BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Kemanapun akan ku kejar..


__ADS_3

Subuh hari mereka berangkat dengan kereta api. Papa tidak mempedulikan tangisan mama Ganis yang menangis menolak rumah yang ditempatinya saat ini dijual.


Ya, walaupun rumah ini sejatinya rumah peninggalan orang tua mama Ganis sendiri. Tapi rumah ini sudah menjadi milik papa Sanjaya sejak papa Sanjaya menikahinya untuk menutupi aibnya yang hamil diluar nikah.


Tidak salah papa jika papa menjualnya. Apalagi yang diharapkan mama Ganis?. Harta gono gini?. Dia saja sudah berani lancang menghabiskan deposito papa Sanjaya tanpa ijin. Yang seperti itukah yang disebut istri??


Mereka masih bisa menempati rumah itu sampai saat pembelinya benar-benar datang untuk pindah. Untuk selanjutnya terserah mereka sendiri, mau menjadi gelandanganpun papa sudah tidak perduli lagi. Mereka sudah begitu banyak menyakiti selama ini. Rasa-rasanya maafpun tidak mampu terberi.


" Apa rumahnya nanti dekat dengan rumah Maureen kak?" Tanya Aivy.


" Entahlah, kakak juga tidak tahu, ini masih kakak chek dari google map" Jawab Sunny menelisik jeli pada ponsel Aivy. Ponsel miliknya jelas sudah tidak berfungsi lagi.


" Kak, kita nggak ngabarin tante Ara ya?"


" Tidak usah nak, nanti malah merepotkan.." Ucap papa Sanjaya.


" Benar, papa benar. Kita akan mengabarinya jika jadwal operasi papa sudah ada.."


...***...


Rumah sederhana kini berdiri gagah di depan mereka bertiga.



Tidak banyak yang mereka bawa, hanya koper-koper yang mereka bawa dari Jakarta kemarin saja. Isinya pun hanya pakaian dan buku-buku Aivy dan Sunny, serta berkas-berkas penting yang lain.


" Papa tunggu di kursi situ saja ya, biar Sunny bersihin dulu rumahnya.." Sunny mendorong papanya ke kursi yang berada di teras depan.


" Jangan nak, biar papa ikut bantu kalian.." Tolak papa.


" No!! You just sit in here, Papa harus tetap fit, tidak boleh capek. Ingat!!, operasi kedua papa harus berhasil..." Ucap Sunny tegas.


Setelah make sure papanya nyaman, Sunny segera ke warung terdekat untuk membeli peralatan kebersihan. Sapu, pell, dan lain-lain. Untuk hari ini mereka membeli nasi bungkus dulu, besok baru ke pasar untuk membeli peralatan memasak.


Akhirnya, setelah hampir dua jam lebih berkutat dengan debu, Aivy dan Sunny berhasil menyelesaikan membersihkan rumah baru mereka.


Rumah yang hanya memiliki tiga kamar, dengan satu kamar mandi yang berada di dapur. Ruang tamu merangkap ruang keluarga, dapur yang kecil bergabung dengan gudang dan garasi, benar-benar sederhana.


Saat malam tiba, dan telah memastikan papa dan Aivy tidur nyenyak, Sunny mengendap-endap untuk keluar dari rumahnya. Tujuanya adalah satu yaitu White Base, dia tahu pasti bahwa Shanum ada di sana.


Berbekal alamat yang diingatnya, Sunny menghentikan tukang ojek yang melintas di depan rumahnya dan menumpang sampai kesana.


Ternyata jarak antara rumah barunya dan White Base benar-benar tidaklah begitu jauh. Karena dengan motor saja bisa ditempuh tidak sampai tiga puluh menit.


Sunny berdiri di depan rumah besar itu untuk beberapa saat, matanya terpejam. Mengumpulkan memorinya yang terserak, mencobanya merangkumnya menjadi satu.


Ya, bayangan-bayangan kebahagiaan itu terus berkelebatan. Dimana dia bisa melihat dirinya berlarian kesana kemari di rumah besar ini. Bibirnya tersenyum tipis saat bayangan-banyangan itu membuatnya begitu bahagia.


Sunny yang hafal betul jalan rahasia untuk bisa masuk ke dalam mini mansion itu segera menyusup ke dalam tanpa sepengetahuan penjaga.


