BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Ujung rindu


__ADS_3

Saga rupanya sangat pengertian, pemuda itu tidak hanya membawa keponakannya hunting es krim saja. Diapun membawa Prince keliling kota London sore itu, apalagi tak jauh dari apartement yang mereka tempati ternyata tengah ada festival.


Semua wahana yang ada di festival tak ada satupun yang terlewat, semua dijajal oleh Prince.


Mulai dari odong-odong, kuda gila, sampai kincir air semua tak luput dari ajang percobaannya.


" Coba itu uncle..." Tunjuknya pada arena adu panco.


" No!!, uncle tidak se-macho daddymu. Kau lihat tidak?, yang kalah harus minum itu..., itu namanya alkohol, kita muslim tidak boleh meminumnya.." Ucap Saga sembari memberi penjelasan.


" Oh..gitu. Ya udah kita naik itu saja.." Tunjuk Prince pada permainan kursi lontar.


" Oke..., tapi Prince harus pegangan uncle kuat-kuat oke...."


Alhasil Prince yang begitu berbahagia sedikit bisa melupakan kedua orang tuanya untuk saat ini.


Sementara itu dua insan yang sedang melepas rindu di apartemen kini semakin menggila, ciuman yang tadinya lembut kini semakin liar dan panas.


Bibir Sunny kini telah berpindah ke leher putih nan jenjang milik Shanum, bahkan kedua tanganyapun telah bergerilya kemana saja.


" Ukkhhhh..." Desis Shanum saat remasan di kedua bulatannya begitu meresahkan.


" Kita ke kamar?" Bisik Sunny serak, tatapanya saat ini sudah di penuhi oleh nafsu yang tidak dapat lagi dia tahan.


Shanum mengangguk patuh, dan langsung disambut kecupan liar Sunny kembali. Diangkatnya tubuh Shanum dalam gendongannya tanpa memutuskan pagutan mereka sedikitpun. Dengan gerakan buru-buru Sunny segera melangkah menuju kamarnya.


Brugh..


Tubuh dan otak Sunny saat ini sudah dikuasai oleh candu akun tubuh Shanum.


Sy4hw4t yang selama ini ditahan-tahannya mati-matian jebol sudah.


Dengan liar Sunny terus bergerak diatas tubuh istrinya.


" Emmhhh Sha....Shanum...." Desisnya pelan.


Suaranya terdengar serak dan seksi, membuat Shanum semakin ikut terbakar g4irah memb4ra.


" Yang agak cepat saja bisa?, Sha takut Prince keburu pulang..." Ucap Shanum lirih.


Wajahnya terlihat merona menahan gelombang rasa yang mulai datang bertubi-tubi.


" As you wish babe, bersiaplah.." Sahut Sunny lembut dan mulai memposisikan tubuhnya dengan benar.



" Emmmhhhh..." Erangan keduannya terdengar syahdu dan saling bersahutan. Sebelum tubuh keduanya sama-sama bergetar hebat dan ambruk bersamaan.


Satu jam cukuplah bagi Sunny untuk saat ini. Hasrat yang terbelenggu selama ini tertuntaskan sudah.


Setidaknya kepala bawahnya bisa bernafas lega, tidak lagi pusing karena sudah lama tidak ganti oli.


" Thanks babe...always love you..."

__ADS_1


Kelegaan terlihat jelas diwajah tampanya yang kini terlihat berseri-seri.


" Terimakasih sudah mau kesini mengunjungi, aku merasa tersanjung dan sangat bahagia..." Lanjut Sunny.


Shanum hanya tersenyum dan mengangguk, tenaganya terkuras habis demi mengimbangi kebuasan dan keliaran sang singa Sandhurst saat beraksi diatas ranjang.


Melihat tubuh istrinya yang terkulai lemah, Sunny hanya tersenyum kecil, dikecupinya seluruh wajah Shanum seolah tiada puasnya.


" Sekali lagi terimakasih babe, kedatangamu adalah hadiah terindah bagiku, I love you so much...forever.." Sunny terus saja membisikkan kata cintanya, mengungkapkan rasa rindunya, hinga lambat laun mata Shanumpun tertutup karena terlalu letih.


Tiga puluh menit beristirahat, Shanum terlihat lelap dipelukan Sunny. Dan dirasa cukup, Sunny perlahan beranjak untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu.


Tak memakan waktu lama, Sunnypun telah keluar dengan keadaan yang segar. Lalu meraih ponselnya, menanyakan pada Saga dimana keberadaan mereka.


Setelah bercakap-cakap dengan Saga dan putranya, kini langkah kakinya menuju ranjang yang terlihat sangat berantakan tak karuan. Orang yang melihatnya sepintas saja tentu sangat bisa melihat, sebagaimana dahsyatnya kegiatan yang telah terjadi diatas ranjang tersebut.


" Babe, bangun...sudah sore ini. Bersihkan dirimu sebelum putramu kembali..." Bisik Sunny lembut di telinga Shanum.


" Emmmh iya, bentar..." Jawab Shanum.


Shanum sudah duduk, tapi matanya masih terpejam.


Sunny tersenyum kecil melihat itu, perlahan dikecupnya tengkuk terbuka Shanum dengan bibir basahnya.


" Awwwhhh yang...." Jerit Shanum kaget.


