BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Membuka hati..


__ADS_3

Sepeninggal Shanum keatas, Binar hanya mematung menatap ujung tangga dimana beberapa saat lalu Shanum hilang disana.


Kapan aku pernah bertemu denganya?


Dia siapa sebenarnya?


Atau aku yang sebenarnya siapa?


Kenapa aku tak asing dengan rasa ini..


Rasa yang ingin aku ulang terus menerus.


Cahaya Nilam?, siapa kau sebenarnya?


Perlahan Binar memasuki kamar yang ditunjuk oleh Shanum tadi.


Ceklek.


Pintu terbuka, pandangan Binar disambut oleh potret besar foto remaja usia SMP.


Inikah Sunny?


Tidak salah jika beberapa orang salah sangka..., ternyata kami benar-benar mirip..


Dari kamar yang dia masuki terdapat pintu tembus ke kamar sebelah.


Binar menatap deretan almari dengan nama-nama cowok disana.


Satu yang membuatnya mematung syok, di pintu almari dengan nama Rasya Adnan Syakieb tertempel sebuah foto rumah besar yang begitu dikenalinya.


Ya, gambar foto rumah itu adalah White Base.


Binar menatap foto itu lama..., kemudian gelengan kecil terlihat dari kepalanya.


Sekuat apapun otaknya berusaha mengingat, akan tetapi hanya kebuntuan yang ia dapatkan.


Setelah berganti baju dengan pakaian Shine, Binar nekat naik keatas. Niatnya hanya ingin melihat kondisi Shanum saja.


Tok..tok...tok..


" Aya....?" Panggil Binar yang berdiri ditengah pintu. Karena pintu kamar Shanum tidak tertutup, tapi terbuka lebar.


" Emmm, Bin kalau mau pulang.., pulang aja nggak papa, bawa mobil papa saja kalau masih hujan" Ucap Shanum yang sudah berganti baju dan diduduk memeluk lutut diatas kasur.


" Aku akan disini jaga kamu.." Sahut Binar dengan nekat masuk dan duduk di kursi belajar Shanum.


Shanum membuang pandangannya ke samping, tidak mau menatap Binar.


" Aya..., foto rumah yang di pintu lemari Rasya itu, foto rumah siapa?" Tanya Binar penasaran, sejak tadi otaknya terasa panas karena berusaha mengingat rumah yang begitu melekat erat di memorinya.


" Rumah kami, rumah kami bersama. Rumah milik Sunny dan Shine, rumahku, rumah Rasya, rumah Almeer, rumah Rayden, rumah Aryan, rumah Luigi, rumah Tiara, rumah Azmi dan Azmya, pokoknya itu rumah kami..." Sahut Shanum dengan meluruhkan badanya, berbaring menghadap Binar.


Mereka saling tatap, tidak ada kata-kata. Hanya mata mereka yang berbicara.


" Sunnymu...., dia tampan sekali ya.." Ucap Binar setelah sekian lama mereka diam dan hanya saling menatap.


" Hemm, iya. Berarti kau juga tampan. Dia mirip denganmu kan? Are you recognized that?" Tanya Shanum.


" Ya, dan aku baru sadar..., ternyata sainganku berat banget ha..ha..ha..." Ucapnya dengan tawanya yang lepas.


Shanum ikut tersenyum dan menutupi tubuhnya dengan selimut, baru kali ini selama beberapa minggu mereka bersama Binar tertawa lepas seperti itu.


" Babe aku ingin bicara serius denganmu..."


Binar berpindah duduk disisi ranjang dekat kepala Shanum.


Shanum membuka selimutnya, menatap wajah tampan yang tepat berada diatasnya, menatap matanya.


Gadis mana yang sanggup ditatap oleh mata elang milik Binar.


Jatung Shanum seolah panas terbakar, aura maskulin Binar sungguh meresahkan kewanitaannya. Apalagi mereka di kamar saat ini berdua saja. Jujur, sebagai gadis normal, Shanum mengakui kebadasan seorang Binar.


" Duduklah babe..., aku bisa gila kalau kau tiduran begitu.." Ucap Binar dengan sedikit mengulum senyuman.



