
Perasaan papa Sanjaya sedang tidak baik-baik saja saat ini, tapi justru beliau memutuskan untuk operasi sekarang juga. Lebih cepat akan lebih baik.
Uncle Brian meluncur ke White Base, karena siang ini istri dan putra putrinya mengabari bahwa mereka telah tiba di Singapura.
Sepertinya mereka berkumpul di rumah uncle Adnan terlebih dahulu baru ke Jakarta bersama-sama.
Saat melintasi ruang keluarga, uncle Brian melihat Shanum dan Shinee yang sedang berkutat dengan buku-buku mereka, sambil bercanda-canda.
Sebenarnya mereka anak-anak orang kaya, tidak mengejar beasiswapun orang tua mereka mampu membiayai sekolah mereka sampai S3 sekalipun.
Tapi yang namanya tradisi dan pengalaman adalah guru diatas guru. Tradisi yang diajarkan Rangga, Azura, Lenox dan Hanum begitu melekat kuat.
Mereka mempunyai standar sendiri dengan kalimat yang berbunyi 'sukses'.
" Heyy sweet girl, how are you. Long time no see, miss you so much..." Uncle Brian menghampiri Shanum. Mengelus rambut Shanum yang panjang dan mengecupnya sekilas.
Gadis kecil, atau tepatnya bayi kecil pertama yang tumbuh ditangannya selain Bianca. Ya, saat kelahiran Shanum yang penuh drama menyedihkan dahulu, uncle Brian lah salah satu saksinya.
Saat papa Vino dan mama Vera harus menikah diusia sangat muda karena sebuah kesalahan, dan harus diusir dari rumah mereka. Maka tangan uncle Brian, uncle Adnan dan ayah Marvelah yang terbuka lebar untuk merengkuh mereka. Mendorongnya bangkit, memompa semangat, membakar gairah hingga mampu berdiri tegar seperti sekarang ini.
" Sha.., jika ada waktu, boleh luangkan waktumu untuk ngobrol dengan uncle.." Ucap uncle Brian ramah.
Shanum mengangguk dan tersenyum, jemarinya membentuk oke.
Dan disinilah mereka berdua sekarang berada, si taman samping mini mansion, menatap rumput hijau yang luas. Dimana disanalah mereka selalu menghabiskan waktu bermain bersama.
" Bagaimana kabar Surabaya Sha...?" Uncle Brian membuka pembicaraan mereka dengan sesantai mungkin. Sebenarnya ini termasuk sesi interogasi versi uncle Brian, tapi beliau mampu membungkusnya sedemikian rupa.
" Surabaya masih seperti itulah uncle, panas, bising, penat yahh...seperti itulah.."
" Sekolahmu bagaimana?, uncle dengar kamu melewatkan acara kelulusan mu girl?"
" Ya uncle, kepergian kakek buyut begitu tiba-tiba. Semua tak terkendali, mau tidak mau Sha harus kehilangan satu moment yang seharusnya begitu membahagiakan untuk Sha.." Shanum menunduk sedih. Cerita kelulusan begitu meremat hatinya, dia harus tahu kebusukan Binar hari itu dan juga harus kehilangan kakek buyutnya di hari yang sama.
" How about your relationship?" Pancing uncle Brian ke intinya, dari Shinee uncle Brian tahu bahwa ada hubungan istimewa antara Binar dan Cahaya.
" Ayu dan Alexandria sama seperti Sha, mereka rela berpisah dengan orang-orang yang disayang demi cita-citanya. Begitupun Arnov dan Roy"
" Lalu your boyfriend?" Desak uncle Brian dengan menaik turunkan alisnya.
" Who?, nggak ada.." Sahut Shanum malu-malu.
" Ada, uncle tahu kok..." Desak uncle Brian lagi.
Lama Shanum terdiam, tapi hanya uncle Brian lah dari sekian banyak 'daddy' yang paling lembut dan pengertian kepada 'anak-anaknya'. Pendekatannya pada 'anak-anaknya' begitu membuat nyaman dan tak tertekan.
Dan hanya pria inilah yang bisa mensugesti kita, dari yang awalnya menutup rapat-rapat mulut akhirnya keceplosan juga.
Entahlah, apakah itu memang salah satu keahlian yang dimiliki mereka para anggota Intelijen khusus?, kita tidak tahu.
" Yeahh, his name is Binar. Binar Buana Sanjaya. Sha awalnya benci padanya, tapi...nggak tahunya, malah dia yang mampu menggeser mySunny.." Ucap Shanum, pertahanan untuk diam akhirnya jebol juga. Tak mudah melawan seorang Briandika!!
" Apa kau mengenal baik dia?"
