
Tit..tit..tit..
Alarm bunda Dian berbunyi tepat pukul 04.30 pagi.
Perlahan beliau membuka matanya, seperti biasa, tangan berat ayah Marvel selalu melingkar di pinggangnya.
Dengan gerakan pelan dipindahkannya tangan itu kesebuah guling, lalu beranjak turun.
Sengaja bunda tidak membangunkan ayah diawal Subuh, memberikan waktu istirahat barang tiga puluh menitan lagi. Semalam beliau masuk ke kamar juga sudah sangat larut, tapi masih saja sibuk merusuh, hingga harus tidur beberapa jam yang lalu.
Bunda membuka kopernya, mengeluarkan baju untuknya berganti, tapi beliau baru menyadari bahwa kopernya tertukar dengan milik aunty Numa.
Ditutupnya koper itu kembali lalu masuk ke kamar mandi tanpa membawa baju ganti. Setelah sholat bunda keluar menuju kamar aunty Numa beserta kopernya.
Tok..tok..tok..
Ceklek...
Bunda mencoba membuka pintu, rupanya tidak terkunci.
Aunty Numa menoleh menatap pintu, dan bunda Dianpun menunjuk ke arah koper dengan dagunya. Aunty Numapun mengangguk dan menyudahi mengajinya.
" Baru juga Numa mau ke kamar embak, eh embak udah kesini duluan..." Ucap aunty Numa.
" Ya.., mbak juga baru sadar pas mau mandi tadi.."
Bunda melangkah menuju ranjang, mengelus kepala Ariana dan mengecupnya sayang, tapi matanya terbelalak saat melihat Azmya yang baru keluar dari kamar mandi setelah mengambil wudhu.
" Loh..., Azmya bukanya bobok sama kak Sha?" Tanya bunda heran.
" Nggak aunty, kata brothy Sunny di kamar kak Sha ada banyak hantunya, jadi Azmya kesini saja sama Ariana mumpung uncle Brian nggak ada..."
Bunda Dian memelototkan matanya tak percaya.
" Iiihhhh anak ini kambuh lagi penyakitnya ya Ampun....pengen rasanya gue dorong kembali masuk ke alam kandungan aja dia tuh!!!" Geram bunda Dian.
" Emmmhhh ha..ha..ha.." Tawa aunty Numa pecah tak terelakkan. Ponakanya satu itu memang luar biasa badungnya, tapi hidup akan suram tanpa kehadirannya.
Dengan kesal bunda langsung berjalan menuju kamar Shanum.
Tok..tok...tok..
Tak ada sahutan dari dalam, bunda mencoba sekali lagi.
Tok..tok...tok..
Ceklek!!
Pintu terbuka dari dalam, dan wajah bantal Sunny muncul dari balik pintu.
" Astaghfirullah boy!!, kamu tidur di kamar gadis!!, iiihhhhh nakal banget kamu!!!" Bunda Dian yang begitu kesal langsung menjewer telinga putranya itu geram.
" Iiiuuuuu, bun sakit bun.... Aduh bun bisa putus ini bun...aauuuuu.." Sunny meringis kesakitan dan berusaha melepaskan telinganya, tapi tak bisa.
" Nakal kamu ya!!, ngapain aja kamu di sini Sunny!!" Bentak bunda kesal.
Bunda Dian merangsek masuk setelah sebelumnya menyingkirkan tubuh Sunny yang menutupi jalan.
" Minggir!!"
" Bun..., Sha baru tidur bun...." Sunny berusaha menghalangi bundanya untuk masuk lebih dalam.
" Ya Tuhan, ngapain aja kalian sampai baru tidur hahhh!!" Bunda Dian semaki terbelalak.
" Kami nggak ngapa-ngapain bun..Sumpah!!" Sunny berdiri di depan bundanya untuk memblokade bundanya.
" Minggir nggak!!, atau bunda bangunin ayah!!"
Mendengar kata ayah, mau tidak mau Sunny menyingkir dihadapan bundanya.
Seperti halnya detektif, beliau menatap keadaan kasur, masih rapi dan tidak mencurigakan. Beliaupun mendekati ranjang dengan mata penuh selidik, beliau sedikit menyingkap selimut dengan hati-hati, dan hatinya kembali tenang saat melihat Shanum masih lengkap dengan bajunya apalagi baju yang lumayan tertutup.
Tapi matanya kembali terbelalak saat melihat leher Shanum yang terlihat memerah.
