BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine

BINAR CAHYA : Twin in Love story, Sunshine
Cerita Sunny...


__ADS_3

Atas saran uncle Lenox mereka bergerak cepat, karena Sunny juga tidak bisa menunggu lama untuk mendapatkan transfusi darah.


Transfusi darahpun segera diberikan oleh Shinee yang masih sehat, karena ayah saat ini sedang hypertension karena peristiwa akhir-akhir ini.


Setelah beberapa jam berada di ruang IGD, Sunnypun dipindahkan ke ruang perawatan.


Uncle Lenox sengaja memberikan ruangan yang paling bagus untuk mereka, karena baik ayah, bunda dan Shinee tidak ada yang mau pulang ke WB, mereka bertiga memutuskan untuk bersama-sama Sunny malam ini.


Sementara uncle Brian, setelah mendapat informasi dari Claireen dan Jhosua langsung menggerakkan teamnya untuk segera bertindak.


Claireenpun sudah dibatas yang tidak lagi bisa menutupi kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh papanya selama ini.


Claireen berharap dengan informasi yang diberikan ini bisa meringankan hukuman papanya jika suatu saat papanya tertangkap.


...***...


Pagi hari yang cerah, secerah hati keluarga kecil Marvel. Hari ini putranya yang dianggap telah tiada itu berada di tengah-tengah mereka saat ini.


Semalam mereka tidur di brangkar yang sama sambil terus berpelukan erat. Seolah-olah tak ingin Sunnynya hilang lagi.


Seperti saat ini, adzan subuh sudah berkumandang sejak tadi. Tapi bunda masih saja setia melingkarkan pelukanya di perut Sunny.


Pukk...pukk..


Ayah Marvel menepuk-nepuk pelan pipi istrinya itu.


" Wife... Sholat subuh dulu, ini sopir sudah bawa baju ganti dan perlengkapan ibadahmu sayang..." Bisik ayah.


Bukan bunda yang membuka mata, justru Sunny yang kini menggerak-gerakan kepalanya pelan.


" Hauss...." Ucapnya tanpa membuka mata. Bunda yang mendengar itu langsung duduk dan meraih air disamping nakas, tapi rupanya ayah Marvel sudah terlebih dulu memasukkan sedotan ke bibir putranya yang terlihat kering dan pecah disudutnya.


" Papa...dimana papaku..." Ucapnya lirih masih dengan mata yang tertutup.


Bunda Dian dan ayah saling tatap.


" Kenapa kau mencari bajingan itu, dia sudah berada ditempatnya yang tepat.." Ucap ayah dengan menggeretakkan gigi-giginya.


Sunny yang mendengar kata-kata ayahnya dan jelas dia paham maksud dari kata-kata itu segera membuka matanya.


" Dimana papaku?" Ucapnya dingin dan tajam.


Glegg!!


Ayah Marvel sampai susah menelan ludahnya sendiri melihat sorot mata yang begitu tajam pada tatapan putranya itu.


" Aku ayahmu!!, papa yang mana yang kau cari!!" Bentak ayah.


Terlintas di benaknya perilaku manis Binar pada papa Sanjaya yang membuatnya cemburu seperti orang gila.


" Ayah...." Desah Sunny pelan.


" Ayahku sayang...., katakan saja padaku apa yang terjadi pada papa ku. Apa yang ayah lakukan padanya!!" Sunny meninggikan suaranya hingga membuat Shinee yang sudah selesai sholat subuhpun nenoleh kearahnya, begitupun bunda.


" Ayah tidak melakukan apa-apa. Hanya saja dia sudah mendapatkan balasan atas dosa-dosanya." Jawab ayah.


" Jangan ngalor ngidul ayah!!, dimana papaku!!" Sentak Sunny sambil mencabuti infus di tanganya dan beranjak.


" Stop it!!, kau mau kemana, duduk!!!" Bentak ayah Marvel dengan suara yang begitu keras.


" Apa yang kau lakukan pada papaku!!!, jika terjadi apa-apa padanya...bersiaplah untuk kehilangan aku untuk kedua kalinya..." Ancam Sunny dengan wajahnya yang merah dan mengeras.


" Sunny!!!..Brother!!!" Teriak Bunda dan Shinee berbarengan.


" Papaku!!! Papaku!!, kau menyebut penculik busuk itu sebagai papamu!!. Dimana otakmu hahhh!!!" Karena hatinya yang sudah dikuasai rasa cemburu buta, ayah Marvel membentak Sunny dengan begitu kencang.

