BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Mengukir Kenangan..


__ADS_3

Ruang keluarga adalah bagian dari rumah yang seharusnya paling hangat dan paling difavoritkan anggota keluarga, tapi tidak dirumah Binar. Ruang keluarga kali ini terlihat dingin dan mencekam.


Papa duduk di kursinya dengan mata yang menyorot tajam pada istri pertamanya, Ganis yang dinikahinya duapuluh tahun yang lalu.


" Jelaskan padaku!!, untuk apa saja kau habiskan uang sebanyak itu GANIS!!" Teriak papa penuh emosi.


Siang tadi papa menghubungi teman baiknya yang bekerja di salah satu bank. Beliau begitu terkejut saat mengetahui bahwa uang simpanannya telah ditarik semua oleh Ganis istrinya. Dan lagi-lagi papa harus terkejut saat temannya juga menceritakan perlakuan Ganis yang tidak patut disebut sebagai seorang istri untuknya, ataupun ibu untuk anak-anaknya.


Apalagi cerita-cerita itu dibenarkan semua oleh Lilis bunda Arnov beberapa waktu lalu.


" Bagaimana bisa kamu masih bertanya!!, kamu fikir biaya berobatmu dipanti itu gratis!, sekolah anak-anakmu gratis! Hah!!" Balas mama Ganis dengan ikut berteriak.


Papa Sanjaya tersenyum sinis, tapi belum juga bibirnya terbuka mama Ganis sudah kembali mengeluarkan suaranya.


" Lihat mereka!!, mereka tumbuh dengan sehat!!, kau fikir semua itu tidak pakai duit apa!!"


Lagi, papa Sanjaya menggeleng dan kembali tersenyum tipis.


Prok..prok...prok.


Suara tepukan tanganya membuat semua tercengang.


" Mulutmu manis sekali!!, kamu fikir karena aku tidak dirumah aku tidak tahu apa-apa!!!, pembohong sepertimu tidak pantas menjadi istriku!!"


" Mas!!, kau ini bicara apa!!, Binar!! Kau mengadu yang tidak-tidak pada papamu kan hahh!!!" Bentak mama Ganis pada Binar yang saat ini memeluk Aivy yang ketakutan.


" Tidak, apa yang harus kuadukan.." Jawab Binar dingin.


" Lalu?, kenapa papamu berbicara seperti itu??, kau menfitnah ku di depan papamu hah!! Binar!!!" Teriak mama Ganis lagi.


" Tidak!!, bukan aku!!" Sahut Binar lagi.


" Jangan berkelit, ngaku kamu!!. Dasar anak haram tidak tahu diri!!, sudah dipunggut dari comberan saja nggak tahu terimakasih!!" Maki mama Ganis yang kesal karena Binar terlihat begitu santai.


" CUKUP GANIS!!!" Suara papa menggelegar, begitu mengerikan.


" Dengar olehmu Ganis, Binar Buana Sanjaya dan Aivy Shofie.... Mereka adalah anak-anakku. Mereka adalah putra dan putri kandungku sendiri.... Mereka adalah anakku bersama Rahmania, istri keduaku..."


Duaarrrr!!!!


" Apa???, berani sekali kau menipuku mas!!" Teriak mama Ganis histeris.


" Kau yang lebih dulu menipuku!!, kau melakukan cara curang agar aku menikahimu!!" Sahut papa cepat.


Papa menatap Lyra yang terlihat begitu angkuh, lalu menatap Binar dan Aivy yang saling menguatkan.


Lihatlah perbedaan diantara mereka. Mana yang berakhlak dan mana yg tidak.


" Kalian semua masuk!!, papa ingin bicara berdua saja dengan mama" Ucap papa Sanjaya.


...***...



Roy terlihat paling happy dari semua peserta yang berangkat ke Bali sebagai perwakilan dari Jawa Timur.


Senyumnya terus terkembang, ya...hari ini adalah harinya dengan Alexandria. Semalam kedua keluarga sudah bertemu untuk membicarakan perkembangan hubungan keduanya. Dan disepakati, setelah acara kelulusan sebulan lagi, mereka akan menggelar acara pertunangan mereka.


" Cihhh..., gedeg gue lihat tampang Roy!!" Umpat Arnov kesal. Baginya sikap Roy hari ini terlalu lebay.


