
" Saga, Saka masuk, Romo...istirahat saja. Biar kami yang selesaikan ini.." Kakek Syahril menyuruh Saka dan Saga masuk agar tidak ikut membuat keributan jika yang lain sampai tahu.
" Tidak usah, romo juga ingin tahu apa yang terjadi.." Ucapnya tegas.
...*...
Pintu telah tertutup rapat, beberapa uncle memilih keluar untuk menemui para tamu yang mulai bertanya-tanya kapan acara di mulai.
Papa Sanjaya celingukan mencari putranya.
" Kakakmu tadi sepertinya sudah ada Vy, kok nggak kelihatan lagi ya.." Bisiknya pada Aivy.
" Sepertinya kakak masuk ke ruangan itu pah, habis gitu nggak keluar-keluar.." Jawab Aivy.
" Padahal penghulunya udah datang tuh dari tadi, ini juga udah hampir pukul sepuluh, emang mau jam berapa dimulainya?" Tanya Roy pada Arnov.
Putri Roy, si Celine bahkan telah terkulai tidur dipundak Roy.
" Aku tadi sempat denger suara teriakan Binar dari sana.." Bisik Alexa
" Teriakan?" Roy membulatkan matanya begitupun papa, Arnov, Aivy .
" Tepatnya seperti sangkalan!" Ucap Alexa.
" Tuh lihat puluhan chat aku dan panggilan aku juga ngga dibalas dan nggak diangkat sama sekali oleh Ayu dan Aya" Adu Alexa lagi
" Tadi sih saat aku bantu-bantu konsumsi di dapur juga sempat lihat bunda dan tante Vera digotongin, kaya pingsan gitu. Nah saat aku mau ikutan masuk pintu udah ditutup, uncle dan aunty juga terlihat panik semua.." Lanjut Alexa.
" Duhh...ada apa nih?, perasaan gue kok jadi nggak enak ya.." Ucap Roy dan Arnov berbarengan.
" Om juga nak, om juga merasa ada yang tidak beres.."
Disaat mereka dan para tamu sedang kasak-kusuk, Almeer beserta Oma Tara dan Opa Hen baru muncul dari pintu depan, mereka dari bandara langsung menuju White Base, tampak dari koper yang masih berada di tangan Almeer.
Sejak dua minggu yang lalu Almeer menemani oma dan opanya check up kesehatan di Singapura.
Mata Aivy dan Almeer saling tatap, Almeer melipat bibirnya kedalam begitupun Aivy, mereka sama-sama menyembunyikan senyum mereka.
Tatapan kedua mata mereka terlihat berkaca-kaca, ada rasa yang tidak dapat dijabarkan disana. Rindu tapi malu yang akhirnya terlihat canggung dan salah tingkah.
" TIDAK!! SEMUA ITU BOHONG!! AKU TIDAK SEPERTI ITU!!!"
Suara teriakan Sunny beserta barang-barang yang dibanting terdengar gaduh di ruang belajar.
Para genk somplak Junior yang berada diluar saling berpandangan satu sama lain.
" Brothy kenapa?, bertengkar dengan siapa?"
" Hah?, apa itu?, siapa yang mengamuk?"
" Brothy Sunny itu!!!, kenapa? ada apa?"
Semua saling melemparkan pertanyaan yang tidak ada jawabannya.
Bahkan para tamu juga mulai bertanya-tanya ada apa gerangan, karena hari juga sudah mulai larut. Tapi kedua pengantin tidak muncul juga. Kasak-kusuk mulai terdengar dari para tamu undangan yang di dominasi oleh rekanan bisnis perusahaan mereka.
Si Leader Gama Bagaskara yang beberapa saat lalu dibisikin oleh uncle Ardiansyah cepat tanggap dan langsung connect dengan apa yang terjadi. Dengan bahasanya yang sopan dan mudah bisa dipahami beliau akhirnya bisa membuat suasana kondusif kembali, dan para tamupun satu persatu meninggalkan White Base dengan tenang.
Gagal sudah acara akad nikah malam ini.
Mansion kembali sepi, yang tersisa hanya keluarga utama, sahabat dan kerabat. Semua boys dan girls diminta memasuki kamarnya masing-masing.
Papa Vino yang terlihat sangat emosi tidak bisa dikendalikan lagi. Wajahnya memerah karena begitu marahnya.
__ADS_1
Apalagi ditambah aduan dari Saga yang mengatakan bahwa pernah mergokin Sunny menyelinap tidur di kamar Shanum saat mereka berada di Malang, saat kakek buyut kritis dahulu.
Belum lagi kalimat 'main' yang pernah diucapkan Sunny di mobil saat mereka baru sampai Jakarta dua minggu lalu, dan Rasyapun mengiyakan.
Trus kata-kata Sunny yang seolah-olah sudah sering melihat bagian dalam Shanum saat di butik aunty Hana, dan ya! Saka pun mengiyakan.
