
Drrt...drrrtt...
Ponsel Lyra bergetar terus sedari tadi.
" Iya...siapa?" Sahutnya tanpa melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Sebenarnya hari sudah sangat siang, tapi dasar kebo! Gadis itu biasa saja bangun siang.
Lyra tersentak kaget saat seseorang di seberang menyebut namanya.
" Crystal?" tanya Lyra memastikan.
" Ya ini gue..."
" Apa kabar Crys...?" Sapa Lyra dengan cepat-cepat duduk bersila.
Crystal adalah sumber duitnya saat dia berada di Indonesia. Ya!!, Crystal adalah salah satu temanya yang sering 'menyewa' Binar selama ini.
" Gue lihat status adek lo!!, siapa cewek itu?" Tanya Crystal dengan sedikit membentak.
" Cewek?" Lyra bingung dan balik bertanya.
" Lo lihat status adek lo sekarang!, dan kabarin gue segera siapa cewek itu!!" Ucap Crystal, nada bicaranya terlihat begitu marah.
" Oh..oke ntar gue kabarin lo..." Balas Lyra.
Selepas berbicara dengan Crystal dan langsung mengecek status adiknya, Lyra langsung melesat keluar tanpa mencuci muka terlebih dahulu.
" Binar!! " Panggilannya.
Binar yang ada diluar menjemur papanya hanya menoleh tanpa menggubris.
" Binar! Lo budeg! Gue panggilin lo dari tadi!!" Bentak Lyra kasar dibelakang papanya.
" Jangan berisik Lyra. Ini rumah! Bukan hutan, jaga sopan santun. Kamu nantinya akan jadi menantu, bersikaplah yang lembut selayaknya perempuan.." Nasihat papa Sanjaya pada putrinya.
Tapi sang putri tidak juga peduli dan malah langsung menarik Binar.
" Ini siapa?" Tanyanya menunjukan gambar Shanum di status Binar.
" Dia pacarku! Kenapa emang?" jawab Binar tegas.
" Lo gila apa!! lo kan tahu Crystal nggak suka lo di deketin cewek!!" seru Lyra.
Binar menutup mulutnya yang ingin tertawa.
" Emang apa peduli gue, dia suka atau enggak bukan urusan gue!!" Sahut Binar.
" Tapi lo punya hutang budi padanya Binar, motor lo itu dari dia tahu!, ponsel lo juga pemberian dia!, bahkan harga diri lo juga dari dia!!"
" Kalau nggak ada dia lo udah mendekam di penjara!!"
Papa Sanjaya menatap kedua putra-putrinya ini dengan sedih.
" Ada apa ini?, cerita pada papa..."
Lyra maju kedepan papanya.
" Putra kesayanganmu ini pah, tidak semanis yang papa lihat selama ini.Dia rela dibawa-bawa cewek manapun demi sebuah motor dan sebuah HP pah. Anakmu itu!, bajingan dibalik wajahnya yang good looking itu!!" Seru Lyra.
Binar melotot tak percaya, dia hanya mengikuti perintahnya selama ini.
__ADS_1
Dulu memang dia benar-benar tidak tahu apa-apa. Dia tidak kenal siapa-siapa, jika orang yang dianggapnya dekat dan mengatakan ini itu maka dipercayainya.
Dahulu mama Ganis memintanya menemani teman-temanya jalan dan berlibur, Binar menurut hanya karena mereka teman baik mamanya.
Dan begitupun saat diajakin teman-temanya Lyra, bahkan Crystal sampai membelikannya motor, HP, PS dan yang lain-lain.
" Pah...Binar bisa jelaskan ini pah..."
Binar terduduk di lantai depan papanya.
Tuduhan Lyra begitu menyakiti hatinya, tuduhanya seolah-olah memposisikan dirinya sebagai cowok bayaran.
Dia tidak pernah minta Crystal untuk membelikanya motor, justru Lyra yang merengek-rengek kepada temanya itu. Ada atau tidaknya motor dalam hidup Binar tidaklah penting. Tapi menjadi penting bagi Lyra yang si manja dan gila pansos, baginya hidupnya akan semakin mudah jika Binar ada motor.