" Ya...sure!"
" Binar putra pertama om Sanjaya dari istri keduanya, dan Aivy adik kandungnya. Dari istri pertamanya om Sanjaya memiliki putri berusia 20an tahun. Binar itu berandalan, suka tawuran, kebut-kebutan, yah...tapi sejauh ini Sha tidak pernah sekalipun melihatnya drunk. Tapi...."
" Tapi?"
" No...nothing " Shanum menunduk saat mengingat chat Lyra dan Cristal yang mengatakan dengan gamblang bagaimana mudahnya Binar dibawa kesana kemari oleh cewek-cewek, bahkan tante-tante.
Tak hanya itu, bahkan bukti-bukti transaksi transferan pun dikirimkan oleh kedua gadis itu pada Shanum.
" Sha satu sekolah dengan Binar?, maksud uncle sejak kapan kenal Binar?" Lanjut uncle Brian setelah Shanum begitu lama melamun.
__ADS_1
" Tidak, Binar satu yayasan dengan Saga...kami kenal juga baru awal semester genap ini.."
Mereka terus bercakap-cakap, interogasi yang ringan menghasilkan dua nama yang harus ditemui oleh uncle Brian.
Mereka adalah Roy dan Arnov. Demi untuk membuka tabir ini, malam itu juga uncle berangkat ke Jogja untuk menemui Roy dan Arnov.
...***...
Sementara Binar setia menemani papanya, operasi telah selesai tepat sebelum adzan maghrib.
Almeer yang tahu Aivy berada di RS langsung mengajak daddynya untuk menjemput gadis itu, dan membawanya pulang.
Tok..tok..tok..
" Sha...aku akan ke RS jemput ayah sekalian jenguk om Sanjaya. Kamu mau ikut?" Seru Shinee di balik pintu.
Shanum yang baru selesai sholat maghrib hanya mematung saja untuk beberapa saat.
Jika ikut berarti harus bertatap muka dengan Binar, apa Shanum akan sanggup setelah kejadian malam itu. Tapi kalau tidak, apa pula alasan yang harus dia berikan pada Shinee untuk menolak.
" Iya Shinee, tunggu bentar. Aku bersiap dulu.."
Mobil Shinee meluncur deras kerumah sakit setelah sebelumnya mereka berhenti untuk membeli buah tangan.
Dada Shanum terus berdetak cepat.
Ego hati ingin sekali membenci tapi perasaan tidak bisa dibohongi.
Rasa sayang Shanum masihlah besar pada Binar, sampai-sampai beberapa hari ini dia hanya menatap foto-foto kebersamaan mereka sampai berjam-jam lamanya.
Kini mobil sudah berhenti di parkiran RS, dan Shineepun telah turun sejak tadi, tapi Shanum masih mematung tak bergerak. Gadis itu tenggelam dalam lamunan yang dalam, sampai-sampai lupa caranya kembali ke dunia nyata.
" Num...Sha...Shanum...."
" Lo mau ngelamun disitu sampai kapan, aku udah dari tadi berdiri disini.." Ucap Shinee dengan berkacak pinggang.
" Ohh..ehh...sorry..." Shanum nyengir dan segera cepat-cepat turun.
Selama kaki melangkah menuju ruangan papa Sanjaya, Shanum terus di dera rasa berdebar yang teramat sangat.
Bayang-bayang malam itu terus berkelebatan.
" Ini ya ruangannya ?" Tanya Shinee, tapi justru gelengan kepala Shanum yang didapat.
Saat Shinee hendak membuka pintu justru pintu terbuka tiba-tiba dari dalam.
Sunny berdiri di depan pintu, tubuhnya sedikit berjiingkat saat mendapati Shanum berada tepat di hadapannya saat ini. Tatapan kedua mata mereka beradu untuk beberapa saat sebelum keduanya sama-sama membuang muka ke segala arah.
Sunny yang melihat ada Shinee di samping Shanum langsung segera menubruknya. Entah dorongan apa ini, yang jelas ia ingin membagi rasa sesaknya pada saudara sedarah dan sedagingnya ini.
" Wo..wohoo..you miss me right!!" Seru Shinee kaget atas perlakuan Sunny yang aneh dimatanya.
" Ahh...Masuklah..." Sunny melebarkan pintu untuk mereka masuk setelah melepaskan pelukanya. Matanya kembali melirik pada gadis manis yang terlihat dingin dan angker malam ini.
Apalagi saat Shanum melewatinya dengan cuek, Sunny memejamkan matanya pedih.
" Kamu sepertinya tadi mau keluar bro?" Tanya Shinee.
