
Tepat pukul 16.00 sore semua peserta Gala Seni Siswa sudah berkumpul di halaman depan Villa.
Roy saat ini menggendong dua ransel di bahu kiri dan kanannya. Benar-benar terlihat seperti cowok siaga untuk pacarnya.
Walaupun sudah sah-sah memiliki pacar, akan tetapi beberapa cewek masih saja nekat mendekatinya dan terang-terangan minta nomor ponselnya di depan Alexandria.
" Wah...wahh...cari gara-gara nih mereka..." Sindir Shanum pada Alexa yang terlihat kesal.
Sementara Roy terus-terusan mengatupkan kedua tanganya didada, menolak secara halus.
Binar yang berdiri dibelakang Shanum pun mencubit pipi gadis itu dari belakang.
" Kalo kamu gimana?, jika ada cewek minta nomor ponselku?" Tanya Binar, pengennya sih Shanum ikutan kesal dan marah seperti Alexa.
Tapi reaksi Shanum justru membuatnya kesal sendiri.
" Kasih aja, kan barangkali lo bisa nemu pengganti gue..." Jawab Shanum cuek.
"Oke Ya, baiklah kalau itu mau lo..." Binar segera berjalan kedepan Shanum dan sengaja menabrak pundaknya. Kesal!!
" Apaan sih!!" Umpat Shanum kesal, saat melihat Binar melangkah dengan santai ke arah kerumunan para cewek.
" Haii guy's siapa yang mau nomor gue kemarin?, sorry baru sempat sekarang..."
Ucap Binar sok cool, sudut matanya melirik sinis pada Shanum yang berkacak pinggang di belakangnya.
" Gue...Bin!.."
" Gue...juga.."
" Gue mau.."
Beberapa cewek nampak mengerumuni Binar dengan hebohnya.
" Begitu rupanya caramu?, okey...lo jual gue beli Bin!!" Gumam Shanum.
" Ada apa Ay?, lo cemburu?" Tanya Arnov dengan senyum jahilnya.
" Gue Nov, cemburu sama dia?, itu akan terjadi jika sekrup diotak gue udah lepas, sok ganteng amat teman lo itu..." Jawab Shanum geram.
" Nah..., Binar emang ganteng kelesss..." sahut Arnov gemas juga pengen nyubit Shanum.
" Tapi kalian pacaran kan?" Tanya Arnov lagi.
" Nggak di sudut gue, iya di sudut Binar. Kamu sahabat Binar pasti ngepro dia kan..., dah ahhh. Bantu gue naik Nov. Itu truknya udah ada yang datang..."
Arnov mengangguk dan berlarian menuju beberapa truk yang telah terparkir.
Kalau kemarin mereka mencaci maki saat mereka pertama kali menaiki truk, tapi sekarang mereka justru bersuka cita.
Berbaur dan bisa dekat satu sama lain lebih mengasikkan dari pada duduk di bus yang hanya bisa ngobrol dengan teman sebangku.
Binar yang masih dikerumuni cewek-cewek tidak menyadari bahwa Shanum dan genknya sudah berangkat kembali ke kota. Roy ikut serta dalam rombongan itu, menyisakan Arnov yang setia menunggu Binar.
" Bin!!, cepetan!!" Teriak Arnov kesal menunggu.
" Loh pacar gue mana?" Tanya Binar celingukan mencari Shanum, tas ranselnyapun tidak ada.
" Udah jalan tuh...." tunjuk Arnov pada beberapa truk yang mulai keluar gerbang Villa.
" Hahh!!!, kenapa lo nggak panggil gue!!" Binar meraih ranselnya dan berlari sekencang-kencangnya ke arah bukit di samping Villa, disana dia bisa menghadang truk itu dengan cepat.
Arnov melongo melihat ini semua, dia nungguin dari tadi cuma untuk ditinggal begini?. Kalau tau bakal seperti ini, harusnya dia udah naik dari tadi bareng Roy.
Jalan truk memang sedikit berliku-liku, sementara Binar harus berlari menanjak untuk bisa menghadang truk yang ditumpangi oleh Shanum.
Dari atas bukit samping Villa, Binar bisa melihat tiga truk yang muncul dari tikungan.
Tanpa pikir panjang Binar segera berlari turun, bahkan terlihat beberapa kali dia terjungkal. Celana abu-abu dan jaketnya udah tidak lagi rapi seperti tadi.