Dan kini dia berdiri di bawah sebuah balkon yang kamarnya masih menyala. Ya, dia sangat hafal betul itu kamar siapa.


Tepat!, balkon itu adalah kamar Shanum di White Base ini.



" Kamu tidak akan bisa membuangku sayang!!, Putus katamu?. Kau boleh memutuskan Binar!!. Tapi aku Sunny! tidak akan bisa kau putuskan begitu saja Shan...."


" Kemanapun kau pergi, kau akan terus ku kejar.."


" Hupp"


Dengan lihai Sunny memanjat balkon penuh perhitungan dan kehati-hatian, ini bukanlah hal sulit untuk seorang Sunny yang bandel. Bahkan sebelum inipun dia sering melakukannya.


Setiap ada Shanum di White Base dia akan selalu memanjatnya demi bisa menghabiskan malam dengan Shanumnya.


Sunny kini telah berdiri di depan jendela kamar Shanum. Mungkin memanjat balkon kamar gadis dan mengintip kamar gadis adalah hobinya, karena Sunny seolah-olah begitu ringan dan tanpa beban saat melakukannya.

__ADS_1


Seperti saat ini, dia dengan santainya mengintip Shanum yang terlihat sedang duduk memunggunginya, membaca buku di meja belajarnya.


Hanya melihat sosok gadisnya dari belakang saja sudah membuat Sunny lega luar biasa. Beban rindunya seakan-akan telah berkurang setengahnya.


Grek..grekk...


Sunny mencoba meraih gagang pintu untuk membuka pintu balkon itu, tapi ternyata terkunci.


Shanum yang mendengar ada suara dari pintupun segera menoleh.


Betapa terkejutnya dia saat siluet Binar berdiri di luar kamarnya.


Shanum masih tidak percaya dengan penglihatannya. Dikuceknya matanya untuk beberapa kali, tapi sosok itu tidak hilang juga malah semakin jelas.


Tekk...tekk.


Sunny mengetuk pintu kaca itu dengan cincin aksesoris yang berada di jarinya.


Shanum mengangga tak percaya.


" Hah?? jadi yang didepan itu benar-benar orang?, bukan penampakan?" gumamnya penuh rasa terkejut.


Kok dia disini?


Bagaimana bisa?


Dan lagi?


Dia memanjat balkon? Lagi...


Tek..tek..tek...tek...


" Buka Sha...." Bisik Sunny pelan.


Shanum tidak menggubris, dia kembali duduk dan meneruskan membaca.


Tapi lagi-lagi Shanum masih tidak perduli.


Tak..tak..tak...


Kali ini Sunny lebih berani, mengetuk pintu kaca dengan tetang-terangan.


" Shanum!!!, buka atau aku teriak sekarang!!!" Suara Sunny semakin meninggi, pemuda itu sudah di batas ujung rasa sabarnya.


Shanum yang takut terjadi masalahpun segera berlari kearah pintu dan membukanya


Ceklek..ceklek..


Demi keamanan Shanum memilih untuk membuka pintu, lagi....


Shanum kembali duduk di kursi belajarnya, tanpa melihat Binar sama sekali.


" Apa ponselmu hilang Shan?" Tanya Sunny yang berdiri dibelakang punggung Shanum.


" Nggak.." Jawab Shanum singkat.


" Rusak?"


" Nggak " Jawabnya masih tanpa menoleh.


" Mati kah?, lupa bawa charger?"


" Nggak juga"


" Terus mana sekarang ponselmu?" Tanya Sunny mulai kesal.


" Tuh..." Tunjuk Shanum dengan dagunya pada tas slempangnya yang tergeletak di sofa dekat jendela.

__ADS_1


Sunny melangkah untuk mengambil tas itu, lalu mengeluarkan ponsel Shanum.


" Baca pesanku!!, agar kau tidak salah paham " Sunny menyodorkan ponsel itu di depan Shanum yang masih berpura-pura membaca buku.


" Buat apa dibaca??, semua sudah nggak penting Bin!! Kita sudah putus!!" Bentak Shanum dengan suara tertahan. Walaupun saat ini dia hanya sendirian dipaviliun khusus girl tapi tidak mungkin juga dia harus membentak dengan suara keras kan.