" Oh..iya, mau beli makan malam untukku dan papa.." Sahut Sunny dengan terus mencuri-curi pandang pada Shanum saat ada kesempatan.
" Nggak usah beli, ini Shinee udah bawain.." Ucap Shanum pelan dan lalu meletakkan buah tangan yang dibawanya diatas nakas, di samping ranjang papa Sanjaya.
Shanum terampil membuka paper bag untuk mengeluarkan rantang-ratangnya.
Papa Sanjaya yang mendengar suara Shanum segera membuka mata. Sedikit banyak beliau tahu apa yang terjadi dengan mereka berdua. Pecahnya kemarahan Sunny saat hari kelulusan oleh Lyra dan Crystal jelas membuktikan besarnya cinta putranya pada gadis ini.
" Aya, sudah lama nak?" Suara papa Sanjaya mengagetkan Shanum.
__ADS_1
" Ehh, belum om baru saja, apa kabar om?" Shanum mendekati ranjang dan meraih tangan papa Sanjaya, Shinee pun ikut mendekat.
" Oh iya om, ini Narendra Shinee Marvelino, brothy saya..." Shanum memperkenalkan Shinee sekaligus.
Papa Sanjaya mematung saat menerima uluran tangan Shinee, beliau menatap Sunny, dan pemuda itupun mengangguk.
Shinee Marvelino?
Putranya dr Marvel juga?
Ya Tuhan...maafkan om nak...
Om telah mencuri saudaramu darimu selama ini....
Lengkap sudah rasa bersalah papa Sanjaya saat ini.
Jika kemarin-kemarin dia ketakutan oleh rasa bersalahnya pada ayah dan bunda Sunny.
Kini dihadapanya ada Shinee, yang adalah saudara kembar dari anak yang diakuinya sebagai putranya dengan cara menyembunyikan identitas asli Sunny lalu merubahnya menjadi Binar.
" Om mau makan?, biar Sha ambilkan. Mau sop?, atau ini..?" Shanum berusaha terus berinteraksi dengan papa Sanjaya agar tidak terlihat canggung saat ini.
Sementara Sunny hanya bisa menatapnya saja, tanpa bisa berkata apa-apa.
Shanum seperti biasa selalu bisa menyembunyikan resah hatinya didepan Shinee dan papa Sanjaya.
Mereka terus bercakap-cakap, tapi tidak dengan Shanum dan Binar. Dan sepertinya Shinee mulai mencurigai sesuatu.
" Ahh..., maaf saya lupa mengabari ayah kalau saya sudah disini.." Ucap Shinee dan langsung pamit keluar.
Dan papa Sanjaya pun ada ide jahil. Pria baya itu juga ikut-ikutan meminta Sunny membawanya ke kamar mandi.
Dan tinggalah dua sejoli yang sedang retak itu didalam ruangan.
Mereka sama-sama diam seribu basa, Sunny yang begitu malu atas ulahnya yang menjijikkan malam itu, dan Shanum yang juga malu karena sempat terbuai dan justru malah menikmati.
Wajah Shanum yang cantik membuat Sunny sejak tadi terus mencuri pandang kearahnya tanpa kata.
" Emmhh, aku mau susul Shinee saja..." Ucap Shanum canggung. Dadanya berdebar tak karuan saat tanpa sengaja melirik Sunny dan justru saat itu Sunny juga tengah menatapnya.
" Tidak, disini saja. Nanti Shinee curiga..." Ucap Sunny dengan menunduk.
" Shan...I'm sorry, aku tidak bermaks----"
" Enough Bin..., semua sudah berakhir, aku tidak mau membicarakan itu.." Sela Shanum cepat.
Sunny memejamkan matanya, meremas kedua tangannya geram.
" Aku ini Binar Shan!! Binar Buana Sanjaya. Jika aku bisa memaksamu menjadi pacarku dahulu. Maka aku juga bisa memastikan kau tidak akan pernah bisa putus dariku..." Ucap Sunny dingin dan tegas.
" Aku nggak perduli ancamanmu Binar Buana Sanjaya. Aku benar-benar memutuskanmu, saat ini, dan detik ini juga" Shanum hendak berdiri saat pintu kamar mandi terbuka.
" Om, sini biar Aya bantu..." Shanum segera berlari untuk membantu papa Sanjaya tetapi rupanya Sunnypun sama-sama berlari, jemari mereka tanpa sengaja saling bersentuhan menghadirkan aliran listrik yang menyengat di dada keduanya.
Aahhhh Tuhan...
Aku masih mencintai orang ini...
Ampun...Tuhan...
Kenapa begitu susah melepaskan pelet Binar....
Ahhhhhh
Teriak hati Shanum menjadi-jadi
...πππ...
__ADS_1