" Ya nggak usah dilihat kali Nov!!" Sahut Ayu.


" Nggak dilihat juga ada didepan mata Yu..." Sahut Arnov.


" Jadi lo ngiri?"

__ADS_1


" Ck!! Ngapain gue ngiri" Arnov membuang mukanya kesamping jendela pesawat.


" Lo kenapa Nov?, bau-baunya seperti sedang menggendong masalah.." Ayu menepuk lengan Arnov pelan.


Arnov menoleh dan menatap Ayu sesaat.


" Gue lagi nggondok banget saat ini. Gue pengen marah tapi nggak tahu harus marah sama siapa. Gue pengen meninju dan menggasak orang tapi kepada siapa harus gue lampiaskan! Sialan! Brengsek!Shitt!!" Ucap Arnov geram.


Ayu membesarkan matanya, heran saja. Arnov ini paling kalem diantara ketiganya, tapi kenapa kata-katanya seperti itu barusan?.


" Apa masalah lo?"


" Gue cuma sedang suka dengan seseorang" Ucap Arnov menundukkan kepalanya.


" Nah that's good news!, but why?" Tanya Ayu heran, orang sedang jatuh cinta kok mellow.


" She's never know about my feeling..." Arnov mengusap wajahnya dengan kasar.


" Kenapa tidak diungkapkan saja kalau lo suka.." Tanya Ayu lagi.


Arnov semakin menunduk, kedua tangannya meremas kepalanya bingung.


Gimana mau diungkapkan, bocil masih berumur sepuluh tahun mana ngerti!!.


Sialan!!, kenapa gue ada rasa padanya sih


Tuhan....masa iya gue ini pedofil


Arnov lagi-lagi mengetuk-ketukkan kepalanya di jendela.


" Nov lo jangan-jangan naksir janda ya??" Tuduh Ayu seenaknya.


" Mungkin malah kalau dia janda gue nggak semumet ini Yu..." Jawab Arnov sambil memejamkan matanya, mencoba untuk melupakan sejenak resah hatinya.


Tapi kebahagiaannya kali ini harus ternodai. Semenjak pembicaraan malam itu, papa dan mamanya terus bertengkar sampai hari ini.


Rumah yang memang sudah seperti neraka itu, kini semakin parah.


" Ngantuk ya babe?" Shanum mengelus lengan Binar yang terlihat sering melamun akhir-akhir ini.


" Hemmm" Jawab Binar singkat, dipejamkanya matanya lalu bersandar pada bahu Shanum.


" Kamu akan pindah ke Jakarta?, terus nggak bilang ke aku gitu?, sebegitu nggak pentingnya ya aku untukmu?" Ucap Shanum sedih.


Sejak mendengar ucapan papa Sanjaya pada mama Ganis waktu itu, Shanum berharap Binar mau menjelaskan sesuatu, tapi sampai hari ini ternyata tidak.


Binar langsung membuka matanya dan meraih jemari Shanum, membawanya ke dadanya.


" Babe...bahkan akupun tidak tahu akan rencana papa itu babe, aku juga terkejut sama sepertimu sayang..."


" Awalnya pembicaraan kami hanya sebatas aku berencana lanjut kuliah di Jakarta, sekalian melanjutkan pengobatan papaku yang masih panjang prosesnya itu, tidak ada menyinggung tentang pindahan sama sekali.."


" Apa kamu marah?" Binar mengecup tangan Shanum yang ada di genggamannya, tak peduli dengan peserta lain yang duduk di sampingnya.


" Awalnya iya, tapi sekarang enggak, akupun juga akan pergi kan..." Jawab Shanum sedih, gadis itu mengerjapkan matanya menahan air matanya. Binar sangat tahu itu.


" Trus kita gimana?" Tanya Binar sendu.


" Iya Bin. Terus gimana kelanjutannya?" Tanya Shanum balik.


Mereka saling tatap, umur mereka masih belasan. Beberapa malam lalu memang Binar sok-sokan ngelamar.


Tapi setelah difikir-fikir saat ini dia masih Binar, Binar yang kere. Binar yang masih harus kerja banting tulang untuk biaya kuliahnya, sekolah Aivy, pengobatan papa, dan kebutuhan sehari-hari keluarganya.