Bahkan membeli pembalut saja dia masih memperbudak Binar.
Cukup, kali ini dia tidak akan tinggal diam. Dia bukan lagi Binar yang benar-benar tidak ingat siapa jati dirinya.
Dia adalah Manggala Sunny Marvelino Putra yang tidak boleh diinjak-injak oleh siapapun.
" Dia..." Tunjuknya pada Lyra.
" Dia menipuku pah. Selama ini dia memperbudakku karena ketidak tahuanku selama ini. Dia memanfaatkanku atas hilangnya ingatanku. Dia memintaku menemani teman-temanya..., tidak!!. Kata-kata yang lebih tepatnya adalah dia menyewakanku kepada teman-temanya..."
" Sialnya bahkan aku sama sekali tidak tahu, bahwa iblis wanita yang berkedok kakak ini tega berbuat seperti itu padaku!!"
" Motor?, itupun kau yang meminta!! Bukan aku!! untuk apa?, jawabanya untuk mempermudahkan dirimu membabukan aku.."
" Ponsel?, bahkan kamu sendiri yang menyerahkannya padaku. Alasanya agar kau dan teman-temanmu mudah menyuruhku kesana-kemari sesuka hati kalian.."
" Wahai 'kakak' , disini siapa yang bajingan??, kau yang ingin uang tanpa kerja, atau aku??" Ucap Binar panjang lebar.
Lyra dan mama Ganis yang berada diambang pintu sama-sama syok. Selama mengenal Binar, baru kali ini mereka bisa mendengar Binar berbicara sepanjang ini.
Papa Sanjaya membawa putranya ke dalam kamar, lalu dikuncinya.
Binar sempat terkejut saat papanya mengunci pintu, fikiranya was-was jika papanya akan marah dan percaya akan kata-kata Lyra.
" Maafkan aku nak...."
" Maafkan aku yang menyeretmu kedunia kami yang hancur ini..."
" Maafkan keegoisan ku ini nak...."
Papa Sanjaya menjatuhkan tubuhnya, merangkak menghampiri Binar.
Binar yang kaget dan belum mengerti sepenuhnya apa yang terjadi langsung melompat dan memeluk papanya.
" Pah..ada apa ini?"
Binar mengangkat papanya untuk dibawanya duduk di tepi ranjang.
" Nak dengarkan aku...., tapi sebelum aku bercerita, tolong....maafkan aku nak..." Tangis papa Sanjaya tersedu-sedu, dipeluknya Binar erat.
" Tujuh tahun yang lalu, aku kehilangan putraku di Ancol. Saat itu kami berniat liburan ke Jakarta setelah setahun kematian ibunya Binar dan Aivy"
" Tapi saat kami asyik bermain, tiba-tiba beberapa preman datang dan menyeret-nyeret Binar untuk masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi entah kemana..."
" Saat itu papa bingung harus berbuat apa?, sementara papa juga harus membawa-bawa Aivy dalam gendongan papa.."
" Papa langsung ke kantor polisi dan melaporkan penculikan Binar, tapi laporan kehilangan orang baru akan diproses setelah hilang selama duapuluh empat jam.."
__ADS_1
" Papa tidak bisa menunggu selama itu, papa berlari kesana kemari mencari Binar, putra papa. Putra kebanggaan papa, putra penerus papa, putra yang begitu papa harapkan masa depannya sebagai penerus papa...hu..hu..hu.." Tangis papa Sanjaya kembali pecah.
" Tapi berita menyakitkan harus papa terima keesokan harinya, polisi mengabarkan bahwa mobil yang menculik Binar masuk ke dalam sungai dan terbakar..."
" Dari informasi yang diperoleh polisi, didalam mobil ternyata tidak hanya Binar saja, tetapi ada anak seusia Binar yang ikut diculik, satu di antara mereka jelas telah meninggal, tapi jenazahnya tidak bisa dikenali. Dia Binarku?, atau anak lain.."
" Papa menghubungi teman-teman dan karyawan papa untuk membantu menyusuri sungai, tidak perduli itu siang atau malam.."