Semua yang didengar Saga diadukan semua kepada papanya.
Kemarahan papa semakin menjadi-jadi. Apalagi ditambah Sunny yang tidak juga mau mengakui perbuatannya padahal bukti sudah jelas ada didepan mata.
" Saga, Saka persiapkan koper kalian, Sha...lupakan semua nak!!, kita pulang, jangan lagi kembali ke sini karena yang ada disini hanya kenangan buruk..!!" Ucap papa Vino lirih.
" Vin!!, jangan begini. Kita bisa bicarakan baik -baik" Sela uncle Rangga.
" Iya Vin, mari duduk dengan tenang " Ucap uncle Brian.
" Apa aku bisa tenang brothy, putriku di perlakuan seperti ini olehnya. Putriku yang kujaga selama ini, putriku yang selalu menjadi prioritas dihidupku telah dikhianati olehnya..." Tunjuk papa Vino pada Sunny yang tertunduk.
Sunny tidak kenal Dorothy Mayyer, tapi Sunny ingat betul, wanita ini adalah wanita yang masuk kamar hotelnya saat Yudisium waktu itu. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah darimana dia bisa mendapatkan barang-barang pribadinya?
Semua bukti menyudutkan dia saat ini, cincin, kartu Identitas, dan almamaternya semua itu adalah barang-barang personalnya. Belum lagi foto Dorothy dengan baju terbuka yang memasuki kamarnya. Bagaimana Sunny bisa menyangkalnya sekarang!, saksi? Adakah saksi saat itu?
Boro-boro mikirin saksi, gara-gara mulutnya yang asal njeplak saja saat ini pandangan para uncle dan aunty pasti bertambah buruk padanya.
Lagian kenapa Saga mesti mengadu-ngadu segala!!, apakah dia dendam karena nggak jadi dapat transferan dari Shanum?.
Seumur-umur baru kali ini aku nyesel karena omonganku yang nyerocos tanpa saringan..
Bruk..
Sunny terduduk di hadapan papa Vino yang terus saja *******-***** rambutnya.
" Uncle, aku tidak tahu bagaimana dia bisa mendapatkan barang-barang milikku. Tapi uncle, sumpah demi Allah!, aku tidak pernah sekalipun menyentuh siapapun selain Sha... Aku memang bangsat!, aku memang brengsek!, tapi aku tidak pernah mengkhianati putrimu uncle...tolong percayalah padaku..."
Sunny terduduk di depan papa Vino yang kini mengelus mama Vera yang mulai sadar.
" Tapi uncle, aku selalu berusaha belajar untuk menjadi semakin baik, aku berusaha memegang ketakwaan dalam hatiku, aku berusaha memegang teguh janji-janjiku padamu, sumpah uncle!!, semua itu tidak benar....."
" Masalah menyelinap kamar Sha, ya...aku akui itu. Bahkan itu aku lakukan sejak kecil, tapi sumpah uncle, aku tidak menyentuhnya berlebihan. Aku tahu batasanya uncle..."
" Uncle, tolong berikan waktu aku seminggu saja, aku akan bersihkan namaku, aku akan membuktikan bahwa aku tidaklah seperti yang wanita itu katakan.., Sunny mohon uncle..."
Mama Vera menganggukkan kepalanya, berharap suaminypun melakukannya hal yang sama. Sunny bukanlah anak orang lain, Sunny sama seperti anak mereka sendiri. Bahkan disudut hati merekapun tidak percaya akan tuduhah itu, tapi bukti?
Kini tatapan Sunny berpindah pada Shanum yang terkulai lemah di pundak bunda Dian.
" Sha..., kau mengenalku dengan baik kan?, Sha...bahkan keburukkan diriku pun adalah makananmu. Sha...apa kau percaya semua ini sayang?"
" Aku tidak tahu..." Jawab Shanum lemah.
" Sha...aku bertemu dengannya sekali, bahkan aku tidak mengenalnya, namanya juga aku tidak tahu Sha. Saat itu dia tiba-tiba memaksa masuk ke kamar hotelku. Tapi aku tidak menanggapinya sayang, Sumpah!!. Aku langsung pergi saat itu sayang.... Akkh Roy!! Iya Roy, dia saksinya sayang...dia ada di London saat itu..." Dengan terburu-buru Sunny mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Roy.
Tak lama pintu pun diketuk dari luar dan Roypun masuk.
Tatapan mata Roy langsung tertuju pada Sunny yang menatapnya penuh harap.
" Roy....Roy..jelaskan pada Shanum apa yang terjadi saat kita berada di Taj 51 beberapa bulan yang lalu Roy, please.." Pinta Sunny dengan sangat.
" Ada apa ini?" Tanya Roy bingung dengan mata mengamati sekeliling ruangan.
Disana-sini terdapat puing-puing berserakan, seperti bekas terjadi amukan yang mengerikan.
