
Sunny hanya diam menatap jendela besar yang memperlihatkan pesawat tujuan Boston yang kini telah mengudara.
Hampir dua jam lamanya, pria itu asyik berdiam ditempatnya.
Entah apa yang difikirkannya saat ini, dari kondisinya yang rapuh sangat jelas pria muda itu tengah tenggelam dalam lamunannya yang kian dalam.
Adzan maghrib dari ponselnya berhasil membuatnya kembali ke realita. Sunny mengusap wajahnya perlahan, lalu mulai bangkit dan berjalan menuju pintu keluar bandara.
Taxi yang membawanya ke apartement miliknya telah berhenti tepat didepan lobby tanpa disadarinya. Otak dan fikiranya seolah-olah sedang tidak ada ditempatnya.
Dengan linglung pria muda itu turun, dan berjalan gontai menuju lift. Bayangan Prince berlarian kesana sini membuatnya berulangkali mendesah berat.
" Bagaimana daddy harus menjalani hari-hari daddy tanpamu Prince, lihat! belum sehari saja daddy sudah gila!!. Daddy melihatmu di mana-mana son..." Desisnya.
Tit..tit..tit..tit..tit..tit..
Ceklek...
Pintu apartemen terbuka, Sunny mengerutkan wajahnya heran. Lampu telah menyala terang benderang, padahal tadi saat berangkat seingatnya dia belum menghidupkan lampu.
" Baru pulang?, bukanya pesawat sudah take out dari tiga jam yang lalu.."
Sunny menoleh kearah suara yang begitu dikenalinya, matanya langsung terbelalak lebar.
" Bun?, bunda kapan datang?" Ucapnya seraya menubruk tubuh mungil wanita cinta pertamanya itu.
" Dua jam yang lalu, emmhh asem!, cepat sana mandi!, ayah ada di kamar nungguin bunda untuk jama'ah, kamu bersih-bersih sana dulu.." Bunda Dian merenggangkan pelukanya pada putranya. Masih ingin kangen-kangenan sih, tapi magrib takut lewat.
Sunny tersenyum manis lalu mengecup kening bundanya dekilas.
Kepalanya mengangguk mantap menurut apa yang diucapkan bundanya.
" Ya udah, Sunny keatas dulu bun..." Pamit Sunny.
Bunda Dian tersenyum misterius, menatap punggung putranya.
" Persiapkan hatimu son..."
Sunny menoleh sesaat mendengar lamat-lamat ucapan lirih bundanya.
" What?, bunda ngomong apa?" tanya Sunny.
" Ahhh, nggak ada tuh..., kamu salah denger.." sahut Bunda.
Sanny terdiam sesaat, saat satu kakinya mulai menapak satu undakan. Tiba-tiba dadanya berdebar tak karuan.
Debaran itu semakin parah dan semakin membuatnya meringis tatkala telah sampai di depan pintu kamarnya.
" Daddy kemana saja?, kenapa daddy lama?"
Prince langsung melompat memeluk kedua kakinya saat pintu mulai terbuka.
__ADS_1
Sunny sock bukan main, bahkan kini tubuhnya kembali menegang saat siluet bidadarinya keluar dari kamar mandi dengan wajah basah oleh air wudhu.
Apa ini mimpi?
" Nunggu apa lagi Yang?, waktu magrib tinggal sebentar lagi, lagian kamu dari mana sih?, bukanya harusnya pulang dari tadi!. Nakal ya kamu!! Suka keluyuran nggak jelas!!" omel Shanum.
Sentilan kecil jemari Shanum ditelinganya membuatnya yakin ini bukan mimpi.
" Babe? Prince? kalian?" Ucapan Sunny bingung, bahkan kata-katanya tercekat tak mampu ia teruskan saking socknya.
" Daddy terkejut?, ini semua ide dari big Ayah, so... for now and than, mommy and Prince will be with you forever, are you happy dad?" Tanya Prince dengan mata cerah berbinar.
" What! Sure!!! Tentu saja daddy happy. But wait, ini bukan prank kan?" Pekik Sunny masih tak percaya akan kehadiran kedua kecintaannya itu.