" Alhamdulillah, usaha kamu membuahkan hasil, aku dan rekan-rekanku menemukanmu begitu jauh dari Jakarta..."
" Tapi...." Papa Sanjaya menggantung ucapanya, menatap Binar dengan perasaan campur aduk. Sudut hatinya begitu egois untuk terus menyimpan kenyataan ini.
Tapi sisi hatinya yang lain tidak tega, 'putra mahkota' dari Kerajaan bisnis Syahril harus hidup mengenaskan seperti ini bersamanya. Bukankah ini tidak adil untuknya.
Mungkin jika tidak melihat kebaikan keluarga daddy Rangga dan mommy Ara, sampai kapanpun hati papa Sanjaya tidak akan tergerak.
Tapi saat melihat begitu baiknya mereka, rasanya tidak pantas papa Sanjaya mengambil yang bukan haknya.
" Tapi apa pah?" Binar ikut menangis, dadanya berdebar, bahkan tubuhnya ikut bergetar.
Karena ini adalah puncaknya, dia mulai mengingat kembali kilatan-kilatan peristiwa saat dia melawan beberapa preman di dalam mobil. Ya, dia ingat bahwa dia tidak sendiri, ada anak seusianya yang diikat kedua tangan dan kakinya di dalam mobil itu.
" Tapi kau...."
Grebb...
Papa Sanjaya kembali memeluk dan menciumi Binar, seolah-olah tidak ingin ada siapapun mengambilnya.
" Tapi kau bukanlah Binarku, kau adalah Sunny, putra Dr. Nanda Marvelino yang juga hilang saat itu...." Ucap papa Sanjaya dengan tubuh yang bergetar hebat.
" Ya..., dan aku tahu itu..." gumam Binar pelan
Duarrrr!!!
Papa Sanjaya mematung untuk beberapa saat. Ditatapnya Binar yang juga ikut menangis di depannya saat ini.
" Kau tahu?, sejak kapan?"
" Sejak melihat foto di rumah Uncle Rangga. Tapi sebelum itu aku juga telah bertemu dengan ayah dan bundak--"
" APA!!!"
" Iya pah, semua ini aneh setelah aku bertemu Cahaya, perasaanku mengatakan aku mengenalnya. Lalu aku terus mengikutinya, sampai pada bisa mengenal keluarganya"
" Dari situ semua sedikit demi sedikit kepingan puzzle terbuka, perasaan pada saudara dan orang tuaku yang awalnya ku kira tidak wajar. Akhirnya bisa kesimpulkan dan membawaku sadar, bahwa perasaan itu adalah perasaan karena hubungan darah.."
" Tapi aku tidak bisa gegabah, sejauh ini yang bisa Binar ingat hanya Shanum Cahaya Nilam yang ternyata adalah tunanganku sendiri sejak kecil. Dan nama-nama mereka saja, selebihnya aku masih belum ingat apa-apa..."
" Maafkan papa nak...., maafkan papa.... Harusnya dari awal papa fokus untuk kesembuhan ingatanmu yang hilang. Tapi papa justru mensyukurinya, dan berharap kamu tidak akan ingat selamanya hu...hu..., papa begitu egois Binar, maafkan papa..."
" Ssshhh, sudahlah pah. Apapaun yang terjadi sudah digariskan, bahkan daun yang jatuhpun sudah menjadi kehendak yang kuasa.. "
" Mungki Tuhan menghendaki seperti ini, aku menjadi Binar milik papa untuk saat ini dan mungkin ada kebaikan dibalik ini...
Grebbb..
" Papa menyanyangimu nak, bahkan lebih menyayangimu daripada Binarku sendiri hu..hu..hu.."
" Mari nak, kita harus segera menemui keluargamu. Papa akan mengembalikan mu.., sudah cukup derita yang kuberikan. Kau tidak layak berada disini..." Ucap papa Sanjaya seraya menghapus air mata Binar.
__ADS_1
" Maafkan papa nak..., maafkan papa. Papa yang tidak ingin kehilangan Binar, akhirnya memilih cara curang untuk bisa tetap memiliki Binar, dengan cara mengambilmu dari keluargamu.."