" Seseorang datang mengaku sebagai kekasih cucuku, dia juga mengaku tengah mengandung anak Sunny" Ucap kakek tegas.
__ADS_1
" Apa?" Kini giliran Roy yang syok tidak percaya.
" Ini Roy, si sundel ini. Dia yang mengacaukan semua!" Sunny menyerahkan foto Dorothy.
" Bukankah dia wanita yang kau tinggalkan waktu itu!!" Roy berusaha mengingat kejadian waktu itu.
Flasback on.
Roy sudah tiga hari tinggal di Taj 51 hotel, selain paling dekat dengan rumah sakit papanya dirawat, hotel ini juga terlihat nyaman.
Siang itu saat dirinya kembali ke hotel, dia melihat beberapa prajurit Sandhurst berseliweran di hotel tempatnya menginap. Roy langsung teringat akan sahabatnya Binar yang adalah salah satu prajurit Sandhurst.
Diapun bertanya kepada resepsionis kamar atas nama Manggala Sunny, seorang anggota Sandhurst Soldier.
Roy berjalan menyusuri lorong mencari nomor kamar Sunny dan di juga melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana Sunny memperlakukan wanita itu sampai pada Sunny meninggalkannya dan membuka kamar baru.
Flasback off.
" Yang terjadi seperti itu Sha, bahkan selama 2 hari disana dia selalu bersama kami dan Celine. Sunny bahkan tidur bersamaku dua malam itu...karena mamaku ingin tidur dengan Alexa dan Celine"
" Aku membela Binar bukan karena dia sahabatku. Tapi aku sangat tahu karakternya.."
" Sejak dia ditemukan oleh om Sanjaya, dan menjadi sahabatku. Tidak pernah aku melihatnya dekat dengan perempuan selain kamu...." Lanjut Roy.
Sunny menarik nafas lega, diusapnya wajahnya yang tegang sedari tadi.
Matanya melirik Shanum yang sama sekali tidak menatapnya.
" Lantas cincin dan barang-barang ini dia dapatkan dari mana?" Tanya bunda dengan suara yang begitu lemah.
" Dian, tenang!. Biar aku dan suamimu yang mengurus ini. Aku sudah coba hubungi teamku untuk bergerak ke Taj 51 hotel guna menyelidikinya.." Ucap uncle Brian cepat.
" Vin, bagaimana?, aku harap kau masih bisa memberikan kesempatan untuk putraku..." Ayah Marvel menatap papa Vino.
" Vin, kita semua adalah saksi hidup bagaimana Sunny tumbuh di tengah-tengah kita. Ya, aku akui dia memang paling bandel diantara boy's. Dia si blangsak yang membuat ayahnya bolak-balik di panggil bagian kedisiplinan di sekolahnya. Tapi coba kau rasakan dengan hatimu Vin, apakah bisa Sunny berbuat seperti itu pada putrimu?" Uncle Adnan yang sedari tadi diam akhir ikut bicara.
"Betul Vin, Sunny kita tumbuh dari didikan kita. Dia tidak akan mungkin melenceng jauh dari karakter yang kita tanamkan di hatinya, aku percaya ini semua hanya rekayasa..." Ucap uncle Rangga. Dia sangat tahu bagaimana rasa sakitnya disudutkan saat diri kita benar tapi disalahkan.
Lagi-lagi tatapan Sunny tertuju pada Shanum yang tidak menatapnya sama sekali, rasa sesak begitu mencekiknya.
" Uncle, boleh Sunny bicara dengan Shanum berdua saja?" Pinta Sunny dengan suara yang terputus-putus.
" Tanyakan saja pada Sha, uncle serahkan semua keputusan pada Sha....." Jawab papa Vino mulai melunak.
Yahhh, setelah kupikir-pikir Sunny tidaklah seburuk yang ada dibenakku.
Awalnya aku memang sempat syok saat mengecek CCTV dan mendapatinya beberapa kali memanjat balkon kamar Sha...
Tapi sejauh dia tidak melakukannya untuk merusak putriku, itu tidaklah kesalahan yang fatal.
Sebagai pria aku tahu, bahwa yang dilakukannya selama ini semata-mata untuk menunjukan rasa cintanya pada putriku.
Lihatlah, dia memang tampan, tidak menutup kemungkinan banyak wanita yang menginginkannya.
Mudah-mudahan ini hanya rekayasa seperi yang kau bilang nak...
" Shanum...may I..."
Belum juga selesai Sunny merangkai kata-katanya. Shanum sudah berdiri melangkah keluar ruangan menuju kamar pengantin yang sejatinya memang telah disediakan untuk mereka.
Kamar yang begitu indah, bunga Sakura bertebaran dari mulai depan pintu hingga memenuhi lantai ruangan.
Diatas langit-langit juga terdapat rangkaian Tabebuya dan Sakura yang dihias sebegitu rupa.
__ADS_1
Indah, sangat indah. Tapi sayang...itu semua tak berarti lagi.
****