
Aivy dengan riang menggendong boneka Tata di pelukanya, apalagi benar-benar dapat dua. Hari ini toko memberikan free gantungan kunci BT21 untuk setiap pembelian boneka apa saja.
" Yeeyy Alhamdulillah.., kalo rejeki mah nggak kemana.... Makasih ya kak Arnov, moga rejekinya lancar dan berkah.." Ucap Aivy. Arnov mengangguk, lalu menjulurkan tanganya hendak mengelus jilbab Aivy. Tapi saat matanya tak sengaja melihat alis Roy yang naik turun mengejeknya, Arnov pun menarik kembali tangannya.
Mereka saat ini berada di Restoran Jepang, giliran Roy yang ambil giliran traktir-traktiran. Maklumlah anak semata wayang dari pengusaha yang memiliki banyak dealer di mana-mana itu adalah satu-satunya yang paling tajir diantara mereka berenam.
" Silahkan pesen sesuka kalian guy's, jangan lupa pilih yang paling mahal..." Ucapnya sombong. Sombong untuk Roy sih tidak dosa, lah buktinya ada!!. ATMnya saja saldonya nggak keitung lagi digitnya.
Arnov duduk di paling pinggir, berharap agak berjauhan dari Aivy. Tapi bocil itu rupanya malah duduk di depannya dengan santai.
" Kak Arnov.." Panggil Aivy.
" Hemmm" Jawab Arnov sambil terus menatap ponselnya sambil menyedot jus mangga dihadapannya.
" Makasih ya bonekanya..." Ucap Aivy senang.
" Hemmm" Jawab Arnov.
" Janji lo, kalo juara 1 nanti dapet lagi.." Lanjut Aivy.
" Hemmm" Lagi-lagi hanya hamm hemm saja yang keluar dari bibir Arnov.
Aivy yang kesal langsung berdiri dan melangkah menuju ke samping Arnov ingin melihat apa yang sedang diperhatikan Arnov di ponselnya.
" Liatin apa si---" Aivy ikut melongok penasaran ke arah layar
" Heyyy...sana ih...!!" Arnov buru-buru menelungkupkan ponselnya, lalu cepat-cepat memasukkannya ke kantung celana. Mencurigakan!!
Roy menyaksikan itu semua, pemuda itu sama seperti Aivy saat ini, penasaran akan yang disembunyikan Arnov di ponselnya.
Mereka makan dengan tenang dan damai, Roy dan Alexa seperti biasa, mereka mesra-mesraan sambil suap-suapan. Sementara Binar dan Cahaya hanya tatap-tatapan dari tadi. Setiap Cahaya mencuri tatap, Binar mengedipkan sebelah matanya. Dan mereka akhirnya hanya saling senyum saja.
Keberadaan Aivy benar-benar membuat Binar takluk dan menjadi lelaki sholeh padahal mah enggak sama sekali!!.
Apa kabar Arnov?
Arnov terlihat cool dan santai, padahal hatinya gelisah saat ini. Tingkah imut Aivy di depanya terus-terusan membuatnya serangan jantung.
" Nih...liat guy's. Si Tata ikutan makan nih..." Ucap Aivy menunjukkan pose boneka yang telah di bentuknya sedemikian rupa.
" Kata si Tatanya, Maacih kak Roy traktiran hari ini..." Ucap Aivy dengan mengecilkan suaranya menjadi suara imut anime-anime.
" Bwahaha ha..ha..ha.... Aivy kau ini bisa ae..." Seru Roy disertai tawanya yang menggelegar di restoran itu, disusul oleh yang lainya.
Binar hanya tersenyum melihat tingkah lucu adiknya.
...***...
Sementara di Jakarta.
Almeer terlihat begitu berbahagia saat beberapa saat lalu mommynya mengatakan bahwa besok lusa kak Binar , papanya dan Aivy akan datang ke Jakarta.
Dan yang lebih membahagiakannya mereka akan menginap di rumah ini.
Senyum cerah Almeer tak surut sejak siang sampai malam ini.
" Mom, besok mereka dikamar tamu kan?" Tanyanya antusias.
" Yupp" Jawab mommy Ara, tanganya sibuk menuangkan nasi dan lauk pauk di piring suami dan anak-anaknya.
" Trus Aivy?" Tanyanya lagi.
" Aivy dikamar Maureen dong..." Sahut Maureen cepat.
" Dihh, kak Meera juga kangen Aivy lah, kakak punya jepitan baru buat dandanin Aivy.." Serobot Meera.
" Jepitan apa?" Tanya Maureen kepo.
" Jepitan Jennie Blackpink, memang udah kakak beli untuk Aivy "
" Buat Maureen ada juga nggak?" Tanya Maureen.
" Nggak.." Jawab Meera cepat.
" Ogah beliin kamu " Almeer ikut menimpali.
" Nah kok gitu sih!!, Maureen ini adik kalian loh!!" Seru Maureen kesal.
" Bukan!!, adik kami Tania Shelomitha.." Jawab keduanya kompak.