Dasar!!, anak nakal ini
Sunny yang tahu arah pandang pundanya hanya bisa nyengir dan menggaruk kasar tengkuknya.
__ADS_1
" I'm sorry...." Bisiknya saat tatapan bunda begitu tajam, seolah-olah ingin menelannya hidup-hidup.
Bunda Dian mengangkat jari telunjuk, lalu menggoyangkanya kekiri dan ke kanan.
" Dikit aja kok bun, cuma nyicip..." ucap Sunny santai.
Bunda Dian mengusap dadanya yang ingin meledak. Nyicip kata putranya!!, benar-benar kosakata yang nyleneh.
Kini matanya terpaku pada bantal dan selimut yang teronggok di sofa, bunda langsung mengangguk-angguk kecil.
Oh, rupanya dia tidur di sofa...
Alhamdulillah...dia masih bisa menjaga diri..
" Bun..." Bisik Sunny pelan, tidak mau mengganggu kenyamanan Shanum.
" Sstttt, cepat balik ke kamarmu sana!!" Bentak bunda dengan suara tertahan.
" Sunny nggak macam-macam bun!!, sumpah!!" Ucapnya lagi demi meyakinkan bundanya.
" Pergi sekarang ke kamarmu atau bunda bangunin ayahmu!!" Ancam bunda lagi, masih dengan suara berbisik.
" Iya..iya..." Sahut Sunny dengan segera berlari keluar.
Bunda Dian mengusap pelan rambut Shanum, lalu mengecup kening calon menantunya itu.
" Emmhhh...Sunn...balik sana!!, besok aja membahas materi bab itu, aku ngantuk..." Ucap Shanum tanpa membuka mata.
Bunda Dian hanya tersenyum gemas, lalu diapun mulai melangkah keluar.
Mereka hanya belajar, terlihat dari buku-buku yang berserakan dimeja sofa.
" Dari mana wife?, aku mencarimu" Tanya ayah yang baru akan keluar dari kamar.
" Oh..i..ini, tertukar dengan punya Numa dan aku baru dari sana..." Jawab bunda sambil menunjukkan kopernya.
...***...
Diruang belajar White Base.
Kok Ayu, ya...Ayu memindahkan pilihannya ke BU karena di Milan harapanya sudah gagal. Dan daripada dia harus test sendirian dirumah sepupunya yang di Jakarta, mending dia bersama Shanum dan Shinee saja.
Sunny berada di sudut ruangan dengan buku besar ditangannya, pemuda itupun juga fokus untuk ujian ke Royal Military Academy Sandhurst. Camberley. Inggris Raya.
Dimana sedari kecil dia sangat bercita-cita menjadi seseorang seperti uncle Brian.
Roy dan Alexa telah kembali ke Jogja, sementara Arnov terlihat galau. Dia tidak tega meninggalkan Aivy, tapi tidak ada alasan juga untuk tetap tinggal di rumah papa Sanjaya.
Akhirnya mau tidak mau Arnovpun terbang di pesawat berikutnya.
Tiga jam penuh ketegangan akhirnya berlalu. Shinee yang pertama kali dari ketiganya yang menutup laptopnya.
" Alhamdulilah...87,3/100 Yess!" Seru Shinee girang
Sementara Shanum masih harap-harap cemas, gadis itu terus-terusan menggigit kukunya dengan berdebar.
Sunny yang melihat itu segera menutup buku yang sedang dibacanya, lalu melangkah mendekati Shanum.
" Sshhhhh, relax..... Apapun yang terjadi adalah kehendak Tuhan, ingat itu Sha..." Bisik Sunny, mencoba memberi ketenangan, digenggamnya kedua tangan Shanum yang begitu dingin itu erat.
Shanum hanya mengangguk dan terus menatap layar.
Ting!!
Bunyi notifikasi terdengar, Shinee ikut berlari dan berdiri di samping saudara kembarnya untuk ikut melihat hasil ujian Shanum.
Sementara Shanum sendiri justru memutup matanya takut.
" Heyyy, buka matamu sayang.... Dan lihat hasilnya..." Sunny mengusap-usap kepala Shanum.
" Lihat Sha...., come on!!" Shinee pun ikut menepuk pundaknya.
Shanum membuka sebelah matanya sedikit-demi sedikit, tampilan layar berwarna biru, otomatis di lolos.
" Alhamdulillah...Alhamdulillah..." Seru Shanum bahagia dan langsung meloncat begitu saja ke gendongan Sunny.
