BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Berenang??


__ADS_3

Malam puncak Gala Seni Siswa telah berlalu semalam. Mereka berenam harus mengakui kejernihan suara peserta dari Ambon manise yang menyabet juara pertama, disusul utusan Sumatra Utara diposisi kedua, dan ketiganya ada Jakarta Pusat.


Tak masalah tidak juara, setidaknya mereka memiliki kesempatan bisa sampai di Nasional saja sudah sangat wah. Mengingat bagaimana Binar cs yang hanya iseng-iseng saja bisa sampai ke level ini saja sudah luar biasa.


Ayu cs juga tidak begitu kecewa, karena yang penting bagi mereka hanya menyalurkan bakat, kalau hari ini tidak menang berarti masih banyak kekurangan.


Pagi ini acara bebas sebelum mereka pulang kembali ke Surabaya.


Mereka bersembilan terlihat berlarian ke tepi pantai di belakang hotel.


Bersembilan?, ya karena utusan tiap provinsi adalah sembilan peserta.


" Berenang yuk disana..." Tunjuk Roy.


" Ogah!!, lo nggak liat apa disana banyak pemandangan yang nggak boleh kita pandang!!" Tolak Arnov cepat dan kembali ke arah hotel.


Binar mengulum senyum mendengar ucapan Arnov, dengan cepat ditariknya ujung lengan kaos Shanum untuk mengikuti Arnov.


" E..ehhhh, apa sih Bin..." Ucap Shanum kaget.


" Kita di kolam aja deh..." Ajak Binar.


" Loh kenapa?, udah disini juga---"


" Tuh lihat yang disana!!, kalo nanti gue pengen gimana?, kamu mau jadi pelampiasan hemmm? Duh mana sekseh semua ya ampun.....bikin ngiler aja ini mah...." Tunjuk Binar pada sepasang bule yang sedang terciduk mesum di pinggir pantai.


Dan matanya ikut memindai para bule cewek-cewek yang begitu berpenampilan terbuka, berulang kali terlihat dia membasahi bibirnya.



Kesal!!, Shanum begitu kesal melihat reaksi Binar yang begitu. Lantas apa yang diharapkan Shanum, Binar akan menundukkan pandangannya begitu?, seperti cowok-cowok sholeh. Jawabannya jelas tidak akan!!, Binar itu adalah Sunny!!.


Sunny si nakal, anak Marvel yang jelalatan dan mata keranjang.


" Mata kamu selalu jeli tiap liat yang begituan Bin!!!. Dasar!!" Shanum menjewer telinga Binar kesal.


Lalu berjalan meninggalkan Binar dan yang lainya berlari mengejar Arnov dengan hati nggondok luar biasa.


Sementara Binar menggigit bibirnya dan tertawa puas melihat Shanum yang begitu cemburu.


Byur...byur....


Arnov sudah menyebur lebih dulu, disusul Shanum. Sementara Roy dan Alexandria serta Ayu akhirnya mengikuti mereka balik ke hotel.


Mereka takut mata mereka buta karena harus melihat hal-hal yang dianggap tabu oleh akal mereka yang polos.


" Nah disini malah lebih asyik, sepi. Serasa Sultan ya nggak sih.., anggap saja kolam renang milik pribadi" Seru Arnov yang sudah berada di dalam air.."


Binar duduk di tepi kolam, masih enggan untuk turun.


Shanum berenang mendekatinya.


" Nggak turun?" Tanya Shanum.


" Dingin..., malas..." Jawab Binar, matanya menatap penuh cinta pada gadisnya yang begitu cantik. Sedih menggerogoti hatinya saat harus berpisah nanti.


" Madep sini babe.." Binar memposisikan kameranya untuk mengambil beberapa foto Shanum.


Cekrek...cekrek..


Binar mengambil beberapa foto Shanum, sebenarnya sudah sejak empat hari lalu dia menjadi gemar mengoleksi foto Shanum. Alasanya satu, untuk obat kangennya nanti saat mereka harus berpisah karena keadaan.