" Dah...dah..., kita sholat dulu Yang.." Shanum mengelus pelan punggung Sunny.
" Ahhh, iya bentar. Tunggu daddy...." Dengan senyum yang mengembang lebar, dikecupnya pipi Shanum dan Prince sekilas.
Sunny segera berlari kecil menuju kamar mandi. Cukup wudhu dulu saja cukup, mandi bisa nanti-nanti.
...**...
Suara Prince mendominasi makan malam hari ini, manjanya luar biasa saat bertemu dengan big Ayahnya. Dengan santai pria kecil itu duduk di pangkuan sang kakek, bahkan merengek minta ayah Marvel menyuapinya makan.
Dasarnya ayah sangat menyayangi satu-satunya cucu lelakinya, diapun dengan senang hati menyuapi Prince.
" Jadi ayah yang merencanakan ini semua?" Tanya Sunny setelah memendam rasa penasaran yang hebat dalam dirinya sejak tadi.
" Bukan ayah son, Sha sendiri yang memutuskan tetap tinggal. Sha hanya minta tolong ayah untuk memuluskan rencananya.." Jawab ayah, matanya menatap punggung istri dan menantunya yang tampak bercanda di dapur.
" Sejak kapan itu?, maksudnya sejak kapan Sha memutuskan untuk tidak kembali ke Boston?"
Tep!!
Marvel menepuk pundak putranya itu pelan.
" Sha menghubungi ayah sekitar lima hari lalu. Dia bilang sudah saatnya kalian bersatu, mewujudkan rumah tangga yang sebernarnya. Son, bersyukurlah...kau diberikan istri yang luar biasa oleh Tuhan. Jaga baik-baik, perlakuan dengan baik-baik. Sha sudah berkorban besar demi masa depan kalian.."
" Sha juga rela meninggalkan karier yang baru dirintisnya dan memilih mengikutimu, Ayah hanya berharap kau memperlakukannya dengan baik. Hargailah dia, jaga dia, hormati dia, cintai dan sayangi dia sepenuhnya"
" Karena selain Bianca, Sha juga salah satu anak yang besar di tangan ayah. Ayah sangat tahu bagaimana kesulitan papa dan mama mertuamu saat Sha hadir di dunia, apalagi di saat usia mereka yang belum genap duapuluh tahun. Bahkan saat Sha lahirpun mama mertuamu belum mengerti apa-apa tentang mengurus bayi. Beruntung saat itu papamu Vino dan mama Veramu dikelilingi sahabat-sahabat yang hebat seperti para uncle dan auntymu, kalau tidak....entahlah"
" Sha itu hidupnya ngenes dari masih di dalam perut, jadi jika kau macam-macam padanya!, ayah tidak akan tinggal diam. Daripada ayah harus kehilangan Sha, justru ayah rela kehilanganmu!! Camkan itu!!" Tutur ayah panjang lebar.
Sunny mengangguk lirih, iya dia paham. Ayah bundanya memang terlihat condong lebih menyayangi Shanum sejak mereka kecil.
Tapi sumpah, saat itu tidak secuilpun rasa iri atau apalah dalam hatinya melihat itu semua. Karena setahunya saat itu semua saudaranya atau lebih tepatnya keturunan generasi pertama genk somplak semua diperlakukan sama oleh para daddy dan para mommy.
Pembicaraan mereka terhenti saat Prince mulai rewel minta tidur bersama kakek dan neneknya. Dan mau tak mau ayah Marvelpun menggendong cucu tercintanya itu untuk dibacakan buku cerita peperangan yang telah menjadi ritual wajib selama ini.
Hampir satu jam, si pria kecil itupun telah terlelap. Dan Marvelpun keluar dari kamarnya, menghampiri istri dan anak menantunya yang saat ini sedang berkumpul di ruang keluarga.
__ADS_1
" Si Prince sudah tidur?" Tanya bunda.
Ayah mengangguk, lalu merebahkan kepalanya dipundak bunda.
" Dia sangat kritis, apapun yang membuatnya penasaran selalu ditanyakan dengan minta jawaban sejelas-jelasnya, padahal usianya baru dua setengah tahun..." Keluh Marvel sambil memijit keningnya.
