BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Villa Bestari


__ADS_3

Halaman berumput yang luas di sebuah Villa besar di daerah perbukitan itu kini di penuhi lautan remaja berseragam putih abu-abu.


" Sini babe, biar ku bantu turunnya..." Dengan sigap Binar loncat kebawah truk dan mengulurkan tanganya membantu Shanum turun.


" Mereka pacaran ya?"


" Iya kayaknya, dari tadi mojok berdua.."


" Ceweknya SMU Pelita..."


" Cowoknya Putra Bangsa, yang gudangnya cowok keren itu..."


" Eh iya loh, dia biar cuma kelihatan matanya aja bikin deg deg serr..."


" Matanya aja diam-diam menghanyutkan..hi..hi..hi.."


Sepanjang jalan menuju Villa gadis-gadis terus milirik pada Binar. Tentu saja yang ganteng disini tidak hanya Binar seorang, tapi karena tampilan postur tubuh tinggi tegap Binar sangat menarik perhatian, apalagi masker yang selalu menutupi wajahnya akan semakin membuatnya terlihat cool.


" Lo populer juga ya Bin..." Bisik Shanum lirih, saat ini mereka sedang berkumpul di lapangan untuk mendengarkan pengarahan dari panitia.


" EGP..." Sahut Binar cuek. Saat ini dipundaknya terdapat dua ransel yang besar-besar.


" Sini Bin, biar gue aja yang bawa ransel gue" Shanum berusaha meraih ranselnya.


" Nggak, gue aja.." Binar terus celingukan mencari dua sahabatnya, tapi sepertinya belum datang, mungkin truk berikutnya.


" Binar....." Panggil manja segerombolan gadis.


Binar hanya mengangguk dan mencari-cari keberadaan Shanum tiba-tiba hilang dari belakangnya.



" Apa?" Tanya Shanum sambil tersenyum manis.


" Sini!!, deketan gue!!" Binar menarik tangan Shanum dan menggenggamnya.


" Diihhh ada yang salting dipanggilin cewek-cewek..hi..hi...hi.." Olok Shanum genit.


" Gak!! Sorry..." Sahut Binar cepat.


" Salah satu dari mereka ada gocoan lo ya Bin..?" Tanya Shanum lagi.


" Gak ada!!"


" Cewekmu anak mana sih Bin?" Tanya Shanum penasaran.


" Anak SMU Pelita, kelas XII IPA 1, namanya Cahaya Nilam." Jawab Binar cepat.


" Gue nanya serius ini Bin..." Shanum menarik ujung seragam Binar


" Ini juga jawaban serius babe..." Jawab Binar lagi.


" Pertama kali naksir cewek kelas berapa Bin?" Shanum masih saja penasaran


" Ck, baru sama kamu inilah.." Binar menundukkan kepalanya malu.


" Tapi sayang gue gak bisa balas Bin, rasa lo itu sepihak lo. Gue ini setia sama Sunny asal lo tahu.." Shanum menggelengkan kepalanya pelan.


" Suatu saat gue akan minta maaf sama Sunny, tapi sebelum dia datang, izinkan gue ada di samping lo..."


" Tapi sayangnya gue udah janji sama Sunny nggak akan punya pacar sebelum dia jemput gue."


Binar terlihat marah, hatinya begitu kesal.


" Emang kapan dia jemput lo?, kiamat?. Atau dia harus bangun dari kubur dulu terus menjadi vampir?, zombie?, ghost?. Otak lo udah nggak bener karena si Sunny itu!!" Ucapnya dengan kesal.


" Apa katamu!!, Sunnyku belum mati!!, Dia belum mati!!, mayat itu bukan dia. Dipunggung anak itu ngga ada nama kami!!!" Teriak Shanum histeris.


Direbutnya tas ranselnya yang berada di bahu Binar dan berlari mencari-cari Alexa dan Ayu.


" Aya...sini-sini..." Suara Alexa yang sudah berada di lobi Villa memanggil- manggil Shanum.


" Hei kalian udah dapet kamar?" Tanya Shanum. Sementara Binar berjalan lesu dibelakangnya.


" Udah nih..., satu kamar untuk satu sekolah. Kita anak cewek dilantai dua.." Alexa menyodorkan kunci kamar mereka pada Shanum sang leader.

__ADS_1


Alexa menatap Binar iba, gadis ini sangat tahu bahwa Binar sedang jatuh cinta pada sahabat sejak TKnya itu.


Dan ketiganya pun mulai mengumpulkan alat-alat mereka dan berjalan ke arah tangga.