" Tunggu....tunggu..." Teriak Binar.
__ADS_1
Tapi karena anak-anak di badan truk pertama memutar musik dengan kencang, jelas tidak ada yang mendengar teriakan Binar.
Tak berapa lama truk kedua melintas, lagi Binar terus berlari mengejarnya dan terus memanggil. Pak supir sempat melihatnya dari spion, tapi beliau berfikir dibelakang masih ada beberapa truk lain, diapun urung berhenti.
" Brengsek!!! Anj*ing!!!" Maki Binar kesal.
Dari ujung jalan nampak bus ketiga, Binar tak ada pilihan lain kecuali berlari ke tengah jalan dan menghadang dengan merentangkan tanganya.
" Woyy!!!, cari mati lo hah!!!" Teriak sang kernek truk. Untung saja sang sopir begitu mahir, di waktu yang tepat dan sigap pak sopir bisa menginjak rem segera
" Gue mau naik pak!!" Teriak Binar dengan berani.
" Masih ada banyak truk di Villa, kesana saja..., kami sudah kepalang jalan.." Sahut pak sopir.
" Gue mau naik yang ini pokoknya.." Tantang Binar.
" Tapi udah ditutup baknya, malas gue turun!!" Ucap kernek pada sopirnya.
" Balik saja ke Villa, jangan ganggu kami!!, banyak yang belum berangkat juga!!" Tolak pak sopir.
Tapi rupanya Binar tidak mau mendengarkan. Pemuda itu dengan lincah memanjat badan truk begitu saja.
" Cahya!!! Cahya!!! Kamu disitu?" Teriaknya di sisi badan truk.
Cahaya yang duduk dipojokan pun segera berdiri mendengar suara Binar.
" Ya...gue disini.." Jawab Shanum celingak-celinguk mencari Binar.
" Hupp" Dengan lincah Binar memanjat dinding badan truk dan masuk ke dalam.
" Wuuahhh, gila lo ya bro!!!" Seru Roy melihat aksi Binar yang benar-benar bucin. Sementara yang lain bertepuk tangan heboh melihat aksi Binar yang nekat demi sang pacar.
Binar menyambar tangan Shanum dan menyeretnya mojok, tidak peduli harus mengusir pasangan yang telah ada dipojok duluan.
" Kenapa tinggalin gue!!" Binar menatap tajam mata Shanum.
" Lo aja yang sibuk cari selingkuhan!!" Jawab Shanum.
" Itu karena lo!!, gue kesal sama lo!!" Sahut Binar marah.
Brugh
Binar ikut duduk disamping Shanum, pemuda itu menengadahkan kepalanya yang bersandar pada ranselnya. Matanya terpejam dan nafasnya begitu ngos-ngosan.
" Gue ingin lo hanya melihat gue babe..." Ucapnya lirih, kalau tidak malu rasanya Binar ingin nangis saat ini. Dia begitu mencintai tapi yang dicintai tidak perduli.
" Gue hanya ingin lo sedikit saja merhatiin gue..." Lanjutnya.
" Jika lo belum cinta, setidaknya jangan sakitin gue dengan kejujuran lo yang menyakitkan. Cukuplah berbohong untuk menyenangkan gue...." Kini kepalanya menunduk dalam diantara dua lututnya.
Hatinya begitu sakit saat ingat Shanum berkata padanya untuk mencari pengganti dirinya.
" Gue terima hubungan kita jomplang seperti ini, gue yang cinta hampir mati dan lo nya nggak peduli.."
" Tapi jangan menutup mata dengan usaha gue Cahaya, hargai usaha gue..."
Binar menoleh pada Shanum yang tampak diam saja mendengarkan ucapanya.
" Lo pahamkan babe?"
" Sure, I understand..." Jawab Shanum lirih. Jujur dalam hatinya saat ini nama Binar telah tersemat sebesar biji kacang hijau, entah kapan awal hadirnya.
Ya, Shanum tidak tahu kapan nama Binar mulai ada. Entah kapan biji kacang hijau itu akan berubah menjadi kecambah yang tubuh subur?, atau justru akan mati?
" I'm so sorry..." Lanjutnya lirih.
Binar menatap gadis disampingnya ini, dia harus sabar. Sabar menunggu cinta tumbuh dihati Shanum untuknya, dan entah kapan itu.