Tubuhnya kembali menggigil dan gemetar akan sentuhan Sunny yang selalu bisa membuatnya melayang tinggi.


" Mandi gihh!!, atau masih mau lagi?" Ucap Sunny seductive, bahkan tanganya kini sudah berada di dada Shanum. Dorongan rasa hebat dalam dirinya bangkit kembali.


Walaupun puluhan gadis merayunya saat itu, dan hal yang bebas dilakukan oleh kebanyakan teman-temanya waktu itu. Tapi Sunny tidak pernah merasakan rasa yang dirasakan saat bersama Shanum.


Walaupun dulu saat masih SMU, Sunny yang saat itu masih menjadi Binar, tetap saja hatinya terkunci entah untuk siapa.


Bahkan saat Crystal merayunya dengan cara apapun untuk mendapatkan satu kecupan darinya, sampai matipun Sunny tak akan pernah mau.


Hanya pada Shanum seorang hasrat yang menggila itu selalu hadir, hanya pada Shanum seorang, rasa mesum tingkat dewa yang dimiliki Sunny bisa tersalurkan.


Hanya Shanum sejak dahulu, dan tetap hanya Shanum yang mampu membuatnya klepek-klepek tak berdayakan.


Shanum terus menggeliat kesana kemari, saat ulah Sunny semakin tak terkendali lagi.



" Sshhhh hahh, Yang...cukup...ada Prince nanti.." Rengek Shanum.


Walaupun rasa ingin masih ada, tapi Shanum juga harus waras, ini sudah hampir maghrib.


Sunnypun dengan berat hati melepaskan belitanya, walaupun itu tidak seratus persen ikhlas.


" Oke!!, oke aku lepaskan sekarang. Tapi....persiapkan dirimu untuk ronde berikutnya nanti malam..." Bisik Sunny mesum di telinga Shanum.


Sunny terlihat menggigit bibir bawahnya gemas saat melihat Shanum melotot mendengar ucapanya barusan.

__ADS_1


Shanum beranjak menuruni ranjang, tubuh polosnya hanya terbungkus selimut.


Tapi baru juga dua langkah Shanum berjalan menuju kamar mandi, Sunny lagi-lagi membuatnya sock.


" Awww..emmpphhhh....." Jerit Shanum.


Sunny tiba-tiba saja kembali menyerang, menempelkan tubuhnya pada dinding pintu lemari, dan kembali menciumi bibir Shanum dengan begitu panas dan liar.



" Babe..., tolong aku....dia bangun lagi, aku nggak bisa tahan bebe..." Sunny membawa tangan Shanum pada benda panjang berurat yang kini kembali tegak menantang dunia.


Bahkan kaos Sunnypun telah terlepas entah kemana.


...***by: πŸ€***...


Setelah kembali mereguk manisnya rasa untuk kali kedua se sore ini , mereka berdua turun setelah terlihat segar dengan aura kebahagiaan yang berseri.


Kebetulan Saga dan Prince juga baru pulang beberapa saat lalu.


" Daddy...." Pria kecil itu berlari dan segera memeluk kaki jenjang Sunny.


" Kemana saja hemmm?, kau suka tinggal disini?" Tanyanya seraya mengangkat tubuh kecil itu kedalam gendongannya.


" Suka!, sangat suka!. Tadi kami ke festival...tuh kami dapat hadiah banyak..." Tunjuk Prince pada beberapa papper bag ditangan Saga.


" Wow that's so amazing!!, kalian hebat.." Puji Sunny tulus.


Shanum mendekat dan lalu mengecup pucuk kepala Prince.


" Emmhhh asem!!" Seru Shanum dengan memijit hidungnya.


" Ehh he..he..., ya pastilah itu mom. Prince kan belum mandi...he..he.." Sahut Prince dengan cengirnya yang lucu.


Sunny tertawa keras melihat tingkah putranya.


" Mandi sama daddy mau?" Tawar Sunny.


" Yeahhh...tentu Prince mau!, come on daddy.." Sahut Prince cepat.


Dan Sunnypun segera membawa putranya berlari kecil keatas, terdengar tawa ceria Prince yang penuh kebahagiaan saat diperlakukan begitu hangat oleh daddy nya.


Shanum tertegun dibawa tangga, menatap kedua pria belahan hatinya itu dengan hati sendu.


" Apa kak Sha tega membawa pulang kembali Prince ke Boston setelah dua minggu nanti?"


Degh!!


Pertanyaan Saga bagai batu besar yang menghantam dadanya saat ini.


" Saga rasa, harus ada yang mengalah diantara kalian. Demi kecerian dan kebahagiaan Prince!, apa jadinya setelah dua minggu bersama daddynya seperti itu dan harus berpisah lagi?. Tolong diingat kak Sha, setinggi-tingginya kariernya seorang istri, tempatnya tetap ada dibawah suami..." Lanjut Saga.


Diletakkannya beberapa papper bag yang berada di tanganya keatas meja sofa.

__ADS_1


" Satu lagi..., surga istri terletak pada kaki suami. Saran Saga sih, lepaskan karier kakak di Boston, dan temanilah suami kakak selama bertugas disini. Kak...., umur tidak ada yang tahu...oleh karena itu, pergunakan sebaik mungkin selagi mampu..."


Setelah berkata seperti itu Saga masuk kedalam kamar guna membersihkan diri dan beribadah Maghrib.


__ADS_2