Kadang-kadang rasa egois itu datang, ingin rasanya dia berlari dan mengakui dengan lantang siapa sejatinya dirinya.

__ADS_1


Tapi Sunny memanglah Sunny, dia terlalu cerah!!.


Dan Binar belum siap untuk menjadi Sunny yang cerah dan menyilaukan.


Dikecupnya kening Shanum sangat lama, bahkan Binar tak perduli sama sekali akan tatapan aneh para penumpang disekitarnya.


Seandainya aku bisa mengaku babe...


Seandainya aku bisa mengaku padamu bahwa aku ini adalah Sunny...


Apa kau akan percaya babe?


Ya Allah...


Kapan ingatan ini kembali....


Ya Allah ya Tuhan tolong hambamu ini...


Kembalikan ingatanku kembali..


" Nar....Binar..."


Lagi Binar seolah tersedot dalam lamunannya selama beberapa saat.


" Kamu kenapa sih?" Tanya Shanum lembut.


" Pusing babe, mikirin hubungan kita kedepannya kayak gimana... Aku nggak pengen jauh dari kamu babe, tapi aku juga nggak pengen mengekang kamu.."


" Diihhh lebay!!, memang sesuka itu ya kamu sama aku?"


Binar menarik nafasnya pelan lalu menghembuskannya.


" Aku sendiri tidak tahu kenapa sesuka ini aku sama kamu, bahkan jika kamu bisa dikecilkan, akan aku bawa kemana-mana kamu babe...." Binar mencubit hidung Shanum yang tinggi dengan gemas.


...***...


Gala Seni Siswa diselenggarakan selama empat hari tiga malam. Selama itu juga Binar dan Shanum menghabiskan waktu dengan mengukir kenangan manis. Dimana ada Binar disitu pasti ada Cahaya. Mereka bagai tak terpisahkan.



Mereka akan selalu mencari dan mencuri kesempatan untuk bisa selalu berdua dan itu dipahami oleh sahabat-sahabatnya.


Waktu kebersamaan mereka tinggal satu bulan lagi. Karena setelah acara wisuda kelulusan di sekolahnya, keesokan harinya Shanum sudah harus terbang ke Jakarta untuk bersiap ke Massachusetts USA.


Selama di Bali tidak ada satupun yang mengungkit-ungkit kata-kata tentang perpisahan.


Binar dalam diamnya terus berusaha mencoba untuk mengingat-ingat masa lalunya. Karena sejauh ini dia sudah mulai bisa mengingat, bahwa cita-citanya adalah meneruskan sekolah di Royal Military Academy Sandhurst, Camberley. Inggris Raya.


Usaha untuk mengingat masa lalunya benar-benar menguras fisiknya. Karena setiap kali dia mencoba terlalu keras untuk berfikir dan menggali ingatan itu, maka rasa pusing yang luar biasa akan menderanya. Rasa pusing yang membuatnya merasa dihantam palu pada kepalanya, begitu sakit dan menyiksa. Bahkan pernah sekali waktu dia harus mimisan karena terlalu kerasnya berusaha.


Tapi bukan Binar namanya jika harus terus pasrah akan keadaan, Binar adalah Manggala Sunny Marvelino Putra, seorang yang pantang menyerah, seorang pejuang yang akan terus maju mengejar apa yang dimau.


" Bin, boleh aku datang di acara keluluasanmu di Putra Bangsa?"


Binar melotot, tak percaya akan kata-kata Shanum.


Selama ini dia mengira Shanum tidak seserius ini membawa hubungan mereka.


" Te..tentu saja babe!!, aku malah senang..." Binar begitu senang bukan main. Bahkan jantungnya berdetak begitu kencang saat ini.


Beberapa hari ini dia bingung untuk merangkai-rangkai kata bagaimana caranya mengajak Shanum ke acara kelulusannya. Tapi ternyata Shanum sendiri yang berinisiatif. Lega...., hati Binar begitu lega...


" Oke...kita cari baju couplean yuk..buat acaranya nanti..." Binar menggandeng Shanum dan berjalan menyusuri mall-mall di Denpasar, Bali.


__ADS_1


__ADS_2