__ADS_1


Sunny semakin menangis mendengar ini, isak tangisnya memilukan ketiga orang diruangan itu.


" Dialah yang menolongku dari dinginya air sungai itu ayah...., dialah yang memberikanku kehangatan saat aku tidak mendapatkannya darimu..., dialah yang memberiku kasih sayang yang tulus saat aku tidak mengingat siapa diriku yang sebenarnya bunda..., dia juga yang selalu bisa menjadi ayah, bunda, dan saudara saat kalian tidak bersamaku..."


" Ayah, dengarkan aku. I love you so much..., tapi biarkan aku juga mencintai orang yang sangat berjasa padaku ayah...." Ucap Sunny disertai isak tangisnya.


" Berjasa katamu!!! Penipu itu sudah mengganti semua identitasmu, sehingga tujuh tahun ini kami tidak pernah tahu keberadaanmu!!, kriminal seperti itu kau sebut berjasa!!!, kau sudah tidak waras Sunny!!!"


Sunny mengusap wajahnya, inilah yang ditakutkan. Seperti inilah watak ayahnya.


" Mana ponsel ku..." Ucapnya yang ditujukan pada Shinee.


Shinee pun memberikan ponselnya, lalu duduk disamping saudara kembarnya itu.


" Calm down brother..." Bisiknya.


Dari kemarin dia juga sudah berusaha mati-matian untuk melindungi papa Sanjaya bersama Arnov dan Roy. Tapi apalah daya anak-anak ingusan ini melawan para mafia seperti ayah Marvel dan uncle Brian.


Dan walaupun pada akhirnya pengacara dari keluarga Roypun hadir, itupun tidak bisa membantu banyak karena papa justru mengakui semua dakwaan padanya.


" Lepaskan papaku...." Bisik Sunny dengan menunduk dalam.


" Tidak!!!, dia harus dihukum!!!, apa kau tahu???. Bundamu di vonis gila selama dua tahun karena apa??? Karena perbuatan papa palsumu itu Sunny!!! Sadarlah!!" Seru ayah lagi.


" Kau yang harusnya sadar ayah...... Kau yang harusnya intropeksi diri. Ini semua tidak akan terjadi jika kau tidak blangsak dimasa mudamu..." Ucap Sunny lagi.


" Penculik yang sebenarnya bukanlah papaku!. Mereka nembicarakanmu di mobil itu. Mereka ingin balas dendam karena kau dan uncle sudah menghancurkan perusahaannya hanya karena perlindungan berlebihan ayah pada aunty princess.."


" Dan apa ayah tahu?. Mereka bahkan salah culik. Binar yang asli, adalah memang putra papaku.... Anak itu gugur demi menyelamatkan aku ayah....hu..hu..." Tangis Sunny pecah.


" Apa?" Tanya ketiganya dengan mata terbelalak.


Sunny akhirnya memulai ceritanya.


Yahhh..., hanya dengan melihat sepintas saja memang antara Sunny dan Binar ada kemiripan saat mereka masih berusia dua belasan. Mungkin rambut dan senyumnya yang sama persis, tapi jika dilihat dengan benar dan seksama maka jelas tidak ada kemiripan yang berarti.


Dan itu juga yang membuat para penculik itu menyadari kesalahan mereka. Lalu mengejar dan mendapatkan Sunny yang asli.


Sunny ingat betul bagaimana dia melawan dengan caranya saat itu, bahkan ikatan di tangan dan kakinya saja bisa dilepaskanya atas bantuan dari Binar yang asli.


Tapi karena pola pikir anak seusianya dahulu masih begitu sederhana, Sunny tidak menyadari bahwa perlawanannya dengan terus mengganggu dan menyerang sang sopir adalah pilihan yang salah.


Dan mengakibatkan mobil terjun ke sungai berarus deras itu, apalagi saat itu hujan sedang deras-derasnya juga. Bahkan Sunny juga masih sangat ingat, disaat kepanikan itu Binar asli menendang pintu dan mendorongnya keluar, hingga dirinya tak ikut terbakar di mobil itu.


Sunny menangis tersedu-sedu disela-sela ceritanya.


" Papaku nggak salah apa-apa yah..... Papaku menyembunyikan aku selama ini hanya karena dia tidak bisa kehilangan Binarnya ayah..hu...hu..hu..."


Ayah Marvel terdiam, tak dapat lagi berkata-kata. Mengingat begitu pasrahnya papa Sanjaya kemarin seharusnya ayah Marvel bisa melihat itu.