" Memangnya hari ini dia mempertanyakan tentang apa yah?" Tanya Sunny penasaran.
" Tentang bagaimana caranya daddy dan mommynya membuat adik bayi!!" Sahut Marvel.
" What!!!, ke...kenapa bisa kesana?" Seru Sunny.
" Saga selalu bilang kalian sedang membuatkannya adik.." Sahut Marvel.
" Bahkan dia juga nanya tadi, kenapa big Ayah dan big Bunda nggak bisa buat adik bayi. Padahal belum tahu dia kalo itu tidak pernah absen tiap mala---emmmm"
Ayah tidak bisa melanjutkannya ucapnya saat telapak tangan bunda kini membungkam bibirnya.
" Sstt!!, kamu ini hubby!!"
Marvel hanya menggendik bahu remeh..
" Lah emang salah?, kan emang betul tiap hari tanpa absen kita buat adik untuk Sunny dan Shine ha..ha..ha..."
" Hubby! Please deh..." Seru bunda Dian menahan malu di hadapan putra dan menantunya.
" Ha..ha..ha.., kenapa bunda malu bun!, suami bunda itu menang seperti itu. Nggak jauh-jauh dari sifatku...ya nggak babe?" Kini Sunny menaik turunkan alisnya menggoda Shanum yang ikut tersipu malu seperti bunda Dian.
" Kalian berdua memang hiihhh!!" Bunda beranjak ke kamar karena wajahnya menanas merasakan rusuhnya tangan nakal sang suami.
" Ha..ha..ha..., ya ampun Dian. Kamu itu nggemesin banget sih.." Tawa ayah pecah seketika melihat tingkah menggemaskan istrinya saat ini.
" Kalian nggak ngantuk?, ayah ke dalam dulu..." Ayah Marvel ikut beranjak melangkah menuju kamar dimana istrinya tadi menuju.
Kedua pasutri itu kini tinggal berdua saja, mereka saling tatap menyelami mata pasangannya.
" Apa?" Tanya Shanum setelah sekian lama mereka hanya saling menatap.
" Terimakasih babe..." Satu kata penuh makna meluncur tulus dari bibir Sunny.
" Untuk?"
" Untuk semuanya, cintamu, pengorbananmu, perhatianmu, kasih sayangmu..... Semua babe, semua yang kamu berikan padaku.... Thanks you so much..." Sunny mengecup kedua tangan Shanum yang berada dalam genggamannya.
" Aku bersumpah, selama sisa hidupku..semuanya aku dedikasikan untukmu dan putra kita..." Tutur Sunny yakin.
" Kau ingat saat aku membaca ijab qobul untukmu tiga setengah tahun yang lalu babe, disana aku telah berjanji menanggungjawabi semua akan kamu, melayanimu, melindungimu, mencurahkan kasih sayang padamu. Tapi itu semua cacat karena jarak kita. Dan saat ini, saat kamu memutuskan mengikutiku, aku bersumpah akan mewujudkan janji-janjiku dahulu saat memintamu pada papa Vino, terimakasih sekali lagi. Telah bersedia mewujudkan mimpi keluarga bahagia yang selalu aku harapkan selama ini..."
Shanum mengangguk pelan, airmata menetes di pipi mulusnya.
" Jangan berterimakasih padaku, harusnya aku yang meminta maaf padamu, karena aku terlambat menyadarinya. Melihat begitu besarnya cintamu padaku dan Prince, melihat kesedihanmu aku menjadi sadar..., untuk apa aku sesibuk itu mengejar karierku, sedangkang keluargalah tempat aku pulang. Uang dan popularitas tak mampu membayar waktu yang berlalu, rasanya sungguh rugi membiarkan begitu saja moment kebersamaan kita terlewati tanpa makna..."
" Bagiku, surga yang nyata adalah saat-saat aku menghabiskan waktu bersamamu dan putra kita. Saat hidup kita dilingkupi oleh kebahagiaan dari tingkah polah Prince, senyum cerahmu saat menatap Prince, canda tawamu yang tidak pernah habis pada kami"
__ADS_1
" Sayang...., aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Kita akan terus bersama...selamanya.."
...TAMAT...