Binar masih asyik dengan kamera dan ponselnya, salah satu foto Shanum akhirnya dipostingnya di statusnya.



Saat Shanum sudah merasa cukup dan bergerak untuk naik, justru Binar sedang bersiap turun.


Sebenarnya dia malas ke air. Berenang atau lebih tepatnya bermain air beberapa tahun ini sengaja dihindarinya. Entah kenapa dia begitu benci air. Tapi demi bersama cintanya, jangankan air, apipun rela dia terjang.


" Heyyy babe, mau kemana? Sini turun lagi..." Binar menarik Shanum hingga gadis itu menoleh dan terjebur kembali ke kolam karena tarikannya.

__ADS_1


Byur...


Gadis itu segera muncul lagi ke permukaan, menatap Binar yang juga sedang menatapnya intens. Bibirnya kembali digigit-gigitnya, Shanum menjadi merinding dan deg-degan tak karuan.


Perlahan-lahan Binar mendekat membuat Shanum begitu terkejut, gadis itu agak risih berduaan di kolam seperti ini dengan Binar.


Apalagi Ayu dibawa Arnov untuk ke kolam anak, dilatih berenang oleh Arnov disana, maklum Ayu satu-satunya yang belum bisa berenang.


Roy dan Alexa tahu sendirilah orang pacaran kaya gimana hobbynya mojok agak jauhan. Fix saat ini Shanum dan Binar hanya berdua saja.


" Aku naik aja Bin, capek...." Rengek Shanum menolak, hatinya berdebar melihat Binar yang hanya memakai kaos oblong tipis yang sudah basah begitu, tubuh Binar tercetak nyata.


Apalagi hari mulai hujan, bertambah sudah rasa was-was dihati Shanum.


" Kalau capek naik punggungku sini aja babe..." Binar terlihat tampan dengan rambut basahnya.


Duh.., kenapa ganteng banget pacar gue


Iihhh apalagi ngajakin gendongan..


Bisa mati muda gue..


Nggak...mau..


Nggak usah dekat-dekat Sha...


Binar bahaya...


Shanum terus mengajak hatinya untuk waspada.


" Babe ayo.." Binar mengulurkan tanganya untuk menggapai Shanum yang sudah mentas.


" Ngga deh hujan ini, aku tunggu disitu aja.." Shanum menunjuk gazebo yang menjuntai ke kolam, disana telah ada Arnov dan Ayu yang berteduh.


Binar mau tidak mau ikut mentas juga karena hujan juga sudah mulai lebat.



" Ssshhhh" Shanum meletakkan telunjuknya dibibir, meminta Ayu untuk tidak lanjut membicarakan itu sekarang. Bayangan tubuh Binar yang dilihatnya beberapa hari lalu menari-nari di benaknya.


" Pesan coklat panas yuk..." Roy menarik Alexandria ke arah bar restoran.


" Gue juga sama Cahaya mau Roy!!" Teriak Binar.


" Lo juga mau Yu?" Tanya Roy sebelum pergi.


" Gue teh aja..." Jawab Ayu.


" Mana ada teh disini, ini bukan warung tegal" Sahut Roy


" Ya gimana dong?, susu kan gue udah punya " Jawab Ayu gaje.


Sementara yang lain melotot saat mendengar kata-katanya justru Ayu santai menggosok rambutnya dengan handuk.


" Dasar!!" Roy melempar handuknya pada Ayu saking gemesnya.


" Aha..ha..ha..ha..." Semua tertawa dengan tingkah Ayu yang kadang-kadang error juga itu.


Binar terlihat diam, seperti seseorang yang sedang mengingat-ingat sesuatu.


Ya, saat di air tadi Binar merasa sesak. Seperti ada kenangan tidak mengenakannya saat bersentuhan dengan air yang dalam. Selama ini dia tidak seperti ini, tapi semenjak dia sadar dia adalah Sunny. Rasa aneh sedikit saja langsung peka ia rasakan.


" Bin, sini biar ku gosok rambutnya" Shanum duduk disamping Binar yang terus melamun.


" Bin..." Panggil Shanum lagi.