" A..a...apa..." sahut Shanum grogi. Shanum tak akan sanggup menatap keindahan wajah Binar saat ini. Ingatan dia menciumi kening Binar tadi membuatnya panas dingin.


Dengan cepat gadis itu berangkat dan duduk bersandar pada kepala ranjang.


" Apa?, apa yang serius?" Tanya Shanum penasaran.

__ADS_1


" Cintaku...., cintaku untukmu serius babe..." Ucap Binar, tanganya meraih kedua tangan Shanum untuk digenggamnya, lalu dibawanya kebibirnya.


Cup....


Kecupan yang sangat lama, bahkan mampu meruntuhkan dinding tinggi yang dibangun Shanum diantara dirinya dan Binar.


" Aku mohon padamu babe, jangan hempas aku. Aku benci diabaikan, jangan lakukan itu padaku babe.... Aku bisa mati.."


" Jika memang kau tidak suka aku, katakan sekarang babe, aku akan pergi. Tapi tolong jangan mengacuhkan aku...."


Masih dengan mengenggam erat jemari Shanum dan mengecupi punggung tangan gadis itu, Binar terus saja mengungkapkan isi hatinya.


" Katakan padaku babe, sekarang juga. apa kau membenciku babe?"


Mata indah dan tajam Binar lagi-lagi menguji perasaan Shanum. Goyah sudah!!, hancur sudah dinding itu saat ini juga.


" Tidak" Jawab Shanum jujur.


" Apa kau tidak suka keberadaanku disekitarmu? " Wajah Binar semakin maju, semakin menatap mata Shanum dalam-dalam, mencoba menggali jawaban dari gadis yang begitu memenuhi otak dan hatinya.


"Tidak Bin, aku tidak keberatan sama sekali..." Jawab Shanum dengan membuang pandangannya kesana kemari.


Binar tersenyum lembut, gadis di depannya ini terlihat salah tingkah.


" Kamu suka nggak jika aku deket-deket kamu begini?" Binar menarik dagu Shanum agar menatapnya.


" Hemmm??" Tanya Shanum syok.


" Suka nggak?" Tanya Binar lagi.


" Tidak..." Jawab Shanum dengan menunduk malu-malu. Jelas apa yang diucapkannya bertolak belakang dengan isi hatinya. Dia begitu nyaman saat ini, hatinya berbunga-bunga karena kasmaran.


" Tidak suka? Masa?" Goda Binar yang lagi-lagi mengangkat dagu Shanum dengan telunjuknya.


" Tapi aku suka babe, bahkan pengen guling-guling saking sukanya..." Ucap Binar.


" Apa itu karena begitu cintanya aku padamu ya babe, aku cinta banget sama kamu babe...." Lanjut Binar.


" Gombal...hi..hi...hi.." Shanum mengulum senyumnya.


" Sumpah ini beneran, nggak ada gombal-gombalan, swear!!" Ucap Binar lugas.


" Dihh..., ngantuk gue..." Ucap Shanum mengalihkan topik pembicaraan


Hujan dan petir semakin bersahutan diluar, tapi kedua insan ini hanya saling tatap dan tersenyum malu-malu.


" Cahaya...sayang...." Panggil Binar mesra.



" Emm..." Shanum membuang muka, menyembunyikan senyumnya yang merekah.


" Bagaimana perasaanmu padaku?"


Duaarrrr!!!


Shanum menunduk, dia tidak bisa menjawab pertanyaan ini.


Cintanya hanya Sunny, walaupun hatinya sudah mulai berkhianat. Akal sehatnya tetap meninggikan Sunnynya..


" Maaf, jangan sekarang..." Ucap Shanum pelan.


" Cintakan?, Sayangkan?" Binar kembali mencubit dagu Shanum untuk menatapnya.


Binar bisa melihat kilatan cinta di mata Shanum, tapi dia juga bisa melihat keraguan di mata Shanum juga.


"Tidak apa-apa jika itu belum ada, aku akan tetap menunggu..... " Ucapnya lagi.


" Paling tidak, coba sekali saja lihat aku sebagai Sunny..... Aku iri dengannya..."


