BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Meet daddy? tomorrow?


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Prince terlihat lesu sedari pagi, saat bermain dengan kedua kakak perempuannya saja pria kecil itu terlihat ogah-agahan.


" Prince?, are you oke?" Tanya Saga sambil berjongkok menyamakan tingginya dengan putra kakaknya itu.


Sedari tadi dia mengamati tingkah keponakannya ini sedikit berubah dari biasanya


" I miss daddy...uncle.." Jawab Prince sendu.


Salma dan Salwa, putri kembar Shine mendekat kepada adik mereka. Keduanya merangkul adik mereka satu-satunya dari sisi kiri dan kanan Prince.


" Kenapa begitu, kamu kan bisa memeluk ayah kami jika rindu dengan daddymu....mereka berdua kan sama saja Prince, mereka punya wajah yang sama kan..." Ucap Salma sang kakak.


" Iya, bukanya selama ini juga begitu Prince. Jika kamu rindu daddymu, kamu boleh tidur dengan ayah kami, kami mengijinkan nya dengan senang hati, lalu kenapa sekarang kamu sedih begitu...." Timpal Salwa pula.


Prince menatap kedua mata kakaknya, lalu beralih ke pada unclenya, Saga.


" Iya, itu benar sist. Tapi ayah kalian tetaplah ayah kalian, ayah Shine tetap uncle seperti uncle Saga. Prince mau daddy Prince sendiri...hu...hu...., Prince mau daddy Sunny, Prince rindu daddy....hu..hu..." Tangisan memilukan Prince terdengar oleh ketiga manusia dewasa lainya.


Ya..., Ayu, Shine dan Shanum yang baru pulang dari kampus terkejut mendapatkan situasi ini. Akhirnya mereka telah melihat dan mendengar dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana rindunya Prince pada daddynya.


Hati Shanum remuk bagai diremat sesuatu yang besar, melihat putranya dirundung rindu seperti ini hati ibu mana yang tahan melihatnya.


Tak hanya Shanum yang sedih, ketiga manusia dewasa disanapun ikut sedih melihat ini semua.


" Prince...sini sayang, gendong mommy yuk. Kita telpon daddy sekarang, hapus air matanya..." Shanum menahan air matanya dan segera berjongkok meraih putranya.


Diusapnya air yang berderai dipipi chubby Prince dengan hati perih, dikecupinya pipi sang putra penuh cinta. Lalu membawanya ke kamar, tidak perlu ada yang tahu kesedihannya saat ini. Tidak terkecuali Ayu sahabatnya, Shine yang saudara sejak kecilnya, ataupun seorang Saga adik kandungnya sendiri.


Sejatinya tidak hanya Prince, dirinyapun sudah sangat rindu dengan suami tampannya itu.


Semenjak membantu memilihkan jas Sunny lewat video call tiga bulan lalu, sampai hari ini Sunny tidak bisa dihubungi, tidak juga menghubungi mereka disini.


Tapi apa bisa dikata, seperti inilah hidup yang harus mereka jalani, terpisah oleh jarak, ruang dan waktu.


...**...


Shanum melangkahkan menuju ruang keluarga dengan terus memijit keningnya. Putranya terus merajuk sejak pagi tadi, apalagi dia tak bisa juga menghubungi Sunny.


Entah kesibukan apa yang sedang dikerjakan suaminya itu, hingga sampai malam ini pun dia tidak juga mengangkat ponselnya.

__ADS_1


" Prince sudah tidur?" Tanya Shine yang sedang memangku laptopnya di sofa ruang keluarga saat melihat kehadiran Shanum, sementara Ayu menyenderkan kepalanya di pundak suaminya itu.


" Yah...sudah..." Jawab Shanum singkat.


Saga juga ada disana, tiduran menelungkup di karpet depan TV, sepertinya dia sedang chatingan dengan Almaeera.


" Sunny tidak juga mengangkat telponku..." Ucap Shanum seraya melemparkan tubuhnya ke sofa singel.


Terlihat raut lelah yang luar biasa dari wajah cantiknya, matanya tertutup rapat.


Shine menatapnya iba, tapi tak lama sebuah ide terbersit dari fikirannya.


" Sha, kamu sudah selesai test dengan profesor Benjamin kan?" Tanyanya.


" Sudah, dan sepertinya aku satu-satunya kandidat terkuat yang mampu menjadi asisten beliau.." Jawab Shanum masih dengan mata terpejam.


" Tapi sepertinya banyak hal yang masih harus beliau pertimbangankan. Termasuk visa tinggal kita yang sebagai pelajar.." Sahut Shanum.


" Sha ..sambil menunggu keputusan profesor, kenapa kamu tidak berkunjung saja ke London...?" Usul Shine.