" Putus??, itu kan dari sudut kamu. Dan aku nggak mau kamu putusin!. Bukankah putus itu harus kesepakatan kedua belah pihak, kalau akunya nggak mau gimana dong?" Jawab Sunny santai


Brugh!!


Malah dengan santainya dia melemparkan tubuhnya tidur di kasur Shanum begitu saja.


" Hemmmm, nyaman banget.... Kangennya aku sama tempat ini..." Gumamnya dengan mata terpejam.


Shanum hanya diam, diliriknya Binar sekejap, lalu kembali fokus membaca. Kelihatannya saja dia fokus, padahal yang sebenarnya fokusnya sudah berantakan, matanya memang ada dibuku, tapi fikiranya bercabang kemana-mana.


Shinee beberapa menit yang lalu mengabarinya bahwa dia sudah turun dari pesawat dan menuju ke White Base saat ini.


Tapi tidak mudah juga baginya mengusir berandalan satu ini dari kamarnya.


" Pulanglah Bin!!, aku tidak butuh persetujuan mu untuk putus. Aku bilang putus ya putus titik!!" Kali ini Shanum agak meninggikan suaranya.


" Aku tidak akan pulang, sebelum masalah kita beres" Jawab Sunny ikut sedikit berteriak.


" Kau akan habis ditangan Shinee!!, dan tubuhmu akan dikuliti oleh ayahnya!, pulang cepat!!" Shanum yang kesal langsung berdiri dan melemparkan buku-buku nya yang tebal ke tubuh Sunny begitu saja dengan asal.


Bahkan salah satu sudut buku yang tebal itu mengenai bibir Sunny hingga pecah dan berdarah.


Sunny hanya menatap Shanum dengan sendu sambil mengusap darah bibirnya perlahan. Matanya sendu itu terus menatap Shanum , yang justru Shanum memalingkan wajahnya menolak tatapannya itu.


" Memang benar kata orang, wanita tidak akan berfikir dua kali untuk menyakiti pria..." Lirih Sunny.


Shanum sedikit kaget dengan ucapan Sunny, dia melirik sekilas. Ada rasa sesak saat melihat bibir Sunny yang terluka karena ulahnya. Tapi gensinya untuk minta maaf sangat tinggi, setinggi langit.


" Satu hal saja, katakan satu hal saja padaku sekarang. Apa kau percaya kata-kata mereka?" Tanya Sunny serius. Kini dia bersila di atas kasur, matanya terus menatap layar laptop Shanum yang kini memantulkan wajah gadis yang selalu menyembunyikan wajahnya itu sejak tadi.


" Ya, aku percaya!" Jawab Shanum tegas masih tidak mau menatap Sunny.



" Coba lihat aku!!, dari segi mananya dariku yang terlihat seperti gigolo!!"


Sunny menggigit bibirnya, menahan tawanya saat Shanum tiba-tiba menutup telinganya, dia sangat tahu Shanum tidak nyaman mendengar kalimat gigolo yang diucapkanya barusan.


"Coba lihat aku..., masa orang seperti aku ini bisa begitu.." Sunny mulai beranjak untuk mendekati Shanum.


Shanum terlihat merapatkan bajunya, dan bergeser menjauh dari posisinya tadi, membuat Sunny berhenti seketika.


" Kau?, kau benar-benar percaya mereka babe?" Tanya Sunny sedih.


Hatinya sakit melihat reaksi Shanum yang menjaga jarak dengannya, seolah-olah begitu jijik denganya.


" Apa selama ini aku minta bayaran untuk setiap ciumanku padamu hemmm?, apa aku meminta bayaran untuk setiap waktu yang kita lalui bersama?"


Grebb


" Bukankah kau mencintaiku babe?, masihkah kau percaya fitnah orang?, tidakkah kau merasakan ketulusanku selama ini?"


Sunny memeluk erat Shanum dari belakang.


" Kau minta putus karena cemburu kan?" Bisik Sunny ditelinga Shanum.


" Tidak!!" Jawab Shanum tegas.


" Lalu?"


" Karena aku tidak pernah mencintaimu!!" Jawab Shanum dengan mata terpejam.

__ADS_1


Duaarrrrr!!!


__ADS_2