" Lepaskan papaku ayah.... Maafkan dia.... Diluar tindakkanya yang salah. Ada tujuannya beliau melakukan itu. Mama Binar meninggal saat melahirkan Aivy adikku.."


" Lalu saat usia adikku baru dua tahun dia kehilangan Binar dan menemukanku"


" Ya...walaupun perbuatannya memalsukan identitasku tetap tidak bisa dibenarkan, tapi itu juga beliau lakukan demi untuk melindungi adiku Aivy!!, tidak ada niatan untuk menyembunyikan aku ayah..."



" Setahun aku bersamanya dan itu juga dalam keadaan amnesia membuat papa nggak tahu harus mengembalikan aku kemana, tak berselang lama, penderitaan menghantam keluarga kecil kami"


" Papa mengalami kecelakaan kerja hingga membuat kami harus dititipkan ke mama tiri kami.., disana neraka hidup kami dimulai.."


" Dan demi untuk melindungi putrinya itulah papa mengambil keputusan untuk benar-benar merubahku menjadi Binar Buana Sanjaya putra dari Rahman Sanjaya..."


Brugghh...

__ADS_1


Sunny menjatuhkan tubuhnya tiba-tiba dan bersujud dibawah kaki ayah Marvel.


Membuat ketiganya membelalakan mata mereka tak percaya.



" Ampuni papaku ayah.., papaku tidak bersalah. Ampuni dia ayah, aku mohon padamu hu..hu... Bagaimana nasib adikku diluar sana tanpa aku dan papaku. Tidakkah kau punya hati nurani?"


" Adikku itu tidak pernah merasakan kebahagiaan sebelum kami bertemu aunty princess, apalagi akhir-akhir ini dia terus merencanakan ini itu setelah papa bisa berjalan kembali, tegakah kau menghancurkan mimpinya...."


" Tegakah engkau merampas kebahagian gadis kecil itu ayah?, tegakah kau ayah hu...hu...hu..."


" Adik Aivy fine brother, dia bersama sahabat-sahabatmu..." Shinee merengkuh tubuh Sunny yang bergetar karena tangisnya, merangkulnya dan membawanya untuk kembali ke brangkar.


" Cabut tuntutan dan dakwaanmu pada papaku ayah, Aku mohon...." Pinta Sunny dengan tulus.



Ayah Marvel yang termangu dari tadi hanya bisa mengangguk setelah pelukan bunda Dian yang erat mengembalikan kesadarannya.


Apa ini..


Putraku menangis seperti ini hanya demi orang lain?


Putraku yang bahkan saat aku hajar karena bersalah saja tidak menitikkan air mata..


Tapi lihatlah dia sekarang..


Dia begitu melindungi seseorang yang bahkan tidak ada ikatan darah sedikitpun dengannya...


Sunnyku...


Kau lebih dewasa dari yang terlihat son


I proud of you my lovely son...


Yah...kau benar!!. Hati nurani diletakkan diatas semua hubungan...


Empat jam berikutnya.


Tok...tok...tok...


Pintu diketuk dari luar, tampak Aivy dan sahabat-sahabat Binar berdiri mematung di depan pintu.


Aivy menahan tangisnya saat tatapanya bertabrakan dengan pemuda yang dianggap sebagai kakaknya selama ini.


Pedihnya saja masih terasa saat dia harus tahu kebenarannya, dan harus ditambah lagi dengan kehilangan keduanya di waktu yang sama.


Kehilangan kakaknya yang pasti akan kembali ke keluarganya dan kehilangan papanya yang seumur hidup akan berada di balik jeruji besi.


" Adik sayang...., kemari..." Panggil Sunny dengan melambaikan tanganya pada Aivy.


Bibir Aivy bergetar, airmata telah meleleh tanpa dikomando, tapi kakinya tidak juga melangkah.


Takut!!, gadis itu begitu takut melihat keberadaan ayah Marvel yang sedang memeriksa keadaan Sunny saat ini.


" Aivy dear...., come here..." Panggil Sunny lagi.


Arnov merangkul gadis itu dan sedikit mendorongnya untuk masuk ke dalam.


" Ada kak Nov bersamamu jadi jangan takut.." Bisik Arnov di telinga Aivy.


Tepat saat itu mommy Ara dan keluarganya yang baru pulang dari Singapura karena menjenguk Oma yang sakit juga hadir disana.


Almeer mengepalkan tanganya dengan kuat saat matanya melihat Aivy begitu nyaman dipelukan Arnov.

__ADS_1


__ADS_2