" Aku antar pulang ya..., nggak usah minta jemput papamu..." Bisiknya pada Shanum.
" Trus motormu?"
" Ada yang anterin ke lapangan..." Jawab Binar.
__ADS_1
...***...
Lapangan kembali penuh akan lautan remaja berseragam putih abu. Acara penutupan digelar sangat cepat. Karena waktu sudah sangat sore.
Motor Arnov, Roy dan Binar telah terparkir disisi lapangan.
Seseorang diantara peserta terus saja mencuri-curi foto Binar dan Shanum.
Gerak-geriknya begitu mencurigakan.
" Gue udah kirim fotonya bang..." Bisiknya pada seseorang di ponselnya.
Roy dan Alexa telah lebih dulu meluncur kembali ke rumah mereka. Arnov juga harus mengantarkan Ayu pulang, karena ditangan Ayu saat ini ada dua piala besar milik SMU Pelita dan Putra Bangsa.
" Kuy..babe.." Binar meletakkan rasel mereka di depan motornya, diapun sudah duduk dimotor.
" Ehh selfi dulu babe buat kenangan, sini deket gue..." Binar menarik Shanum mendekat.
Binar meraih kepala Shanum untuk mendekat padanya.
" Love you babe..." Binar mencuri-curi kecupan pada pipi Shanum saat mereka berdua selfie.
" Bin kau ini!!" Shanum menjauhkan tubuhnya dari Binar dengan malu-malu.
Tapi tubuh tegap Binar bagai benteng kokoh yang tak mudah goyah.
Motor melesat menuju rumah Shanum. Semenjak menurunkan kakinya dari truk, Binar kembali memakai maskernya lagi.
Perjalanan ke rumah Shanum hanya memakan waktu tidak sampai tiga puluh menit.
Binar dengan sigap membawakan ransel Shanum sampai ke teras. Rumah terlihat sangat sepi.
" Kok sepi?" Tanya Binar.
" Ya, wekend gini mama dan papa ke Jakarta.." Sahut Shanum.
" Saga?"
" Ikut kayaknya, apalagi Minggu ini ulang tahunya twin A...." Shanum melepas sepatunya diteras.
" Kamu nggak apa-apa sendiri?" Tanya Binar khawatir.
Shanum tertawa kecil, ini bukan sekali dua kali dia ditinggalkan keluarganya untuk pergi ke Jakarta. Tapi dari kecil juga sudah sering, bukan sesuatu yang baru.
" Lo nggak ditemani siapa gitu?, ada satpam nggak di rumah lo?, bibi?" Tanya Binar penuh rasa khawatir.
Shanum kembali tersenyum dan menepuk lengan Binar pelan. Sebagai cewek siapa yang tidak meleleh di istimewakan seperti ini.
Perhatian Binar samakin hari semakin membuat Shanum klepek-klepek akan rasa bahagia yang luar biasa.
" Tenang, aku nggak akan kenapa-napa dirumahku sendiri.., pulanglah..dan istirahat lah....babe..." Ucap Shanum manis.
Binar hampir pingsan saat mendengar Shanum memanggilnya babe.
" Aahhhhh wawww...waaaawww yeaaay!!!" Binar berjingkrak-jingkrak saking senengnya, gerakan paragoy hebohpun diperagakannya. Matanya berkaca-kaca saking bahagianya.
Shanum tertawa terbahak-bahak melihat itu semua.
" Gue nggak mau pulang babe...., gue mau nginep sini aja..." Binar terus menempel pada Shanum seperti koala. Kedua tanganya melingkar di leher Shanum.
" Pulang...., pulang sana cepat..." Shanum melepas tangan Binar dan mendorongnya keluar pagar rumahnya.
" Ya sudah gue pulang, ntar malam gue kesini ya..." Binar mengelus rambut halus Shanum dengan penuh perasaan.
" Hemmm, boleh... Ajak Aivy juga..." Sahut Shanum.
Binar tersenyum licik, otaknya langsung merencanakan sesuatu yang gila.
Dengan terus tersenyum Binar memacu motornya ke rumah Arnov untuk menjemput Aivy yang dititipkan pada keluarga Arnov.
__ADS_1
Binar tidak mau mengambil resiko meninggalkan adiknya sendirian tanpa dirinya dikandang macan.