Binar hanya menatap Shanum dengan tatapan penuh penyesalan. Menyesal telah berkata-kata jahat pada gadis yang telah mencuri hatinya.


Harusnya dia bisa menahan diri dan tidak cemburu seperti orang gila begini. Yang dicemburuin juga orang yang sudah mati. Harusnya dia sabar sebentar, sabar menunggu Shanum bisa membuka hatinya.


Hati Shanum saat ini sedang tersangkut. Harusnya dia perlahan-lahan melepaskan sangkutan itu dan berusaha sedikit demi sedikit untuk masuk.


...***...


Binar terus saja menatap ujung tangga, sejak sampai tadi siang hingga sudah hampir maghrib begini dia belum melihat wajah yang terus dirinduinya.


" Kemana dia?" Desahnya masih dengan menatap ke lantai dua Villa.


" Bin, ngerokok dulu yuk..., pahit mulut gue" Ajak Roy.


" Ntar dulu lah Roy, jama'ah maghrib dulu kali " Sahut Arnov.


Binar tersenyum di dalam maskernya saat membayangkan bagaimana reaksi Roy saat bertemu Alexa nanti.


Benar saja, saat adzan maghrib berkumandang dari musholla samping Villa, barulah Binar bisa melihat gadis pujaan hatinya turun dari tangga bersama kedua sahabatnya.


Saat ini Shanum mengenakan hijabnya saat menuju ke musholla untuk jama'ah Maghrib. Mata Binar tak lepas dari gadis cantik itu.


Sementara Roy pucat pasi seperti melihat hantu saat matanya bersibobrok dengan mata Alexa.


Jika Alexa begitu berbahagia bisa bertemu pacarnya di acara yang sama, justru Roy merasa begitu tidak percaya diri. Baginya harga diri seorang lelaki adalah perang dan kejantanan.


Seni?. Menari, menyanyi, adalah hal yang menjatuhkan image dari definisi kejantanan bagi Roy.


" Sayang?, kamu peserta juga?" Tanya Alexa dengan wajah cerianya mendekati Roy.


" Ah..ehh..oh...i..iya sayang terpaksa, maksudnya dipaksa sama pembimbing kami.." Sahut Roy gelagapan.


Arnov mengangguk setuju, sementara Binar terus saja menatap Shanum yang terlihat beribu-ribu kali lebih cantik dengan jilbab yang membungkus kepalanya.



" Sssttt, bukan ihhh..." Jawab Shanum dengan tersenyum manis.


" Silahkan menyangkal, tapi jurusku hanya satu. Mari kita adu, keteguhan hatimu, atau doa-doa tak putusku untuk memintamu pada Tuhanku..." Jawab Binar mantap.


Shanum melotot kaget dengan jawaban tak terduga Binar yang begitu membuatnya resah gelisah. Sepanjang sejarah, hanya Binar lah satu-satunya cowok yang paling ngeyel mendekatinya, biasanya kalau Shanum bilang udah punya Sunny pasti mereka yang mendekatinya langsung nyingkir. Tapi Binar lain...


"Maaf yang tadi ya" Bisik Binar lagi.


" Tadi yang mana?" Tanya Shanum.


" Gue bilang Sunny sudah mat---"


" Iya, gue maafin. Bukan lo saja yang bilang begitu, semua juga menganggap gue gila..ha..ha..., bahkan keluarga gue sendiri. Tapi gue sangat percaya. Sunnyku masih hidup..." Ucap Shanum dengan mulai melangkah menuju musholla, Binarpun mengikutinya dari belakang.


" Hai Binar...." Lagi-lagi beberapa cewek mulai genit menyapa Binar.


Dan lagi-lagi pula Binar hanya mengangguk.


" Ekhem-ekhem..." Goda Shanum masih dengan senyumnya yang menawan.


Binar melirik gadis disampingnya itu dan tersenyum dibalik maskernya.


" Ekhem-ekhem juga..." Balas Binar pelan.


" Kayaknya pulang dari Gala Seni ada yang dapet gebetan nih.." Sindir Shanum lagi.


" Cukup!!, mau menghadap Tuhan kok ngomongin gebetan!!" Sentak Binar kesal.


" Wuih..., dengerin nasehat pak ustadz nih Roy, mau menghadap Tuhan kok sempet-sempetnya pacaran dulu.." Sindir Arnov pada Roy yang malah asyik-asyikan cekikikan berdua dengan Alexa.


" Selama ada kesempitan pasti ada kesempatan. Gunakan kesempitan yang ada sebelum anda menyesalinya. Lo mana tahu rasanya. Lo jomblo sih..." Sahut Roy penuh ejekan.