" Ehh...i..iya babe apa?" Tanya Binar bingung.


" Mau dikeringin nggak rambutnya?" Tanya Shanum pelan.


" E..ehh..., boleh.... Makasih.." Binar memejamkan matanya saat usapan lembut handuk Shanum menggosok rambutnya pelan-pelan.

__ADS_1


Dari kaos tipis itu Shanum dapat melihat bahu yang ditutupin oleh plester.


" Ini kenapa?" Tanya Shanum sambil menyentuh plester itu.


Binar memejamkan matanya, ingin rasanya dia berbalik dan langsung memeluknya, lalu berkata dengan lantang bahwa aku adalah Sunny!!!


Tapi apalah daya Binar saat ini. Waktu belum memihaknya, ingatan belum kembali sepenuhnya.


" Hanya luka kecil babe..." Jawab Binar sendu.


Kapan ini berakhir?


Kapan aku bisa memelukmu dengan erat


Kapan aku bisa puas menatap mu Shan...


Kapan ingatan ini kembali..


" Bin?, aku tidak tahu apa yang coba kamu sembunyikan dariku. Tapi aku merasa kau sedang ada masalah dan kau menyembunyikannya dariku.." Ucap Shanum masih dengan tangan mengusap-usap rambut Binar dengan handuk.


Binar menangkap tangan itu lalu dikecupnya.


" Iya, kamu benar. Tapi maaf babe, masalahku terlalu rumit untuk bisa kubagi denganmu, tapi ingat babe.. I love you so much. Just believe that!!" Bisiknya ditelinga Shanum.


" Aku pingin...." Lanjutnya sambil terpejam, masih berbisik ditelinga Shanum.


Dada keduanya bertalu-talu saat ini, hawa dingin hujan dan baju yang basah membuat sesuatu dalam tubuh Binar bereaksi berlebihan.


" Pingin apa?" Shanum ikut berbisik pelan, jantungnya saat ini seolah ingin melompat keluar saat Binar sedikit merapatkan tubuhnya padanya.


" Kaya bule dipantai itu tadi, cup cup..." Bisik Binar sambil memonyongkan bibirnya.


" Iihhh, Binar!!" Shanum mendorong wajah Binar menjauh.


Arnov menoleh menatap Shanum yang gemetaran menjauhkan kepala Binar.


Roy yang sudah kembali membawa pesanan teman-temanya juga ikut menoleh.


" Hey...hey..., Binar!!, Cahaya!!.No..no.." Arnov menggerakkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan saat Binar terus maju mendekati wajah Shanum.


Semua yang berada di gazebo tertawa terbahak-bahak bahkan Binar juga yang sudah menarik tubuhnya menjauh.


Gila!!, ada pelet apa pada dirinya..


Aku selalu tersedot oleh pesonanya..


Sejak dahulu dan sekarang hanya dia yang mampu menarikku sekuat ini..


Shan...Shanumku...Sayangku...


...***...


Sore hari mereka telah sampai ke rumah masing-masing. Binar langsung mengecek keadaan papanya.


" Pa?, ada yang sakit kah?" Tanya Binar begitu khawatir.


" Hanya ngenyut terus akhir-akhir ini..." Ucap papa Sanjaya.


" Tapi kata tante Ara nggak papa kok, ngenyut itu karena syaraf yang baru di sambung itu mulai berfungsi kembali.." Ucap Aivy.


Binar menoleh, menatap Aivy sesaat.


" Kamu nelpon tante Ara?"


" Iya tapi lebih tepatnya, pas papa kesakitan pas kebetulan kak Almeer nelpon Aivy tadi.." Jawab Aivy.


" Iya nak kebetulan, jadi papa bisa konsultasi pada nyonya Ara sekalian tadi. Dan Alhamdulillah papa jadi semakin tenang setelah berbincang dengannya .." Lanjut papa.


" Ara siapa?" Serobot mama Ganis tiba-tiba.


" Siapalagi Ara mas?, salah satu kekasihmu yang lain?, tega kamu mas sama aku.." Teriak mama Ganis lagi.

__ADS_1


__ADS_2