" Almeer!! Almaeera !!" Tegur Rangga pelan. Entah kenapa Almeer dan Almaeera selalu ketus begitu kepada Maureen, tapi justru kepada Tania anak kedua Lenox mereka justru lembut dan penuh kasih.
" I'm sorry dad..." Ucapnya mereka dengan menunduk.
Mommy Ara mengusap kepala Almeer dan mengecup kepalanya pelan.
__ADS_1
" Menurut kakak bagaimana?, Aivy bagusnya tidur dimana?" Mommy Ara mencoba menggali pendapat Almeer.
" Mungkin Aivy akan suka kalau dia tidur dengan langsung melihat bintang mom, kita bisa sama-sama tidur di loteng..." Usulnya lirih.
" Meera setuju, daddy bisa jemput Azmya kan...." Seru Meera cepat.
Maureen sepertinya juga sanggat setuju dan antusias.
" Ya sudah, besok bersihkan lotengnya. Jika kalian ingin tidur disana. Ajak kak Rasya dan Rayden biar ramai..." Ucap mommy Ara bijaksana. Daddy Rangga mengangguk setuju, istrinya selalu pintar memecahkan sesuatu untuk mengakurkan putra putrinya.
...*...
Keseokan hatinya Almeer, Rasya dan Rayden kerja bhakti membersihkan loteng di rumah Almeer.
" Ranjangnya pindahin aja kali Meer, kita tidur dilantai aja biar seru.." Usul Rasya putra Adnan dan Hana yang sudah kelas satu SMU saat ini.
" Iya betul.." Sahut Rayden, putra Denis.
" Ya udah kita mulai angkat itu dulu.."
Mereka bekerjasama membuat kamar loteng itu menjadi luas dan nyaman.
Meera dan Maureen ditambah Azmya sibuk menyapu dan mengepel.
Sementara para boys merakit PS mereka. Ya,...anak-anak genk somplak tak akan pernah bisa meninggalkan PS mereka saat mereka berkumpul. Dan itu hasil didikan Denis yang si hantunya game.
" Nah beres nih, katanya Luigi dan Tania besok dateng woy..." Seru Rasya saat mendapatkan chat dari papanya barusan.
" Betulkah?" Tanya Almeer
" Nih, papaku baru chat. Mereka masih di Singapura sekarang.."
" Wah, kasur lantainya kurang lebar nih..." Ucap Almeer pula.
" Ya lagian kenapa nginep sini sih!!, kenapa nggak ke White Base aja yang banyak kamarnya, tinggal pilih.." Sambar Rayden.
" Itu karena yang dikenali oleh kak Binar hanya keluarga aunty Ray..." Mommy Ara mengusap kepala Rayden sayang, beliau datang dengan membawa minuman untuk mereka.
" Tapi kak Binar kenal Rasya juga kok mom..." Sela Rasya.
" Iya, dan pasti nantinya kak Binar akan sering kok ke Jakarta, masih ada banyak kesempatan untuk mengunjungi White Base kan.." Lanjut mommy Ara lagi.
" Sering??, maksudnya mom?" Tanya Almeer bohong.
" Papanya kak Binar harus dioperasi di Jakarta dan itu mungkin prosesnya bisa beberapa kali sampai benar-benar bisa jalan, jadi mereka akan sering ke sini.."
Almeer berteriak-teriak dalam hati, hatinya begitu berbunga-bunga saat ini. Tapi...
Saat ingat dua bulan lagi dia dan Almaeera akan ke Bandung untuk tinggal di pesantren, Almeer tanpa sadar menepuk keningnya.
Plak..
" Loh kenapa kak?" Tanya Maureen yang terkejut melihat itu.
" Nyamuknya banyak Reen, siapin obat nyamuk nya jangan lupa.." Jawab Almeer.
" Emang sakit apa nyamuknya?"
" Sakit gigi, makanya pakai jarum gigitnya.." Sahut Rayden sok tau.
...*...
Pagi itu di ruangan papa Sanjaya sudah ramai.
" Pa, papa bisa berdiri nggak coba.." Binar mencoba mengangkat papanya untuk berdiri. Dan ternyata bisa untuk waktu yang lumayan lama.
" Nah duduk sini pah..." Binar mengganti kursi roda papanya yang milik panti ke kursi roda baru yang dibelinya kemarin.
Shanum ikut membatu merapikan tempat tidur papa Sanjaya dan memasukkan beberapa baju ke dalam tas ransel yang disediakan Binar.
" Kamu beneran nggak ikut babe?" Tanya Binar.
" Nggak bisa babe maaf..., karena besok dan lusa masih ada uji coba tes lagi.., pengen sih ikut. Sudah hampir dua tahun aku nggak kesana" Ucap Shanum sedih.
" Boleh nitip nggak sih?" Lanjut sambil berbisik di samping telinga Binar.
" Apa tuh?" Tanya Binar.