Shanum terlihat terkejut mendengar usulan Shine, tapi berikutnya dia tersenyum tipis.


"Aku sedih dan tidak tega setiap melihat Prince menangis seperti hari ini Sha, setidaknya kita juga harus menjaga mentalnya..." Ucap Ayu pada akhirnya.


Shine menyayangi Prince sama seperti halnya kedua putri kembarnya. Saat anak itu sudah mulai sadar bahwa dia hanya uncle, rasa sedih jelas menggerogoti hatinya saat ini.


" Prince sudah tidak bisa kita kelabuhi, anak itu cerdas..." Lanjut Shine.


Shanum terlihat berfikir sejenak.


Berkunjung ya?, kenapa tidak terfikir olehku sebelumnya.


Prince juga sudah dibatas usia yang bisa bepergian dengan pesawat.


Apa sudah saatnya aku mengunjungi suamiku?.


" Sebaiknya kamu tanya dulu jadwal Sunny, agar dia bisa menjemput kalian, aku hanya khawatir. Kamu kebingungan disana hanya berdua saja dengan Prince.." Ucap Ayu memberi saran.


" Pergi sama Saga saja kak, kebetulan dua minggu kedepan Saga off, profesor yang membimbing kami sedang ada penelitian dengan tim inti. InshaAllah Saga bisa nemenin kak Sha ke London..." Sambar Saga cepat.


Bahkan kali ini pemuda tampan itu sudah duduk bersila di bawah kaki kakaknya.

__ADS_1


" Jadi kapan rencana kalian?, biar aku hubungi brother dan juga memesan tiketnya.." Ucap Shine antusias.


" No!!, menurutku jangan hubungi Sunny sayang. Biar ini menjadi kejutan untuknya...bagaimana?" Ayu menatap satu persatu mata mereka.


Dan tentu saja, keempatnya mengangguk bersamaan.


Dan akhirnya kesepakatan untuk pergi ke Londonpun diambil dua hari berikutnya semenjak pembicaraan mereka.


Prince terlihat antusias saat diberitahu akan pergi mengunjungi daddynya. Dua hari ini, pria kecil itu terus menurut dan patuh. Apalagi saat melihat koper-koper yang telah siap.


" So, tomorrow we're can meet daddy right? " Tanyanya tak sabar dengan mata yang berbinar-binar cerah.



" Sure, makanya sekarang tidur dulu. Biar besok Prince bangun dengan segar dan tampan. Dan semakin disayang oleh daddy Sunny.." Sahut Salma.


" Memangnya kalau Prince tidak tidur cepat, tampanya bisa hilang gitu?" Tanya Prince kesal.


" Iya dong, jika Prince kurang tidur nanti bawah matamu bisa menghitam seperti mata Kuntilanak, ngeri dong" Sambar Salwa.


" Dihh!!, itu sih bohong!!, ayah Shine saja yang setiap hari tidur malam. Masih ganteng gitu..." Sangkal Prince.


" Uncle Saga juga, tidurnya sehabis bacain Prince cerita, nggak berubah jadi kuntilanak tuh..." Lanjutnya lagi.


Salma dan Salwa terlihat geram dengan ucapan Prince, pria kecil itu selalu bisa membantah semua perkataan mereka.


" Prince!!, mana ada boy yang berubah jadi kuntilanak!!, kuntilanak itu hanya girl!!" Jerit Salwa tak mau kalah.


" See...., katamu aku harus cepat tidur biar mataku nggak kaya kuntilanak. Itu kan hanya alasan kamu saja!!, kamu mau main tab punyaku kan!!" Ucap Prince dengan menyambar tab miliknya yang saat ini ada di tangan Salma.


" Aha..ha..ha... Prince hebat!!" Tepuk tangan Salwa terdengar riuh, disambut oleh tepukan tangan Salma pula.


Selama ini mereka memang selalu memonopoli mainan canggih yang dimiliki Prince, dengan menyuruhnya cepat tidur.


Padahal mereka ingin menggunakan mainan itu untuk mereka.


Bukan mereka tidak punya, tetapi kepandaian Sunny mengutak-atik komputer dipergunakan untuk mengupgrade game-game milik putranya. Jadi walaupun tab mereka seri dan model yang sama, tetapi isinya tetap beda.


Saga muncul dari pintu kamarnya, dengan membawa satu ransel miliknya, lalu meletakkannya diatas koper-koper yang telah siap.


Hati Prince bersorak hebat, besok dia akan bertemu daddynya. Ya besok!!! rasanya malam ini Prince tidak ingin memejamkan matanya.

__ADS_1


Prince sudah tidak sabar menunggu hari esok.


__ADS_2