" Diihhh, sok bijaksana, padahal omonganya terbalik semua.." Ketus Arnov.


" Emang sengaja gue balik, otak lo aja yang nggak nyampai---"

__ADS_1


" Berisik!!, wudhu sana!!" Bentak Binar.


...***...


Selepas makan malam sebagian para peserta latihan untuk gladi bersih besok hari. Dan sebagian besar lainya menyelesaikan tantangan yang diberikan panitia. Yaitu, masing-masing peserta diberikan blangko kosong, dimana mereka harus sudah bisa mendapatkan minimalnya lima belas teman baru dari luar sekolahnya masing-masing.


Dalam waktu hanya beberapa jam saja blangko itu diberikan, blangko punya Binar telah hampir penuh terisi.


Bukan Binar yang sibuk mencari, tapi mereka, para gadis itu yang menawarkan diri.


Binar terpaksa membuka maskernya saat ini. Karena teguran keras panitia sudah tidak dapat lagi ia lawan.


Flu atau menderita sakit pun tidak, maka tidak ada alasan baginya untuk menutupi wajahnya.


Para gadis histeris saat wajah tampan itu terbuka, begitupun para siswa cowok. Saingan berat bagi merekapun kini nampak jelas di depan mata.


" Ya Tuhan....meleyot hatiku..."


" Ini pintu surga terbuka apa gimana ya?, bidadaranya lepas satu nih..."


" Iya nih, jadi orang kok egois banget ya. Ketampanan seratus orang kok dipake semua..."


" Gue rela merangkak demi bisa deket Binar ya ampyun..., alamat nih ntar malam gue susah tidur...."


" Di kasih makan apa ya sama bokap nyokapnya, kok ada loh orang sempurna kaya dia.."


Omongan para gadis di sekitarnya, entah kenapa membuat hati Shanum nyeri. Ada rasa tak rela saat wajah tampan Binar dinikmati oleh orang lain. Entah darimana datangnya, yang jelas saat ini timbul rasa egois pada hatinya. Egois untuk memiliki wajah itu untuk dirinya sendiri.


" Tutuplah wajahmu itu Bin.." Ucap Shanum jutek.


" Lo kan denger sendiri tadi, pas pengarahan barusan, masker gue harus dibuka!" Jawab Binar.


" Ck, panitia tadi bilangnya kan besok pas lo tampil dibukanya!" Sahut Shanum semakin geram saat beberapa cewek dengan terang-terangan memotret Binar.


" Ya udah, iya nih gue pake, kita kesana yuk..." Binar kembali memakainya dan menarik tangan Shanum, dibawanya kebelakang Villa.


Sesampai disana mereka duduk di bangku panjang menatap kolam renang. Disana tak hanya mereka sendiri. Tapi ada beberapa gerombolan lain yang juga sedang ada disana.


Binar membuka kembali maskernya, tanganya meraih rokok disakunya dan mulai membakarnya.


" Nih...tulis di blangko gue.." Binar menyodorkan blangko pencarian teman barunya.


Nama Shanum telah ditulis oleh Binar disana, pada urutan nomor satu. Dan deretan dibawanya didominasi oleh nama-nama siswi perempuan.


" Kok gue ada di nomor satu, padahal harusnya gue nomor tiga belas loh ini.." Shanum menatap Binar penasaran.


" Lo dimanapun tetap prioritas gue..." Jawab Binar.


" Uuhhhh, so sweet..." Ucap Shanum.


" Sweet apanya?, sweet gini juga lo tolak..." Jawab Binar dengan tatapan mata tajam menatap Shanum.


Tatapan mata yang membuat dada Shanum seolah ingin meloncat keluar. Karena tatapan mata Binar begitu menusuk sampai ke jantungnya. Karena tatapan tajam itulah tiba-tiba rasa dada Shanum begitu sesak.


Nggak...nggak boleh....


Gue nggak boleh suka Binar...


Gue cintanya cuma pada first love gue Sunny...Sunny....Sunny titik



" Namamu S. Cahaya Nilam, boleh gue tahu kepanjang dari S itu apa?" Tanya Binar pelan.


" Sunny..." Shanum tak menyadari apa yang diucapkannya, karena saat ini dia sedang melamunkan Sunnynya.


Binar terpaku, pemuda tampan itu menundukkan wajahnya.


Sebegitu besarnya cinta mu pada Sunny


Aku begitu iri padanya..


Begitu beruntungnya dia, mendapatkan cinta yang begitu besar darimu...


Sunny..., siapapun kamu!! Aku begitu membencimu...

__ADS_1


__ADS_2