" Kalo kalian jalan-jalan trus ngeliat ada poster V BTS tolong beliin ya..." Pinta Shanum sambil memohon dengan mengatupkan dua tanganya di dada.
" Ogah!!" Seru Binar.
" Nah kok gitu sih??, nggak sayang aku gitu?" Rengek Shanum manja.
" Ya karena aku sayang dan cinta!. Makanya aku nggak mau matamu itu lihatin cowok lain babe.." Sahut Binar
" Ya elaah!!, posesif amat boss!!"
__ADS_1
" Harus dong!! " Sambar Binar.
Mereka terus bergerak untuk mempersiapkan keberangkatannya beberapa jam lagi.
Akhirnya Binar memilih untuk naik pesawat saja, takut papanya kenapa-napa kalau kelamaan duduk di kereta.
Roy sudah bersiap di mobilnya, Arnov pun ada.
Satu koper dan dua tas ransel di punggung Aivy dan Binar cukup untuk mereka menginap selama dua hari.
Arnov mengangkat koper diikuti Aivy dibelakangnya menuju mobil.
Binar mendorong papanya sementara Shanum terus memegangi ujung kaos Binar.
Rasa takut kembali datang, dulu saat dia terakhir berpisah dengan Sunny juga seperti ini.
Saat itu Sunny akan balik ke Chelsea, tapi sampai hari ini dia tidak kembali lagi.
" Kenapa?" Tanya Binar lembut saat melihat raut wajah sedih Shanum yang seolah hampir menangis. Papanya sudah berada di dalam mobil.
" Kamu akan kembali ke sini kan?" Tanya Shanum dengan suara yang serak.
" Iya sayang.., tentu saja. Rumahku disini.." Jawab Binar, dipeluknya Shanum yang sudah mulai menangis.
" Janji ya Bin, jangan bohong.... Sunny janji akan datang tapi sampai hari ini dia tidak kembali. Kamu jangan seperti dia Bin aku mohon..."
Binar merasa sesak, entah kenapa walaupun Sunny adalah musuhnya, tapi saat Shanum mengutarakan kekecewaannya pada Sunny, justru Binar merasa sakit hati. Dia merasa dialah Sunny itu sendiri.
" Aku pasti kembali sayang..., aku nggak janji. Tapi lihat saja nanti buktinya..."
Binar minta ijin sebentar kepada papa dan kedua sahabatnya untuk membeli bekal untuk dijalan. Padahal mah bohong, Binar membawa Aivy kebelakang gedung panti.
Grebb..
Binar langsung memeluk Shanum erat dari belakang.
" Babe, pasti aku akan kangen banget sama kamu.." Bisiknya.
" Akupun Bin..." Sahut Shanum.
" Ikutan yuk..., aku nggak enak sama mommymu..."
" Maaf sayang nggak bisa...Nggak papa, mommy dan uncle Rangga itu baik kok..." Balas Shanum sedih.
Binarpun memahami itu, kini wajahnya tepat disamping wajah Shanum tanpa penghalang.
Seperti biasa, dia akan mengigit-gigit bibirnya sambil menatap sayu pada mata Shanum, mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan keinginannya.
" Sayang boleh mint---- emmmphhh..."
Seperti itulah Binar, dia selalu meminta dan bertanya kesediaan Shanum untuk diciumnya.
Tapi Shanum yang sudah paham kode dari Binar langsung mengecup bibir Binar dan mel*matnya perlahan-lahan.
" Hah...hah...hahh..." Nafas mereka terengah-engah. Mereka saling tatap untuk waktu yang sedikit lama lalu sama-sama tersenyum manis.
" I love you..." Bisik Binar.
" Love you too, ehh ayo ah ini udah lama..mereka nungguin..." Shanum menyeret Binar kembali ke mobil.
Saat sampai Roy terlihat mengulum senyum melihat bibir Binar yang basah dan merekah.
" Belanjaan mana?" Tanyanya menahan tawanya.
" Ehh..itu...itu...." Binar gelagapan bingung menjawabnya.
" Bin kalau lupa beli di bandara saja" Mendengar suara papanya yang tegas membuatnya nyengir malu.
" Babe, berangkat ya..." Pamitnya lagi.
" Titip ya Nov..." Arnov mengangguk tegas.
" Selamat jalan om, Hati-hati dijalan. Salam buat mommy, uncle dan adik-adik..." Ucap Shanum sopan saat menyalami papa Sanjaya, lalu Aivy.
Lagi-lagi saat menatap Binar air matanya mulai keluar.
" Sshhhh, apa sih cengeng gitu..." Binar mengusap-usap rambut Shanum.
" Terimakasih nak Aya, Arnov.... ya udah kami berangkat dulu.... Assalamualaikum.." Pamit papa Sanjaya.
" Waalaikumsalam..." Sahut Shanum dan Arnov.
Binar mengecup kening Shanum dengan terpejam lalu segera cepat-cepat membuka pintu samping sopir dan duduk disana.
" Jalan Roy " Ucapnya tanpa menoleh lagi.
...πππ...
__ADS_1