewakan, saya turut berduka dengan apa yang menimpa putra sulung om. Karena saya benar-benar Binar, bukan Sunny...walaupun saya ingin..." ucap Binar dengan menundukkan kepalanya semakin dalam.
" Sudahlah, ayah juga minta maaf Binar...kami membuatmu repot..." Ayah Marvel membunyikan rasa kecewanya yang dalam.
Marvel merentang tanganya, lalu menatap Binar dengan sayang.
" Boleh peluk kamu bo---"
Greb
Binar langsung menubruk tubuh kekar di depanya itu. Rasanya nyaman, rasa sejuk dan seolah terlindungi, rasa yang pernah dulu ia rasakan sebelumnya. Tapi entah itu kapan?
Rasanya sangat tidak sama, saat bersama papa Sanjaya dia tidak pernah merasakan rasa yang seperti ini.
...***...
Makasih Bin..." Ucap Shanum dengan menyodorkan helm yang ada dikepalanya pada Binar.
Mereka terlambat datang hari ini, tapi papa Vino telah memintakan ijin untuk keduanya, karena Saga juga terlambat.
Kalau Binar mah santai, sekolah dan gak sekolah juga nggak masalah.
" Nanti pulang gue jemput ya babe..." Sahut Binar dengan mengedipkan sebelah matanya.
" Dihhh....mulai deh..." Shanum menggelengkan kepalanya gemas. Senyum cantiknya begitu membuat Binar terpesona.
" Asal nggak ngerepotin lo aja..." Lanjut Shanum.
" Jelas ngga lah, andai kau minta semua waktuku pun, kuberikan semua untukmu babe..." Binar mengigit bibirnya greget.
" Dihhh, sik romantis..."
" Nggak sok babe, Binar ini memang romantis orangnya, tenang aja.... Akan gue buktikan mulai detik ini juga..." Ucap Binar lagi.
Shanum menutup mulutnya karena tidak tahan lagi untuk tidak tertawa.
" Ya udah sana, kamu juga udah telat loh..." Shanum mendorong pundak Binar.
" Hanya gitu aja ucapan terimakasih nya?" Binar kembali menoleh.
" Iya...memangnya?" Tanya Shanum bingung.
" Minta cup dong...." Ucap Binar dengan mengucupkan jemari kanan dan kirinya, lalu diadunya.
" Haiss!! Siapa lo??" Sambar Shanum dengan terkekeh geli.
" Kan gue pacar lo Cahaya Nilam, lo amnesia?"
" Bukan gue yang amnesia, lo aja yang menghalu..." Sahut Shanum lagi-lagi dengan semakin tertawa.
Teeettt...teettt
Bunyi bel pergantian pelajaran membuat keduanya saling bertatapan.
" Gue balik ya babe..." Pamit Binar.
" Ha...ha...ha kamu ini..." Shanum geli tiap kali Binar memanggilnya babe.
" Kok nggak dijawab sih babe, atau gue pindah sekolah sini aja biar kita nggak terpisah?"
" Ya ampun Binar...kamu ini manis banget..."
__ADS_1
Binar melotot mendengarnya, seandainya masker itu terbuka tentu akan nampak wajahnya yang memerah padam karena tersipu malu.