__ADS_1
Shinee ikut bertepuk tangan dan melirik ke arah Ayu yang juga telah berdiri disamping nya. Senyum Ayu terlihat begitu teduh dimata Shinee.
" Kamu sendiri bagaimana Yu?" Tanya Shinee.
" Alhamdulillah..." Jawab Ayu pelan lalu segera merapikan tasnya.
Shinee melirik laptop Ayu dan tercengang melihat nilai hampir sempurna yang di dapatkan Ayu.
" Aku pulang dulu, Angkasa sudah menungguku di depan, terimakasih tumpangan Wi-Fi gratisnya..." Ucap Ayu bercanda.
Shinee, Shanum, Sunny berjalan beriringan mengantarkan Ayu yang menuju pintu keluar White Base.
Angkasa sepupu Ayu berdiri dari duduknya di kursi teras saat ketiganya muncul. Shinee dan Sunny jelas sudah kenal saat acara syukuran beberapa malam yang lalu, tapi Shanum belum.
" Oh iya Ay, ini sepupuku Angkasa, Angkasa ini Aya...."
Angkasa mengulurkan tangannya pada Shanum, tapi sebelum Shanum mengangkat tangannya justru Sunny yang menyambut uluran tangan Angkasa.
" Iya, dia Aya..tunangan saya " Ucapnya tegas.
Shinee dan Ayu hanya saling lirik jengah dengan sikap Sunny. Sementara Angkasa hanya tertawa kecil dan mengangguk paham.
Setelah bercakap-cakap ringan beberapa menitan Ayupun undur diri.
" Ya udah kami balik dulu, bye semua..." Ayu melangkah menuju mobil Angkasa, sementara Angkasa terlihat memeluk pinggang Ayu dan menariknya menempel padanya.
Deghh!!
Nyut...nyut...
Entah rasa apa ini yang dirasakan oleh Shinee, ada rasa kesal melihat perlakuan Angkasa pada Ayu Andira.
Apalagi saat Angkasa membukakan pintu untuk Ayu dengan lagak-lagak sok seperti pangeran yang mempersilahkan putri masuk, dadanya serasa ada yang *******-*****.
" Kenapa?" Tanya Sunny yang curiga dengan raut wajah Shinee yang lain hari ini.
" Kenapa apanya?" Tanya Shinee bingung.
Sunny tersenyum saat sudut mata Shinee kembali melirik mobil Angkasa yang mulai bergerak keluar gerbang.
Kenapa kamu sembunyikan perasaan mu brother...
Sebenarnya apa yang membuatmu menjadi pengecut seperti ini..
Apa kau masih terjebak dengan cintamu pada Nadia??
" Shan, aku ingin bicara dengan Shinee berdua saja..." Bisik Sunny pada Shanum.
Shanum yang juga sangat ingin segera mengabari mama dan papanya akan kelulusannya langsung mengangguk setuju.
" Brother, sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua. I miss you brother, dan ya...mari kita bicara..." Sunny merangkul saudara kembarnya itu menuju rumah pohon mereka yang berada di halaman belakang White base. Rumah pohon sederhana yang masih begitu terawat sampai sekarang.
Mereka terlihat menaiki tangga dengan sedikit saling kejar dan tertawa-tawa.
Shinee menundukkan tubuhnya yang besar saat ingin memasuki ruangan 3x3 meter itu.
" Aku tidak lagi pernah kesini sejak kau tidak ada.." Ucapnya sendu sambil duduk diatas bantal lantai yang menang sudah ada disana.
" Sudahlah, sekarang kan aku sudah ada..." Sunny ikut duduk setelah sebelumnya membuka semua jendela yang ada.
" Shinee..." Panggil Sunny lirih.
" Hemmm" Shinee menoleh menatap wajah yang sama dengan wajahnya itu.
" Shinee apa kamu sudah punya pacar?" Tanya Sunny to the point.
Shinee terlihat sedikit kaget akan pertanyaan yang tiba-tiba itu.
" Nggak!!, belum, belum ada yang sesuai kriteriaku..." Jawab Shinee dengan membuang pandangannya keluar jendela.
" Memangnya gadis seperti apa yang kamu cari Shinee, jangan kebanyakan ngemil!!, entar malah jadi nggak nafsu lagi.." Sahut Sunny.
" Ngemil?"
" Ya Shinee, jangan kebanyakan ngemilih. Ntar justru dapatnya yang nggak-nggak..."
__ADS_1