" Aku mencintaimu Aya, sekarang dan selamanya, aku janji..." Lanjut Binar dengan menyodorkan jari telunjuknya.


Shanum menatap heran pada telunjuk Binar yang ada di depan matanya.


" Apa?" Tanya Shanum masih dengan menatap telunjuk itu tidak paham.


" Promise!!" Binar menarik telunjuk Shanum untuk ditautkan ditelunjuknya.


" Ini promise ku babe..." Ucap Binar saat kedua telunjuk itu kini menyatu.


Mata Shanum membola mendapati ini. Sunnynya juga selalu menggunakan telunjuk, bukan kelingking saat berjanji.

__ADS_1


Dada Shanum bergetar hebat, orang yang duduk didepannya saat ini bertingkah seperti Sunnynya.


" Sunny........."


Grebbb!!!


Shanum menubruk Binar, memeluknya erat.


"Iya sayang.....aku Sunny..." Binar membalas pelukan Shanum begitu erat.


Dikecupnya dalam kening Shanum.


Tidak masalah babe...


Asal kau bisa selalu bersamamu...


Kau memanggil aku dengan nama siapapun aku terima....


Mau kau panggil aku Sunny atau apapun, aku tidak masalah, asalkan itu tetap kau..


" I love you Sunny...."


" Love you too babe..." Sahut Binar dengan terpejam.


...***...


Pagi datang, Minggu pagi yang sejuk, udara yang bersih menyapa manusia.


Shanum membuka matanya, wajah Binar nyata di depanya saat ini. Wajah bersih yang begitu tampan saat terpejam.


Ya, semalam mereka tertidur dengan masih berpelukan. Tak ada aktivitas lain yang aneh-aneh, mereka hanya tidur.


Hati Shanum yang membatu perlahan mencair, dia berusaha menerima keberadaan Binar yang selalu ditolaknya dalam hati.


" Bin...., sholat subuh dulu..." Shanum menusuk pipi Binar dengan jarinya.


" Emmhhh..." Binar hanya melenguh dan semakin mempererat pelukannya.


" Bin..., udah subuh...." Shanum berusaha melepaskan diri.


" Diem dulu babe..., jangan bergerak..." Bisik Binar dengan wajah yang terlibat menahan sesuatu.


" Apa? Kamu kenapa?" Ucap Shanum semakin memberontak.


" Babe diem!!, diem please....akkhhhh..." Binar semakin menyeringai seolah benar-benar kesakitan.


" Bin kamu kena---"


" Ssstttt..., diem dulu sebentar!!, atau kucium kamu!!!" Binar menekan bibir Shanum dengan kedua jarinya.


" Kenapa, kamu kenapa?" Tanya Shanum berbisik di telingan Binar, gadis itu tidak berani bergerak.


" Belutku sedang tegang..." Jawab Binar dengan masih terpejam, seolah merasakan sesuatu.


" Belut?"


" Hemmm" Jawab Binar singkat.


" Belut apa?, dimana?"


" Belut ini pusat hidupku, senjataku, kelak kupersembahkan yang terbaik untuk istriku..." Ucapnya lagi, alisnya naik turun menatap Shanum.


" Belut?, untuk istrimu?" Gumam Shanum polos.


" Hemmm, iya. Belut yang bisa membawa wanita menjerit bahagia..., belut ini...." Binar membawa telapak tangan Shanum ke sela pahanya yang begitu keras.


" Akkhhh...Binar nakal!!!" Shanum syok dengan apa yang dipegangnya barusan. Dengan tubuh bergetar dan begitu malu Shanum beguling ke samping, menjauh dari Binar.


Tapi Binar justru tertawa terbahak-bahak dan malah merangkak di atas tubuh Shanum.


" Babe...aku sayang kamu, belutku hidup setiap kali deketan sama kamu..." Bisik Binar masih dengan tertawa.


" Hilih....sana ih, dasar mesum...." Shanum berusaha mendorong tubuh besar Binar.


Tapi yang ada Binar semakin menurunkan tubuhnya, menindih Shanum, memeluknya erat.


" I love you so much Cahaya...." Bisiknya di telinga Shanum.



__ADS_1


__ADS_2